Suara Tengah Malam

Baca Juga :
    Judul Cerpen Suara Tengah Malam

    Ayam berkokok, menandakan sang fajar telah terbit. Aku pun segera beranjak dari tempat tidur untuk mandi, lalu mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah, karena hari itu Sabtu, 23 Desember 2014 ada perkemahan di lapangan Sumber Agung.

    Setelah mempersiapkan barang yang akan dibawa, aku pun pamit ibukku. Setelah pamitan aku langsung berangkat ke sekolah, setiba di sekolah semua kelas X diminta berkumpul di aula untuk apel pagi. Apel dilaksanakan pada pukul 07.00 – 08.00 WIB.

    Setelah apel selesai seluruh siswa segera berangkat ke lapangan Sumber Agung dengan jalan kaki bersama kelompoknya masing-masing. Aku dan semua teman-teman harus pergi ke pos 1 sampai pos 5 untuk menerima tugas dan soal dari pembina pramuka yang ada di tiap-tiap pos. Perjalanan jauh kami tempuh bersama-sama. Setiba di lapangan Sumber Agung, aku dan kelompokku meletakkan barang bawaan, lalu istirahat sebentar.

    Pukul 11.00 siang, semua teman-teman berkumpul dengan kelompoknya masing-masing, mereka segera mendirikan tenda karena saat itu cuaca mendung tanda akan turun hujan. Lalu temanku Diska datang dan berkata padaku “Eva, ayo kita segera dirikan tenda, sebentar lagi turun hujan, jangan lupa kasih tau yang lain”. “oke” jawabku!.

    Hari itu hujan turun cukup deras, lalu aku dan teman teman yang ada di tenda memutuskan untuk tetap di dalam tenda. Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 19.00 malam, tapi hujan masih turun dengan deras. Aku pergi ke kamar mandi dengan temanku, di jalan yang kami lewati aku merasa ada yang mengikuti dan memanggilku. Lalu aku tanya temanku “Um apa kamu mendengar sesuatu?”
    Umi menjawab “Fa, sebetulnya aku juga merasakan apa yang kamu rasakan, tapi aku diam saja karena takutnya kamu nanti pingsan, kan aku gak kuat angkat kamu hehehe…” sedikit bergurau, “sudahlah gak usah dipikir, anggap saja tidak ada apa-apa!”
    “Ya sudah ayo kita kembali ke tenda” jawabku.
    Tenda yang kami tempati memang jauh, gelap, dan dekat dengan pohon-pohon besar, sehingga wajar kalau suasana di sekitar tenda membuatku sedikit parno.

    Pukul 21.00 WIB acara api unggun pun diadakan, semua kelas X, anggota PMR, Pembina pramuka, dan warga sekitar mengikuti acara tersebut dengan antusias, semua menyanyi, menari, dan bercanda bersama. Tak terasa sudah pukul 23.00 WIB, semua teman-teman sudah pergi ke tenda mereka masing-masing untuk tidur, semua teman-teman yang berada di tenda bersamaku pun juga sudah tertidur dengan lelap, kecuali aku. Entah mengapa malam itu aku tidak bisa tidur, aku selalu teringat dengan suara aneh itu. Sudah pukul 24.00 WIB tapi aku belum bisa tidur, lalu aku bangun untuk minum tiba-tiba ada suara aneh itu lagi, aku pun mulai panik dan berkeringat, tapi kucoba tenangkan diri. Aku mencoba ke luar dari tenda untuk melihat keadaan di luar, tapi ternyata di luar tenda suasananya sangat sepi, sunyi, dan gelap tidak ada orang di luar. Suara aneh itu pun berubah menjadi suara tangisan yang semakin terdengar jelas, tubuhku pun langsung lemas, keringat dingin pun mulai menetes membasahi wajahku, dan jantungku berdetak dengan kencang. Suara itu dari balik pohon besar yang berada di utara tendaku. Lalu suara itu mulai tidak terdengar lagi.

    Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku, “Va apa yang kamu lakukan di luar, ayo masuk sudah malam, cepat tidur!” pinta Umi. Lalu aku pun menjawab “ya Um”. Sengaja Umi tidak ku kasih tau tentang kejadian tadi. Lalu aku pun tidur dan mencoba melupakan kejadian tadi.

    Keesokan harinya aku menceritakan semua yang ku alami tadi malam kepada temanku Alfi, dia berkata bahwa sebetulnya ada makhluk halus di bawah pohon besar itu, dan ternyata benar dugaanku bahwa suara tengah malam itu berasal dari bawah pohon besar itu. “Va jika ada suara aneh itu lagi jangan kamu hiraukan, karna makhluk halus itu ingin menakut-nakutimu!” pinta Alfi. “Ya Fi” jawabku.

    Agenda hari adalah meminta tanda tangan dari kakak-kakak Pembina pramuka dan menjawab pertanyaan dari mereka. Agenda tersebut berlangsung dari jam 08.00-12.00 WIB. Setelah itu semua teman-teman melaksanakan sholat dhuhur berjama’ah. Setelah sholat dhuhur hujan turun dengan deras sampai malam, aku dan teman-teman yang lain mengungsi di SD yang dekat dengan lapangan, karena tenda yang aku tempati tergenang air, barang-barang kami yang ada di tenda juga basah. Aku dan semua teman-teman akhirnya menginap di tempat pengungsian. Saat aku di pengungsian tak kudapati lagi suara-suara aneh itu lagi dan kejadian-kejadian aneh lain.

    Keesokan harinya ada apel perpisahan tanda perkemahan itu telah selesai, teman-teman semua sedih karena perkemahan itu dirasa sangat cepat, tapi saat itu aku tidak tau apa yang kurasakan, ada rasa senang karena ingin segera bertemu orangtua tapi di sisi lain aku juga masih penasaran dengan kejadian yang selama ini kualami, hatiku selalu bertanya-tanya apa maksud dari semua itu dan mengapa harus aku yang mengalami itu semua, tapi kucoba ambil hikmah dari kejadian itu, yaitu kita harus mempercayai adanya makhluk ghaib, dan dengan adanya kejadian itu untuk menguji keimanan dan keberanianku.

    Cerpen Karangan: Niki
    Facebook: Hanifa Rizky

    Artikel Terkait

    Suara Tengah Malam
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email