Dandelion

Baca Juga :
    Judul Cerpen Dandelion

    Langit semakin gelap. Namun hujan tak kunjung turun. Padahal aku sangat merindukannya. Arloji berwarna perak milikku pun sudah menunjukkan pukul lima sore. Harusnya jam segini aku sudah sampai rumah dan sudah menyiapkan makanan untuk nenekku. Aku melangkahkan kakiku ke depan dan mencoba untuk mengurungkan niatku menunggu hujan dan bergegas pulang. Namun tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Sepertinya dia tak rela jika aku pulang tanpa mersakan dingin airnya. Sehingga kuurungkan niatku untuk bergegas. Kuraih handphoneku yang berada di saku celanaku dan mulai mengetik sebuah pesan yang kutujukan untuk nenekku. Mengabarkan bawasannya kali ini aku akan pulang terlambat lagi. Lagi, lagi dan lagi. Mungkin sekarang sudah menjadi kebiasaan burukku bahwa aku harus selalu pulang terlambat hanya karena menunggu hujan. Sedangkan di rumah nenekku tengah kelaparan.

    “Lana”
    Suara seseorang yang kemudian membangunkankanku dari lamunanku tentang nenekku. Aku menoleh perlahan.
    “Wildan”
    Seperti tersambar petir, aku melihat sesosok orang yang dulu pernah menjadi kekasihku. Namun sampai sekarang masih ada di hatiku.
    “Mau aku antar pulang? Kebetulan aku mau pulang”
    Melihatnya membuat pelupuk mataku berair, aku sangat merindukannya. Aku sangat gugup dibuatnya. Aku hampir tidak bisa menahan tubuhku untuk memeluknya. Namun aku segera tersadar bahwa aku tidak boleh melakukannya. Aku telah berjuang untuk melupakannya. Aku tidak boleh membuat usahaku 1 tahun belakangan ini sia-sia. Dengan sangat kasar aku menolaknya. Entah bagaimana bisa aku mengucapkankan kata-kata itu.
    “Pergilah, aku benci melihatmu”

    Kisah hidupku setahun silam sangat sulit, dan wildan adalah penyebabnya. Karenanya aku sekarang belajar membencinya dan melupakan semuanya.
    “Apakah kau masih dendam padaku karena 1 tahun yang lalu? Bagaimana bisa kau masih mengingat peristiwa-peristiwa itu? Sudahlah lupakan. Mari kita memulai lembaran baru. Dan aku berjanji aku tidak akan meninggalkanmu”.
    Mendengar kata-kata wiladan barusan membuat rasa benci ini tumbuh dengan sendirinya. Entah mengapa, namun sekarang yang ada hanya aku membencinya dan sudah tidak ada lagi rasa cinta itu.
    “Tidak terimakasih, tawaranmu itu memang terdengar sangat menarik. Namun sayangnya aku tidak tertarik. Aku sudah cukup dengan semuanya. Sekarang pergilah”
    Sekarang dadaku terasa sesak. Air mata dipelupuk mataku sudah tak bisa tertahan lagi. Memori yang telah kukubur dalam-dalam tiba-tiba saja terlintas di pikiranku.
    “Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu? Aku sangat mencintaimu. Ayolah. Apa kau sudah tidak mencintaiku. Mari kita mulai dari nol lagi. Aku telah meninggalkan semuanya demi dirimu dan aku disini untukmu.”
    “Dramatis” kataku seraya berlalu dari hadapannya
    Dia melihat kepergianku dengan ekspresi tidak percaya. Namun aku sangat mengenalnya. Dia tidak akan pernah menyerah sebelum dia mendapat apa yang diinginkannya.
    Kenapa dulu aku mencintainya? Kenapa bisa aku bertemu dengan orang seperti dia sebelumnya? Bodohnya. Aku berjalan menebos hujan dengan memaki diriku sendiri.

    Sampai di rumah aku melihat nenekku tengah berada di teras membawa sebuah pot kecil berisikan sebatang pohon. Ya itu adalah dandelion. Bunga yang tidak indah, warnanya putih seperti kapas. Tangkainya kecil dan sederhana. Sangat rapuh dan mudah terbawa angin. Dapat mudah tumbuh dimanapun benihnya jatuh.

    “Sayang, cucuku. Kenapa selalu pulang terlambat? Nenekmu ini sudah tua. Susah untuk melakukan apapun sendirian. Aku selalu mencemaskanmu cucuku.”
    Mendengar keluhan nenekku, aku tersenyum menatap wajahnya yang mulai keriput namun tetap cantik dan bercahaya.
    “Maaf nek, tadi Lana mampir membelikan martabak asin kesukaan nenek.” Kataku membujuknya untuk tidak terus mengomel. Melihat martabak asin yang kubawa dan kutujukan padanya membuatnya berhenti mengoceh dan bergegas meraih martabak itu dariku dan segera membawanya ke dapur. “Dandelion dari siapa?” kataku menghentikan langkahnya dan membuatnya kembali padaku. “Ini ada kiriman paket dan isinya ya ini. Tapi tidak ada nama pengirimya. Ini ambil nenek mau makan dulu.” Lanjutnya seraya menyerahkan pot berisi setangkai dandelion itu padaku.

    Aku membawa dandelion ini ke jendela kamarku. Aku memang sangat menyukai bunga dandelion. Si mungil bertopi putih ini telah banyak menginsipirasi hidupu. Di kecil dan lemah namun mampu bertahan hidup dimanapun dan kapan pun. Hebat bukan?

    Kemudian aku teringat wildan. Sosok lelaki tampan yang tajir melintir, cerdas berprestasi dan dipuja puja banyak kaum hawa muda dimasanya. Tidak terkecuali aku. Aku sungguh telah tersihir dengan pesonanya saat itu. Dia terlihat begitu sempurna di mataku. Sampai-sampai aku melupakan segalanya. Aku telah terlalu jatuh cinta padanya. Aku meninggalkan keluargaku yang tidak menyetujui hubunganku dengannya, aku menghabiskan seluruh kekayaan kelurgaku karenanya, aku mengindahkan norma-norma sosial dan agama karenanya. Hingga suatu ketika aku sudah tidak memiliki apapun. Seluruh harta bendaku telah habis. Keluargaku sudah tidak bersamaku dan telah kutinggalkan lama. Tuhan juga sudah kutinggalkan karenanya. Dan saat itu yang ada dalam benakku adalah aku masih memiliki kekasih yaitu wildan. Namun aku salah. Setelah aku mengalami hal buruk dan aku juga sudah terpuruk dia meninggalkanku dan memilih menikah dengan model cantik Anastasya dan memilih menetap di Belanda. Saat itu keadaanku benar-benar mengerikan. Aku sudah seperti orang gila. Aku benar-benar hancur. Entah kemana semua hartaku yang telah aku rampas dengan serakahnya dari saudara-saudaraku. Saat itu, penyesalan yang sangat dalam yang aku rasakan. Dan akhirnya aku ditemukan oleh nenekku dalam keadaan sangat mengenaskan hampir mati di pinggir jalan. Aku mengalami trauma yang sangat mendalam dan susah untuk disembuhkan. Setelah jasmaniku sembuh, aku harus menjalani pengobatan jiwaku selamA 2 bulan. Pengalaman pahitku selama 3 minggu menjadi orang gila dan gelandangan membuatku semakin kuat. Seperti bunga dandelion. Aku berusaha keras untuk bangkit dari keterpurukan ini. Dan ya, aku sekarang sudah kembali di jalan yang benar, jalannya Allah. “Bismillah aku belajar taat ya Allah” gumamku dalam hati setelah aku membuka memori lamaku yang sangat menyakitkan ini.

    Dandelion, bunga yang jauh dari penglihatan orang dan selalu bersembunyi di balik tingginya ilalang. Kemudian setelah masa hidupnya habis. Dia akan diterbangkan angin dan jatuh ditempat tak terduga. Namun dia pasti akan tetap hidup dan kemudian mekar namun akhirnya akan terbang lagi. Aku pun ingin menjadi sepertinya. Terlihat rapuh namun begitu kuat. Dapat hidup dimanapun dan kapanpun. Dia pun tidak pernah membenci angin yang selalu membawanya kemanpun. Dia pasrah akan nasibnya namun tidak pernah berputus asa.

    Hari masih gelap. Udara pun masih terasa dingin menusuk. Sebuah paket datang padaku. Aku membukanya dengan penasaran.

    Untuk maulana.
    Hai lana. Dandelionku yang cantik. Kau masih ingat padaku? Aku Hisyam. Sekarang aku tinggal di Belanda bersama 3 putra-putriku yang mulai beranjak dewasa. Bagaimana kabarmu lana? Semoga kau selalu berada di jalan tuhan dan senantiasa diberi kesehatan.
    Lana, aku telah mendengar banyak tentangmu. Aku tau apa saja yang kau alami setahun belakangan ini. Aku tau betapa sulitnya hidupmu selama ini. Maafkan aku yang tidak bisa mendampingimu disaat-saat paling terpuruk dalam hidupmu itu. Saat itu aku tengah mengurus pemakaman istriku yang meninggal akibat leukimia yang dideritanya. Namun aku tidak pernah melupakanmu. Aku mengirimkan bunga dandelion setia sebulan sekali agar kau bisa belajar darinya. Belajar kuat dan hebat seperti dandelion. Kau tau kan filosofinya? Dia terlihat rapuh namun nyatanya di sangat kuat sepertimu. Aku salut padamu yang bisa bangkit setelah mengalami kejadian seperti itu. Lana, dunia itu luas tak sesempit pandanganmu manusia tak cuma kamu, masalah tak hanya satu. Ayolah, jangan bercanda. Buanglah keluh kesahmu. Hadapi semua. Seperti hebatnya dandelion. Kau tau 15 tahun aku memendam perasaanku bahwa aku mencintaimu. Aku melakukan apapun untuk membuatmu mengerti bahwa aku mencintaimu. Percayalah, memendam rasa dan bertahan untuk tidak memiliki namun sangat mencintai itu lebih sakit dari patah hati. Aku tau ini konyol. Usia kita sudah tidak pantas jika kita berbicara romantis. Namun ku tidak tahu lagi bagaimana aku mengatakan ini padamu.
    Lana, balas suratku. Jika kau mau menerimaku. Bulan depana aku akan datang bersama anak-anakku untuk melamarmu.
    Hisyam.

    Aku benar-benar hampir tidak mempercayai ini. hisyam, seorang cowok cupu yang selalu aku hina saat aku masih di bangku smp itu sangat mencintaiku dan memendamnya untuk waktu yang lama. 15 tahun, bayangkan. Bagaimana seseorang bisa bertahan mencintai tanpa memiliki selama itu. Aku benar-benar dalam keadaan resah dan bimbang. Namun bismillah jika ini yang terbaik, aku menerima lamrannnya. Aku juga sudah terlalu tua untuk tetap menjomblo. Aku juga ingin bangkit dan berkeluarga seperti orang normal.

    Tanpa berpikir panjang dengan niat karena allah aku menulis surat dan mengatakan bahwa aku menerimanya.
    Sebulan kemudian dia melamarku membawa ketiga anaknya. Mereka terlihat menyukaiku dan menerimaku menjadi mama tiri mereka. Aku merasa sangat bahagia untuk pertama kalinya.

    3 bulan kemudian hisyam mengucapkan ijab kabul atas diriku. Sebelumnya aku telah mengirimkan surat pada wildan dan mengatakan padanya untuk menerima semuanya dan memberikan restunya untuk pernikahanku. Secara tidak terduga dia datang di acara resepsiku dan mengatakan “Dengan lillahita’alah aku berharap kau bisa bahagia. Maafkan aku”

    Cerpen Karangan: Nur Leni Septiarini
    Facebook: Lenii len septyarini

    Artikel Terkait

    Dandelion
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email