Judul Cerpen Telur Ceplok
“Hai, bintik telur putih.”
“Iya, ada apa, bintik telur kuning?”
“Apa kau tahu bagaimana telur ceplok yang kita tinggali ini ‘termasak’ ?”
“Ya, ‘Ibu’ yang memasak kita kan? Kita ‘termasak’ di ‘Dapur Ibu’ ”
“Ibu? Ayolah, teori ‘Keibuan’ itu sudah kuno. Apa kau belum membaca penelitian ilmuwan bintik telur baru-baru ini?”
“Yang mana?”
“Bahwa telur ceplok ini tercipta dari ketiadaan. Nothing, then comes everything, bahwa sesungguhnya kita ‘termasak’ dari 1 telur saja. 1 Telur yang massanya terus bertambah, hingga meledak, dan terciptalah ‘Telur Ceplok’ yang kita tinggali. Putih telur, kuning telur, garam, merica, minyak, protein, lemak. Kita semua tercipta dari satu unsur yang sama, telur. Telur yang meledak.”
“Bagaimana kau bisa yakin? Mana buktinya?”
“Kau bisa baca sendiri di buku para ilmuwan! Ini adalah teori yang paling relevan! Kita hidup dengan sains, dan sains tidak pernah berbohong. ‘Teori Keibuan’ hanya teori yang dibuat oleh kita, ‘bintik telur’! Dulu kaum bintik telur masih sangat lemah, jadi kita berharap ada sesosok ‘Ibu’ yang ‘Maha Segalanya’, yang melindungi kita.
Ibu itu tidak ada, ia hanya sesosok makhluk yang kita ciptakan di benak kita, bukan sebaliknya!”
“Wah, kau begitu yakin.”
“Ya, aku selalu yakin dengan ilmu pengetahuan. Kita harus maju, Bintik Telur Putih. Kalau kita terus berkutat pada kepercayaan adanya Ibu, itu malah menghambat kita sendiri untuk maju.”
“Tunggu, ilmu pengetahuan?”
“..Ya”
“Yang kau maksud dengan ilmu pengetahuan, apakah cuma dengan menyalin apa yang ilmuwan bintik telur katakan?”
“… Apa maksudmu?”
“Maksudku, kau bisa berbicara seperti tadi itu hanya salinan dari apa yang mereka katakan, bukan?”
“Ya… Karena memang itu kebenarannya!”
“Apa kau sudah berpikir? Ikut serta berpikir?”
“Ya.. pastinya! Aku sudah berpikir, dan menyetujui tidak ada kesalahan dalam teori itu.”
“Well, aku rasa ada sesuatu yang mengganjal.”
“… Apa? Teori ini yang paling relevan dan terbaru!”
“Ya, ya, aku tahu. Tapi… Bagaimana telur itu bisa tidak stabil?”
“Ya… memang tidak stabil. Lalu meledak.”
“Kalaupun itu meledak, kita misalkan telur itu meledak 100 tahun yang lalu. Dari awal, PALING AWAL, telur itu sudah tidak stabil kan?”
“Ya.”
“Lalu kenapa telur itu tidak meledak 100 tahun sebelumnya? Atau 1000 tahun sebelumnya? Atau 10 abad sebelumnya? Kenapa saat itu, 100 tahun yang lalu yang kita asumsikan, baru meledak?”
“Maksudmu?”
“Maksudku, lihatlah sekitarmu. Minyak di dunia ini tidak terlalu banyak. Garam-garam bisa tersebar di seluruh tempat di telur ceplok secara merata. Begitu juga dengan merica. Lalu suhu disini juga panas, membuat kita tidak cepat membusuk.”
“Hey, keseimbangan yang kau bicarakan itu tercipta bersama ledakan si telur!”
“Bila telur ini tercipta atas ketidaksengajaan, bagaimana semua keseimbangan bisa tercipta? Pasti ada ‘Sang Juru Masak’ yang menyebarkan garam dan merica, menaikkan suhu panci, dan membuat kita hidup. Percaya pada keseimbangan, tapi tidak memercayai adanya ‘Ibu’, menurutku hal konyol.”
“Apa maksudmu sih?!”
“Telur tadi. Telur yang meledak. Tidak mungkin telur itu awalnya tidak stabil, karena ia bisa meledak kapan saja. Pasti telur itu awalnya stabil. Lalu ‘Ibu’-lah yang membuatnya tidak stabil. Ia yang ‘menceplokkan’ telur itu, lalu menyebarkan garam dan merica. Sehingga terciptalah ‘telur ceplok’.”
“… Itu tidak masuk akal.”
“Kenapa tidak? Karena aku tidak memiliki gelar di bidang sains?”
“Pemikiranmu aneh! Mana ada ‘Ibu’! Mana ada ‘Sang Juru Masak’! Otakmu telah tercemar, kau tidak bisa menerima ilmu pengetahuan lagi. Kau harus membuka pikiranmu, Bintik Telur Putih!”
Sementara mereka berdebat, Ibu meletakkan telur ceplok tersebut ke piring, dan memberikannya ke anaknya.
25 Februari 2016
– A.A.
Cerpen Karangan: Affan Abiyyu
Facebook: www.facebook.com/affan.abiyyu
Blog saya: kupingkucing.wordpress.com
“Hai, bintik telur putih.”
“Iya, ada apa, bintik telur kuning?”
“Apa kau tahu bagaimana telur ceplok yang kita tinggali ini ‘termasak’ ?”
“Ya, ‘Ibu’ yang memasak kita kan? Kita ‘termasak’ di ‘Dapur Ibu’ ”
“Ibu? Ayolah, teori ‘Keibuan’ itu sudah kuno. Apa kau belum membaca penelitian ilmuwan bintik telur baru-baru ini?”
“Yang mana?”
“Bahwa telur ceplok ini tercipta dari ketiadaan. Nothing, then comes everything, bahwa sesungguhnya kita ‘termasak’ dari 1 telur saja. 1 Telur yang massanya terus bertambah, hingga meledak, dan terciptalah ‘Telur Ceplok’ yang kita tinggali. Putih telur, kuning telur, garam, merica, minyak, protein, lemak. Kita semua tercipta dari satu unsur yang sama, telur. Telur yang meledak.”
“Bagaimana kau bisa yakin? Mana buktinya?”
“Kau bisa baca sendiri di buku para ilmuwan! Ini adalah teori yang paling relevan! Kita hidup dengan sains, dan sains tidak pernah berbohong. ‘Teori Keibuan’ hanya teori yang dibuat oleh kita, ‘bintik telur’! Dulu kaum bintik telur masih sangat lemah, jadi kita berharap ada sesosok ‘Ibu’ yang ‘Maha Segalanya’, yang melindungi kita.
Ibu itu tidak ada, ia hanya sesosok makhluk yang kita ciptakan di benak kita, bukan sebaliknya!”
“Wah, kau begitu yakin.”
“Ya, aku selalu yakin dengan ilmu pengetahuan. Kita harus maju, Bintik Telur Putih. Kalau kita terus berkutat pada kepercayaan adanya Ibu, itu malah menghambat kita sendiri untuk maju.”
“Tunggu, ilmu pengetahuan?”
“..Ya”
“Yang kau maksud dengan ilmu pengetahuan, apakah cuma dengan menyalin apa yang ilmuwan bintik telur katakan?”
“… Apa maksudmu?”
“Maksudku, kau bisa berbicara seperti tadi itu hanya salinan dari apa yang mereka katakan, bukan?”
“Ya… Karena memang itu kebenarannya!”
“Apa kau sudah berpikir? Ikut serta berpikir?”
“Ya.. pastinya! Aku sudah berpikir, dan menyetujui tidak ada kesalahan dalam teori itu.”
“Well, aku rasa ada sesuatu yang mengganjal.”
“… Apa? Teori ini yang paling relevan dan terbaru!”
“Ya, ya, aku tahu. Tapi… Bagaimana telur itu bisa tidak stabil?”
“Ya… memang tidak stabil. Lalu meledak.”
“Kalaupun itu meledak, kita misalkan telur itu meledak 100 tahun yang lalu. Dari awal, PALING AWAL, telur itu sudah tidak stabil kan?”
“Ya.”
“Lalu kenapa telur itu tidak meledak 100 tahun sebelumnya? Atau 1000 tahun sebelumnya? Atau 10 abad sebelumnya? Kenapa saat itu, 100 tahun yang lalu yang kita asumsikan, baru meledak?”
“Maksudmu?”
“Maksudku, lihatlah sekitarmu. Minyak di dunia ini tidak terlalu banyak. Garam-garam bisa tersebar di seluruh tempat di telur ceplok secara merata. Begitu juga dengan merica. Lalu suhu disini juga panas, membuat kita tidak cepat membusuk.”
“Hey, keseimbangan yang kau bicarakan itu tercipta bersama ledakan si telur!”
“Bila telur ini tercipta atas ketidaksengajaan, bagaimana semua keseimbangan bisa tercipta? Pasti ada ‘Sang Juru Masak’ yang menyebarkan garam dan merica, menaikkan suhu panci, dan membuat kita hidup. Percaya pada keseimbangan, tapi tidak memercayai adanya ‘Ibu’, menurutku hal konyol.”
“Apa maksudmu sih?!”
“Telur tadi. Telur yang meledak. Tidak mungkin telur itu awalnya tidak stabil, karena ia bisa meledak kapan saja. Pasti telur itu awalnya stabil. Lalu ‘Ibu’-lah yang membuatnya tidak stabil. Ia yang ‘menceplokkan’ telur itu, lalu menyebarkan garam dan merica. Sehingga terciptalah ‘telur ceplok’.”
“… Itu tidak masuk akal.”
“Kenapa tidak? Karena aku tidak memiliki gelar di bidang sains?”
“Pemikiranmu aneh! Mana ada ‘Ibu’! Mana ada ‘Sang Juru Masak’! Otakmu telah tercemar, kau tidak bisa menerima ilmu pengetahuan lagi. Kau harus membuka pikiranmu, Bintik Telur Putih!”
Sementara mereka berdebat, Ibu meletakkan telur ceplok tersebut ke piring, dan memberikannya ke anaknya.
25 Februari 2016
– A.A.
Cerpen Karangan: Affan Abiyyu
Facebook: www.facebook.com/affan.abiyyu
Blog saya: kupingkucing.wordpress.com
Telur Ceplok
4/
5
Oleh
Unknown
