Impian Lita

Baca Juga :
    Judul Cerpen Impian Lita

    “Kalau kamu sudah besar, impian seperti apa yang kamu harapkan, Lita?” Tanya Ibu padaku sambil menyodorkan sepiring pisang goreng. Aku menyuapkan salah satu pisang goreng ke dalam mulutku. “Aku ingin menjadi penjahit, Bu,” sahutku. Ibu menatapku dengan heran. Heran, mengapa setiap kali Ibu bertanya, pasti aku jawab, “Aku ingin jadi penjahit, Bu. Nanti, aku bangun sebuah tempat untuk aku menjahit.”

    Ibu hafal kata-kata yang selalu aku lontarkan. Aku hanya tersenyum misterius.

    Pernah, kemarin, Syilva berkunjung ke rumahku. Hanya untuk bermain saja. Lalu Ibu bertanya, “Kalau Syilva sudah besar, Syilva ingin jadi apa?” Tanya Ibu pada Syilva. “Aku ingin jadi guru, Tante. Kalau jadi guru, aku dapat banyak pahala dan masuk surga, kan, Tante?” Ucap Syilva. Ibu tersenyum.

    Ya, Ibu ingin sekali aku jadi guru. Namun aku selalu menolak. Aku tetap bersikeras dengan pilihanku.

    Suatu hari, Ibu berulang tahun. Aku sudah mempersiapkan sebuah baju yang aku beli dengan uang tabunganku. Jauh-jauh hari aku sudah mempersiapkan semua dengan baik.

    Setelah semua siap, aku segera menuju dapur. Di dapur, Ibu sedang memasak sarapan. “Selamat ulang tahun, Ibu! Maaf, ya, Bu, kalau aku suka nakal. Semoga Ibu panjang umur, sehat selalu!” Kejutku. Ibu tentu terkejut. Lalu tersenyum haru. Ibu lalu memelukku. “Terima kasih, ya, Nak,” kata Ibu sambil mencium keningku. Aku tersenyum bahagia. Aku bahagia bisa membahagiakan orang yang aku sayangi.

    “Aku ingin jadi penjahit. Sebab, kalau aku sudah besar, aku ingin menghadiahi Ibu pakaian yang layak untuk Ayah dan Ibu,” kataku. Ibu menitikkan bulir air mata. Tak tahan menahan rasa harunya.

    Cerpen Karangan: Delia Seftiani Zubir
    Facebook: Delia Septiani Zubir

    Artikel Terkait

    Impian Lita
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email