Luka Di Hati Ibuku

Baca Juga :
    Judul Cerpen Luka Di Hati Ibuku

    Pagi yang indah kurasakan seperti biasanya, karena aku paling bersemangat jika melihat matahari terbit. disana aku bisa merasakan kedamaian hatiku dalam kehidupan yang kujalani ini.

    Sudah sebulan lebih aku mengikuti pelajaran tambahan yang diadakan di sekolahku, karena rumahku sangat jauh dari sekolahku kira-kira 20 km, membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai di sekolahku. karena itu aku terpaksa harus membawa sepeda motor ke sekolah agar aku tidak terlambat. Dan sudah sebulan lebih juga aku tidak pernah melihat ibuku marah. tapi hari ini, untuk pertama kalinya aku melihat dan mendengar ibuku marah kepadaku karena kesalahan yang telah kulakukan walau itu mutlak bukan kesalahan tapi ibuku tidak mau mendengarkan penjelasanku. baginya akulah yang bersalah karena tidak berhati-hati.

    Kejadian itu bermula ketika aku pulang sekolah dengan sepeda motor yang dibelikan ibuku untukku sebagai hadiah karena aku pernah mendapatkan peringkat satu walau itu hanya satu tahun saja, dengan mengemut permen lolipop yang dikasih temanku tadi. Aku pulang dengan hati yang sedikit aneh, entah apa yang akan terjadi aku tidak tahu.

    20 menit berlalu dengan perasaan yang sedikit aneh, aku berpapasan pulang dengan siswa smp, semakin dekat dengan segerombolan siswa smp persaanku semakin was-was, tapi aku tidak mau berburuk sangka dulu. belum habis aku berpikir “bruuukkkk” sepeda motorku dengan siswa smp itu bertabrakan. Alhamdulillah saat itu aku mengendarai sepeda motorku dengan sangat pelan. sehingga tubuh kami tidak terjatuh ke aspal. dengan terkejut aku tekan rem belakang dan depan, berharap dengan was-was semoga tidak terjadi apa-apa dengan sepada motorku ini, dengan sedikit gemetar aku turun dari mootorku dan melihat apakah ada lecet di motorku ini. Mungkin waktu tidak berpihak kepadaku atau karena aku gemetaran sehingga aku kurang teliti melihat keadaan motorku, setelah siswa tadi meminta maaf atas kesalahannya. aku langsung pulang dengan tubuh yang masih gemetaran.

    Sesampai di rumah aku memeriksa lagi apakah ada lecet, tapi tidak kutemukan aku sangat bersyukur karena tidak ada lecet di sepeda motor kesayangan ibuku, karena baginya ini adalah satu-satunya harta benda yang beliau miliki dengan jerih payah ibu membelikan sepeda motor untukku.

    Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 wib, setelah selesai membersihkan rumah aku bergegas ke depan rumah untuk mencuci motor yang sangat kotor dan sekalian memeriksa apakah ada lecet di motorku, dan pas aku periksa ternyata ada bolong sedikit di sepeda motorku itu, membuatku sangat takut. karena aku tau sifat ibuku tidak bisa mendengar kesalahan walau sedikitpun itu, dengan rasa bersalah dan ketakutan aku memberanikan diri untuk menyatakannya kepada ayah dan ibuku, tanggapan ayahku yang biasanya tegas, pendiam, tidak mengeluarkan apa-apa dari mulutnya, itu bahkan bisa membuatku lebih takut rasanya lebih baik aku mati daripada mendengar amarah dari kedua orangtuaku. Lain dengan ibu tanggapannya sudah membuatku mati rasa untuk merasakan ketakuatan itu.

    Ibu maafkan anakmu ini, mungkin aku bukan anak yang bisa membahagikanmu ibu, ayah. aku belum bisa mebuatmu bangga dengan dengan apa yang kulakukan, bahkan aku sering membuat kalian kecewa. ibu aku berharap kiranya aku akan menjadi sosok yang membanggakan kalian semua ibu, ayah. maaf untuk sekalian kalinya aku minta maaf atas kesalahanku yang tak pernah bisa menjadi yang terbaik untuk kalian.

    Cerpen Karangan: Utari Syawani
    Facebook: Utari Syawani

    Artikel Terkait

    Luka Di Hati Ibuku
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email