From First Time

Baca Juga :
    Judul Cerpen From First Time

    Tak ada matahari untuk siang itu, walaupun masih pukul setengah satu siang cuacanya sangatlah mendung, awan awan hitam yang menutupinya dan mungkin beberapa saat lagi akan menjatuhkan butiran butiran air yang sangatlah banyak. Seseorang tengah berjalan sendiri di jalan itu, tanpa melirik ke belakang sekalipun ia hanya ingin cepat sampai di rumahnya, hingga terdengar seseorang memanggilnya “Audrey!!”
    Audrey melirik ke belakang ke arah di mana seseorang memanggilnya, tak jauh darinya Fiona tengah berjalan dengan cepat untuk menghampirinya, Audrey pun menunggunya sampai mereka bisa berjalan bersama
    “Pulang sendiri ya?” Tanya Fiona
    “Iya Fi, kamu juga pulang sendiri?” jawabnya balik bertanya
    “Ah enggak kok, nanti juga kakak aku jemput, karena aku kesal jadi aku nunggunya sambil jalan aja deh” jelasnya
    “Oh iya” singkat Audrey

    Lima menit berlalu, suasananya sangatlah sepi tak ada yang berbicara sedikitpun. Hingga Fiona yang mengubahnya dengan berkata “Sekarang kamu jadi makin kurus ya, kamu kena penyakit tipus lagi ya?”
    Audrey diam sejenak dan tersenyum “Enggak kok masih gejalanya”
    Fiona menggelengkan kepalanya “Ish ish ish.. Makanya kalau makan itu yang banyak biar bisa tinggi kayak aku”. Mereka pun tertawa “Tapi kalau terlalu banyak, tingginya juga bisa ke samping” ucapnya di sela tertawanya

    Fiona dan Audrey pun berhenti tertawa “Drey, sekarang kamu berubah, kamu jadi pendiem, jarang main, ada apa? Kamu berubah banget dari kamu yang dulu, bahkan terkadang aku gak mengenal kamu, tapi jujur sekarang kamu makin cantik deh” jelas Fiona
    “Heump.. aku gak tau Fi, iya ya sekarang kita jarang banget barengan, udah lama kita gak pulang bareng” jawab Audrey simple
    “Sebenarnya, setelah kamu gak sebangku lagi sama Putri, kamu itu jadi beda banget” ucap Fiona
    “Apa yang berubah dariku” Tanyanya
    “Kamu sekarang jadi pemurung, pendi…” ucap Fiona terhenti oleh Audrey “Eh tuh kakak kamu..” ketika melihat kakaknya Fiona datang dengan membawa motornya dan berhenti tepat di samping mereka
    “Aku duluan ya, tapi kamu gak papa kan?” Ucap Fiona bergegas naik motor
    “Ah gak papa rumah aku deket, sebentar lagi juga bakalan nyampe” Jawab Audrey tersenyum
    Fiona pun pulang dengan kakaknya meninggalkan Audrey di jalan itu “Duluan ya” ucap Fiona tersenyum, Audrey pun mengganguk dan membalas senyuman itu.

    Akhirnya Audrey harus pulang sendiri lagi, namun itu sudah terbiasa baginya. Tak terasa dia sudah di tengah perjalanan, sebentar lagi untuk sampai di rumahnya walaupun sedikit jauh, ini tidak akan membuatnya lelah.
    Awan hitam itu menjatuhkan rintik air perlahan dan membasahi Audrey yang belum sampai ke rumahnya.

    “Sepertinya aku mulai mengingat dan merindukannya lagi, kutahu masa lalu itu sangatlah indah, bagiku dulu itu menyenangkan, dulu.. maksudku saat kita masih bersama” kata kata yang tertulis di diary Audrey malam itu. Disimpannya kembali diary tersebut ketempat biasanya, tepat di belakangnya sebuah cermin yang memantulkan apa yang ada di depannya, Audrey pun membalikan tubuhnya dan menatap dirinya di cermin.

    Audrey, seorang murid yang biasa saja bukan istimewa ataupun sebaliknya, tapi dia berprestasi di sekolahnya dia selalu mendapat pringkat tiga besar walaupun tidak pernah mendapatkan juara kelas
    Saat itu Fiona adalah seorang sekertaris di kelasnya, ia satu kelas dengan Audrey juga bersahabat dengan Audrey dan Anisa. Fiona adalah seorang murid yang cantik dan memiliki tubuh yang tinggi. sedangkan Anisa adalah murid yang anggun dan pendiam sangat jarang dia bercanda kecuali dengan Audrey karena mereka sudah seperti saudara

    “Niss kita pulang duluan aja yu” ajak Audrey ke Anissa sambil menggemgam tangan Anissa untuk segera pulang
    Namun Mala mencegatnya “Eh jangan, terus nanti Fiona pulangnya sama siapa?”
    Mereka berhenti sejenak “Eump, niss menurut aku kalo kita nungguin Fiona terus dia pengen ikut nebeng naik motor sama yang lainnya tapi gak jadi gara gara ada kita gimana?” ucap Aydrey pelan hanya bisa terdengar oleh Anissa. Anissa diam lalu berkata “Terserah kamu aja”
    Audrey kebingungan, dia sangat ingin pulang tapi dia juga memikirnya sahabatnya yang akan pulang telat karena sekretaris disuruh ke kantor.
    “Baiklah kita nungguin aja ya kasian” keputusan Audrey walaupun berat

    Mereka pun menunggu Fiona, sudah hampir dua jam mereka menunggu dan akhirnya Fiona bisa pulang.
    Fiona berlari menghampiri mereka “Ayo pulang” ucapnya.
    “Ah mending kita jalan aja deh, soalnya kalo nungguin mobil, pasti lama aku capek nih” ucap Fiona
    “Ya udah terserah kamu” jawab Audrey

    Mereka pun berjalan kaki untuk pulang, tak jauh dari gerbang sekolah datang Reza membawa motor karena melihatnya Fiona berteriak “Reza aku mau ikut!!”
    Audrey dan Anissa terus berjalan sementara Fiona berhenti karena akan ikut naik motor
    Audrey dan Anissa sedikit kesal dengan kelakuan Fiona namun mereka mencoba menahannya dan menyembunyikannya dengan tersenyum
    “Fio.. Fio..” ucap Anissa tersenyum
    Audrey tersenyum “Nis, nanti kamu pulangnya sama siapa?”
    “Sama kamu lah” jawabnya
    “Eh bukan! nanti kalo aku udah nyampe.. rumahku kan lebih jauh dari kamu”
    “Gak papa kok”
    Jam menunjukan pukul 15:30 jalanan sangat sepi “Udah cape cape nungguin eh malah ditinggalin” ungkapan yang mungkin ingin mereka ungkapkan namun mereka tak ingin mengungkapkannya
    “Dadah Nis, hati hati di jalan ya” ucap Audrey ketika sampai di rumahnya dan Anissa harus pulang sendiri
    Anissa hanya tersenyum dan berjalan, sementara Audrey terus memperhatikannya “Niss di sabarin aja ya..” ucap Aydrey
    “iya iya kamu juga ya”

    “aku ikhlas ini terjadi, mungkin dia lelah sehingga tidak bisa menyadari bagaimana lelahnya kita menunggunya” Tertulis di Diary Audrey

    Entah mengapa persahabatan mereka semakin lama semakin berbeda apalagi Fiona yang sepertinya ingin pergi menjauh dari mereka dan itu terjadi
    “Perubahan terjadi di mana mana” Ucap Audrey tersenyum melihat Anissa

    Pagi itu di sekolah, semua orang tengah membicarakan Anissa kecuali Audrey dan Anissa tentunya. Anissa belum datang,
    “eh ada apa sih?” tanya Audrey ke teman temannya yang asik mengobrol
    “Masa sih kamu gak tahu.. sama sahabat sendiri lo..” jawab Putri
    “Emangnya si Nissa kenapa?” tanyanya semakin penasaran
    “Dia kan udah pacaran sama si Kevin” jawab Fiona
    Setelah mendengar itu.. waktu seakan berhenti, Audrey benar benar terkejut matanya sedikit melotot, lalu ia mengerutkan alisnya “Oh ya?” ucapnya menutupi rasa terkejutnya sambil memaksakan untuk tersenyum
    Audrey pun duduk di bangkunya, dia terus memikurkan hal itu bahkan dia tidak bisa belajar dengan fokus. Karena dia sudah menyukai Kevin dari dulu bahkan Anissa pun mengetahuinya, ia tidak percaya namun ia juga takut jika itu juga memang benar.

    Bel berbunyi tanda untuk pulang. di sekolah saat semua orang telah pulang kecuali Audrey dan Anissa
    “Niss, gosip yang mereka bilangin itu bener ya?” tanya Aydrey
    “Gosip yang mana tuh Dreyy” jawabnya
    “ka.. kamu pacaran sama..” ucapnya terhenti ketika ada Kevin yang hadir tepat di depan mereka
    “sama aku” ucap Kevin sambil merangkul Anisa
    Audrey mencoba tersenyum walaupun tidak mampu “Oh selamat ya, aku pulang duluan aja ya” ucapnya lalu berlari meninggalkan mereka, tanpa terasa air mata terus berjatuhan tanpa henti

    “Drey kamu marah sama aku?” sms dari Anissa. Audrey tidak membalas sms itu. beberapa menit kemudian Anissa meneleponnya dan Audrey mengangkatnya
    “Drey jangan marah ya..” ucap Anissa mengawali percakapannya
    “aku gak marah kok” Jawab Audrey dengan suara serak karena terus terusan menangis
    “kamu pasti lagi nangis kan?” ucap Anissa
    Audrey diam lalu terdengar suara kevin di telepon itu “Lo jangan ganggu pacar gue lagi! dan lo tau gue itu gak bakalan pernah suka sama lo sebaiknya lo jauhin pacar gue” teriak Kevin lalu menutup teleponnya. mendengar hal itu Audrey semakin sedih dan menangis sejadi jadinya
    “Tuhan!! mengapa? mengapa yang cantik selalu bahagia dan membuat seseorang yang jelek terluka? mengapa?” ucap Audrey

    Audrey masih duduk di sebuah bangku di taman seseorang menghampirinya dan berkata “Mengapa kamu sedih?” Audrey terkejut mendengar suara itu lalu ia melihat Reza duduk di sampingnya
    “Kamu kan masih sekolah, tugas kamu belajar bukan pacaran, kalo masalah jodoh tenanglah itu urusan Tuhan” sambungnya. Audrey diam sejenak lalu berkata
    “Aku tidak ingin berpacaran.. tapi aku hanya kecewa..”
    Reza tersenyum “kamu sangatlah aneh, jadilah yang lebih baik” sambil menepuk pundaknya
    Sejak saat itu Audrey mulai berpikir “Mengapa ia harus bersedih” lalu ia berusaha untuk berubah walaupun belum bisa memaafkan Nissa dan Kevin.

    Hari harinya sangatlah berubah, kini tak ada lagi dua sahabat yang menemaninya, perlahan dia menjadi sosok pendiam dan anggun dia lebih suka sendiri untuk belajar.
    Walau ada kalanya dia merindukan Fiona dan Anissa
    Fiona mungkin sudah melupakan kenangan kengan dulu tentang Audrey dan sekarang dia punya banyak teman karena ia menjadi populer, begitu juga dengan Anissa.

    Audrey menatap dirinya di cermin itu, besok adalah pembagian rapor tiba tiba muncul sms di handphonya dari temannya
    “drey gue sayang sam lo, lo mau kan jadi pacar gue”
    Audrey membacanya laku membalas “Oh, maaf ya aku gak mau pacaran dulu, tapi maksih udah sayang sama aku”
    itu adalah orang ke tiga yang menembaknya di minggu ini.

    “Dan.. juara umum kita tahun ini adalah.. Audrey aprilia” ucap kepala sekolah
    dengan disambut tepuk tangan para murid dan guru yang ada di sana Audrey maju ke depan dan menerima piala yang diberikan oleh kepala sekolah tetlihat kebahgian di wajahnya namun ada satu hal yang membuatnya sedih.

    “Dulu saat aku dapat peringkat 3 Anissa memelukku dan Fiona bilang aku bangga punya sahabat sepertimu. tapi sekarang.. itu semua tak ada artinya sungguh aku merindukan itu..” ucap Audrey sambil memegang piala itu di tangannya.

    Namun dari tadi Fiona dan Anissa memang tidak datang ke sekolah.
    Audrey tetap duduk di kursi itu.. tepatnya di taman biasa ia bermain bersama mereka
    Teleponnya berdering, ia pun mengangkatnya, seketika hpnya terjatuh ketika mendengar Fiona dan Anissa telah meninggal karena kecelakaan ketika berangkat sekolah..

    Satu tahun berlalu, Audrey sangat sedih karena Fiona dan Anissa telah pergi.. namun ia berusaha untuk mengikhlaskannya

    “Tuhan.. maksih.. terimakasih atas takdir yang telh engkau berikan.. dan maaf atas segala yang aku keluhkan pada Mu.. sekarang aku mengerti, mungkin Engkau tidak mau aku jatuh terlalu dalam sehingga Engkau telah mempersiapkan semuanya dari awal.. aku percaya pada Mu..

    Cerpen Karangan: Audrey Aprilia
    Facebook: Sela Apriani R

    Artikel Terkait

    From First Time
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email