Antara Homesick dan Kuliah, Perjalanan ke Jateng

Baca Juga :
    Judul Cerpen Antara Homesick dan Kuliah, Perjalanan ke Jateng

    Kuliah itu cita-citaku sejak kecil dan bukan sejak saat sekarang. Maksudku bukan berarti sekarang aku Gak ingin lanjut kuliah. Aku tetap ingin kuliah namun keinginanku untuk kuliah sudah tak sebesar dulu.
    Saat kecil aku masih polos dan kupikir jika aku kuliah akan menyenangkan tentunya. Seperti memakai jas almamater, hubungan percintaan dengan seseorang dan punya teman-teman yang dewasa. Yah itu hanya bayanganku saja. Bayangan emang tak seindah kenyataan -terkadang-. Namun ini benar-benar Gak indah buat kenyataan hidupku.

    Semua ini dimulai dari keputusanku 3 tahun lalu. Aku masih berumur 15an tahun ketika itu. Aku meminta kepada kedua orangtuaku untuk bersekolah SMA di provinsi Jawa tengah. Di sana tinggallah nenekku dan seorang sepupu lelaki. Maksudku supaya aku lebih mandiri. Bukan hanya itu saja karena aku pun sudah bosan dengan teman-temanku. Coba saja dari awal TK sampai SMP temanku ya itu-itu saja. Dan mungkin sampe SMA temanku akan tetap itu-itu saja ditambah sedikit perubahan. Sekolah SMA di provinsi Sumatera tepatnya di (aku tidak bisa memberi tahu tempat tinggalku). Yang pasti letak sekolah SMA bukanlah di desaku tapi di desa lain. Jadi kupikir ada sedikit perubahan mengenai formasi kelas. Setidaknya aku tidak terus bersama teman-teman yang sama. Pastilah ada teman dari desa lain. Namun keputusanku sudah bulat untuk melanjutkan jenjang SMA di pulau Jawa.

    Berangkatlah aku ke sana dengan mengendarai pesawat supaya baik jalannya -lagu anak-anak-. Aku tidak bohong. Aku benar-benar naik pesawat. Ah lupakan ini hanya sebuah cerpen! Oh aku mungkin terlihat kampungan jika naik pesawat juga kubahas. Karena saat itu adalah saat pertama kalinya aku naik pesawat. Kampunganku semakin terlihat bukan? Dan akan semakin terlihat lagi jika kau mengetahui alasanku naik pesawat. Aku akan mabuk jika naik bus ataupun mobil. Lucunya ketika aku menuju bandara aku naik mobil. Mabuk pun tak dapat dihindari. Aku mabuk bahkan ketika di dalam pesawat. Seandainya aku tidak naik mobil tadi, bisa saja aku tidak mabuk. Langsung naik pesawat. Hah tapi bandara Hang Nadim sangat jauh dari penginapanku. Berjalan kaki juga tidak mungkin. Tapi, kenapa tidak ngojek saja? Tanya saja pada kedua orangtuaku kenapa tidak naik ojek saja. Mereka menyebalkan bukan!

    Mabuk berhasil membuatku tersiksa hingga bandara di Jogja -entah bandara apa namanya. Aku tidak bisa menceritakan perjalananku karena aku tidak menikmati perjalananku. Namun naik pesawat lebih baik dibanding naik bus. Perjalanan darat -naik bus- memakan waktu 3 hari 3 malam dari tempat tinggalku. Hanya saja ada 1 hal menyenangkan jika melakukan perjalanan darat yaitu ketika bus memasuki kapal dari Bakauheni menuju Banten. Saat itu aku merasa seperti di kapal pesiar. Kapal itu sangat besar dan muat banyak bus. Membayangkannya lagi terasa seperti mimpi. Aku memang sudah beberapa kali ke Jateng. Terakhir kali ketika kelas 3 SD.

    Turun dari pesawat aku seperti orang linglung. Membawa kresek hitam berisi muntahan dan serasa orang-orang menatapku seraya membatin “dasar orang kampung”.

    Aku mengikuti ayah yang mencari tasnya. Ibuku? Ibuku tak bersamaku sejak aku di pesawat. Bukan? Dia tidak jatuh dari pesawat kok. Dia memang tidak ikut naik pesawat.

    Kekhawatiranku memuncak ketika alat -yang seperti eskalator datar- itu diatasnya belum nampak tas ayah. “Harus lebih sabar, yah. Mungkin harus antri. Lihat saja banyaknya orang menunggu tasnya.” Batinku. Ternyata benar tas ayah sudah terlihat. Ayah mengambilnya dan menyuruhku membuang kresek hitam yang sedari tadi masih kupegang.
    Aku ingin lebih lama di tempat ini. Aku ingin istirahat menenangkan kepalaku. Kepalaku masih pusing dan perut mbulek-mbulek. “Huft kenapa tas ayah cepet ditemukan, sih” batinku.

    Perjalanan belum berhenti sampai sini. Harus naik bus menuju kab. Purworejo. Namun karena kondisiku, ayah memutuskan untuk naik taksi.
    “Percuma saja taksi itu kan mobil aku akan tetap mabuk dan juga biaya taksi lebih mahal dibanding bus. Ya sudah aku ikuti ayah saja.” Batinku

    Cerpen Karangan: Tsabita Raida

    Artikel Terkait

    Antara Homesick dan Kuliah, Perjalanan ke Jateng
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email