Hidup Benda Mati

Baca Juga :
    Judul Cerpen Hidup Benda Mati

    Dunia bukanlah hanya untuk seseorang yang benar-benar dapat hidup dengan jantungnya. Tanpa disadari tak punya jantungpun segala sesuatu memiliki rasa, memiliki keinginan dan dapat pula mati. Benda mati tak selamanya mati. Seperti hidupku yang terpenuhi dengan rasa sakit ini. Ya, setiap hari aku berputar tak mengerti hendak apa tujuanku berjalan. Hari ini terik semakin menyengat seluruh kulitku. Seraya aku memaki tanpa ada hirau oleh pemilik jantung itu. Hingga lampu merah menghentikanku.

    “Hei bukankah hari ini panas kenapa kau terlihat biasa saja?” ucapku kepadanya yang sama sama merasakan panasnya aspal ini. “ya memang sangat panas sekali, terasa kulitku seakan meleleh dan semakin terkoyak koyak”. “Lantas kenapa kau hanya biasa saja?” heranku mulai ingin mencari tahu. “memang aku kepanasan, tetapi aku selalu berpikir betapa dingin dan segarnya nanti ketika aku sampai di rumah lalu pemilik jantung yang ada di atasku ini menyiram dan menyabuniku?”. Ucapnya dengan tenang mengandai hal yang belum pasti ia rasakan.

    Lampu merah berganti dengan warna hijau. Sepanjang jalan aku berpikir betapa enaknya hidup jika engkau beruntung. Ya, jika hanya kau beruntung. Jalanan yang kulalui telah sepi terbebas dari kemacetan dan suara suara yang hanya membengkakkan pendengaranku.

    Tak terasa aku semakin cepat, aku semakin berputar cepat. Panas tidak lagi aku rasakan. Angin berhembus menabrak badanku. Namun tersadar kulitku terkoyak koyak. Pedih sangat sakit aku rasa. Karena tanpa kusadari kucing melintas di hadapanku. Dengan sekali sentak rem itu ditekan hingga aku terseret. Terkikis kulit hitamku. Kenapa dia tidak hati hati dan dengan lembut menekan rem itu. Hidupku telah penuh dengan rasa sakit, seharusnya kau mengerti. Dasar pemilik jantung pemalas. Tak pernah kau menyiramku. Menyabuniku pun kau tak pernah. Kau tau lumpur ini telah beranak pinak di punggungku. Kulitku kering pecah pecah. Tak ada krim yang cocok dengan kulitku asal kau tau itu dasar pemilik jantung pemalas.

    Aku berhenti di sebuah parkiran taman dengan beberapa jenisku. Salah satu dari mereka aku mengenalnya tapi jujur sebenarnya aku tak begitu suka dengannya. Dia sombong teramat sombong dengan segala kelebihan yang dia miliki. “Dari mana saja kau? Aku telah menunggumu disini?”. Sapanya dengan nada biasa tapi tetap tak mengenakkan bagiku. “lihatlah betapa hitam aku saat ini, pemilik jantung itu telah mempolesku dengan cairan hitam entah apa itu?”. Ucapnya dengan sombong. Kalau aku menjawabnya, sedikit saja aku menjawab pasti dia akan berbicara lagi hingga mulutnya berbusa. “benarkah?”. Jawabku dengan sangat malas aku berbincang dengannya. “tentu!! kulitku terasa dingin seperti berada di genangan air saat sehabis hujan?”. Aku hanya tertawa dalam hati mendengar ucapannya, kalau dia tahu bagaimana manusia hidup, tak akan dia menyombongkan kehitamannya itu. Apakah pemilik jantung itu sangat perhatian denganmu “tetapi kenapa kau terlihat kempes hari ini?”. ucapku dengan mencari cari kekurangan pada tubuhnya. “oh ini, ya mungkin dia memang mengatur diriku agar terlihat kempes, bukankah aku terlihat seksi jika seperti ini, mungkin ini yang dia inginkan?”. Dasar sombong, kekurangan pun bisa dia sombongkan kepadaku. Bagaimana bisa kempes menjadi sesuatu yang seksi.

    Beberapa detik kemudian pemilik jantung itu telah berada di atas benda sombong itu. “hei kawan aku pamit dulu, semoga saat kita bertemu lubang garis garis itu masih tampak di kulitmu itu?”. Lantas dia pergi dengan kesombongannya itu. Masih setengah meter dia berjalan. Dia berteriak hingga aku menoleh ke arahnya. Sebuah paku menancap di kulitnya. Tubuhnya kempes tanpa tersisa. “wah kau semakin seksi kawan, betapa indah tubuhmu, yaa sangat indah hingga menyayat penglihatanku?”. Aku menyindir dan tertawa. Betapa bahagianya dapat membalas kesombongannya itu. Dengan kesal dia menggelinding sangat pelan didorong pemilik jantung itu.

    Hari mulai senja, mentari semakin munyurutkan sinarnya pertanda malam akan tiba. Pemilik jantung itu datang menghampiriku. Dia menekan nekan badanku lalu membawaku pergi dari parkiran ini. Pepatah mengatakan bahwa hidup itu seperti roda, terkadang di atas dan terkadang pula di bawah. Tapi bagiku itu hanyalah ucapan belaka. Semakin aku menggelinding, semakin kencang aku berputar tetap saja aku di bawah dan merasakan sakit aspal ini. Kemarin temanku telah beristirahat untuk selamanya. Kini hidupnya tenang. Ia tak lagi berputar, hanya terdiam di pojok gudang. Namun tak mungkin dia kesepian. Disana ada berbagai benda lain yang selalu mendengarkan curahan hatinya saat dia masih menggelinding.

    Lubang bergaris di kulitku mulai hampir menghilang. Siapakah yang akan menggantikan penderitaanku ini. Mengapa aku dibuat hanya untuk merasakan sakit ini. Jika seperti ini aku lebih baik mati saja. Lalu dibakar oleh para pemilik jantung yang bergelar mahasiswa itu yang hanya berdemo menurunkan harga bawang putih dan bawang merah. Keinginan mati dari benda yang telah mati. Gertakan konyol menggebu ke luar dari ucapku. Aku hanya ingin diistirahatkan dan berbincang tentang pengalamanku yang tersakiti ini. Dunia tidaklah kejam tapi manusialah yang mengkejamkan dunia ini. Aku harap aku bisa tidur dengan pulas malam ini. Aku lelah menggelinding seharian. Sampai jumpa.

    Cerpen Karangan: Satya
    Facebook: Satya Dharma S

    Artikel Terkait

    Hidup Benda Mati
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email