Just Go

Baca Juga :
    Judul Cerpen Just Go

    Suara jatuhnya air hujan sukses mengisi keheningan ini. Dalam kedinginan, Ana masih tetap bertahan duduk di samping Ervan di halte yang tak jauh dari sebuah rumah sakit sambil menunggu hujan berhenti.

    Sudah hampir setengah jam berlalu, namun diantara mereka tak ada yang mau membuka percakapan lebih dulu. Sungguh, Ana tahu semua telah berubah. Kondisi tak seperti dulu dikala mereka bisa saling canda tawa dengan puasnya. Kini keadaan telah berbeda. Yang paling ia sesali karena telah ada hati yang tersakiti.

    Karena sudah habis kesabarannya, Ana berniat ingin berlari menerobos hujan saja.
    “Jangan pergi,” suara lirih itu sukses menghentikan gerakan Ana. “Gue mohon.”
    Saat Ana menoleh ke arah Ervan, laki-laki itu juga balik menatap dirinya dengan tatapan yang agak kecewa. Setidaknya Ana tahu itu.
    “Kenapa? Apa lo akan biarkan gue berdiam diri disini sampai membeku?” tanya Ana jadi ikut terbawa emosi.
    Ervan segera membuang mukanya ke arah lain sambil menghela napas. “Maafkan gue.”
    Ana menggeleng sambil berkata, “Jangan, jangan minta maaf. Gue yang seharusnya melakukan itu.”
    Ana mencoba untuk kembali mendekatinya. Namun Ervan segera berkata, “berhenti! Jangan kembali, sebelum gue berubah pikiran. Pergilah, An.”



    Mentari pagi tampaknya enggan membuka diri dengan terus berselimut dibalik awan yang gelap. Ana yang melihat cuaca mendung seperti itu hanya bisa menghela napas kecewa. Sudah dipastikan jam pelajaran olahraganya kali ini akan sangat membosankan.
    “Anastasya,” panggil sang ketua kelas yang bernama Vicky. Vicky memang paling suka memanggil Ana dengan nama lengkap gadis itu.
    “Ya-ya, gue tahu apa yang ingin lo bicarakan,” jawab Ana dengan cepat. “Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Guess what? Kita nggak akan olahraga di lapangan, Vic.”
    “Tapi belum tentu sebelum Pak Yogi yang mengatakannya,” balas Vicky. “Sudahlah, gue akan memanggilnya dulu. Lebih baik lo segera siapkan buku agenda kelas.”
    Ana melepas kepergian Vicky yang melangkah menuju ruang guru dengan menghela napas murung. Tak ingin membuang waktu, ia segera menyiapkan buku agenda kelas. Ya, dirinya memang selaku sekertaris kelas ini.
    “Ana, kenapa wajah lo murung begitu?” tanya Sarah, teman dekatnya. Lalu segera berseru, “Oh iya, you know what? Katanya Pak Yogi hari ini nggak masuk loh!”
    “Benarkah?” bukan hal seperti itu yang diharapkan oleh Ana. “Padahal gue berharap olahraga kali ini basket.”
    Sarah mengangguk. “Tak apalah. Kita kan bisa bermain sendiri.”



    “Hm, Sar, apa yang kita lakukan sekarang nggak masalah?” tanya Ana sambil terus mendekap erat bola basket itu.
    “Asal nggak ketahuan sih, nggak masalah,” jawab Sarah begitu tenang. “Lagipula, yang anak cowok aja pada ikut main. Ayolah! Kapan lagi kita senang-senang seperti ini?”
    Meski awalnya ragu karena gerimis kini mulai turun, namun Ana tetap mengikuti ajakan Sarah untuk bermain basket di lapangan luar sekolah.
    Mereka terus mendribble bola tanpa henti. Mencoba memasukkannya ke dalam ring dengan acak. Meski tubuh mereka telah kuyup karena air hujan, namun itu tak menghalangi permainan mereka.
    Alan, Tama, Bobby, Zery, dan Mishel juga turut ikut bermain. Hanya Ana dan Sarah selaku anak cewek yang ikut bermain. Alasan Sarah klasik yaitu karena ingin bersenang-senang. Namun bagi Ana, ada satu hal yang membuat moment kali ini menjadi spesial.

    “Hm, An,” panggil Sarah ditengah-tengah bermain. “Lo sadar ada Alan juga disini?”
    Ana mencoba bersikap biasa saja. “Terus kenapa?”
    Yeah, selama ini sudah menjadi rahasia umum kalau seorang Anastasya mengagumi Alan. Namun sepertinya cowok itu malah bersikap biasa saja. Entah karena tak peka, atau memang tak suka.

    Karena hujan yang turun makin deras, mereka segera berlari ke tepi sekedar berteduh.
    Tubuh mereka benar-benar basah. Ana pun mulai menggigil. Namun dalam hati ia merasa bahagia, bisa berada dalam satu moment bersama Alan. Ana terus memperhatikan gerak-gerik Alan yang berdiri tak jauh darinya. Ingin rasanya ia bertanya apakah cowok itu baik-baik saja. Atau mungkin juga sekedar mengelap wajah basah itu dengan handuk kecil miliknya yang masih terjaga. Namun rasanya semua itu begitu sulit untuk dilakukan.
    “Ana, wajahmu mulai pucat tuh.” ucap Tama yang berada di dekatnya. Semua yang mendengar ucapan Tama barusan segera turut menoleh. Bahkan mata Ana bertemu dengan Alan. Namun tampaknya cowok itu hanya cuek menyaksikan dirinya yang memang sedang melawan dinginnya air hujan. Cowok itu malah beranjak entah kemana.

    “Nih pake jaket gue.” ujar seseorang beberapa saat kemudian sambil melampirkan jaket ke tubuh Ana.
    Refleks tubuh Ana mematung. Bagaimana tidak bila cowok itu ternyata tak lain memang Alan. Dinginnya air hujan ini menjadi terasa hangat di hati Ana.
    “Jangan coba berani nekat main hujan-hujanan kayak ini lagi.” ucap Alan pelan nyaris seperti bisikan. Meski terdengar sebagai ancaman, namun Ana tetap mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.
    Ya, cinta telah membuatnya bertingkah konyol seperti ini.



    “Hashhhcih!” Berkali-kali Ana bersin. Mungkin karena hujan-hujanan kemarin yang memberinya efek bersin-bersin seperti ini.
    “Ya! Siapa suruh main hujan-hujanan? Lo jadi sakit dan gue yang ribet kan.” Cibir Ervan yang masih sibuk membuatkannya teh hangat.
    “Lagipula kan main basket seru. Siapa suruh hujannya yang turun.” Sahut Ana konyol.
    “Aww, sakit tau.” Ringis Ana saat Ervan menyentil pelan keningnya jail.
    “Gue nggak yakin cuma itu alasan lo sampai rela hujan-hujanan seperti kemarin,” balas Ervan lagi. “Nih diminum dulu tehnya. Habis itu minum obat, lalu segeralah tidur. Semoga besok jadi lebih baik dan bisa sekolah lagi.”
    Ana tersenyum simpul. Ia sangat heran kenapa Ervan begitu peduli dengannya. Cowok itu.. seakan begitu tahu akan dirinya. Seolah-olah memang Ervan sangat mengerti akan Ana.
    Bahkan kata Sarah, Ervan memang menyukainya. Namun sampai kini, cowok itu belum berkata apa-apa padanya. Yeah, mereka terus menjalani pertemanan ini.

    “Lo begitu baik, Van,” ucap Ana dengan tulus.
    “Ya! Lo baru tahu itu?” cibir Ervan dengan canda. “Hei, itu jaket siapa? Gue rasa bukan milik lo, An.”
    “Hm, oh, ini punya teman.” Jawab Ana sambil menggigit bibir bawahnya.
    “Lo menyembunyikan sesuatu, Ana. Gue melihat itu.” Sial. Ana memang tak bisa mengelak lagi. “Itu jaket cowok kan? Siapa?”
    “Alan. Ini jaket miliknya. Kemarin dia meminjamkannya untuk gue.”
    “Hooh, sepertinya gue mengerti kenapa lo kemarin begitu nekat untuk main basket tanpa peduli akan kesehatan, An.” Ana menghela napasnya. “Ada cowok lain yang membuat lo tertarik ya, An? Cowok itu?”
    Pertanyaan seperti itu sukses membuat napas Ana tersekat.



    Ana masih berlarian di koridor rumah sakit mencari kamar nomor 114. Hatinya terus berdegup dan takut. Tapi ada sebesit rasa enggan untuk menjenguknya.
    Sh*t. Dia harus melawan rasa egonya.
    Sampai di depan kamar yang dituju, Ana langsung masuk dan bertemu langsung dengan kedua orangtua Alan. Setelah berbicara sejenak, Ana ditinggalkan berdua dengan Alan di ruangan ini karena kedua orangtua cowok itu yang ingin keluar sebentar.

    Ana melangkah mendekat. Alan masih terbaring lemah dengan mata tertutup. Rupanya ia sedang tertidur.
    Alan ternyata sudah lama menderita meningitis. Radang otak yang mematikan bila telat ditangani. Tapi untungnya ia sukses melewati masa kritis itu. Yang miris, kenapa Ana tak pernah tahu hal ini?
    Ingin rasanya Ana mengelus tangan Alan dengan lembut. Menatap raut wajah Alan yang tidur dengan tenang membuat hati Ana hangat. Ana tersenyum sambil mengigit bibir bawahnya. Jujur aja hatinya seperti tersayat, ia merasa seperti orang asing bagi cowok itu.

    “Gue disini, Lan,” ucap Ana seakan bicara dengannya. “Cepatlah sembuh. Gue.. Gue tahu kalau lo pasti kuat.”
    Kemudian Ana menaruh buah-buahan yang tadi sempat ia beli di meja.
    Saat ia berbalik, rupanya Alan kembali terbangun.
    Alan cepat menyadari keberadaan Ana lalu menatap cewek itu lama.
    “Lan, kalau lo nggak suka gue disini, gue akan pulang,” ujar Ana dengan segera.
    Alan menggeleng lemah. “Jangan..”
    Ana menghela napas lega.
    “Terima kasih,” ucap Alan lagi. “Karena mau menjenguk gue.”
    Belum sempat Ana menjawab, telah hadir seorang cewek yang sangat dikenal olehnya.
    “Hai, Alan!” sapanya begitu ramah. Dia bernama Wenny, cewek yang sangat dekat dengan Alan. “Eh, ada Ana juga. Apa kabar?”
    Ana mencoba tersenyum ramah. “Baik kok. Hm, Lan, gue ke luar dulu ya. Semoga lo cepat sembuh.”
    “Eh, kenapa buru-buru?” balas Alan.
    “Ah, itu gue ada keperluan lain.” Dusta Ana lalu segera melangkah ke luar.

    Tes.
    Air mata yang Ana pertahankan sejak tadi akhirnya jatuh juga. Di luar pintu kamar rawat Alan, Ana menangis. Selain khawatir pada keadaan Alan, juga muncul rasa cemburu dibenaknya melihat kedatangan Wenny.
    Ana tertawa hambar sambil merutuki dirinya. “Gue bukan siapa-siapanya. Tapi mengapa gue merasakan hal bodoh seperti ini?”
    Karena Ana baru ingat akan mau kembalikan jaket milik Alan, kemudian ia memilih untuk kembali masuk.
    Namun saat ia baru membuka pintu, percakapan asik antara dua insan di dalam itu sukses membuat mereka tak menyadari kehadiran Ana.
    “Bodoh,” balas Wenny dengan nada ceria. “Kenapa lo tega nggak ngasih kabar hal ini. Kalau kenapa-kenapa gimana? Kan penyakit itu fatal, Alan. Dan bisa-bisanya lo keliatan baik-baik aja selama ini di depan gue—“
    Ana menyadari sesuatu..seperti berlebihan. Wenny terlihat sangat khawatir pada cowok itu, sama seperti dirinya.
    “Ternyata lo begitu perhatian ya,” balas Alan sambil tertawa kecil. “Dan juga cerewet.”
    Wenny tampak bete namun tersenyum juga.
    “Udah gak usah ungkit yang lalu, oke?” pinta Alan lagi.
    Wenny mengangguk.

    “Wen,”
    “Ya?”
    “Maafin gue waktu itu nggak bisa dateng ke kafe buat acara kita.”
    Wenny mengangguk lagi dengan arah pandang masih memperhatikan objek yang lain. “Gue udah tahu alasannya.”
    “Maafin gue juga kalau lo jadi berpikir yang aneh tentang gosip gue sama cewek lain. Jujur aja itu nggak bener. Mereka yang-”
    “Mereka yang deketin lo kan?” dusta Wenny malah tersenyum simpul. “Ya kan?”
    “Alan liat gue,” panggil Wenny lagi.
    Lalu Alan menurut. “Apa?”
    “Boleh kasih gue kesempatan kedua?”
    Deg.
    Ucapan itu membuat Ana terkejut sampai tak sengaja membuat suara hentakan pintu yang ditutup. Hal itu sukses membuat Wenny dan Alan segera menoleh ke arahnya.
    “Eh, Ana. Kenapa berdiri disitu?” tanya Alan berusaha membetulkan posisi duduknya.
    Ana menjadi canggung. “Hm, nggak apa-apa. gue pulang dulu ya. Permisi.”
    Ana pun pulang dengan perasaan nyeri juga penuh tanya.



    Masih di halte dekat rumah sakit —dimana Alan sedang dirawat— Ana masih terus menatap Ervan yang berdiri agak jauh darinya dengan pandangan bertanya-tanya.
    Mengapa?
    “Setidaknya kasih gue alasan, Van. Atau lo bisa mengeluarkan semua yang lo pendam selama ini,” ucap Ana memohon lalu berdiri di hadapannya. “Gue telah mengecewakan lo, kan?”
    “Dengan gue yang menemukan tadi lo menangis disini, gue udah bisa menyimpulkan, An,” jawab Ervan dengan tegas. “Alan kembali membuat lo sedih kan?”
    Kembali mendengar nama Alan, tanpa terasa membuat Ana meneteskan air matanya. Ia segera menunduk malu. Malu pada sosok cowok di hadapannya ini yang telah menjadi teman dekatnya selama ini, namun ia hiraukan perasaan itu.
    “Kenapa lo nggak jujur sama Alan—“
    “Dan kenapa lo nggak jujur sama gue kalau lo memang menyukai gue, Van?” potong Ana sambil mencegah kedua tangan Ervan yang tadi ingin memegang bahunya.
    Ervan balik menggenggam tangan mungil milik gadis satu ini. “Siapa bilang?”
    Ana menatap mata Ervan mencari kebenaran. Lalu ia menggeleng pelan. “Mata lo nggak bisa bohong, Ervan.”

    Satu Bulan Kemudian.
    Ervan masih setia berdiri menunggu di dalam ruang rawat dimana Ana berbaring lemah di sebuah tempat tidur. Ia berjalan mondar-mandir sambil terus berdoa dalam hati agar gadis itu cepat diberi kesembuhan.
    Beberapa waktu lalu, Ervan dapat kabar bahwa Ana mengalami kecelakaan mobil saat di perjalanan pulang. Ervan langsung cemas setengah mampus. Ia sangat takut karena tak ingin kehilangan gadis itu.
    Sampai saat ini, kondisi Ana masih lemah. Kaki kanannya mengalami cedera dan mengharuskannya memakai kursi roda untuk sementara. Melihat kondisi Ana seperti itu, Ervan menjadi sangat prihatin.

    Gdebuk.
    Ervan segera menoleh ke sumber suara. Ternyata Ana sudah bangun dan malah jatuh ke lantai karena niat ingin mengambil air minum yang tak kunjung ia gapai.
    “Kenapa nggak panggil gue, An kalau lo mau minum?” tanya Ervan khawatir sambil membantu Ana kembali balik ke kasur. “Tubuh lo makin sakit kan jadinya.”
    “Gue.. gue cacat ya, Van?” lirih Ana.
    “Sttt, lo nggak boleh ngomong gitu. Lo bakal bisa jalan kayak biasa lagi kok,” ujar Ervan berusaha menenangkannya. “Asal lo tetap semangat, An.”
    Perlahan, Ana menyunggingkan senyuman. “Makasih karena lo selalu ada buat gue, Van.”
    Ervan mengecup kening Ana pelan sehingga membuat tubuh gadis itu mematung, “Karena gue sayang sama lo, An.”
    “Gue juga,” Ervan menarik Ana ke dalam pelukannya. “Suatu saat nanti, pelukan lo ini yang selalu gue rindukan, Ervan. Juga semua sifat cerewet lo yang akan gue perlukan. Tolong jangan pernah lupakan gue.”
    “Gue selalu ada disini, An. Yang penting lo sembuh dulu,” Ervan melepas pelukan itu lalu menatap mata indah milik Ana. “Ah iya, ada mau jenguk lo nih.”

    Flashback on.
    BUG.
    Ervan menghajar seorang cowok yang kini baru tiba di hadapannya berdiri. Refleks cowok itu sampai jatuh tersungkur menabrak dinginnya lantai.
    Ervan menggeleng pelan. “Habis sudah kesabaran gue buat lo, Lan.”
    Ya. Cowok itu tak lain ialah Alan. Alan baru datang hari ini buat menjenguk Ana. Tapi entah kenapa, Ervan langsung menghajarnya seperti tadi.
    Sambil menyeka sudut bibirnya yang terasa perih, Alan bertanya, “Apa salah gue?”
    Terbawa emosi, Ervan mengangkat sedikit kerah baju Alan lalu menyudutkannya ke dinding di dekat mereka. Ervan menatapnya dengan sengit. “Jadi cowok macem lo yang selalu membuat Ana murung? Dan baru hari ini lo tahu kalau dia dirawat?!”
    Ervan tidak memberi Alan kesempatan untuk menjawab dan kemudian menghempaskan genggamannya tadi dengan kasar. “Kemana aja lo disaat Ana yang selalu khawatir sama lo? Hah?”
    “Gue tahu gue salah,” ucap Alan perlahan sambil mengatur napasnya. “Tapi gue hanya nggak mau buat dia jadi berharap.”
    Ucapan itu kembali membangkitkan emosi Ervan. “Berharap maksud lo? Selama ini hanya lo yang jadi pusat perhatian dia, Lan. Hanya lo. Apa lo nggak sadar hal itu?”
    “Please, Lan,” lirih Ervan beberapa saat kemudian. “Sh*t, sejujurnya gue males mohon sama cowok macem lo. Tapi demi Ana, gue harap buat dia bahagia.. bersama lo.”
    Flashback off.

    “Alan?!” pekik Ana tak percaya akan orang yang muncul di balik pintu itu.
    Alan tersenyum sambil melangkah mendekat. “Cepat sembuh, An. Sorry—”
    “Makasih udah mau datang, Lan,” potong Ana riang sambil mencium bunga mawar putih yang dibawakan Alan. Ana tersenyum manis. “Ini aja udah cukup. Makasih, Lan.”
    Ervan yang memperhatikan dengan seksama, berusaha untuk tetap ikhlas. Ia menatap Alan sejenak, lalu mengangguk mengisyaratkan sesuatu bahwa dirinya baik-baik saja. Ia harus turut bahagia melihat kebahagiaan gadis yang selama ini ia sayangi itu, meski bukan harus dengan dirinya.

    END

    Cerpen Karangan: Anggita Azizah Amalia
    Facebook: facebook.com/anggita.a.amalia

    Artikel Terkait

    Just Go
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email