Judul Cerpen Luka Pensil
Tak sengaja kuamati dua luka kecil masih membekas di pergelangan tangan kiriku. Luka itu bekas tusukan pensil. Baru kusadari sekarang kalau jarak di antara kedua bekas luka itu sudah menjauh. Tentunya itu karena pergelangan tanganku yang sudah bertambah panjang dari sebelumnya. Dulu luka itu hanya berjarak sekitar 0,5 cm. Sekarang sih kira-kira berjarak sekitar 5 cm. Oh iya, bahkan bekas luka itu kini sudah memudar. Tapi biar bagaimanapun juga luka itu masih membekas di pergelangan tanganku, dan bekas itu belum hilang sepenuhnya. Sebenarnya aku tak terlalu mempermasalahkan bekas luka itu. Namun karena bekas luka itu, tiba-tiba aku teringat seseorang yang dari masa laluku, seseorang yang aku tak ketahui keberadaannya sekarang, yaitu Joshua Fernando..
9 tahun yang lalu…
Hari-hariku di sekolah tidak begitu menyenangkan. Memang, sebenarnya setiap hari langit selalu cerah, didampingi dengan gumpalan awan putih yang menghiasinya. Matahari juga tak segan-segan memamerkan pancaran cahayanya yang indah itu, selain indah pancaran cahaya itu juga menghangatkan bumi. Rindangnya pepohonan di sekolahku juga tak kalah menambah keasrian sekolahku, beserta taman-taman kecilnya. Namun, murid kelas 2 SD sepertiku tak terlalu memikirkan semua itu. Anak kecil sepertiku tak terlalu menyadari semua keindahan itu. Padahal itu semua sangat indah. Kicauan burung yang sangat merdu selalu terdengar setiap pagi, dan kupu-kupu yang selalu menari di udara dengan anggunnya. Aku tak peduli semua itu. Karena yang kutahu aku selalu berangkat sekolah dengan tumpuan kakiku, melewati gang dan jalan dengan hamparan toko di sisinya. Lalu masuk ke sebuah gapura, setelah itu aku menemukan sekolahku.
Aku selalu berangkat bersama sahabatku, yaitu Mawar. Setidaknya keberadaan Mawar lah yang membuat sekolah sedikit menyenangkan, karena hampir setiap hari, hari-hariku dihiasi dengan sesuatu yang menyebalkan di sekolah. Aku punya alasan untuk itu. Alasannya adalah keberadaan salah satu teman sekelasku yaitu Joshua. Dia adalah murid yang paling nakal di kelas. Tak jarang dia menjahili anak perempuan, termasuk aku. Aku sangat terganggu dengan keberadaannya.
Joshua itu beragama Kristen, tentu terlihat jelas dari namanya. Dia satu-satunya murid yang beragama Kristen di kelasku. Tentunya yang lain beragama Islam, karena di daerah tempat tinggalku warganya mayoritas muslim. Yang mengherankan setiap pelajaran Pendidikan Agama Islam, Joshua selalu dipanggil keluar oleh guru, aku pernah mendengar kabar entah dari siapa, katanya sih dia belajar Bahasa Indonesia di ruang Kepala Sekolah. Sebenarnya sih aku tak masalah soal agama yang dia anut, berteman kan boleh dengan siapa saja, tidak boleh membeda-bedakan. Tetapi karena nakalnya Joshua yang membuat diriku kesal setiap hari, aku jadi berpikir, apakah semua orang Kristen senakal itu?
Karena Joshua aku sedikit membenci orang Kristen. Joshua itu sangat jahil, nakal, suka menggangu kententraman dan ketenangan orang lain, biang onar, rusuh dan lain sebagainya. Aku membencinya. Sangat.. Sangat membencinya.
Oke mungkin itu sudah cukup mendeskiripsikan kepribadiannya.
Dari segi fisik dia tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, sama seperti kebanyakan anak-anak yang lain. Rambutnya hitam lurus, kulitnya tidak terlalu gelap namun tidak terlalu putih juga. Wajahnya juga tidak terlalu jelek tapi tidak begitu tampan juga, dan matanya juga tidak terlalu sipit ataupun terlalu besar. Namun, dia memiliki alis yang tebal, entah mengapa dengan memiliki alis seperti itu, itu sudah menimbulkan kesan dia seperti anak nakal, dan memang faktanya begitu.
Entah mengapa dia juga sering tidak masuk tanpa keterangan yang jelas. Dari semua fakta tersebut sudah jelas dia anak yang nakal. Di sekolah pun dia juga tidak terlalu pintar, karena nilainya di sekolah tidak terlalu bagus.
Karena semua sikapnya itu aku tidak terlalu mempedulikan keberadaanya.
Namun entah mengapa suatu hari aku beradu mulut dengannya. Aku sempat membentaknya, itu karena dia sudah keterlaluan. Kalau tidak salah dia minta aku memberitahunya jawaban dari tugas Bahasa Indonesia. Tetapi aku bersikeras tidak memberikannya. Lalu tanpa berpikir panjang, dia mencengram pergelangan tanganku dengan kasar. Pergelangan tanganku sampai sakit karenanya. Aku sudah menjerit sekeras-kerasnya. Aku pun menangis meraung-raung. Itu semua sudah cukup membuat suasana kelas menjadi sangat ribut. Tanpa pikir panjang aku malah menggigit pergelangan tangan Joshua. Beberapa saat kemudian Joshua menarik pergelangan tanganku dan menusukkan pensil tumpul di pergelangan tanganku dengan kasar. Itu sangat sakit sekali. Aku menangis sejadi-jadinya. Semua itu terjadi begitu cepat, oleh karena itu, walau guru sudah sedari tadi berusaha memisahkan kami, tetapi adegan yang tidak diinginkan tetap terjadi. Pergelangan tanganku berdarah karena tusukan pensil itu. Totalnya ada dua tusukan yang letaknya berdekatan, walaupun hanya ditusuk pensil, tetapi luka yang dihasilkan cukup dalam. Aku meringis karena perihnya lukaku. Tangisku pun tak kunjung berhenti. Tiba-tiba Mawar menghampiriku dan menghiburku.
“tenang aja Nis, luka segituan doang gak parah kok. Mawar pernah punya luka yang lebih parah” Ujar Mawar. Dia pun menceritakan tentang lukanya yang dulu dialaminya itu.
Aku sedikit terhibur olehnya. Bahkan teman-temanku yang lain juga menghiburku.
Beberapa hari kemudian aku melupakan kejadian adegan penusukan pensil yang terjadi terhadapku. Namun tetap saja, luka itu membekas. Bukan luka seperti biasa, tetapi seperti terdapat dua titik kecil di pergelangan lengan kiriku. Sepertinya granit yang terkandung pensil yang menusukku itu masih tersisa di lenganku, mungkin.
Aku pun menjalani hari dengan normal seperti biasa. Sampai suatu waktu pada saat aku pulang sekolah tiba-tiba aku terjatuh. Seperti ada yang mendorongku. Ternyata pelakunya adalah Joshua. Ya, Joshua berulah lagi. Dia mendorong temanku hingga jatuh, karena posisiku di depan temanku, jadi aku pun ikut jatuh juga. Luka yang dialami temanku tidak parah, hanya lecet sedikit. Tetapi, karena aku berada di tumpukan paling bawah alhasil lukaku lah yang paling parah. Itu sakit sekali. Sontak, aku menangis sekencang-kencangnya. Aku pun pulang dengan lutut kanan yang berdarah. Luka itu cukup parah. Saking parahnya butuh waktu yang lama bagiku untuk pulang karena keadaan kakiku, padahal jarak sekolah ke rumahku itu tidak begitu jauh, hanya selisih beberapa meter saja.
Sesampainya di rumah, lukaku langsung diobati oleh ibuku. Ternyata benar, luka itu cukup parah. Saking parahnya sampai-sampai aku tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Luka itu lama sekali sembuhnya. Mungkin wajar, karena letak luka itu di lutut. Beberapa hari kemudian luka itu malah menimbulkan nanah. Aku meringis dibuatnya.
Joshua tak kunjung minta maaf. Sudah dua kali dia mencelakakanku tetapi masih saja dia belum meminta maaf kepadaku. Walau begitu, aku tetap memaafkannya.
Aku pun sembuh. Lalu aku masuk sekolah seperti biasanya. Semua berjalan dengan lancar. Namun tetap, jangan harap aku bisa berteman baik dengan Joshua setelah semua kejadian itu. Memang sebelumnya hubungan kami tidak dekat, tetapi karena kejadian itu aku makin tak mau berhubungan dengannya, apapun itu. Aku makin menghindarinya, dan itu tidak sulit.
Tak terasa aku sudah naik ke kelas tiga. Tetapi anggota kelasku ada yang kurang. Ternyata, Joshua tidak naik kelas. Aku sih biasa saja. Malah bersyukur, akhirnya aku tidak sekelas lagi dengan Joshua. Mungkin itu semua ada hikmahnya. Joshua harusnya bisa berubah. Berubah menjadi tidak nakal lagi, berubah menjadi anak yang rajin dan tentunya sayang kepada semua temannya dan patuh kepada semua guru-guru di sekolah. Ya, kuharap Joshua berubah. Semoga saja harapanku terkabul.
9 tahun kemudian..
Kuamati bekas luka itu lagi. Dua buah bekas luka kecil yang berwarna hitam. Sekarang bekas luka itu sudah mulai pudar. Aku tak menyangka, setelah sekian lama aku tak mempedulikan bekas luka itu, kini malah bekas luka itu mulai berubah. Dua buah bekas luka kecil itu menjauh seiring pertumbuhanku. Aku tetap masih ingat Joshua, bahkan aku masih ingat nama lengkapnya, Joshua Fernando. Namun aku tidak tahu sekarang dia ada dimana. Sejak dia tinggal kelas aku tak berhubungan dengannya lagi, apalagi aku pindah sekolah saat aku kelas lima SD. Aku pun lupa terakhir kali aku bertemu dengan Joshua. Itu sudah tak penting lagi. Yang jelas, kuharap dia berubah menjadi orang yang lebih baik lagi dimanapun ia berada. Ya, kuharap begitu.
Cerpen Karangan: Nisa Nurul Asror
Facebook: Nisa Asror
Tak sengaja kuamati dua luka kecil masih membekas di pergelangan tangan kiriku. Luka itu bekas tusukan pensil. Baru kusadari sekarang kalau jarak di antara kedua bekas luka itu sudah menjauh. Tentunya itu karena pergelangan tanganku yang sudah bertambah panjang dari sebelumnya. Dulu luka itu hanya berjarak sekitar 0,5 cm. Sekarang sih kira-kira berjarak sekitar 5 cm. Oh iya, bahkan bekas luka itu kini sudah memudar. Tapi biar bagaimanapun juga luka itu masih membekas di pergelangan tanganku, dan bekas itu belum hilang sepenuhnya. Sebenarnya aku tak terlalu mempermasalahkan bekas luka itu. Namun karena bekas luka itu, tiba-tiba aku teringat seseorang yang dari masa laluku, seseorang yang aku tak ketahui keberadaannya sekarang, yaitu Joshua Fernando..
9 tahun yang lalu…
Hari-hariku di sekolah tidak begitu menyenangkan. Memang, sebenarnya setiap hari langit selalu cerah, didampingi dengan gumpalan awan putih yang menghiasinya. Matahari juga tak segan-segan memamerkan pancaran cahayanya yang indah itu, selain indah pancaran cahaya itu juga menghangatkan bumi. Rindangnya pepohonan di sekolahku juga tak kalah menambah keasrian sekolahku, beserta taman-taman kecilnya. Namun, murid kelas 2 SD sepertiku tak terlalu memikirkan semua itu. Anak kecil sepertiku tak terlalu menyadari semua keindahan itu. Padahal itu semua sangat indah. Kicauan burung yang sangat merdu selalu terdengar setiap pagi, dan kupu-kupu yang selalu menari di udara dengan anggunnya. Aku tak peduli semua itu. Karena yang kutahu aku selalu berangkat sekolah dengan tumpuan kakiku, melewati gang dan jalan dengan hamparan toko di sisinya. Lalu masuk ke sebuah gapura, setelah itu aku menemukan sekolahku.
Aku selalu berangkat bersama sahabatku, yaitu Mawar. Setidaknya keberadaan Mawar lah yang membuat sekolah sedikit menyenangkan, karena hampir setiap hari, hari-hariku dihiasi dengan sesuatu yang menyebalkan di sekolah. Aku punya alasan untuk itu. Alasannya adalah keberadaan salah satu teman sekelasku yaitu Joshua. Dia adalah murid yang paling nakal di kelas. Tak jarang dia menjahili anak perempuan, termasuk aku. Aku sangat terganggu dengan keberadaannya.
Joshua itu beragama Kristen, tentu terlihat jelas dari namanya. Dia satu-satunya murid yang beragama Kristen di kelasku. Tentunya yang lain beragama Islam, karena di daerah tempat tinggalku warganya mayoritas muslim. Yang mengherankan setiap pelajaran Pendidikan Agama Islam, Joshua selalu dipanggil keluar oleh guru, aku pernah mendengar kabar entah dari siapa, katanya sih dia belajar Bahasa Indonesia di ruang Kepala Sekolah. Sebenarnya sih aku tak masalah soal agama yang dia anut, berteman kan boleh dengan siapa saja, tidak boleh membeda-bedakan. Tetapi karena nakalnya Joshua yang membuat diriku kesal setiap hari, aku jadi berpikir, apakah semua orang Kristen senakal itu?
Karena Joshua aku sedikit membenci orang Kristen. Joshua itu sangat jahil, nakal, suka menggangu kententraman dan ketenangan orang lain, biang onar, rusuh dan lain sebagainya. Aku membencinya. Sangat.. Sangat membencinya.
Oke mungkin itu sudah cukup mendeskiripsikan kepribadiannya.
Dari segi fisik dia tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, sama seperti kebanyakan anak-anak yang lain. Rambutnya hitam lurus, kulitnya tidak terlalu gelap namun tidak terlalu putih juga. Wajahnya juga tidak terlalu jelek tapi tidak begitu tampan juga, dan matanya juga tidak terlalu sipit ataupun terlalu besar. Namun, dia memiliki alis yang tebal, entah mengapa dengan memiliki alis seperti itu, itu sudah menimbulkan kesan dia seperti anak nakal, dan memang faktanya begitu.
Entah mengapa dia juga sering tidak masuk tanpa keterangan yang jelas. Dari semua fakta tersebut sudah jelas dia anak yang nakal. Di sekolah pun dia juga tidak terlalu pintar, karena nilainya di sekolah tidak terlalu bagus.
Karena semua sikapnya itu aku tidak terlalu mempedulikan keberadaanya.
Namun entah mengapa suatu hari aku beradu mulut dengannya. Aku sempat membentaknya, itu karena dia sudah keterlaluan. Kalau tidak salah dia minta aku memberitahunya jawaban dari tugas Bahasa Indonesia. Tetapi aku bersikeras tidak memberikannya. Lalu tanpa berpikir panjang, dia mencengram pergelangan tanganku dengan kasar. Pergelangan tanganku sampai sakit karenanya. Aku sudah menjerit sekeras-kerasnya. Aku pun menangis meraung-raung. Itu semua sudah cukup membuat suasana kelas menjadi sangat ribut. Tanpa pikir panjang aku malah menggigit pergelangan tangan Joshua. Beberapa saat kemudian Joshua menarik pergelangan tanganku dan menusukkan pensil tumpul di pergelangan tanganku dengan kasar. Itu sangat sakit sekali. Aku menangis sejadi-jadinya. Semua itu terjadi begitu cepat, oleh karena itu, walau guru sudah sedari tadi berusaha memisahkan kami, tetapi adegan yang tidak diinginkan tetap terjadi. Pergelangan tanganku berdarah karena tusukan pensil itu. Totalnya ada dua tusukan yang letaknya berdekatan, walaupun hanya ditusuk pensil, tetapi luka yang dihasilkan cukup dalam. Aku meringis karena perihnya lukaku. Tangisku pun tak kunjung berhenti. Tiba-tiba Mawar menghampiriku dan menghiburku.
“tenang aja Nis, luka segituan doang gak parah kok. Mawar pernah punya luka yang lebih parah” Ujar Mawar. Dia pun menceritakan tentang lukanya yang dulu dialaminya itu.
Aku sedikit terhibur olehnya. Bahkan teman-temanku yang lain juga menghiburku.
Beberapa hari kemudian aku melupakan kejadian adegan penusukan pensil yang terjadi terhadapku. Namun tetap saja, luka itu membekas. Bukan luka seperti biasa, tetapi seperti terdapat dua titik kecil di pergelangan lengan kiriku. Sepertinya granit yang terkandung pensil yang menusukku itu masih tersisa di lenganku, mungkin.
Aku pun menjalani hari dengan normal seperti biasa. Sampai suatu waktu pada saat aku pulang sekolah tiba-tiba aku terjatuh. Seperti ada yang mendorongku. Ternyata pelakunya adalah Joshua. Ya, Joshua berulah lagi. Dia mendorong temanku hingga jatuh, karena posisiku di depan temanku, jadi aku pun ikut jatuh juga. Luka yang dialami temanku tidak parah, hanya lecet sedikit. Tetapi, karena aku berada di tumpukan paling bawah alhasil lukaku lah yang paling parah. Itu sakit sekali. Sontak, aku menangis sekencang-kencangnya. Aku pun pulang dengan lutut kanan yang berdarah. Luka itu cukup parah. Saking parahnya butuh waktu yang lama bagiku untuk pulang karena keadaan kakiku, padahal jarak sekolah ke rumahku itu tidak begitu jauh, hanya selisih beberapa meter saja.
Sesampainya di rumah, lukaku langsung diobati oleh ibuku. Ternyata benar, luka itu cukup parah. Saking parahnya sampai-sampai aku tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Luka itu lama sekali sembuhnya. Mungkin wajar, karena letak luka itu di lutut. Beberapa hari kemudian luka itu malah menimbulkan nanah. Aku meringis dibuatnya.
Joshua tak kunjung minta maaf. Sudah dua kali dia mencelakakanku tetapi masih saja dia belum meminta maaf kepadaku. Walau begitu, aku tetap memaafkannya.
Aku pun sembuh. Lalu aku masuk sekolah seperti biasanya. Semua berjalan dengan lancar. Namun tetap, jangan harap aku bisa berteman baik dengan Joshua setelah semua kejadian itu. Memang sebelumnya hubungan kami tidak dekat, tetapi karena kejadian itu aku makin tak mau berhubungan dengannya, apapun itu. Aku makin menghindarinya, dan itu tidak sulit.
Tak terasa aku sudah naik ke kelas tiga. Tetapi anggota kelasku ada yang kurang. Ternyata, Joshua tidak naik kelas. Aku sih biasa saja. Malah bersyukur, akhirnya aku tidak sekelas lagi dengan Joshua. Mungkin itu semua ada hikmahnya. Joshua harusnya bisa berubah. Berubah menjadi tidak nakal lagi, berubah menjadi anak yang rajin dan tentunya sayang kepada semua temannya dan patuh kepada semua guru-guru di sekolah. Ya, kuharap Joshua berubah. Semoga saja harapanku terkabul.
9 tahun kemudian..
Kuamati bekas luka itu lagi. Dua buah bekas luka kecil yang berwarna hitam. Sekarang bekas luka itu sudah mulai pudar. Aku tak menyangka, setelah sekian lama aku tak mempedulikan bekas luka itu, kini malah bekas luka itu mulai berubah. Dua buah bekas luka kecil itu menjauh seiring pertumbuhanku. Aku tetap masih ingat Joshua, bahkan aku masih ingat nama lengkapnya, Joshua Fernando. Namun aku tidak tahu sekarang dia ada dimana. Sejak dia tinggal kelas aku tak berhubungan dengannya lagi, apalagi aku pindah sekolah saat aku kelas lima SD. Aku pun lupa terakhir kali aku bertemu dengan Joshua. Itu sudah tak penting lagi. Yang jelas, kuharap dia berubah menjadi orang yang lebih baik lagi dimanapun ia berada. Ya, kuharap begitu.
Cerpen Karangan: Nisa Nurul Asror
Facebook: Nisa Asror
Luka Pensil
4/
5
Oleh
Unknown

1 komentar:
Jiaah nyasar kesini
Reply