Angan Dalam Diam

Baca Juga :
    Judul Cerpen Angan Dalam Diam

    Tak semua yang kita inginkan harus tercapai. Ambisi dan tekad mungkin boleh ada. Tapi bolehkah jika ambisi dan tekad itu berada dalam diam?.

    Lagu was live mengalun keras di kamar serba pink itu. Menandakan bahwa waktu telah pagi. Alarm ponsel itu tak mau diam sebelum pemiliknya mematikannya.
    Gadis cantik yang masih duduk di bangku kelas 1 SMA itu pun segera bangkit dari tempat tidur. Ia terkejut melihat layar HPnya yang sudah melengkingkan alarm 9 kali. Itu berarti ia telat bangun 45 menit.

    Ia bergegas menuju ke kamar mandi untuk berwudhu dan sholat. Langkah cepat serta tangan yang cekatan menghantarkan gadis cantik dengan nama lengkap Nirina Salsa putri Anggraini untuk segera menuruni tangga untuk berangkat ke sekolah kalau ingin tidak terlambat.

    Kakinya mendadak berhenti di anak tangga paling bawah mendengar suara itu. Yah, seperti biasa, itu suara kedua orangtuanya yang sedang bertengkar. Rina berusaha menutup kedua telinganya rapat-rapat agar tak mendengar pertengkaran itu. Ia bosan. Ia telah lelah menyaksikan kedua orangtuanya bertengkar setiap hari.
    Rina buru-buru melangkahkan kakinya ke depan rumah. Namun, ia tak sengaja menabrak bi ijah yang sedang membawa pot tanaman.
    “ma.. ma.. maaf bi, saya nggak sengaja” kata rina sambil mengambil pot plastik yang terjatuh tadi.
    “iya non, nggak papa”.
    “kalau gitu saya berangkat ke sekolah dulu ya bi” kata rina berpamitan.
    “non nggak pamit sama tuan dan nyonya?” Tanya bi ijah.
    Namun Rina tak menghiraukan pertanyaan itu. Kakinya terus melangkah. Ia ingin secepatnya sampai di sekolah. Agar tidak mendengar suara pertengkaran itu lagi.
    Bi ijah yang memperhatikan kepergian nonnya itu Cuma bisa geleng-geleng kepala. Sikap anak majikannya itu memang telah berubah. Tidak seperti non Rina yang periang seperti dulu lagi. Ia bukan Rina yang selalu berceloteh meramaikan suasana rumah ini lagi. Nonnya itu seperti orang yang berbeda. Sejak tuan dan nyonyanya selalu berdebat setiap hari.

    Rina memasuki gerbang sekolah dengan kepala tertunduk. Jilbab putihnya berkibar-kibar tertiup angin.
    Kakinya terus melangkah menuju kelas. Tapi ketika di koridor, ia bertemu dengan Lita.
    “hair in.”
    “hai juga lit”. jawab rina singkat.
    “kamu tadi dicari bu Sam” kata Lita.
    “oh ya, makasih ya atas informasinya. Nanti aku akan menemui bu Sam” jawab rina.
    Kedua gadis itu pun berpisah jalan. Rina yang berjalan menuju ke dalam gedung sekolah, dan lita yang berjalan ke parkiran untuk mengambil bekalnya yang tertinggal di sepeda.

    Rencana Rinna untuk langsung menuju kelas bubar setelah mendengar informasi dari Lita. Ia bergegas menuju ke lorong yang menuju ke ruang guru. Ia sudah menyangka bahwa keperluan bu Sam mencarinya untuk membahas soal beasiswa itu. Tapi, ia belum berbicara kepada kedua orangtuanya.
    Mengingat kedua orangtuanya hati Rina kembali digelayuti oleh mendung. Ia segera menepiskan perasaan itu. Karena jika tidak, maka ia tak akan bisa konsentrasi belajar nanti.

    Ia mengetuk pintu ruang guru perlahan sambil mengucapkan salam dan masuk ke dalamnya.
    “rina, sini nak” panggil bu Sam yang melihat kehadiran Rina di ruangan itu.
    “kamu sudah bilang ke orangtuamu bahwa kamu dapat beasiswa untuk melanjutkan sekolahmu ke australi?” Tanya guru berambut panjang itu.
    “belum bu. Tapi ibu nggak perlu hawatir. Saya yakin mereka pasti setuju” jawab Rina mantap.
    Ia tau, bahwa orangtuanya nggak akan peduli. Selama 2 tahun ini mereka hanya sibuk bertengkar dan memikirkan ego dan hati mereka masing-masing. Mereka tak sadar, bahwa ada anak yang butuh perhatian mereka. Bahkan, ketika Rina masuk SMA, mereka tak mendaftarkan Rina ke sekolah. Bi ijahlah yang mendaftarkan rina ke sekolah ini. Jadi rina yakin, bahwa orangtuanya tak akan peduli dimanapun ia akan sekolah. Karena yang mereka tau, mereka telah memberi dan membungkam anak mereka dengan uang. Mereka tak mengerti, bahwa seorang anak tak hanya menginginkan uang, mereka juga butuh perhatian dan kasih sayang. Orangtuanya kini memang telah berubah. Jika dulu mereka selalu bangga dengan prestasi yang diraih Rina, sekarang tak lagi. Mereka seakan menutup mata dengan kehadiran rina. Mereka hanya sibuk menyalahkan satu sama lain.
    “ya sudah kalau gitu, ibu akan mengurus semuanya” suara bu Sam membuyarkan lamunan Rina.
    “terima kasih bu” kata rina sambil berdiri dan melangkahkan kaki ke luar dari ruangan itu.

    3 bulan kemudian, semuanya telah siap. Surat-surat yang akan mengantarkan Rina untuk menuntut ilmu di negeri kangguru telah selesai. Rina melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Ia melihat mamanya sedang menyaksikan tayangan TV.
    “ma, seluruh surat untuk kepindahanku telah siap” kata rina sambil mendudukan diri di sofa sebelah mamanya.
    “kamu yakin sayang akan sekolah di sana?” Tanya mamanya sambil memperhatikan putri semata wayangnya.
    “yakin ma, ini memang impian Rina sejak kecil untuk bisa sekolah di luar negeri” jawabnya.
    “sayang, mama mau ngomong sesuatu sama kamu. Mama dan papa akan pisah” kata wanita yang telah melahirkan rina itu.
    Hati rina bagai disayat-sayat mendengar kabar itu. Tapi ia berusaha tegar. Ia tak ingin terlihat lemah. Karena ia yakin, mamanya juga lebih hancur dari pada dirinya.
    “kalau itu memang yang terbaik untuk mama dan papa, rina bisa berbuat apa lagi selain menyetujui” jawab rina sambil menahan perih di hati.
    “makasih ya sayang” kata mama rina sambil memeluk putrinya yang sekarang telah beranjak remaja itu.

    Suasana di ruang persidangan itu sungguh tak mengenakkan bagi rina. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Berusaha menangkap segala pembicaraan yang disampaikan oleh hakim yang ada di depan.
    Dan hakim itu memutuskan bahwa mama dan papanya resmi bercerai. Air mata itu rupanya tak bisa diajak kompromi lagi. Air mata itu keluar sangat deras bak anak sungai yang mengalir. Ia sedih. Ia terluka menyaksikan kehancuran keluarganya.
    Apa lagi ia sadar sekarang, bahwa setelah ini tak aka nada perhatian yang benar-benar utuh dari kedua orangtuanya. Hak asuh atas dirinya jatuh ketangan mama. Itu berarti ia harus berpisah dengan papa tercintanya. Papa yang bagaikan superman dalam hidupnya. Yang selalu melindunginya ketika ada anak yang usil padanya. Setelah ini, siapakah yang akan menjadi pelindungnya?. Haruskah superman itu jauh darinya?. Rina semakin menangis tersedu-sedu.
    Papa memeluknya dengan hangat.
    “bunga papa jangan nangis. Bunga papa harus kuat. Ingat, rina itu putri kebanggan papa sampai kapanpun. Kamu itu ibarat bunga mawar. Bunga yang dilihat indah, tapi ketika ia didekati ia akan mengeluarkan duri untuk melindungi dirinya. Papa ingin kamu menjadi seperti bunga mawar. Yakin, tanpa papa kamu juga bisa melindungi dirimu” bisik papa rina di telinga rina.

    Hari keberangkatan rina ke negeri kanghuru itu pun tiba. Mama, bi ijah, dan papa ikut mengantarkannya ke bandara.
    “jaga dirimu di sana ya sayang, jangan lupa kabari mama” pesan mama sambil memeluk rina.
    Rina tak bisa berkata-kata. Ia hanya mampu mengangguk.
    “ingat satu hal, kamu adalah bunga mawar papa. Jaga dirimu di sana, lindungi dirimu dengan kekuatanmu. Jangan jadi anak perempuan yang cengeng lagi ya” pesan papa sambil memeluk rina.
    Seperti dengan mamanya, ia juga tak bisa berkata apa-apa terhadap papa. Ia hanya menangis.
    Papa yang telah menjadi supermannya selama 16 tahun ini menghapus air mata Rina dan menepuk bahu rina agar segera masuk ke ruang tunggu pesawat.
    Dengan lambaian tangan dari mama, papa dan orang-orang yang ikut mengantarkannya ke bandara siluet rina itu pun berlalu.

    Di dalam pesawat, Rina memikirkan semua. Semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Menyangkut pendidikannya, keluarganya, dan masa depannya. Dulu, ia bermimpi dan berkhayal untuk bisa sekolah di luar negeri. Makanya itu ia selalu belajar dan berambisi harus jadi juara 1 di kelas setiap tahun. Dan tuhan mendengarkan keinginan rina itu. Ia sekarang bisa sekolah dan melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
    Tapi tuhan tak mengabulkan keinginan rina yang selalu muncul dalam diam dalam 2 tahun terakhir ini. Angan yang selalu ia ucapkan dalam hati. Angan yang tak ada satu orang pun yang tau. Yaitu angan dan impian agar keluarganya kembali seperti dulu lagi. Kembali dengan kehangatan keluarga yang selalu ia rindukan setiap pulang sekolah.
    Tapi sepertinya tuhan berkehendak lain. Untuk keinginannya yang satu ini tuhan tidak mengabulkan. Karena mama dan papanya kini telah berpisah. Menciptakan jarak yang tak dapat tersentuh lagi.

    Setelah ini, ia berjanji, jika ia menginginkan sesuatu ia tak akan berangan dalam diam. Ia akan berusaha. Agar keinginannya itu dapat terpenuhi. Cukup sekali saja angan dalam diam yang ia lakukan tanpa usaha dalam hidupnya. Ia akan berubah, demi masa depannya.

    Cerpen Karangan: Tutik Muliani
    Blog: Tutikmuliani.mywapblog.com

    Artikel Terkait

    Angan Dalam Diam
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email