Tangisan Bayi

Baca Juga :
    Judul Cerpen Tangisan Bayi

    Di sebuah sekolah, terlihat para pelajar sedang berkumpul di lapangan untuk mengikuti pelajaran Olahraga. Materi pada hari itu adalah permainan bola besar atau yang lebih tepatnya lagi permainan bola basket. Mereka semua dengan serius dan tekun belajarnya. Terus, setelah merasa cukup untuk belajar, mereka pun diambil nilai prakteknya oleh guru yang bersangkutan.

    Setelah jam pelajaran olahraga selesai, para pelajar pun pergi untuk mengganti baju. Salah seorang siswa bernama Nadine mengganti pakaiannya di dalam toilet. Ketika hendak mengganti pakainnya, Nadine mendengar suara bayi menangis dari belakang toilet. Nadine pun buru-buru mengganti pakaiannya dan buru-buru ke luar dari toilet. Karena gugup, Nadine hampir menambrak Ibu Siska saat sedang berjalan.

    “Ada apa Nadine? Kok kamu kelihatan ketakutan begini?” tanya Bu Siska.
    “Anu Bu… Itu… Di toilet.” jawab Nadine
    “Ada apa di toilet? Coba jelaskan dengan Ibu.” Suruh Bu Siska.
    “Anu Bu, tadi sewaktu saya mengganti pakaian olahraga di dalam toilet, saya mendengar suara tangisan bayi dari belakang toilet. Karena takut, saya pun buru-buru keluar dari toilet tersebut.” jawab Nadine dengan nada pelan.
    “Suara bayi menangis? Mungkin itu hanya halusinasi kamu saja kali.” jawab Bu Siska.
    “Nggak bu. Saya benar-benar mendengar ada suara bayi menangis di belakang toilet. Saya nggak halusinasi. Saya yakin itu bukan suara makhluk gaib. Saya yakin itu suara tangisan anak manusia.” jawab Nadine.
    “Coba kasih tahu ibu dimana tempat kamu mendengarnya.” suruh Bu Siska.
    “Iya bu. Ayo ikut saya.” kata Nadine sambil menunjukan tempat dimana ia mendengar suara tangisan bayi tersebut.

    “Disana bu. Di toilet nomor 2 saja mendengar suara tangisan bayinya.” kata Nadine sambil sedikit ketakutan.
    “Kamu tunggu disini, ibu mau periksa dahulu.” kata Bu Siska.
    “Iya Bu.” jawab Nadine.

    Bu Siska pun memeriksa toilet tersebut. Sekitar 2 menit ia di dalam toilet tersebut, namun tidak mendengar suara apa-apa. Tetapi, ketika ibu Siska ingin ke luar dari toilet, ia mendengar suara tangisan bayi di belakang toilet sama seperti apa yang diceritakan Nadine.
    “Ada suara tangisan bayi. Nadine, tolong ambilkan kursi di dalam kelas. Ibu mau lihat ke luar lewat jendela.” pinta Bu Siska.
    “Baik bu.” jawab Nadine.

    Nadine pun mengambil kursi dan setelah itu diberikan kepada ibu Siska. Suara tangisan bayi tersebut semakin kencang saja. Ibu Siska pun melihat lewat jendela dan ternyata ia tidak melihat apa-apa karena tertutupi semak-semak. Bu Siska pun menyuruh Nadine untuk melapor ke satpam dan penjaga sekolah. Nadine pun pergi mencari satpam untuk melaporkan kejadian menjanggalkan ini.

    “Pak satpam, pak, tolong saya pak, di toilet, di toilet saya mendengar suara tangisan bayi dari belakang toilet. Tolong saya untuk memeriksanya pak.” kata Nadine ngos-ngosan.
    “Di toilet mana?” tanya pak satpam.
    “Toilet di belakang pak. Di toilet itu ada bu siska yang lagi menunggu.” jawab Nadine.
    “Baiklah, saya akan segera kesana.” kata pak satpam terus berlari meninggalkan Nadine.

    Kemudian, Nadine pun memberitahu penjaga sekolah tentang hal yang sama. Di toilet, banyak sekali yang melihat aksi pencarian tangisan bayi tersebut. Pak satpam dan penjaga sekolah pun memeriksanya ke belakang. Sekitar 10 hingga 15 menit mereka berdua mencari berasal dari mana suara tangisan bayi tersebut. Kemudian mereka pun ke luar dengan kabar yang mengejutkan.

    “Ada menemukan apa pak di belakang?” tanya bu Siska.
    “Iya pak ada menemukan apa? Apakah memang benar bayi yang menangis itu?” celoteh seorang siswa laki-laki.
    “Bukan. Kami tidak menemukan apa-apa di belakang. Cuma…” jawab pak satpam.
    “Cuma apa pak? Emang itu bukan suara bayi manusia? Maksudnya itu hantu?” kata seorang siswa perempuan.
    “Itu bukan suara bayi hantu atau bayi makhluk astral lainnya. Setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata itu adalah suara…” kata pak satpam.
    “Suara apa pak?” tanya Nadine.
    “Itu hanya suara tangisan anak tetangga sebelah. Nggak ada apa-apa di belakang.” jawab pak satpam.
    “Apa?? Bayi tetangga sebelah? Astaga, sudah deg-degan tahu. Disangka ada bayi di belakang toilet. Kalau beneran ada, bisa kena kasus besar sekolahan ini.” kata bu Siska sambil meninggalkan TKP. Disusul oleh pelajar lainnya yang bersorak dan pergi ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pembelajaran. Kemudian, satpam dan penjaga sekolah pun kembali ke tempat mereka masing-masing dan meninggalkan toilet tersebut.

    SELESAI

    Cerpen Karangan: M. Andhika Pratama
    Facebook: Andhika Pratama (Dhika)

    Artikel Terkait

    Tangisan Bayi
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email