Judul Cerpen Mengertilah
Ketakutan. Itu yang kurasakan saat ini. Aku selalu takut.. Tidak! Bukan karena aku sendirian di rumah, tapi karena kakakku. Aku tau aku selalu membuatnya marah. Entahlah, apa karena kenakalanku atau memang kakakku yang emosian.
Betapa nakalnya diriku. Sedih. Marah. Gelisah. Takut. Bersalah. Semuanya kini kurasakan! Aku tak tau apa yang harus kulakukan lagi. Maaf. Kata itu sudah berulang kali kuucapkan padanya. Tapi tak mempan, lalu apa?! Apakah aku harus mati saja agar dia merasa tidak terganggu lagi karena kehadiranku ini? Itu yang sempat terlintas di pikiranku.
Mungkin saat ini kakakku tidak lagi menganggapku sebagai adiknya. Malu. Benci. Muak. Kurasa itu yang dirasakanya. Aku melakukan kenakalanku semata karena aku ingin melindunginya, karena aku sayang, aku tidak ingin kehilangan.
Entah apa yang membuatnya berubah, aku benar-benar merasa seperti kehilangan dirinya. karena itulah, aku berusaha menyadarkannya menjadi diri yang dulu, yang selalu bersamaku. Apa caraku salah? Di matanya aku selalu saja salah. Aku berusaha menjadi benar. Jika saja aku melaporkannya pada orangtuaku karena sikapnya yang semakin hari semakin berubah, mungkin kini dia malah terluka dan tersakiti. Maka dari itu aku tidak mengatakannya pada ayah ibuku. Aku tidak ingin hatinya tersakiti.
Aku benar-benar menyayanginya. Apa dia tidak mengerti bahwa aku menyayanginya dengan sepenuh hati. “Terkadang ada beberapa hal yang harus dikatakan baru bisa dimengerti” ya! Aku mengingat kata-kata itu. Sepertinya aku harus mengatakannya. Tapi kurasa itu malah membuatku semakin terbunuh. Ini menjadi rahasiaku dan Tuhan.
Aku benar-benar tak tau lagi harus bagaimana? Yang kulakukan hanya sembunyi-sembunyi memberikannya surat yang berisi permintaan maafku dan Aku hanya terus berdo’a dan berdo’a berharap ada keajaiban datang padaku, dia mau memaafkanku, dan dia juga telah berubah menjadi yang dulu, yang selalu bersamaku.
Aku ingin seperti yang lain, kakak beradik yang selalu akur dan bersama..
Cerpen Karangan: Hasna Asjad Allamah
Facebook: Hasna Asjad
Ketakutan. Itu yang kurasakan saat ini. Aku selalu takut.. Tidak! Bukan karena aku sendirian di rumah, tapi karena kakakku. Aku tau aku selalu membuatnya marah. Entahlah, apa karena kenakalanku atau memang kakakku yang emosian.
Betapa nakalnya diriku. Sedih. Marah. Gelisah. Takut. Bersalah. Semuanya kini kurasakan! Aku tak tau apa yang harus kulakukan lagi. Maaf. Kata itu sudah berulang kali kuucapkan padanya. Tapi tak mempan, lalu apa?! Apakah aku harus mati saja agar dia merasa tidak terganggu lagi karena kehadiranku ini? Itu yang sempat terlintas di pikiranku.
Mungkin saat ini kakakku tidak lagi menganggapku sebagai adiknya. Malu. Benci. Muak. Kurasa itu yang dirasakanya. Aku melakukan kenakalanku semata karena aku ingin melindunginya, karena aku sayang, aku tidak ingin kehilangan.
Entah apa yang membuatnya berubah, aku benar-benar merasa seperti kehilangan dirinya. karena itulah, aku berusaha menyadarkannya menjadi diri yang dulu, yang selalu bersamaku. Apa caraku salah? Di matanya aku selalu saja salah. Aku berusaha menjadi benar. Jika saja aku melaporkannya pada orangtuaku karena sikapnya yang semakin hari semakin berubah, mungkin kini dia malah terluka dan tersakiti. Maka dari itu aku tidak mengatakannya pada ayah ibuku. Aku tidak ingin hatinya tersakiti.
Aku benar-benar menyayanginya. Apa dia tidak mengerti bahwa aku menyayanginya dengan sepenuh hati. “Terkadang ada beberapa hal yang harus dikatakan baru bisa dimengerti” ya! Aku mengingat kata-kata itu. Sepertinya aku harus mengatakannya. Tapi kurasa itu malah membuatku semakin terbunuh. Ini menjadi rahasiaku dan Tuhan.
Aku benar-benar tak tau lagi harus bagaimana? Yang kulakukan hanya sembunyi-sembunyi memberikannya surat yang berisi permintaan maafku dan Aku hanya terus berdo’a dan berdo’a berharap ada keajaiban datang padaku, dia mau memaafkanku, dan dia juga telah berubah menjadi yang dulu, yang selalu bersamaku.
Aku ingin seperti yang lain, kakak beradik yang selalu akur dan bersama..
Cerpen Karangan: Hasna Asjad Allamah
Facebook: Hasna Asjad
Mengertilah
4/
5
Oleh
Unknown
