Judul Cerpen Tangisan Bisu
“Aku tidak dilahirkan untuk menangis.”
Biarkan aku menonton film romantis yang (katanya) menyentuh sampai berpuluh-puluh judul. Ceritakan padaku cerita-cerita yang (katanya) menyentuh —baik dari video motivasional (yang ternyata iklan asuransi luar negeri) yang ceritanya inspired by true story, maupun dari cerita-cerita penuh drama nan tragis yang biasa dicopy-paste di media sosial atau di broadcast di BBM. Atau, belakangan ini mulai sering bermunculan akun-akun Instagram yang mengisahkan orang-orang kalangan bawah yang berusaha bertahan hidup —biarkan aku melihat satu-satu fotonya dan membaca semua captionnya sampai teler. Hatiku takkan leleh jadi air mata —tergelitik oleh rasa iba setitik pun tidak.
“Mengapa bisa begitu?”
Mungkin karena namaku Mikaela. Mikaela, adalah bentuk feminin dari Mikael, panglima perang bala tentara surga. Panglima perang mana mungkin cengeng? Panglima perang bala tentara surga lagi. Kalau panglimanya saja cengeng, bisa-bisa surga luluh lantak diserang iblis.
Mungkin juga karena aku Mikaela Tjandrakusuma, anak Bapak Tjandrakusuma yang rumah dan tanahnya ada dimana-mana. Anak Bapak Tjandrakusuma yang koleksi mobilnya nggak beda jauh dengan koleksi mobil di showroom mobil. Anak Bapak Tjandrakusuma yang rekeningnya banjir duit tiap hari (sampai bosan dia lihat rupiah dan berbagai jenis dolar di dompetnya). Anak Bapak Tjandrakusuma yang tegas, cerdas dan berkharisma.
Bisa juga karena aku adiknya Makrina Tjandrakusuma, yang sejak SD rutin jadi ketua kelas, yang di SMP ketua OSIS terbaik selama SMP itu berdiri, dan tiga tahun kemudian jadi ketua dari ketua OSIS SMA se-Bekasi. Makrina adalah gadis berparas cantik dan bertubuh model, kulitnya putih mulus, rambutnya wangi dan rapi. Rankingnya mondar-mandir antara satu dari sekelas sampai satu dari seangkatan. Makrina bertutur kata lembut, tapi suaranya meyakinkan. Tatapan matanya tidak menusuk, tapi sudah membongkar sampai relungmu yang terdalam. Makrina tidak jago olahraga, tapi sabuk hitam karate sudah lama didapatnya dan semua posisi di tim futsal, bakset dan voli sudah pernah dicobanya.
Ya, mungkin karena itu.
Seorang Mikaela Tjandrakusuma tidak dilahirkan untuk menangis.
Melainkan dilahirkan untuk melihat tangisan.
Tangisan bunda sebelum dilarikan ke rumah sakit sekitar dua bulan yang lalu karena iga patah, sendi tangan terpelintir, dan pendarahan di kepala. Tangisan pekerja ayah yang memohon supaya tidak dipecat. Tangisan Kak Rin karena… karena… karena… aku tak ingat karena apa (yang jelas setelah itu banyak lebam ungu di tubuhnya) jam sepuluh malam saat ia masuk ke kamarnya. Tangisan teman sekelasku waktu kelas tujuh karena dibully anak kelas sembilan. Tangisan bapak supirku yang rindu sama kakaknya yang sedang sibuk bekerja (dia menangis diam-diam saat garasi sudah sepi). Tangisan tidak penting di bioskop setelah adegan terakhir berganti warna hitam bertuliskan judul film.
“Jadi, seumur hidup? Mikaela tak pernah menangis?”
“Tentu saja. Sudah jelas.”
“Tapi, kok matamu sembap begitu?”
“…Yang menangis itu Mika, bukan Mikaela.”
Baru saja Mika disiram kopi panas sama Bapak Tjandrakusuma waktu dia minta izin nonton sama Putra, sahabatnya dari SMP. Mika kan, nggak boleh jalan sama cowok, apalagi sama pacarnya. Mungkin Bapak Tjandrakusuma kira, sahabat cowok itu sama dengan pacar kali ya, makanya Bapak Tjandrakusuma membuat wajah kiri Mika melepuh.
Ternyata, bukan cuma wajah kiri Mika yang melepuh, tapi juga dada kirinya. Lho, kok bisa? Coba deh kamu jadi Mika —bukan cuma wajah kirinya yang sakit dan perih, dada kirinya pun serasa ditusuk-tusuk. Mungkin, karena itu Mika menangis sedih sampai matanya sembap —karena kalau ia teriak kesakitan sampai suaranya habis, dia juga bakal lebam-lebam seperti Kak Rin.
“Oh iya, dimana Kak Rin?”
Kak Rin dikurung di kamarnya, gara-gara dia makan berdua sama pacarnya di restoran dekat sekolah. Padahal, itu bukan pacarnya lho —Kak Rin kan ketua OSIS, nah cowok yang makan sama dia ini wakil ketuanya. Kak Rin sengaja ditemenin sama wakilnya karena rapat OSIS mereka selesainya jam tujuh malam, terus Kak Rin mau makan dulu di restoran. Wakilnya ini nggak enak ninggalin Kak Rin sendirian, jadi dia nemenin sekalian makan deh. Eh, waktu Bapak Tjandrakusuma mau jemput Kak Rin untuk jenguk bunda di rumah sakit, terus dia lihat Kak Rin makan sama wakil ketuanya, Kak Rin malah dibawa pulang, lalu… lalu gimana ya… (pokoknya, setelah itu, Kak Rin tidak bisa jalan dan betis kanannya bengkok ke belakang), terus ia tak ke luar kamar sampai hari ini. Kalau nggak salah, sudah tiga hari Kak Rin ada di dalam kamar.
“Bapak Tjandrakusuma kenapa sih? Kayaknya di cerita Mikaela, Bapak Tjandrakusuma itu jahat sekali…”
“Hihi, enggak kok! Dia enggak kenapa-napa dan dia baikkk sekali! Dia sayang sama Makrina dan Mikaela, tapi dia emang agak nggak suka sama Rin dan Mika…”
—
Mika meraba pipi kirinya.
Licin. Rata dengan pelipis dan kening.
Setengah bibirnya juga licin. Setengah (ralat, hampir seluruh) dagunya mulus tanpa jerawat.
Mika menghela napas.
Dari ruang sebelah, terdengar suara batuk yang keras dan suara orang muntah. Ah, itu pasti Kak Rin —ia tidak punya stok makanan ataupun obat maag di kamarnya. Setelah tujuh kali dua puluh empat jam tanpa ada yang masuk ke perut, jelas Rin sudah memuntahkan air keran yang diminumnya.
Eh, nggak mungkin deh —saluran air dan listrik ke kamar Rin dan Mika sudah putus sejak pertama kali mereka dikurung.
Lebih tepatnya, bukan putus begitu saja —tapi diputus.
Oleh siapa?
Jelas oleh Bapak Tjandrakusuma. Membayar pekerjanya yang absen mendadak karena anaknya kecelakaan saja ia tak mau, apalagi membiayai anak gadisnya yang melawan?
Mending tak pernah lahir saja anak-anak itu (Sayangnya, mereka sudah terlanjur besar —Rin dan Mika sudah SMA sekarang).
Bapak Tjandrakusuma mematut bayangannya di cermin, membenarkan dasi dan merapikan jasnya, lalu melangkah menuju mobilnya di garasi. Disitu, Pak Arya, sopir pribadinya sudah menunggu di kursi pengemudi.
Begitu melihat majikannya berjalan menuju mobil, segera Pak Arya menyimpan ponselnya, turun dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Bapak Tjandrakusuma.
Sebelum naik ke mobil, Bapak Tjandrakusuma memandangi Pak Arya, lalu tersenyum tipis. “Bapak kayaknya senang sekali hari ini?”
Pak Arya tersenyum cerah. “Saya baru aja teleponan sama kakak saya, pak. Dia sibuk banget, telepon saya aja baru diangkat sekarang! Padahal sudah dua hari yang lalu saya telepon terus!”
“Baguslah, dia masih ingat dia punya adik!” Bapak Tjandrakusuma tertawa, disusul Pak Arya yang naik kembali ke tempat pengemudi sambil ikut tertawa.
Iya, bagus sekali dia masih ingat dia punya adik —tidak seperti bapak yang lupa bapak punya anak.
Berita Hari ini – 26 Oktober 2016
Bekasihariini.com — Teguh Tjandrakusuma (48) hari ini menjalani siding vonis atas tuduhan penyekapan dan penganiayaan terhadap anak kandungnya sendiri, yaitu Makrina Tjandrakusuma alias Rin (17) dan Mikaela Tjandrakusuma alias Mika (15).
Berdasarkan laporan A (52), saksi mata yang menjadi supir Teguh, Teguh memang terlihat normal di luar, tapi ia kejam pada anak-anaknya di rumah. Si sulung Rin kerap dipukuli karena sibuk urusan OSIS sampai pulang telat dan Mika sering dihantam di kepala karena minta izin main sama teman-temannya.
A sebenarnya tidak begitu ikut campur, tapi begitu A tahu Teguh menyekap anak-anaknya dan meminta tukang untuk memutus listrik dan air ke kamar Rin dan Mika, A memutuskan untuk menelepon kakaknya yang bekerja di kepolisian.
Teguh juga diduga telah melakukan KDRT terhadap istrinya, Rahmania (44), yang sekarang telah wafat setelah tiga bulan dalam keadaan koma.
Saat ini, Rahmania telah dikebumikan oleh keluarga dan mertuanya, sementara Rin dan Mika masih dalam perawatan intensif di RS Cipto Mangunkusumo. Rin menderita patah tulang kering di kaki kanan dan lebam sekujur tubuh, sementara Mika mengalami luka bakar level 3 di sisi kiri wajahnya karena disiram kopi panas serta sedikit gangguan otak karena seringnya terkena hantaman.
Secara kejiwaan, baik Rin maupun Mika dipastikan menderita trauma berat. Rin sering menangis dan melamun saat sendirian, serta menolak kontak apapun dengan orang lain. Sementara Mika tampak jauh lebih baik, meski ia suka bicara sendiri dan melukai pergelangan tangannya dengan apa saja sampai berdarah dan tangannya terpaksa diikat supaya tidak bisa gerak.
“Sebenarnya, saya tidak sampai hati merawat anak-anak ini. Mereka tampaknya benar-benar terpukul.” cerita salah satu perawat yang sering merawat mereka. “Apalagi Mika. Kalau bicara sendiri, dia seolah-olah menceritakan kepada orang lain tentang ayahnya. Aduh, saya merinding dengarnya, tapi pilu juga sampai ingin menangis.”
Harapan suster? “Semoga anak-anak ini bisa cepat sembuh dan tidak ada lagi orang tua yang sejahat itu.” ucap perawat tadi sebelum pamit untuk mengantar makan siang Rin dan Mika.**
Cerpen Karangan: Leteesha Marthina
Facebook: facebook.com/IamKanayanfans
“Aku tidak dilahirkan untuk menangis.”
Biarkan aku menonton film romantis yang (katanya) menyentuh sampai berpuluh-puluh judul. Ceritakan padaku cerita-cerita yang (katanya) menyentuh —baik dari video motivasional (yang ternyata iklan asuransi luar negeri) yang ceritanya inspired by true story, maupun dari cerita-cerita penuh drama nan tragis yang biasa dicopy-paste di media sosial atau di broadcast di BBM. Atau, belakangan ini mulai sering bermunculan akun-akun Instagram yang mengisahkan orang-orang kalangan bawah yang berusaha bertahan hidup —biarkan aku melihat satu-satu fotonya dan membaca semua captionnya sampai teler. Hatiku takkan leleh jadi air mata —tergelitik oleh rasa iba setitik pun tidak.
“Mengapa bisa begitu?”
Mungkin karena namaku Mikaela. Mikaela, adalah bentuk feminin dari Mikael, panglima perang bala tentara surga. Panglima perang mana mungkin cengeng? Panglima perang bala tentara surga lagi. Kalau panglimanya saja cengeng, bisa-bisa surga luluh lantak diserang iblis.
Mungkin juga karena aku Mikaela Tjandrakusuma, anak Bapak Tjandrakusuma yang rumah dan tanahnya ada dimana-mana. Anak Bapak Tjandrakusuma yang koleksi mobilnya nggak beda jauh dengan koleksi mobil di showroom mobil. Anak Bapak Tjandrakusuma yang rekeningnya banjir duit tiap hari (sampai bosan dia lihat rupiah dan berbagai jenis dolar di dompetnya). Anak Bapak Tjandrakusuma yang tegas, cerdas dan berkharisma.
Bisa juga karena aku adiknya Makrina Tjandrakusuma, yang sejak SD rutin jadi ketua kelas, yang di SMP ketua OSIS terbaik selama SMP itu berdiri, dan tiga tahun kemudian jadi ketua dari ketua OSIS SMA se-Bekasi. Makrina adalah gadis berparas cantik dan bertubuh model, kulitnya putih mulus, rambutnya wangi dan rapi. Rankingnya mondar-mandir antara satu dari sekelas sampai satu dari seangkatan. Makrina bertutur kata lembut, tapi suaranya meyakinkan. Tatapan matanya tidak menusuk, tapi sudah membongkar sampai relungmu yang terdalam. Makrina tidak jago olahraga, tapi sabuk hitam karate sudah lama didapatnya dan semua posisi di tim futsal, bakset dan voli sudah pernah dicobanya.
Ya, mungkin karena itu.
Seorang Mikaela Tjandrakusuma tidak dilahirkan untuk menangis.
Melainkan dilahirkan untuk melihat tangisan.
Tangisan bunda sebelum dilarikan ke rumah sakit sekitar dua bulan yang lalu karena iga patah, sendi tangan terpelintir, dan pendarahan di kepala. Tangisan pekerja ayah yang memohon supaya tidak dipecat. Tangisan Kak Rin karena… karena… karena… aku tak ingat karena apa (yang jelas setelah itu banyak lebam ungu di tubuhnya) jam sepuluh malam saat ia masuk ke kamarnya. Tangisan teman sekelasku waktu kelas tujuh karena dibully anak kelas sembilan. Tangisan bapak supirku yang rindu sama kakaknya yang sedang sibuk bekerja (dia menangis diam-diam saat garasi sudah sepi). Tangisan tidak penting di bioskop setelah adegan terakhir berganti warna hitam bertuliskan judul film.
“Jadi, seumur hidup? Mikaela tak pernah menangis?”
“Tentu saja. Sudah jelas.”
“Tapi, kok matamu sembap begitu?”
“…Yang menangis itu Mika, bukan Mikaela.”
Baru saja Mika disiram kopi panas sama Bapak Tjandrakusuma waktu dia minta izin nonton sama Putra, sahabatnya dari SMP. Mika kan, nggak boleh jalan sama cowok, apalagi sama pacarnya. Mungkin Bapak Tjandrakusuma kira, sahabat cowok itu sama dengan pacar kali ya, makanya Bapak Tjandrakusuma membuat wajah kiri Mika melepuh.
Ternyata, bukan cuma wajah kiri Mika yang melepuh, tapi juga dada kirinya. Lho, kok bisa? Coba deh kamu jadi Mika —bukan cuma wajah kirinya yang sakit dan perih, dada kirinya pun serasa ditusuk-tusuk. Mungkin, karena itu Mika menangis sedih sampai matanya sembap —karena kalau ia teriak kesakitan sampai suaranya habis, dia juga bakal lebam-lebam seperti Kak Rin.
“Oh iya, dimana Kak Rin?”
Kak Rin dikurung di kamarnya, gara-gara dia makan berdua sama pacarnya di restoran dekat sekolah. Padahal, itu bukan pacarnya lho —Kak Rin kan ketua OSIS, nah cowok yang makan sama dia ini wakil ketuanya. Kak Rin sengaja ditemenin sama wakilnya karena rapat OSIS mereka selesainya jam tujuh malam, terus Kak Rin mau makan dulu di restoran. Wakilnya ini nggak enak ninggalin Kak Rin sendirian, jadi dia nemenin sekalian makan deh. Eh, waktu Bapak Tjandrakusuma mau jemput Kak Rin untuk jenguk bunda di rumah sakit, terus dia lihat Kak Rin makan sama wakil ketuanya, Kak Rin malah dibawa pulang, lalu… lalu gimana ya… (pokoknya, setelah itu, Kak Rin tidak bisa jalan dan betis kanannya bengkok ke belakang), terus ia tak ke luar kamar sampai hari ini. Kalau nggak salah, sudah tiga hari Kak Rin ada di dalam kamar.
“Bapak Tjandrakusuma kenapa sih? Kayaknya di cerita Mikaela, Bapak Tjandrakusuma itu jahat sekali…”
“Hihi, enggak kok! Dia enggak kenapa-napa dan dia baikkk sekali! Dia sayang sama Makrina dan Mikaela, tapi dia emang agak nggak suka sama Rin dan Mika…”
—
Mika meraba pipi kirinya.
Licin. Rata dengan pelipis dan kening.
Setengah bibirnya juga licin. Setengah (ralat, hampir seluruh) dagunya mulus tanpa jerawat.
Mika menghela napas.
Dari ruang sebelah, terdengar suara batuk yang keras dan suara orang muntah. Ah, itu pasti Kak Rin —ia tidak punya stok makanan ataupun obat maag di kamarnya. Setelah tujuh kali dua puluh empat jam tanpa ada yang masuk ke perut, jelas Rin sudah memuntahkan air keran yang diminumnya.
Eh, nggak mungkin deh —saluran air dan listrik ke kamar Rin dan Mika sudah putus sejak pertama kali mereka dikurung.
Lebih tepatnya, bukan putus begitu saja —tapi diputus.
Oleh siapa?
Jelas oleh Bapak Tjandrakusuma. Membayar pekerjanya yang absen mendadak karena anaknya kecelakaan saja ia tak mau, apalagi membiayai anak gadisnya yang melawan?
Mending tak pernah lahir saja anak-anak itu (Sayangnya, mereka sudah terlanjur besar —Rin dan Mika sudah SMA sekarang).
Bapak Tjandrakusuma mematut bayangannya di cermin, membenarkan dasi dan merapikan jasnya, lalu melangkah menuju mobilnya di garasi. Disitu, Pak Arya, sopir pribadinya sudah menunggu di kursi pengemudi.
Begitu melihat majikannya berjalan menuju mobil, segera Pak Arya menyimpan ponselnya, turun dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Bapak Tjandrakusuma.
Sebelum naik ke mobil, Bapak Tjandrakusuma memandangi Pak Arya, lalu tersenyum tipis. “Bapak kayaknya senang sekali hari ini?”
Pak Arya tersenyum cerah. “Saya baru aja teleponan sama kakak saya, pak. Dia sibuk banget, telepon saya aja baru diangkat sekarang! Padahal sudah dua hari yang lalu saya telepon terus!”
“Baguslah, dia masih ingat dia punya adik!” Bapak Tjandrakusuma tertawa, disusul Pak Arya yang naik kembali ke tempat pengemudi sambil ikut tertawa.
Iya, bagus sekali dia masih ingat dia punya adik —tidak seperti bapak yang lupa bapak punya anak.
Berita Hari ini – 26 Oktober 2016
Bekasihariini.com — Teguh Tjandrakusuma (48) hari ini menjalani siding vonis atas tuduhan penyekapan dan penganiayaan terhadap anak kandungnya sendiri, yaitu Makrina Tjandrakusuma alias Rin (17) dan Mikaela Tjandrakusuma alias Mika (15).
Berdasarkan laporan A (52), saksi mata yang menjadi supir Teguh, Teguh memang terlihat normal di luar, tapi ia kejam pada anak-anaknya di rumah. Si sulung Rin kerap dipukuli karena sibuk urusan OSIS sampai pulang telat dan Mika sering dihantam di kepala karena minta izin main sama teman-temannya.
A sebenarnya tidak begitu ikut campur, tapi begitu A tahu Teguh menyekap anak-anaknya dan meminta tukang untuk memutus listrik dan air ke kamar Rin dan Mika, A memutuskan untuk menelepon kakaknya yang bekerja di kepolisian.
Teguh juga diduga telah melakukan KDRT terhadap istrinya, Rahmania (44), yang sekarang telah wafat setelah tiga bulan dalam keadaan koma.
Saat ini, Rahmania telah dikebumikan oleh keluarga dan mertuanya, sementara Rin dan Mika masih dalam perawatan intensif di RS Cipto Mangunkusumo. Rin menderita patah tulang kering di kaki kanan dan lebam sekujur tubuh, sementara Mika mengalami luka bakar level 3 di sisi kiri wajahnya karena disiram kopi panas serta sedikit gangguan otak karena seringnya terkena hantaman.
Secara kejiwaan, baik Rin maupun Mika dipastikan menderita trauma berat. Rin sering menangis dan melamun saat sendirian, serta menolak kontak apapun dengan orang lain. Sementara Mika tampak jauh lebih baik, meski ia suka bicara sendiri dan melukai pergelangan tangannya dengan apa saja sampai berdarah dan tangannya terpaksa diikat supaya tidak bisa gerak.
“Sebenarnya, saya tidak sampai hati merawat anak-anak ini. Mereka tampaknya benar-benar terpukul.” cerita salah satu perawat yang sering merawat mereka. “Apalagi Mika. Kalau bicara sendiri, dia seolah-olah menceritakan kepada orang lain tentang ayahnya. Aduh, saya merinding dengarnya, tapi pilu juga sampai ingin menangis.”
Harapan suster? “Semoga anak-anak ini bisa cepat sembuh dan tidak ada lagi orang tua yang sejahat itu.” ucap perawat tadi sebelum pamit untuk mengantar makan siang Rin dan Mika.**
Cerpen Karangan: Leteesha Marthina
Facebook: facebook.com/IamKanayanfans
Tangisan Bisu
4/
5
Oleh
Unknown
