Hidup Yang Kedua

Baca Juga :
    Judul Cerpen Hidup Yang Kedua

    Sudah lebih dari dua tahun aku merasakan kepedihan hidup ini. Disaat yang sama, di tempat yang sama, bahkan dengan orang yang sama. Sungguh, aku tak habis pikir, aku bingung mengapa ini semua bisa terjadi padaku, padahal aku tak pernah membayangkannya, memikirkannya, apalagi menginginkannya. Hingga suatu saat aku merasa putus asa dan mengambil keputusan bahwa aku tak ingin melanjutkan kehidupan ini. Dan karena sosok sahabatlah yang mampu membuatku untuk membuang jauh-jauh pemikiran bodoh itu.

    “Tita, kenapa kamu bersedih, apa yang membuatmu jadi seperti ini!”, Tanya Cisya sahabat Tita, sambil mengelus kening Tita di bangku Taman depan kelas.
    “Iya, setahuku kau selalu tegar, ada apa denganmu Tita, Tak biasanya kamu seperti ini?”, tanya Nura, juga sahabat Tita dengan penasaran sambil memegang kedua tangannya.
    “Cisya, Nura. Kurasa aku tak perlu lagi menjelaskannya, coba kalaian pandangi teman-teman sekelas kita, terutama teman cowok, dan jawaban itu ada di mereka, Kurasa itu sudah cukup”, Perjelas Tita sambil meneteskan air matanya dengan menundukan wajahnya ke bawah.
    “Sudahlah Tita, kami jangan menangis, kamu teak perlu terus-terus memikirkan hal ini, lihat Aku dan Nura, Kami selalu ada untukmu Ta”, pejelas Cisya Kepada Tita, lalu mereka bertiga berpelukan.

    Setahun Kemudian…
    Kami semua lulus SMP, kami bertiga melanjutkan ke SMA N1 Karang Baru. Setelah Seleksi, ternyata kami lolos dan kami pun resmi menjadi siswa di SMA ini. Walaupun dalam pembagian kelas kami tidak sekelas, tetapi kami tidak pernah dan tidak akan pernah melupakan momen-momen indah yang sudah kami jalanin sama-sama.

    Satu Bulan Kemudian…
    Dan setelah kujalani satu bulan, dan kami sudah beradaptasi dengan suasana kelas dan sekolah baru. Ternyata, suasana di kelas Smp dulu dengan yang sekarang sangat berbeda, bahkan sangat jauh berbeda. Temanku yang sekarang ini tidaklah sesombong teman-teman Smp aku dulu, setiap pagi teman-temanku selalu menyapaku dengan ceria, tidak seperti temanku yang dulu, yang selalu bersikap cuek dan acuh tak acuh padaku. Jangankan bercakap-cakap, memandangku pun tak pernah.

    “Hay, selamat pagi Tita”, sapa teman pria sekelasku.
    “Hay juga, selamat pagi”, Balas Tita dengan senyum tersipu malu, Sambil berjalan menuju ke meja duduknya.
    Disaat itu, aku merasa diantara yakin dan tidak yakin, apakah ini nyata atau hanya bayangan semu. Dan disaat itu aku juga merasakan kehidupan baru, Yaitu hidup yang kedua.

    Cerpen Karangan: Rita Fitriani
    Facebook: Ta Fitrianni

    Artikel Terkait

    Hidup Yang Kedua
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email