Cerita Cinta Anak Remaja (Part 3)

Baca Juga :
    Judul Cerpen Cerita Cinta Anak Remaja (Part 3)

    Beberapa hari setelah itu. Hera dan Karin bener-benar tidak ada komunikasi. Ketika mereka saling bertemu Hera hanya diam tidak ada kata. Karin menceritakan semuanya pada Yoga saat mereka berada di atap.
    “Menurut kamu apa yang harus aku lakukan?” Tanya Karin
    “Percaya” ucap Yoga.
    “Percaya apa?”
    “Hati kamu”
    Karin merasa itu bukan saran yang cocok untuknya. Tidak mudah dipahami, kata-kata itu terlalu abstrak untuk dicerna Karin.

    Melihat sikap temannya itu beberapa hari ini Karin merasa tidak enak. Selama itu pula rencana Riska berjalan dengan baik. Dan selama itu pula Kevin mulai bosan dengan Riska.
    Saat jam istirahat Karin menemui Kevin ke kelasnya.
    Karin menengeok ke dalam kelas itu, tapi Kevin tidak ada. Dan ia juga tidak melihat Yoga di sana.
    “Kamu tahu Kevin di mana?” Tanya Karin pada seorang siswa di kelas itu.
    “Biasanya dia di dekat tangga bawah. Kumpul sama temanya” ucap siswa itu dan pergi.
    Karin meninggalkan kelas itu dan pergi mencari Kevin.
    Siswa yang tadi ditanya Karin mencoba menghubungi Kevin.
    “Hallo! Dia mau nyusul di tangga bawah” ucapnya pada Kevin
    “Sip”
    Yoga yang baru duduk di sebelah siswa itu mengetahui maksud dari obrolan itu. Namun ia tidak mau bergerak pertama. Ia menunggu hingga saatnya.

    Karin sampai di tempat itu. Di carinya Kevin, tapi tidak ada.
    “Hai! Cari siapa?” ucap Kevin keluar dari ruangan kelas dekat tangga itu.
    “Kamu. Kenapa kamu tidak mendengar perkataanku waktu itu?”
    “Dengar kok. Dan undah terlaksana malahan” ucap Kevin mendaekat Karin.
    “Kamu mempermainkan aku? Aku tidak bodoh Kevin”
    “Karin kamu tidak bodoh, mereka yang bodoh. Sekarang berhenti bicara tentang mereka dan…”
    Kevin mendekat pada Karin. Sangat dekat.
    “Hanya kita berdua di sini”
    Karin mendorong Kevin.
    “Jangan kurang ajar kamu ya” ucap Karin.
    “Apa kamu baru saja menolakku?”
    “Dekat denganmu saja aku tidak mau”
    “Sombong sekali. Gilang maju!”
    “Apa yang akan kamu lakukan?”
    Seseorang datang dari belakang Karin dan menyiram Karin air yang dibawanya dengan ember yang cukup besar.
    Karin basah kuyup. Dan dilihatnya banyak orang yang menertawkannya.
    “Kurang ajar kamu Kevin” ucap Karin dan ia menampar Kevin.
    Tidak terima tamparan itu Kevin mendorong Karin ke dinding.
    “Lihat apa yang akan aku lakukan padamu”
    Saat Hera datang dan menyaksikan sesuatu yang mengejutkan dari sahabatnya.
    “Hera! Dia temanmu kan? Lihat dia mencoba menggodaku. Itu sebabnya aku putus denganmu” ucap Kevin.
    “Karin. Ternyata kamu perempuan ngak benar”
    Hera pergi setelah mengatakan hal itu. Semua siswa yang berada di sana berbisik-bisik tentang Karin
    “Gayanya aja yang keren, tapi ngak benar”
    “Hah… serius?”
    “Kamu ngak lihat itu? Dia mencoba mengambil pacar temannya sendiri”
    “Hera” Karin mencoba menahan air matanya tapi tidak, tidak bisa.
    Di kelas Yoga merasa serah memikirkan hal akan terjadi pada Karin. Ia bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Setelah berfikir sejenak akhirnya ia beranjak dan pergi melihat hal yang terjadi.

    Sesampainya ia di tempat itu, secepatnya ia menarik tangan Karin dan meninggalkan tempat itu.
    “Hei! tunggu dulu teman, mau kamu bawa ke nama dia? Di itu milikku” ucap Kevin.
    Yoga melepas genggamannya dari Karin dan memberikannya pada Kevin.

    Yoga mengajak Karin ke atap.
    “Tunggu di sini! Aku akan mengambil sesuatu” ucap Yoga dan pergi.
    Tidak lama setelah itu ia datang lagi. Dan memberikan sweter yang biasa ia pakai pada Karin.
    “Terima kasih” Karin mengambilnya dan mengenakannya.
    “Apa kamu akan tetap menangis?” tanya Yoga.
    “Aku tidak akan berhenti sampai aku tahu” ucap Karin
    “Tahu apa?”
    “Untuk siapa aku menangis? Untuk diriku yang menyedihkan atau Hera yang telah membenciku” ucap Karin.
    “Kamu menangis untuk dirimu” kata Yoga
    “Maksudmu aku menyedihkan?” tangisan Karin semakin keras.
    “Bukan itu maksud saya. Kamu sendiri berkata tangisanmu hanya untukmu” jelas Yoga
    “Tapi ada kecualinya”
    Yoga mendekat pada Karin dan memeluknya. Seketika itu udara tidak dapat lagi terhirup oleh Karin.
    “Apa yang kamu lakukan?” Tanya Karin.
    “Kamu tidak perlu takut, saya pelindung sejati” ucap Yoga.
    Karin melepaskan pelukan itu dan tertawa.
    “Kenapa kamu tertawa?” Tanya Yoga.
    “Apa yang kamu makan sebelum ini? Sepertinya ada yang salah dengan mulutmu” jawab Karin
    “Kalau kamu berfikir seperti itu saya pergi saja” Yoga berdiri.
    “Jangan-jangan! Kamu tidak akan tega meninggalkan gadis malang ini di sini sendiri” ucap Karin.
    “Saya pergi”
    “Ha? Apa kamu benaran serius?” ucap Kain. Yoga melangkah terus.
    Tidak ada respon dari Yoga. Karin berdiri dan mengejar Yoga, ia memeluknya dari belakang. Melihat dua tangan yang memeluknya. Yoga meraihnya dan berbalik.
    “Jangan tinggalkan aku, mengerti!”
    “Tidak akan” tangan Yoga menyeka air mata Karin.

    Mereka berdua menunggu hingga pukul lima sore. Di mana biasanya tidak ada lagi siswa di sekolah.
    Ponsel Karin berbunyi.
    “Apa itu jemputanmu?” Tanya Yoga.
    “Ya”
    “Saya akan mengantarmu”
    “Baiklah”

    Karin mengucapkan terima kasih pada Yoga dan pergi.
    “Tadi itu siapa mbak Karin?” Tanya sopir Karin
    “Teman Pak. Jangan mikir yang aneh-aneh” ucap Karin.
    “Tidak akan. Tapi sepertinya dia itu yang makan malam kemarin dengan Ibu” kata sopir itu.
    “Pikiran Bapak sangat aneh” ucap Karin dengan nada kesal.
    “Maaf mbak”

    Banyak waktu berlalu setelah hari itu. Minggu pagi ini tidak ada kegiatan berarti seperti minggu sebelum-sebelumnya. Telepon rumah Karin berbunyi.
    “Siapa yang telepon? jarang-jarang” ucap Karin
    “Hallo! Di sini Karina Laksani Rasyid. Di sana siapa ya?”
    “Saya Yukirin Raina. Masih ingat?” Tanya penelepon.
    Karin tersenyum karena ia tahu yang menelepon itu kakak tirinya.
    “Jadi sisternya Raihan ya. Habis kekeliling benua apa aja Kak?” Tanya Karin.
    “Saya juga sister kamu kok. Soal keliling… masih sekitar asia. Tapi kamu apa kabarnya?” kata Yuki.
    “Aku baik. Kita kapan ketemu Kak? Banyak hal yang inginku ceritakan pada Kakak. Kakak tahu aku lagi dekat sama seseorang, ganteng” ucap Karin
    “Kamu baru dekat aja udah senang selangit. Saya mau nikah ngak segitu amat” ucap Yuki.
    “Oh ya? Jadi Kakak nelpon untuk kabar itu. Selamat, aku pasti datang” ucap Karin.

    Jam belajar berakhir, Karin sesegera naik ke atap. Ia berharap Yoga ada di sana dan mendengarkan semua cerita. Ia sampai di atap, tapi tidak ada dilihatnya Yoga.
    “Dia tidak bisa mengagetkanku lagi, aku tahu kamu di mana” ucap Karin.
    Ia mendekati pos satpam lama itu dan…
    “Ha? Tidak ada”
    Karin turun dan mencari Yoga ke kelasnya. Di depan kelas XI.5 ia melihat dari jendela kelas.
    Tidak juga dilihatnya ada Yoga. Seseorang keluar dari kelas itu.
    “Kamu temannya kan?” ucap salah seorang siswa di kelas itu.
    “Ini Raihan titip ini padaku. Untukmu katanya” lanjut siswa itu dan memberikan kertas pada Karin
    “Raihan, maksudmu Yoga?” Karin mengambil kertas itu.
    “Terserah kamu panggil dia apa. aku pergi dulu”
    “Terima kasih ya temannya Yoga”

    Karin segera menuju mobil dan pulang.
    Di kamar. Karin mengambil kertas yang diberi Yoga padanya dan membacanya.
    “Nomor telepon, untuk apa?”
    Karin pergi ke ruang tamu mencoba menghubungi nomor telepon itu.
    “Hallo! Di sini Karina Laksani Rusyid. Ada Yoga di sana?” ucap Karin
    “Ya, ini saya” ucap Yoga.
    “Kenapa kamu memberiku nomor telepon rumah. Apa kamu tidak punya ponsel atau apalah? Tapi terlebih penting kenapa kamu tidak datang ke sekolah?” Tanya Karin.
    “Saya sibuk sekali di rumah” jawab Yoga.
    “Sibuk? Ada apa?”
    “Akan ada pernikahan”
    “Benarkah? Apa mungkin aku juga akan sesibuk itu. Kamu tahu kemarin aku mendapat telepon dari kakakku dan katanya dia akan menikah. Menurutmu apa yang bisa kubantu untuk pernikahan Yukirin nanti?” ucap Karin.
    “Jadi nama kakakmu Yukirin” kata Yoga.
    “Ya. Dia kakak tiriku. Sepertinya aku belum pernah cerita ya tentang keluargaku. Selain dia aku juga punya satu lagi saudara tiri. Tapi..”
    “Kamu tidak penah tahu dia siapa?”
    “Kamu benar. Tapi dari mana kamu tahu?”
    “Karin kita tidak perlu bertemu atau bicara lagi. Saya tutup”
    “Hallo maksud kamu apa?” Karin tidak menerima respon.

    Tiga hari sudah Karin tidak bertemu dengan Yoga. Ia mencoba menghubungi nomor itu, akan tetapi hasilnya tak pernah diangkat.
    Karin datHerabih awal dan memasuki ruang kelasnya. Ia melihat Hera dan beberapa siswa lainnya sudah datang. Dan ia mendapati sebuah kertas di atas mejanya.
    “Yoga. Ha?”
    Aku minta maaf pada kamu Karin. Aku salah menilai kamu. Aku menyesal sekali tidak berteman denganmu. Apa kamu masih menganggapku sahabat? Aku butuh jawaban sekarang.
    Hera.
    “Aku akan selalu menganggap kamu sahabat Hera” ucap Karin dan ia mendekati meja Hera.
    “Makasih Karin, kamu baik”
    Jam istirahat Hera mengajak Karin ke kantin.
    “Kamu pasti kesepian semenjak itu?” Tanya Karin
    “Sebenarnya aku menyesal mengatakan ini, tapi selama kita tidak bicara aku, berteman dengan Riska”
    “Lalu?”
    “Lalu aku tahu kalau dia yang merebut Kevin. Bukan kamu”
    “Lalu?”
    “Lalu apa lagi? Aku menyesalah pokoknya” jawab Hera kesal.
    “Lalu kamu jadi sahabatku lagi” jelas Karin.
    “Apa kamu kesepian selama itu?” Tanya Hera.
    “Tidak aku dekat dengan…” Karin berhenti.
    “Aku sudah tahu, kamu dekat dengan siswa baru itu. Tidak apa-apa aku tidak marah padamu” ucap Hera.
    “Apa hubungannya aku dekat sama dia dengan marahmu itu?” Tanya Karin.
    “Kamu masih saja polos. Itu namanya lelucon, bukan seperti yang kamu buat?”
    “Hmmm… alasan” mereka tertawa.

    Sepulang sekolah Karin mencari Yoga ke kelasnya. Ia bertanya pada Haris, teman Yoga yang waktu itu itu memberinya nomor telepon Yoga.
    “Hai! Apa hari ini Yoga datang?”
    Haris mengatakan Yoga tidak datang, Karin pergi ke atap. Seperti hari-hari sebelum ia mengenal Yoga, hanya dia sendiri di sana mendengarkan musik dan bersenandung sedikit-sedikit.
    Karin berharap semoga Yoga bisa menjelaskan maksud dari diam dan dinginnya Yoga.

    Sesampainya di rumah. Karin melihat di atas meja belajarnya ada undangan. Itu undangan dari Yukirin, pesta itu akan dilaksanakan minggu sekarang. Tiga hari lagi sebelum pesta itu dimulai
    “Karin itu baju untukmu” ucap Ibu Karin.
    “Untuk apa Bu?”
    “Besok kita akan malam keluarga di rumah ayahmu. Kamu bisa bertemu Yukirin dan adiknya” jelas Ibu.
    “Serius Bu? Aku tidak sabar. Selama ini yang dapat jatah makan malamkan hanya Ibu”
    “Bisa aja kamu”

    Malam itu tiba. Karin an Ibunya berangkat ke rumah ayah tirinya. Sesampainya di sana ia melihat Yukirin dan ayahnya menunggu. Rumah itu sebagian telah didekorasi untuk pernikahan Yukirin.
    “Wah… kapan kita akan pindah ke rumah sebesar ini Bu?” ucap Karin.
    “Bisa aja kamu Karin” kata Ayah tirinya.
    Semua orang siap di mejanya masing-masing bahkan di sana juga hadir calon suami Yukirin. Tapi kecuali Raihan. Karin ingin bertanya tapi segan sekali rasanya. Yukirin melihat ekspresi Karin yang kebingungan.
    “Raihan! Apa kamu benar tidak mau turun” panggil Yukirin.
    “Dia kenapa?” Tanya Ayah.
    “Tidak tahu, katanya ini bukan gayanya” jawab Yukirin.
    “Anak itu benar-benar” ucap Ayah.
    “Tapi waktu dia sangat baik, dia bahkan memberi Karin hadiah” ucap Ibu.
    “Iya hadiahnya masih ada” ucap Karin. Karin berfikir sepertinya Raihan orang yang dingin.
    Makan malam selesai. Semua orang mulai menikmati pestanya masing-masing. Ibu mengobrol dengan Ayah. Yukirin dengan calon suaminya. Sedangkan Karin. Ia memilih berkeliling rumah mewah itu.
    Karin naik ke lantai dua rumah itu. Disana terdapat sebuah perpustakaan dan suatu tempat yang isinya alat-alat musik.
    “Sepertinya keluarga ini pencinta seni” ucap Karin.
    Di dekat perpustakaan ada sebuah kamar. Karin mendekati kamar itu.
    “Apa ini kamar tamu mereka?” Karin membuka kamar itu.
    Ia melihat seseorang duduk di meja belajar dan mendengarkan musik melalui radio.
    “Kamu, Yoga?”
    “Karin? “

    Hari pernikahan Yukirin tiba. Ibu mengetuk pintu kamar Karin.
    “Karin kamu harus pergi sekarang. Dia kakakmu, kamu harus datang ke pernikahannya”
    Karin membuka pintunya.
    “Aku akan pergi” ucap Karin.
    “Ibu tidak tahu apa yang terjadi denganmu”

    Karin sampai di pesta pernikahan itu. Ia tidak melihat ada Yoga di sana. Bukan tidak, hanya belum.
    Karin meminta maaf pada Yukirin karena tidak bisa datang untuk membantunya. Yukirin telah mengetahui semuanya. Bahkan ia mengatakan pada Yoga kalau Karin suka padanya.
    “Kamu tidak menemuinya?” Tanya Yukirin.
    “Siapa?”
    “Maaf kalau ini membuatmu marah, saya bisa paham” ucap Yukirin.

    Karin mendatangi kamar Yoga. Ia membuka pintunya tapi tetap saja dia tidak ada. Ia memerika kamar itu. Karin melihat beberapa kaset radio di meja belajar. Dan gitar yang berada di atap. Karin baru ingat, gitar itu adalah pemberiannya pada Raihan saat ulang tahunnya.
    Seseorang masuk. Orang yang dari tadi di cari oleh Karin.
    “Apa kamu tidak punya sopan santun?” ucap Yoga.
    “Apa maksudmu?”
    “Kamu jawab dulu pertanyaan saya” ucap Yoga.
    “Sudahlah Yoga sepertinya kamu benar, kita tidak perlu bicara lagi”
    “Saya juga suka pada kamu” ucap Yoga.
    “Tidak mungkin bisa” ucap Karin.
    Yoga mendekati Karin dan memeluknya.
    Karin menangis. Ia sangat ingin mengakui perasaannya juga.
    “Aku tidak tahu harus menganggapmu apa? saudarakah atau”
    “Kamu menangis untuk siapa sekarang?” Tanya Yoga. Karin melepaskan pelukan itu.
    “Bodoh. Tentu saja aku menangis untukmu”
    Yoga tersenyum mendengar itu.
    “Kamu menangis hanya untuk dirimu dan orang yang kamu sayangi. Jadi kamu tidak menganggap saya saudara tapi hal yang lain?” ucap Yoga.
    “Tidak, itu tidak mungkin” bantah Karin.
    “Kamu harus percaya kata hati kamu” ucap Yoga.
    Karin tertawa.
    “Kenapa?” Tanya Yoga.
    “Apa kamu salah makan lagi? Ada apa dengan mulutmu?”

    Di sekolah.
    Hera melihat Karin dan Yoga datang ke sekolah dengan sepeda.
    “Hmm… kalian saudara kan? Tapi mesra sekali” ucap Hera
    “Saya pergi dulu” kata Yoga setelah memarkir sepedanya.
    “Dia masih sama saja” ucap Karin.
    “Kalau dia tidak bisa romantis, sebaiknya kamu menanganggapnya saudara saja”
    “Aku tidak bisa”
    “Hmmm… Beginikah cerita cinta anak remaja sekarang?”
    “Kamu juga harus punya cerita Hera”.

    Sorenya Karin dan Yoga pulang bersama lagi. Mereka melewati jalan yang biasa Yoga lewati. Jalan kosong yang pernah dilewatinya dengan Karin. Matahari senja memaksa masuk melewati sela-sela daun. Angin sore itu sangat tenang.

    Sore yang sama Hera pergi ke kafe tempat ia janjian dengan Kevin. Ia melihat Kevin sudah ada di sana.
    “Hera aku benar-benar minta maaf. Aku masih suka padamu” ucap Kevin.
    “Beginikah kisah cinta remajaku?”
    Hera mengambil minuman yang telah di pesannya dan menyiramkannya pada Kevin.
    “Ini seru juga, setidaknya aku bersyukur kamu tidak saudaraku”
    Minggu ini Karin punya tugas untuk bersih-bersih rumah. Setelah semua ruangan dibersihkannya, ia lanjut terakhir membersihkan kamar tidurnya. Ada banyak sekali barang yang tidak di gunakan lagi, ia memeriksa semua laci lemari dan meja di kamarnya.
    “Kaset? Perasaan sudah lama ngak beli kaset”
    Karin penasaran dengan isi kaset itu, dan ia ingat ibunya pernah bilang ada radio di gudang belakang. Ia menuju gudang dan mencari radio itu.
    Radio yang penuh debu itu terletak paling sudut dari gudang.
    “Merepotkan sekali” ucap Karin karena ia harus melawan debu-debu yang ada di sana.
    Karin mengambil radio itu dan menghidupkannya, ia memasukan keset tadi.
    “Oh… ternyata dia”

    Cerpen Karangan: Dea Safarina
    Facebook: Dea Safarina

    Artikel Terkait

    Cerita Cinta Anak Remaja (Part 3)
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email