Judul Cerpen Kesadaranku
Nyaris sepanjang hidupku, aku belum pernah merasakan sakit yang serius, kecuali sakit maag beberapa tahun lalu. Selebihnya, paling demam atau flu. Padahal menjadi pelajar yang selalu berjalan kali cukup menguras tenagaku. Aku sering merasa kecapekan. Tapi biasanya dengan istirahat yang cukup bisa hilang dengan sendirinya.
Kemarin pagi, perutku serasa disobek-sobek dan dihancurkan semua organ yang ada di perutku. Meski kalut, aku berharap dihari ini aku periksa ke rumah sakit bersama ibu. Menurut dokter, aku hanya masuk angin biasa. Aku juga dianjurkan istirahat yang cukup disamping meminum obat dokter.
Beruntung, aku memiliki keluarga, terutama ibu yang merawatku dengan telaten. Seolah aku masih putri kecilnya dulu. Padahal aku sudah kelas dua SMP yang sedang belajar untuk hidup mandiri, untuk dewasa.
Berkat support orang terdekatku, aku mulai berdamai dengan kenyataan. Aku pasrah dengan kehendak-Nya. Mungkin ini yang terbaik untukku. Aku banyak berdoa memohon kesembuhan-Nya. Aku mengingat perjalanan hidup yang telah kulalui. Aku mencoba memahami, bisa jadi ini teguran dari Allah untukku. Seiring dengan itu, aku terus mensugesti diriku bahwa aku bisa sembuh dengan izin-Nya. Aku yakin sekali, jika Allah berkehendak, tidak ada satu kekuatan pun yang bisa menghalangi.
Alhamdulillah, doaku terkabul. Rasa nyeri di sekitar perutku mulai mereda. Sulit untuk menjabarkan dengan kata-kata semua yang kudapatkan dengan penyakit ini. Tapi satu hal yang pasti, penyakit ini telah membuatku sadar, betapa besar kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Terima kasih ibu, telah merawatku.
Cerpen Karangan: Riska Rizkiyani
Facebook: m.facebook.com /riska.rizkiya ni.3
Nyaris sepanjang hidupku, aku belum pernah merasakan sakit yang serius, kecuali sakit maag beberapa tahun lalu. Selebihnya, paling demam atau flu. Padahal menjadi pelajar yang selalu berjalan kali cukup menguras tenagaku. Aku sering merasa kecapekan. Tapi biasanya dengan istirahat yang cukup bisa hilang dengan sendirinya.
Kemarin pagi, perutku serasa disobek-sobek dan dihancurkan semua organ yang ada di perutku. Meski kalut, aku berharap dihari ini aku periksa ke rumah sakit bersama ibu. Menurut dokter, aku hanya masuk angin biasa. Aku juga dianjurkan istirahat yang cukup disamping meminum obat dokter.
Beruntung, aku memiliki keluarga, terutama ibu yang merawatku dengan telaten. Seolah aku masih putri kecilnya dulu. Padahal aku sudah kelas dua SMP yang sedang belajar untuk hidup mandiri, untuk dewasa.
Berkat support orang terdekatku, aku mulai berdamai dengan kenyataan. Aku pasrah dengan kehendak-Nya. Mungkin ini yang terbaik untukku. Aku banyak berdoa memohon kesembuhan-Nya. Aku mengingat perjalanan hidup yang telah kulalui. Aku mencoba memahami, bisa jadi ini teguran dari Allah untukku. Seiring dengan itu, aku terus mensugesti diriku bahwa aku bisa sembuh dengan izin-Nya. Aku yakin sekali, jika Allah berkehendak, tidak ada satu kekuatan pun yang bisa menghalangi.
Alhamdulillah, doaku terkabul. Rasa nyeri di sekitar perutku mulai mereda. Sulit untuk menjabarkan dengan kata-kata semua yang kudapatkan dengan penyakit ini. Tapi satu hal yang pasti, penyakit ini telah membuatku sadar, betapa besar kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Terima kasih ibu, telah merawatku.
Cerpen Karangan: Riska Rizkiyani
Facebook: m.facebook.com /riska.rizkiya ni.3
Kesadaranku
4/
5
Oleh
Unknown
