Judul Cerpen Akhir Yang Aneh
Menjadi seorang saksi pernikahan takkan menjadi masalah. Apa salahnya menjadi saksi. Ia hanya menyaksikan dan menikmati acara hingga usai. Seraya berbahagia dan mengucapkan selamat.
Memang tak ada yang salah menjadi saksi. Memang. Tapi siapa sangka di hatinya menyimpan segala rasa. Ia hanya memasang wajah palsu yang dilukis sebahagia mungkin.
Dan… itulah aku.
1 Januari 2016
Hari itu hari baru setelah melewati setahun yang lalu. Hari itu juga sebagai prasasti kekal antar sepasang kekasih. Hari itu sang wanita dengan cantik melenggang menuju pelaminan. Ia mengangkat sedikit bawah gaunnya agar tak terinjak. Dan di sisi lain, pengeran tampan telah menantinya.
Si pria berdiri dan meraih tangan sang wanita. Mengajaknya bersama dan melihat ke arah depan. Kilauan sinar kamera agak menyilaukan mata mereka. Tapi, mereka terus berpose sampai akhirnya terduduk bersamaan. Meski aku memandang dari kejauhan itu tetap tidak menutup kemungkinan. Bisa kulihat mereka bahagia sambil berpegangan tangan. Itulah yang membuatku sakit.
Seharusnya aku tidak ingin menghadiri acara ini. Tapi tidak bisa. Tak wajar jika aku tidak menghadiri acara sahabatku sendiri. Yah, meski aku hampir pingsam ketika ia ucapkan ijab qabul bahkan hampir mati ketika dinyatakan sah. Aku harus tetap memasang tampang bahagia di depannya.
Tiba waktunya untuk bersalaman dan mengucapkan selamat. Tapi yang kurasakan saat ini: aku merasa sangat lengket dengan tempat dudukku. Atau aku yang tak ingin bangkit?
Aku putuskan diam sejenak dan memerhatikan yang lain berjalan menuju pelaminan. Dan lagi-lagi bisa kulihat seksama bahwa sahabatku itu sangat bahagia.
Yah, lega rasanya melihatnya bahagia bersama orang yang dicintainya. Sampai aku merasa hina karena pernah menyukainya. Bahkan lebih dari itu… aku mencintainya. Aku mencintainya sejak satu tahun terakhir. Aku menyadari ada yang berbeda ketika aku bertemunya, menyapanya, merangkul pundaknya, berbicara padanya, bahkan bercanda. Itu semua menghasil getaran di sini, di hati. Semenjak itu aku terus memikirkannya. Aku menjadi gelisah di setiap malamnya. Aku memikirkannya tanpa mengungkapkan sebenarnya kalau aku mencintainya.
Sampai di pertengahan desember. Ia mampir ke rumah. Aku menyuruhnya masuk dan sesaat ingin ke dapur, ia menahanku. Ia menyodorkan sebuah surat padaku. Dan jelas tertuliskan, ‘Surat Undangan Pernikahan Ferri Septian dan Adila Akila’.
Napasku menjadi sesak. Pandanganku buram. Aku menangis. Melihat reaksiku, Ferri menanyakan ada apa. Dan karena tak ingin mengecewakannya aku hanya menjawab jika aku terharu. Selepas itu ia agak bahagia dan pamit pergi. Setelah itu barulah aku menangis. Aku… patah hati.
Aku duduk termenung mengingat masa indahku bersama Ferri. Mungkin takkan bisa lagiku bersamanya karena ia akan bersama istri tercintanya itu. Aku ikhlaskan semuanya tentang masa indah itu. Tiba-tiba pundakku disentuh seseorang. Aku menoleh ke belakang dan tak kutemukan siapapun. Lalu aku menoleh ke samping dan terkejut. Ada pria di sampingku, duduk dan tersenyum padaku.
“Kenapa tak ke sana?” tanyanya. Dan belum sempat aku menjawab, ia kembali berkata, “Namaku Ando. Kamu?”
Kujawab singkat, “Iis”. Lalu kembali ke posisi awal.
Aku kembali memandang ke depan dan mereka masih tampak bahagia. Tak kutemukan tanda lelah sedikitpun. Aku kagum hal itu.
“Ungkapkan saja. Akan terasa lega jika kau ungkapkan”. Aku menoleh pada asal suara. Dan itu, Ando yang berbicara.
Entah kenapa aku terasa terhipnotis dan mengikuti perkataannya. Aku berlari menuju pelaminan. Tepat di depan kedua pengantin, mereka menatapku bingung.
Kugenggam tangan Ferri dan Adila. Kusatukan keduanya. Aku… aku mengungkapkan semua yang ada di hatiku.
“…aku mencintaimu, Ferri. Tapi aku lebih bahagia jika kau bersama Adila. Aku bahagia. Sungguh”.
Setelah itu, suasana menjadi mengharukan karena kami saling berpelukan.
Lalu aku kembali ke tempat dudukku dan kucari sosok Ando. Tapi ia tak ada. Hanya kutemukan secarik kertas. Bertuliskan ajakan untuk ke taman. Dan kalimat yang bagaikan sengatan listrik.
‘…apa kau percaya pada cinta pandangan pertama?’
Alhasil, aku mendatanginya. Dan aku resmi bersamanya. Sungguh ujung cerita yang aneh. Atau adil? Karena tanggal 1 Januari 2017 aku akan menikah dengan Ando.
End
Cerpen Karangan: Nura Insyirah
Facebook: Nuura ya ana
ID Line: nuura246
Menjadi seorang saksi pernikahan takkan menjadi masalah. Apa salahnya menjadi saksi. Ia hanya menyaksikan dan menikmati acara hingga usai. Seraya berbahagia dan mengucapkan selamat.
Memang tak ada yang salah menjadi saksi. Memang. Tapi siapa sangka di hatinya menyimpan segala rasa. Ia hanya memasang wajah palsu yang dilukis sebahagia mungkin.
Dan… itulah aku.
1 Januari 2016
Hari itu hari baru setelah melewati setahun yang lalu. Hari itu juga sebagai prasasti kekal antar sepasang kekasih. Hari itu sang wanita dengan cantik melenggang menuju pelaminan. Ia mengangkat sedikit bawah gaunnya agar tak terinjak. Dan di sisi lain, pengeran tampan telah menantinya.
Si pria berdiri dan meraih tangan sang wanita. Mengajaknya bersama dan melihat ke arah depan. Kilauan sinar kamera agak menyilaukan mata mereka. Tapi, mereka terus berpose sampai akhirnya terduduk bersamaan. Meski aku memandang dari kejauhan itu tetap tidak menutup kemungkinan. Bisa kulihat mereka bahagia sambil berpegangan tangan. Itulah yang membuatku sakit.
Seharusnya aku tidak ingin menghadiri acara ini. Tapi tidak bisa. Tak wajar jika aku tidak menghadiri acara sahabatku sendiri. Yah, meski aku hampir pingsam ketika ia ucapkan ijab qabul bahkan hampir mati ketika dinyatakan sah. Aku harus tetap memasang tampang bahagia di depannya.
Tiba waktunya untuk bersalaman dan mengucapkan selamat. Tapi yang kurasakan saat ini: aku merasa sangat lengket dengan tempat dudukku. Atau aku yang tak ingin bangkit?
Aku putuskan diam sejenak dan memerhatikan yang lain berjalan menuju pelaminan. Dan lagi-lagi bisa kulihat seksama bahwa sahabatku itu sangat bahagia.
Yah, lega rasanya melihatnya bahagia bersama orang yang dicintainya. Sampai aku merasa hina karena pernah menyukainya. Bahkan lebih dari itu… aku mencintainya. Aku mencintainya sejak satu tahun terakhir. Aku menyadari ada yang berbeda ketika aku bertemunya, menyapanya, merangkul pundaknya, berbicara padanya, bahkan bercanda. Itu semua menghasil getaran di sini, di hati. Semenjak itu aku terus memikirkannya. Aku menjadi gelisah di setiap malamnya. Aku memikirkannya tanpa mengungkapkan sebenarnya kalau aku mencintainya.
Sampai di pertengahan desember. Ia mampir ke rumah. Aku menyuruhnya masuk dan sesaat ingin ke dapur, ia menahanku. Ia menyodorkan sebuah surat padaku. Dan jelas tertuliskan, ‘Surat Undangan Pernikahan Ferri Septian dan Adila Akila’.
Napasku menjadi sesak. Pandanganku buram. Aku menangis. Melihat reaksiku, Ferri menanyakan ada apa. Dan karena tak ingin mengecewakannya aku hanya menjawab jika aku terharu. Selepas itu ia agak bahagia dan pamit pergi. Setelah itu barulah aku menangis. Aku… patah hati.
Aku duduk termenung mengingat masa indahku bersama Ferri. Mungkin takkan bisa lagiku bersamanya karena ia akan bersama istri tercintanya itu. Aku ikhlaskan semuanya tentang masa indah itu. Tiba-tiba pundakku disentuh seseorang. Aku menoleh ke belakang dan tak kutemukan siapapun. Lalu aku menoleh ke samping dan terkejut. Ada pria di sampingku, duduk dan tersenyum padaku.
“Kenapa tak ke sana?” tanyanya. Dan belum sempat aku menjawab, ia kembali berkata, “Namaku Ando. Kamu?”
Kujawab singkat, “Iis”. Lalu kembali ke posisi awal.
Aku kembali memandang ke depan dan mereka masih tampak bahagia. Tak kutemukan tanda lelah sedikitpun. Aku kagum hal itu.
“Ungkapkan saja. Akan terasa lega jika kau ungkapkan”. Aku menoleh pada asal suara. Dan itu, Ando yang berbicara.
Entah kenapa aku terasa terhipnotis dan mengikuti perkataannya. Aku berlari menuju pelaminan. Tepat di depan kedua pengantin, mereka menatapku bingung.
Kugenggam tangan Ferri dan Adila. Kusatukan keduanya. Aku… aku mengungkapkan semua yang ada di hatiku.
“…aku mencintaimu, Ferri. Tapi aku lebih bahagia jika kau bersama Adila. Aku bahagia. Sungguh”.
Setelah itu, suasana menjadi mengharukan karena kami saling berpelukan.
Lalu aku kembali ke tempat dudukku dan kucari sosok Ando. Tapi ia tak ada. Hanya kutemukan secarik kertas. Bertuliskan ajakan untuk ke taman. Dan kalimat yang bagaikan sengatan listrik.
‘…apa kau percaya pada cinta pandangan pertama?’
Alhasil, aku mendatanginya. Dan aku resmi bersamanya. Sungguh ujung cerita yang aneh. Atau adil? Karena tanggal 1 Januari 2017 aku akan menikah dengan Ando.
End
Cerpen Karangan: Nura Insyirah
Facebook: Nuura ya ana
ID Line: nuura246
Akhir Yang Aneh
4/
5
Oleh
Unknown
