Judul Cerpen Taruhan
Hari ini, atau lebih tepatnya pagi ini, adalah hari yang menyenangkan dalam hidupku. Karena hari ini adalah saat dimana aku akan mengikuti tahun ajaran baru dalam sekolah yang baru di SMA. Setelah mengikuti rangkaian MOS yang menyebalkan, sekaligus membuat kepala pusing karena disuruh membawa beberapa alat yang aneh-aneh. Dan pada akhirnya semuanya sudah berakhir!
Disinilah aku, berada dalan sebuah ruang kelas yang entah berapa ukurannya, aku sendiri juga belum tahu. Aku lebih memilih duduk di bangku tengah, tidak paling depan tapi juga tidak paling belakang. Tapi di tengah-tengah. Kebetulan teman sebangkuku adalah seorang perempuan, dan aku belum mengenalnya. Setelah beberapa menit saling terdiam, aku mencoba untuk berkenalan dengannya.
“Hai!” sapaku padanya.
“Hai juga!” jawabnya.
“Emm.. Boleh kutahu siapa namamu?” tanyaku lagi.
“Oh, tentu saja. Lagipula kan kita sekarang sudah berteman. Perkenalkan namaku Della. Lalu namamu?” ucap Della sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arahku. Aku balas tersenyum dan menerima uluran tangannya.
“Namaku Fina.” ucapku kemudian. Setelahnya, kami terus mengobrol tentang keseharian kami di rumah, beberapa kegiatan sekolah di SMP kami dulu, hingga hal-hal yang kurang penting untuk kami bicarakan. Ternyata Della orangnya cukup ramah, humoris, dan blak-blakan. Hal itu membuatku tidak bisa berhenti tertawa karena beberapa lelucon konyol yang keluar dari mulutnya. Kegiatan kami terhenti setelah ada satu guru yang masuk ke dalam kelas, dan kurasa itu adalah guru pengajar mata pelajaran hari ini. Kami pun langsung diam dan memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh guru tersebut.
Bel istirahat berbunyi. Beberapa dari teman-teman sekelasku langsung berhamburan keluar dari kelas. Sementara guru yang mengajar kami tadi sudah keluar dari kelas sekitar 2 menit yang lalu. Aku dan Della masih duduk di dalam kelas. Lalu tak lama kemudian, aku melihat Nita berdiri dari bangku yang ia duduki.
“Ayo ke kantin, Fin! Aku udah laper banget nih.” ajak Della padaku sambil menunjuk perutnya yang katanya lapar.
Aku menggeleng pelan pada Della yang masih berdiri di depanku, dan berkata,
“Mungkin lain kali saja ya Del. Tadi pagi aku sudah sarapan di rumah. Dan kebetulan saat ini aku tidak lapar. Jadi, maaf ya.”
Sebenarnya aku tidak tega berkata tidak padanya, tapi ya mau bagaimana lagi?
“Oh, baiklah kalau begitu. Aku ke kantin dulu ya. Tidak apa-apa kan kalau kau kutinggal di kelas?” ucapnya khawatir.
“Tak masalah.” jawabku singkat. Kemudian Della berjalan menuju ke arah pintu dan sesaat menghilang dari balik pintu. Aku menghela nafas, sebenarnya bosan juga kalau berada di kelas sendirian. Lalu aku ingat sekolah ini memiliki perpustakaan yang menyimpan banyak novel-novel yang menarik. Mengingat diriku yang suka membaca buku, lebih baik aku ke perpustakaan daripada harus melamun sendirian di dalam kelas.
Akhirnya aku sampai pada sebuah ruangan yang cukup besar bertuliskan “PERPUSTAKAAN”. Tanpa ba bi bu lagi, aku langsung mencopot sepatuku dan segera masuk ke dalam perpustakaan. Di dalam sana, aku menelusuri beberapa rak buku yang berisi kumpulan novel. Setelah beberapa menit memilah-milah buku, aku pun mengambil salah satu novel remaja yang tak terlalu tebal. Setelah itu aku duduk di deretan bangku kosong yang berada di dekat rak buku tersebut. Aku pun membuka buku itu, dan mulai membaca isinya.
“Hei, boleh aku duduk disini?” tanya seseorang. Dan kurasa pertanyaan itu ditujukan untukku. Mengingat hanya aku sendiri yang berada di deretan bangku ini. Aku pun mendongak untuk melihat orang tersebut. Dia laki-laki, dan sepertinya satu angkatan denganku. Tapi dia bukan teman sekelasku.
“Silahkan.” ucapku singkat, dan kembali menatap buku bacaanku.
“Terima kasih.” dia pun menggeser kursi untuk didudukinya.
“kau anak kelas 10 ya?” tanya anak laki-laki itu.
“iya.” ucapku tanpa melihatnya.
“aku juga anak kelas 10.”
Rupanya dugaanku benar.
“Perkenalkan namaku Tyo. Boleh kutahu siapa namamu?” tanyanya lagi.
“Fina.” ucapku singkat. Dan yang kudengar dari mulutnya, dia hanya ber-oh ria.
“Kau suka membaca novel remaja seperti itu?” tanyanya lagi, sambil mengangkat sebelah alisnya ke atas. Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan datar.
“Memangnya kenapa? Ada masalah?” tanyaku dengan nada kurang suka. Aku melirik sebuah buku yang tengah digenggamnya. Sebuah novel misteri yang lumayan tebal.
“Dan kau suka membaca novel misteri seperti itu?” tanyaku sinis sambil menunjuk ke arah bukunya.
“Hhh.. Benar-benar membosankan.” lanjutku kemudian. Dia pun balas melihatku dengan tatapan tidak suka.
“Lagipula..” aku masih terus berbicara.
“Aku jarang melihat anak laki-laki yang suka meluangkan waktunya untuk membaca. Apa lagi membaca novel setebal itu. Seingatku, mereka lebih suka membaca komik, atau yang yah… begitulah. Dan menurutku, kau sedikit aneh.”
“Mungkin aku memang berbeda dengan anak laki-laki lain. Tapi asal kau tahu, inilah diriku yang sesungguhnya.” ucapnya sambi menuding wajahku dengan jari telunjuknya. Ada sedikit nada marah dalam ucapannya. Sedangkan aku hanya diam dan mengangkat bahu tak peduli.
Sudah hampir 3 bulan aku bersekolah disini. Dan hampir setiap hari aku datang ke perpustakaan, meskipun terkadang aku ikut teman-temanku untuk makan di kantin sekolah. Dan hampir setiap hari itulah, aku sering bertemu dengan Tyo. Aku dan dia masih sama seperti 3 bulan lalu, sering beradu argumen hanya karena perbedaan pendapat. Hingga pada suatu hari, sekolah mengadakan lomba menulis cerpen, dan Tyo mengajakku taruhan untuk membuat cerpen.
“Kau gila ya? Mana mungkin lomba tersebut dijadikan ajang taruhan?” tanyaku masih tak percaya. Seperti biasa kami berada di dalam perpustakaan.
“Bilang saja kau takut bersaing denganku.” ucapnya santai. Lama-lama aku geram juga menghadapi cowok seperti dia.
“Lagipula aku tdak meminta macam-macam. Hanya, nanti yang kalah harus memberi yang menang buku yang disukai. Simple kan?” sambungnya.
“tapi Tyo-”
“Tidak ada tapi-tapian.” ucapnya, memotong ucapanku. Aku hanya menghela nafas pasrah mendengar keputusan sepihaknya. Dan akhirnya, dengan hati setengah ikhlas, aku menyetujuinya.
“Ok. Aku terima tantanganmu.” ucapku pelan. Dan dia tersenyum lebar penuh kemenangan.
“Bagus. Baiklah, aku mau ke kelas dulu. Berjuanglah, Fina.” dia menepuk sebelah pundakku sebanyak 2 kali, lalu melangkah pergi menuju kelasnya.
‘Dasar!’ umpatku dalam hati
Singkat cerita, aku berhasil menyelesaikan hasil cerpenku dalam waktu 1 sminggu. Setelah itu, aku menyerahkan hasil karanganku ke petugas perpustakaan sekolah. Waktu itu, aku tak sengaja berpapasan dengan Tyo, yang juga mengumpulkan hasil cerpennya. Dia hanya melirikku sekilas, dan tersenyum simpul. Kemudian keluar dari perpustakaan tanpa sepatah kata yang keluar. Aku hanya heran melihat sikapnya. Tapi aku tak memusingkannya.
Aku harus menunggu pengumuman pemenang lomba cerpen sampai 2 minggu. Teman-temanku tahu kalau aku mengikuti lomba menulis cerpen, dan mereka juga ikut mendukungku.
2 minggu kemudian…
Setelah selesai upacara, guru yang menjadi petugas perpustakaan mengumumkan pemenang lomba menulis cerpen. Juara 1 dimenangkan oleh seseorang dari kelas 11, juara 2 dimenangkan kelas 12. Aku takut jika Tyo yang jadi juara ke 3. Masa aku kalah sama Tyo.
“dan juara ke 3 dimenangkan oleh…”
‘ya Tuhan, siapa saja asalakan bukan Tyo.’ doaku dalam hati.
“Fina Hidayanti dari kelas 10.” ucap guru petugas tersebut. Aku masih, tak percaya kalau aku bisa jadi pemenang. Teman-temanku langsung bersorak kepadaku. Dan aku maju ke tengah lapangan untuk menerima selamat dan hadiah.
Dalam hati aku berfikir, bagaimana reaksi Tyo yang melihatku sebagai pemenang ya? Ya, walaupun hanya sebagai juara ke 3, tapi tetap saja dia sudah kalah dariku.
Aku masih melakukan kegiatanku di sekolah seperti biasanya. Yaitu menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan. Untuk masalah taruhan yang dibuat oleh Tyo, aku tak terlalu memperdulikannya. Aku tak ambil pusing jika ia lupa akan janjinya. Toh, aku ikut lomba itu karena terpaksa.
“Nih, selamat karena sudah mengalahkanku.”
Aku tahu dari suaranya kalau itu adalah Tyo. Aku pun langsung menutup buku yang kubaca dan menatapnya. Dia tengah menyodorkan sebuah bungkusan kecil berbentuk persegi kepadaku. Tak perlu bertanya apa isinya, karena aku sudah tahu jika itu adalah novel. Aku pun menerima bungkusan itu sambil tersenyum simpul.
“Kukira kau lupa akan janji yang kau buat sendiri itu.” ucapku santai, dan dia terkekeh.
“Aku bukan tipe laki-laki yang suka ingkar janji. Kau harus ingat itu.” katanya.
“Baguslah kalau begitu. Dan terima kasih atas barang taruhannya.” aku kembali membuka buku yang sempat kututup tadi. sedangkan Tyo sepertinya belum mau beranjak dari tempatnya.
“Apa hanya itu? Apa kau tak mau bertanya tentang cerpen yang kubuat untuk perlombaan?” tanyanya, kini ia duduk tepat di depanku.
“Apa itu penting? Memang apa yang kau buat?” tanyaku dengan nada tak ingin tahu.
“Aku membuat cerita tentang seorang anak gadis yang cuek, ketus, dan juga kutu buku.” jawabnya. Aku tak tahu siapa yang dimaksud, dan aku juga tidak mau tahu siapa yang dimaksud olehnya. Lalu kulihat dia berdiri dan berjalan ke arahku. Kemudian berbisik,
“Dan gadis itu adalah dirimu, Fina…” setelah itu dia segera melesat pergi meninggalkan perpustakaan dan diriku yang masih terdiam seribu bahasa.
Aku membuka bungkusan tersebut. Di dalamnya ada sebuah novel remaja, seperti yang dijanjikan. Dan… Sebuah bros? Sebuah bros berbentuk kupu-kupu berwarna biru. Apa maksudnya? Disana juga ada catatan kecil. Isinya, ‘selamat ya, aku harap kau senang dengan hadiah keduamu ini. Dan bros itu, anggap saja itu bonus dariku, sebagai hadiah dari pertemanan kita sesama kutu buku. Hehehe.’
Aku tersenyum membaca tulisannya. Aku merasa senang saat itu. Entah apa yang membuatku seperti itu. Lagipula siapa yang peduli akan alasannya? Aku bahagia, itu sudah cukup.
TAMAT.
Cerpen Karangan: Aniva A.
Facebook: Aniva Anggraeni
Hari ini, atau lebih tepatnya pagi ini, adalah hari yang menyenangkan dalam hidupku. Karena hari ini adalah saat dimana aku akan mengikuti tahun ajaran baru dalam sekolah yang baru di SMA. Setelah mengikuti rangkaian MOS yang menyebalkan, sekaligus membuat kepala pusing karena disuruh membawa beberapa alat yang aneh-aneh. Dan pada akhirnya semuanya sudah berakhir!
Disinilah aku, berada dalan sebuah ruang kelas yang entah berapa ukurannya, aku sendiri juga belum tahu. Aku lebih memilih duduk di bangku tengah, tidak paling depan tapi juga tidak paling belakang. Tapi di tengah-tengah. Kebetulan teman sebangkuku adalah seorang perempuan, dan aku belum mengenalnya. Setelah beberapa menit saling terdiam, aku mencoba untuk berkenalan dengannya.
“Hai!” sapaku padanya.
“Hai juga!” jawabnya.
“Emm.. Boleh kutahu siapa namamu?” tanyaku lagi.
“Oh, tentu saja. Lagipula kan kita sekarang sudah berteman. Perkenalkan namaku Della. Lalu namamu?” ucap Della sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arahku. Aku balas tersenyum dan menerima uluran tangannya.
“Namaku Fina.” ucapku kemudian. Setelahnya, kami terus mengobrol tentang keseharian kami di rumah, beberapa kegiatan sekolah di SMP kami dulu, hingga hal-hal yang kurang penting untuk kami bicarakan. Ternyata Della orangnya cukup ramah, humoris, dan blak-blakan. Hal itu membuatku tidak bisa berhenti tertawa karena beberapa lelucon konyol yang keluar dari mulutnya. Kegiatan kami terhenti setelah ada satu guru yang masuk ke dalam kelas, dan kurasa itu adalah guru pengajar mata pelajaran hari ini. Kami pun langsung diam dan memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh guru tersebut.
Bel istirahat berbunyi. Beberapa dari teman-teman sekelasku langsung berhamburan keluar dari kelas. Sementara guru yang mengajar kami tadi sudah keluar dari kelas sekitar 2 menit yang lalu. Aku dan Della masih duduk di dalam kelas. Lalu tak lama kemudian, aku melihat Nita berdiri dari bangku yang ia duduki.
“Ayo ke kantin, Fin! Aku udah laper banget nih.” ajak Della padaku sambil menunjuk perutnya yang katanya lapar.
Aku menggeleng pelan pada Della yang masih berdiri di depanku, dan berkata,
“Mungkin lain kali saja ya Del. Tadi pagi aku sudah sarapan di rumah. Dan kebetulan saat ini aku tidak lapar. Jadi, maaf ya.”
Sebenarnya aku tidak tega berkata tidak padanya, tapi ya mau bagaimana lagi?
“Oh, baiklah kalau begitu. Aku ke kantin dulu ya. Tidak apa-apa kan kalau kau kutinggal di kelas?” ucapnya khawatir.
“Tak masalah.” jawabku singkat. Kemudian Della berjalan menuju ke arah pintu dan sesaat menghilang dari balik pintu. Aku menghela nafas, sebenarnya bosan juga kalau berada di kelas sendirian. Lalu aku ingat sekolah ini memiliki perpustakaan yang menyimpan banyak novel-novel yang menarik. Mengingat diriku yang suka membaca buku, lebih baik aku ke perpustakaan daripada harus melamun sendirian di dalam kelas.
Akhirnya aku sampai pada sebuah ruangan yang cukup besar bertuliskan “PERPUSTAKAAN”. Tanpa ba bi bu lagi, aku langsung mencopot sepatuku dan segera masuk ke dalam perpustakaan. Di dalam sana, aku menelusuri beberapa rak buku yang berisi kumpulan novel. Setelah beberapa menit memilah-milah buku, aku pun mengambil salah satu novel remaja yang tak terlalu tebal. Setelah itu aku duduk di deretan bangku kosong yang berada di dekat rak buku tersebut. Aku pun membuka buku itu, dan mulai membaca isinya.
“Hei, boleh aku duduk disini?” tanya seseorang. Dan kurasa pertanyaan itu ditujukan untukku. Mengingat hanya aku sendiri yang berada di deretan bangku ini. Aku pun mendongak untuk melihat orang tersebut. Dia laki-laki, dan sepertinya satu angkatan denganku. Tapi dia bukan teman sekelasku.
“Silahkan.” ucapku singkat, dan kembali menatap buku bacaanku.
“Terima kasih.” dia pun menggeser kursi untuk didudukinya.
“kau anak kelas 10 ya?” tanya anak laki-laki itu.
“iya.” ucapku tanpa melihatnya.
“aku juga anak kelas 10.”
Rupanya dugaanku benar.
“Perkenalkan namaku Tyo. Boleh kutahu siapa namamu?” tanyanya lagi.
“Fina.” ucapku singkat. Dan yang kudengar dari mulutnya, dia hanya ber-oh ria.
“Kau suka membaca novel remaja seperti itu?” tanyanya lagi, sambil mengangkat sebelah alisnya ke atas. Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan datar.
“Memangnya kenapa? Ada masalah?” tanyaku dengan nada kurang suka. Aku melirik sebuah buku yang tengah digenggamnya. Sebuah novel misteri yang lumayan tebal.
“Dan kau suka membaca novel misteri seperti itu?” tanyaku sinis sambil menunjuk ke arah bukunya.
“Hhh.. Benar-benar membosankan.” lanjutku kemudian. Dia pun balas melihatku dengan tatapan tidak suka.
“Lagipula..” aku masih terus berbicara.
“Aku jarang melihat anak laki-laki yang suka meluangkan waktunya untuk membaca. Apa lagi membaca novel setebal itu. Seingatku, mereka lebih suka membaca komik, atau yang yah… begitulah. Dan menurutku, kau sedikit aneh.”
“Mungkin aku memang berbeda dengan anak laki-laki lain. Tapi asal kau tahu, inilah diriku yang sesungguhnya.” ucapnya sambi menuding wajahku dengan jari telunjuknya. Ada sedikit nada marah dalam ucapannya. Sedangkan aku hanya diam dan mengangkat bahu tak peduli.
Sudah hampir 3 bulan aku bersekolah disini. Dan hampir setiap hari aku datang ke perpustakaan, meskipun terkadang aku ikut teman-temanku untuk makan di kantin sekolah. Dan hampir setiap hari itulah, aku sering bertemu dengan Tyo. Aku dan dia masih sama seperti 3 bulan lalu, sering beradu argumen hanya karena perbedaan pendapat. Hingga pada suatu hari, sekolah mengadakan lomba menulis cerpen, dan Tyo mengajakku taruhan untuk membuat cerpen.
“Kau gila ya? Mana mungkin lomba tersebut dijadikan ajang taruhan?” tanyaku masih tak percaya. Seperti biasa kami berada di dalam perpustakaan.
“Bilang saja kau takut bersaing denganku.” ucapnya santai. Lama-lama aku geram juga menghadapi cowok seperti dia.
“Lagipula aku tdak meminta macam-macam. Hanya, nanti yang kalah harus memberi yang menang buku yang disukai. Simple kan?” sambungnya.
“tapi Tyo-”
“Tidak ada tapi-tapian.” ucapnya, memotong ucapanku. Aku hanya menghela nafas pasrah mendengar keputusan sepihaknya. Dan akhirnya, dengan hati setengah ikhlas, aku menyetujuinya.
“Ok. Aku terima tantanganmu.” ucapku pelan. Dan dia tersenyum lebar penuh kemenangan.
“Bagus. Baiklah, aku mau ke kelas dulu. Berjuanglah, Fina.” dia menepuk sebelah pundakku sebanyak 2 kali, lalu melangkah pergi menuju kelasnya.
‘Dasar!’ umpatku dalam hati
Singkat cerita, aku berhasil menyelesaikan hasil cerpenku dalam waktu 1 sminggu. Setelah itu, aku menyerahkan hasil karanganku ke petugas perpustakaan sekolah. Waktu itu, aku tak sengaja berpapasan dengan Tyo, yang juga mengumpulkan hasil cerpennya. Dia hanya melirikku sekilas, dan tersenyum simpul. Kemudian keluar dari perpustakaan tanpa sepatah kata yang keluar. Aku hanya heran melihat sikapnya. Tapi aku tak memusingkannya.
Aku harus menunggu pengumuman pemenang lomba cerpen sampai 2 minggu. Teman-temanku tahu kalau aku mengikuti lomba menulis cerpen, dan mereka juga ikut mendukungku.
2 minggu kemudian…
Setelah selesai upacara, guru yang menjadi petugas perpustakaan mengumumkan pemenang lomba menulis cerpen. Juara 1 dimenangkan oleh seseorang dari kelas 11, juara 2 dimenangkan kelas 12. Aku takut jika Tyo yang jadi juara ke 3. Masa aku kalah sama Tyo.
“dan juara ke 3 dimenangkan oleh…”
‘ya Tuhan, siapa saja asalakan bukan Tyo.’ doaku dalam hati.
“Fina Hidayanti dari kelas 10.” ucap guru petugas tersebut. Aku masih, tak percaya kalau aku bisa jadi pemenang. Teman-temanku langsung bersorak kepadaku. Dan aku maju ke tengah lapangan untuk menerima selamat dan hadiah.
Dalam hati aku berfikir, bagaimana reaksi Tyo yang melihatku sebagai pemenang ya? Ya, walaupun hanya sebagai juara ke 3, tapi tetap saja dia sudah kalah dariku.
Aku masih melakukan kegiatanku di sekolah seperti biasanya. Yaitu menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan. Untuk masalah taruhan yang dibuat oleh Tyo, aku tak terlalu memperdulikannya. Aku tak ambil pusing jika ia lupa akan janjinya. Toh, aku ikut lomba itu karena terpaksa.
“Nih, selamat karena sudah mengalahkanku.”
Aku tahu dari suaranya kalau itu adalah Tyo. Aku pun langsung menutup buku yang kubaca dan menatapnya. Dia tengah menyodorkan sebuah bungkusan kecil berbentuk persegi kepadaku. Tak perlu bertanya apa isinya, karena aku sudah tahu jika itu adalah novel. Aku pun menerima bungkusan itu sambil tersenyum simpul.
“Kukira kau lupa akan janji yang kau buat sendiri itu.” ucapku santai, dan dia terkekeh.
“Aku bukan tipe laki-laki yang suka ingkar janji. Kau harus ingat itu.” katanya.
“Baguslah kalau begitu. Dan terima kasih atas barang taruhannya.” aku kembali membuka buku yang sempat kututup tadi. sedangkan Tyo sepertinya belum mau beranjak dari tempatnya.
“Apa hanya itu? Apa kau tak mau bertanya tentang cerpen yang kubuat untuk perlombaan?” tanyanya, kini ia duduk tepat di depanku.
“Apa itu penting? Memang apa yang kau buat?” tanyaku dengan nada tak ingin tahu.
“Aku membuat cerita tentang seorang anak gadis yang cuek, ketus, dan juga kutu buku.” jawabnya. Aku tak tahu siapa yang dimaksud, dan aku juga tidak mau tahu siapa yang dimaksud olehnya. Lalu kulihat dia berdiri dan berjalan ke arahku. Kemudian berbisik,
“Dan gadis itu adalah dirimu, Fina…” setelah itu dia segera melesat pergi meninggalkan perpustakaan dan diriku yang masih terdiam seribu bahasa.
Aku membuka bungkusan tersebut. Di dalamnya ada sebuah novel remaja, seperti yang dijanjikan. Dan… Sebuah bros? Sebuah bros berbentuk kupu-kupu berwarna biru. Apa maksudnya? Disana juga ada catatan kecil. Isinya, ‘selamat ya, aku harap kau senang dengan hadiah keduamu ini. Dan bros itu, anggap saja itu bonus dariku, sebagai hadiah dari pertemanan kita sesama kutu buku. Hehehe.’
Aku tersenyum membaca tulisannya. Aku merasa senang saat itu. Entah apa yang membuatku seperti itu. Lagipula siapa yang peduli akan alasannya? Aku bahagia, itu sudah cukup.
TAMAT.
Cerpen Karangan: Aniva A.
Facebook: Aniva Anggraeni
Taruhan
4/
5
Oleh
Unknown
