Judul Cerpen Episode Yang Terpenggal
Untuk melupakan seseorang yang dulunya pernah hadir dalam hidup kita bukanlah hal yang mudah, butuh tekad yang kuat, perjuangan yang keras, bersabar dan tidak putus untuk terus berdo’a kepada Allah, sudah bertahun tahun rasanya aku memendamkan perasaan ini kepadanya, iya kepadanya, sosok yang kukagumi dan kucintai, bodoh sekali rasanya aku bisa merasakan hal ini, bukan aku menyalahkan sebuah rasa yang suci ini, tapi aku, aku yang telah salah menggunakan cinta itu sendiri.
Kenapa aku harus meluahkan rasa yang tak seharusnya sekarang aku luahkan, nafsu telah menguasai akal sehatku, aku tak dapat mengontrol diriku lagi saat itu, ditambah ternyata dia, ia ternyata dia Faiz, sosok yang kukagumi juga memiliki rasa yang sama denganku, satu tahun dua tahun semua berjalan baik dan lancar. Hingga suatu hari aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah perguruan tinggiku di seberang pulau sana, kami terpisah oleh jarak yang tidak dekat.
Begitupun dengan dia, dia juga melanjutkan sekolah perguruan tingginya dan akhirnya kami diterima di perguruan tinggi yang kami inginkan, faiz lulus di perguruan tinggi negeri ternama di kota kelahirannya, sedangakan aku harus melanjutkan keperguruan tinggi islam yang mengharuskan aku mengasramakan diriku, di sini bukan sembarang asrama, karena banyak sekali peraturan yang harus kupatuhi, termasuk dalam hal komunikasi Hp, yang biasanya setiap hari aku pasti berkomunikasi dengannya tanpa putus, kini kami sangat sulit untuk menjalani komunikasi, sulit bahkan sudah tidak bisa lagi.
Ini bukanlah hal yang mudah bagiku, terkadang rasa rindu itu muncul, hari-hariku disibuki dengan aktivitas kampusku, semua kupendam hingga liburan semester tiba nantinya, akhirnya satu semester telah berlalu, liburan semester pun akhirnya tiba, ini adalah kesempatan yang sangat kunantikan, aku bisa bertanya kabar tentangnya, dan bisa melepas rasa rindu yang sudah meradang, hampir aku memutuskan untuk keluar dari kampusku, karena aku tak betah akan rindu yang terus aku rasakan, rasanya seakan rindu ini membunuhku, tapi faiz selalu menasihatiku agar tetap terus bertahan, karena ini adalah pilihan yang terbaik, jelas saja, kampusku adalah kampus yang bukan sembarang kampus, lihat saja, tak ada satu pun mahasiswi di sini yang pacaran seperti aku.
Ya ampun, aku hampir lupa mengenalkan diriku, namaku sarah, aku terlahir dari keluarga yang sangat agamis, iya, ayahku dan ibuku adalah salah satu tokoh yang cukup dikenal di tempat kediamanku, dan sudah jelas keluargaku sangat melarang anaknya untuk pacaran, tapi malah aku yang sangat bandel dan tidak mau dinasehati, itulah aku, oh… betapa buruknya prilakuku itu, padahal aku tahu bahwa pacaran itu adalah zina dan Allah telah jelas melarang hambanya untuk berzina, mendekatinya saja tidak boleh, nah aku? Pd sekali aku jadi manusia, yang tidak banyak amal tapi dengan senangnya melanggar syari’atNya.
Aku rasa sudah cukup perkenalanku sampai disitu, cerita akan aku lanjutkan, waktu liburan hampir selesai, rasanya masih sangat kurang sekali, aku masih rindu dengan faiz, ya Allah… Aku tak ingin berpisah dengan faiz, aku mau pindah saja dan sekolah di satu kampus yang sama dengan faiz, pasti itu lebih menyenangakan, pikirku sesaat, tapi batinku seakan menolak, lagi-lagi nafsuku terus berkata, dan merusak akal sehatku, ketika liburan telah usai kembali ku melanjuti kegiatan hari-hariku menjadi mahasiswa di kampusku, lambat laun aku mendengar kabar tentang faiz, yang semakin berubah, banyak perubahan negative yang kudengar tentangnya, padahal aku mengenal faiz adalah orang yang baik, yang sangat menjaga shalatnya, dan dia sangat menyayangiku, dan banyak lagi yang ku tau tentang faiz, rasanya seperti tidak mungakin faiz seperti itu, tapi siapa tau dunia kampus telah mengubah hidup dan kesehariannya.
Semester dua hampir usai di penghujung semester biasanya kami ditutup dengan ujian tahfidz Al-Qur’an, aku merasa sedikit kesukaran dalam menghafal Al-Qur’an, entah mengapa, aku pun tak mengerti kenapa sebenarnya aku ini, rasa rasa bersalah dan berdosa menghampiriku secara tiba tiba, aku seorang penghafal Al-Qur’an, aku seorang penghafal kitab Allah, tapi aku sendiri masih melanggar aturanNya, mungakin aku tidak mendapatkan keberkahanNya itu, dari sini semua bermula.
Akhirnya liburan semester dua datang menyapa, aku memutuskan untuk tidak pulang, aku memilih untuk I’tikaf di sini saja, berhubung liburan semester dua ini dekat dengan bulan puasa dan lebaran, aku memilih untuk beri’tikaf saja, banyak hikmah yang bisa kuambil dari I’tikaf ini, tapi belum pasti aku sudah putus dari faiz, karena aku masih sangat menyayangi faiz, aku tidak ingin melepaskan faiz dari kehidupanku, faiz adalah cinta pertamaku, aku tak ingin melepaskannya, hanya aku menjaga jarak komunikasi dengannya, sebenarnya aku selalu berpikir, jika faiz adalah lelaki yang baik dan sholih, pasti faiz tidak mau mengajakku untuk pacaran, tapi kenapa dia mau mengajakku untuk menjadi pacarnya? Seharusnya aku sudah sadar, tapi aku belum berani untuk mengambil keputusan untuk break dari dia, hanya karena sebuah rasa yang terus tetap menancap dalam hatiku.
Dengan modal keyakinan aku tetap mempertahankan faiz, aku merasa yakin, kalau kelak faiz pasti akan berubah, aku sangat berkeinginan kalau faiz kelak bisa menjadi sosok yang baik, bisa menjadi lelaki yang bisa memimpin aku nantinya, aku terus menasihati faiz, mungakin caraku yang salah atau waktuku yang kurang tepat, aku kadang merasa kecewa jika aku tanyakan kepada faiz dia sudah shalat atau belum, ternyata dia menjawab kalau dia belum shalat, bahkan dia pernah mengaku padaku kalau dia belum mengerjakan shalat subuh, aku sangat ingat sekali pada saat itu sudah pukul 8 pagi.
Aku semakin sedih, jelas sudah tampak sekali banyak perubahan di diri faiz, dia selalu bilang kepadaku kalau aku belum bisa mencintai dia apa adanya, kalau aku memang mencintai faiz ketika dia begitu dia begini aku tidak harus protes, dia sering sekali memarahiku, bahkan jika aku sedang menasihati dia tak jarang dia mengatakan, “kenapa? Kamu gak suka? Ya udah kalau gak suka tinggalkan aja aku” bukan hanya sekali dia berkata seperti itu, tampak jelas sekali perubahan pada diri faiz, aku sering menangis dibuatnya, “kamu berubah” ucapku, “terserah kamu mau bilang apa, kalau gak suka lagi yaudah pergi aja sana” jawab faiz, jelas sangat kontras dengan faiz yang dulu aku kenal, faiz sangat tidak bisa berpisah denganku, dia tidak ingin jka aku pergi dari dirinya, tapi sekarang? Semua telah berubah, semua berubah.
Kegiatan I’tikaf banyak kuisi dengan membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, hingga malam takbiran tiba, aku pulang ke kampung halamanku dan akhirnya aku dan dia seakan tidak ada ikatan apa-apa, aku lebih memilih dingin dan diam, hal ini berlanjut hampir seminggu, hingga suatu hari aku memberanikan diri untuk mengatakan kepada faiz, aku melepaskannya, aku melepaskan faiz aku tidak ingin terus menjalani hubungan haram ini, faiz hanya dapat terdiam, tak banyak perbincangan kala itu, setelah selesai aku mengatakan itu kepada faiz pembicaraan langsung aku tutup dengan salam.
Keesokan harinya hpku berdering sms dari faiz, faiz meminta maaf padaku dia mengatakan dia tidak ingin berpisah dariku, dia ingin berubah, dia sadar akan perubahan pada dirinya, dia sangat membutuhkan diriku untuk bisa membantunya berubah kembali lagi, dia sangat memohon agar aku tidak pergi meninggalkannya seorang diri, dan di akhir sms faiz mengatakan dia sangat mencintaiku. Setelah membaca sms itu aku letakkan kembali hp ku, tak ada hasrat dan keinginanku untuk membalas sms itu, jika aku membalasnya aku gagal dengan komitmen diriku, aku harus bisa menghentikan hubungan haramku ini.
Ya Allah ternyata bukan hal yang mudah untuk melepaskan dia yang ku sayangi, biarlah dia berubah dengan sendirinya, aku tak ingin jatuh ke dalam lubang yang sama untuk ke dua kalinya, aku tidak ingin terus melanjutkan hubungan ini, ampuni aku ya Allah, aku melepaskan dia karena Mu ya Allah, aku tau kelak Engakau pasti akan memberikan yang terbaik, aku yakin Engakau tak akan pernah mengecewakan hambaMu.
Untukmu faiz, biarlah hanya Allah saja yang tau sedalam apa rasa cintaku ini padamu, biarkan kelak sang pemilik cinta yang akan mempertemukan cinta kita, semoga Allah memberikan hidayah kepadamu, dan mengembalikanmu ke jalan yang lurus. Biarkan episode cerita kita ini akan berlanjut dengan skenario indahNya, karena tidak ada seindah dan sebaik skenario selain skenario Allah.
Cerpen Karangan: Nur Sa’idah
Facebook: Nur Sa’idah An-na’imah
Untuk melupakan seseorang yang dulunya pernah hadir dalam hidup kita bukanlah hal yang mudah, butuh tekad yang kuat, perjuangan yang keras, bersabar dan tidak putus untuk terus berdo’a kepada Allah, sudah bertahun tahun rasanya aku memendamkan perasaan ini kepadanya, iya kepadanya, sosok yang kukagumi dan kucintai, bodoh sekali rasanya aku bisa merasakan hal ini, bukan aku menyalahkan sebuah rasa yang suci ini, tapi aku, aku yang telah salah menggunakan cinta itu sendiri.
Kenapa aku harus meluahkan rasa yang tak seharusnya sekarang aku luahkan, nafsu telah menguasai akal sehatku, aku tak dapat mengontrol diriku lagi saat itu, ditambah ternyata dia, ia ternyata dia Faiz, sosok yang kukagumi juga memiliki rasa yang sama denganku, satu tahun dua tahun semua berjalan baik dan lancar. Hingga suatu hari aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah perguruan tinggiku di seberang pulau sana, kami terpisah oleh jarak yang tidak dekat.
Begitupun dengan dia, dia juga melanjutkan sekolah perguruan tingginya dan akhirnya kami diterima di perguruan tinggi yang kami inginkan, faiz lulus di perguruan tinggi negeri ternama di kota kelahirannya, sedangakan aku harus melanjutkan keperguruan tinggi islam yang mengharuskan aku mengasramakan diriku, di sini bukan sembarang asrama, karena banyak sekali peraturan yang harus kupatuhi, termasuk dalam hal komunikasi Hp, yang biasanya setiap hari aku pasti berkomunikasi dengannya tanpa putus, kini kami sangat sulit untuk menjalani komunikasi, sulit bahkan sudah tidak bisa lagi.
Ini bukanlah hal yang mudah bagiku, terkadang rasa rindu itu muncul, hari-hariku disibuki dengan aktivitas kampusku, semua kupendam hingga liburan semester tiba nantinya, akhirnya satu semester telah berlalu, liburan semester pun akhirnya tiba, ini adalah kesempatan yang sangat kunantikan, aku bisa bertanya kabar tentangnya, dan bisa melepas rasa rindu yang sudah meradang, hampir aku memutuskan untuk keluar dari kampusku, karena aku tak betah akan rindu yang terus aku rasakan, rasanya seakan rindu ini membunuhku, tapi faiz selalu menasihatiku agar tetap terus bertahan, karena ini adalah pilihan yang terbaik, jelas saja, kampusku adalah kampus yang bukan sembarang kampus, lihat saja, tak ada satu pun mahasiswi di sini yang pacaran seperti aku.
Ya ampun, aku hampir lupa mengenalkan diriku, namaku sarah, aku terlahir dari keluarga yang sangat agamis, iya, ayahku dan ibuku adalah salah satu tokoh yang cukup dikenal di tempat kediamanku, dan sudah jelas keluargaku sangat melarang anaknya untuk pacaran, tapi malah aku yang sangat bandel dan tidak mau dinasehati, itulah aku, oh… betapa buruknya prilakuku itu, padahal aku tahu bahwa pacaran itu adalah zina dan Allah telah jelas melarang hambanya untuk berzina, mendekatinya saja tidak boleh, nah aku? Pd sekali aku jadi manusia, yang tidak banyak amal tapi dengan senangnya melanggar syari’atNya.
Aku rasa sudah cukup perkenalanku sampai disitu, cerita akan aku lanjutkan, waktu liburan hampir selesai, rasanya masih sangat kurang sekali, aku masih rindu dengan faiz, ya Allah… Aku tak ingin berpisah dengan faiz, aku mau pindah saja dan sekolah di satu kampus yang sama dengan faiz, pasti itu lebih menyenangakan, pikirku sesaat, tapi batinku seakan menolak, lagi-lagi nafsuku terus berkata, dan merusak akal sehatku, ketika liburan telah usai kembali ku melanjuti kegiatan hari-hariku menjadi mahasiswa di kampusku, lambat laun aku mendengar kabar tentang faiz, yang semakin berubah, banyak perubahan negative yang kudengar tentangnya, padahal aku mengenal faiz adalah orang yang baik, yang sangat menjaga shalatnya, dan dia sangat menyayangiku, dan banyak lagi yang ku tau tentang faiz, rasanya seperti tidak mungakin faiz seperti itu, tapi siapa tau dunia kampus telah mengubah hidup dan kesehariannya.
Semester dua hampir usai di penghujung semester biasanya kami ditutup dengan ujian tahfidz Al-Qur’an, aku merasa sedikit kesukaran dalam menghafal Al-Qur’an, entah mengapa, aku pun tak mengerti kenapa sebenarnya aku ini, rasa rasa bersalah dan berdosa menghampiriku secara tiba tiba, aku seorang penghafal Al-Qur’an, aku seorang penghafal kitab Allah, tapi aku sendiri masih melanggar aturanNya, mungakin aku tidak mendapatkan keberkahanNya itu, dari sini semua bermula.
Akhirnya liburan semester dua datang menyapa, aku memutuskan untuk tidak pulang, aku memilih untuk I’tikaf di sini saja, berhubung liburan semester dua ini dekat dengan bulan puasa dan lebaran, aku memilih untuk beri’tikaf saja, banyak hikmah yang bisa kuambil dari I’tikaf ini, tapi belum pasti aku sudah putus dari faiz, karena aku masih sangat menyayangi faiz, aku tidak ingin melepaskan faiz dari kehidupanku, faiz adalah cinta pertamaku, aku tak ingin melepaskannya, hanya aku menjaga jarak komunikasi dengannya, sebenarnya aku selalu berpikir, jika faiz adalah lelaki yang baik dan sholih, pasti faiz tidak mau mengajakku untuk pacaran, tapi kenapa dia mau mengajakku untuk menjadi pacarnya? Seharusnya aku sudah sadar, tapi aku belum berani untuk mengambil keputusan untuk break dari dia, hanya karena sebuah rasa yang terus tetap menancap dalam hatiku.
Dengan modal keyakinan aku tetap mempertahankan faiz, aku merasa yakin, kalau kelak faiz pasti akan berubah, aku sangat berkeinginan kalau faiz kelak bisa menjadi sosok yang baik, bisa menjadi lelaki yang bisa memimpin aku nantinya, aku terus menasihati faiz, mungakin caraku yang salah atau waktuku yang kurang tepat, aku kadang merasa kecewa jika aku tanyakan kepada faiz dia sudah shalat atau belum, ternyata dia menjawab kalau dia belum shalat, bahkan dia pernah mengaku padaku kalau dia belum mengerjakan shalat subuh, aku sangat ingat sekali pada saat itu sudah pukul 8 pagi.
Aku semakin sedih, jelas sudah tampak sekali banyak perubahan di diri faiz, dia selalu bilang kepadaku kalau aku belum bisa mencintai dia apa adanya, kalau aku memang mencintai faiz ketika dia begitu dia begini aku tidak harus protes, dia sering sekali memarahiku, bahkan jika aku sedang menasihati dia tak jarang dia mengatakan, “kenapa? Kamu gak suka? Ya udah kalau gak suka tinggalkan aja aku” bukan hanya sekali dia berkata seperti itu, tampak jelas sekali perubahan pada diri faiz, aku sering menangis dibuatnya, “kamu berubah” ucapku, “terserah kamu mau bilang apa, kalau gak suka lagi yaudah pergi aja sana” jawab faiz, jelas sangat kontras dengan faiz yang dulu aku kenal, faiz sangat tidak bisa berpisah denganku, dia tidak ingin jka aku pergi dari dirinya, tapi sekarang? Semua telah berubah, semua berubah.
Kegiatan I’tikaf banyak kuisi dengan membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, hingga malam takbiran tiba, aku pulang ke kampung halamanku dan akhirnya aku dan dia seakan tidak ada ikatan apa-apa, aku lebih memilih dingin dan diam, hal ini berlanjut hampir seminggu, hingga suatu hari aku memberanikan diri untuk mengatakan kepada faiz, aku melepaskannya, aku melepaskan faiz aku tidak ingin terus menjalani hubungan haram ini, faiz hanya dapat terdiam, tak banyak perbincangan kala itu, setelah selesai aku mengatakan itu kepada faiz pembicaraan langsung aku tutup dengan salam.
Keesokan harinya hpku berdering sms dari faiz, faiz meminta maaf padaku dia mengatakan dia tidak ingin berpisah dariku, dia ingin berubah, dia sadar akan perubahan pada dirinya, dia sangat membutuhkan diriku untuk bisa membantunya berubah kembali lagi, dia sangat memohon agar aku tidak pergi meninggalkannya seorang diri, dan di akhir sms faiz mengatakan dia sangat mencintaiku. Setelah membaca sms itu aku letakkan kembali hp ku, tak ada hasrat dan keinginanku untuk membalas sms itu, jika aku membalasnya aku gagal dengan komitmen diriku, aku harus bisa menghentikan hubungan haramku ini.
Ya Allah ternyata bukan hal yang mudah untuk melepaskan dia yang ku sayangi, biarlah dia berubah dengan sendirinya, aku tak ingin jatuh ke dalam lubang yang sama untuk ke dua kalinya, aku tidak ingin terus melanjutkan hubungan ini, ampuni aku ya Allah, aku melepaskan dia karena Mu ya Allah, aku tau kelak Engakau pasti akan memberikan yang terbaik, aku yakin Engakau tak akan pernah mengecewakan hambaMu.
Untukmu faiz, biarlah hanya Allah saja yang tau sedalam apa rasa cintaku ini padamu, biarkan kelak sang pemilik cinta yang akan mempertemukan cinta kita, semoga Allah memberikan hidayah kepadamu, dan mengembalikanmu ke jalan yang lurus. Biarkan episode cerita kita ini akan berlanjut dengan skenario indahNya, karena tidak ada seindah dan sebaik skenario selain skenario Allah.
Cerpen Karangan: Nur Sa’idah
Facebook: Nur Sa’idah An-na’imah
Episode Yang Terpenggal
4/
5
Oleh
Unknown
