Oedipus Complex (Part 1)

Baca Juga :
    Judul Cerpen Oedipus Complex (Part 1)

    Hujan di minggu pagi dimana orang-orang asyik bergulung dengan selimut mereka tapi tidak denganku yah seandainya aku menjadi salah satu dari mereka tentu lebih menyenangkan. Disinilah aku di ruangan putih tempatku bekerja dengan seorang wanita paruh baya yang entah sudah menghabiskan berapa liter air mata sejak tadi terus-terusan menangis. Aku hanya menghela nafas dan mengulurkan tisu sambil mendengarkan curahan hati wanita itu. Aku menanggapi sesekali ucapan wanita itu dan menepuk lembut tangannya agar tenang. Mungkin kalian bertanya apa pekerjaanku, yap aku seorang psikiater baru sebulan lalu dan wanita paruh baya di hadapanku adalah sahabat karib ibuku yang jadi pasien tetapku setiap hari atau entahlah dia menganggapku psikiater atau hanya orang yang mendengarkan curahan hatinya setiap hari tentang masalah yang sama dan uraian air mata yang sama mengingat wanita ini tidak memiliki gangguan jiwa apapun.

    “Hana tante mohon bantu tante mengeluarkan Kean dari kekelaman ini. Hana tante membesarkan Kean sendiri sebaik mungkin tapi bagaimana mungkin tante sanggup merelakan Kean menikahi wanita itu. Hana wanita itu seusia dengan ibumu itu artinya hanya 2 tahun lebih muda dari tante. Kean seorang pengusaha sukses usianya baru 27 tahun mana mungkin dia tertarik pada wanita berusia hampir 50 tahun, bagaimana mungkin ini terjadi pada putraku” Isak tante Ria
    “Tante saya tidak yakin bagaimana harus membantu putra tante jika dia tidak melakukan konsultasi langsung dengan saya. Mungkin putra tante mengidap Oedipus Complex, tapi saya juga tak yakin jika tidak melakukan wawancara secara langsung padanya.”

    Tante Ria terdiam dia terlihat sedang berpikir lalu tiba-tiba matanya bersinar dan wajahnya cerah, dia menatap mataku dengan binar matanya yang menyilaukan itu dan membuat perasaanku tidak enak.
    “Tante tahu, Kean sangat mencintai wanita itu dan ingin menikahinya tapi sebelum itu terjadi tante akan menjodohkan Kean dengan wanita lain yang masih muda, dan kamulah wanita yang tepat itu Hana sayang” ucapnya berbinar
    Aku bengong mendengar ucapan tante Ria, yah jujur saja ini ide gila dan kenapa juga aku yang harus dikorbankan.
    “Tante tak perlu melakukan hal seektrim itu, cukup minta Kean berkonsultasi saja denganku dan aku janji akan menemukan cara untuk menyembuhkannya” ucapku bijak.
    Binar di wajah tante Ria langsung redup dan air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, aku menjadi merasa bersalah melihatnya apalagi isakan halus kembali terdengar dari mulutnya membuat sesi konsultasi ini bertambah panjang.

    “Kean asalnya anak yang penurut, sejak kecil dia tak pernah nakal tapi sejak mengenal wanita ular itu dia selalu melawanku bahkan berani membentakku” ucap tante Ria dengan isakannya.
    Aku menghela nafas melihat tante Ria yang kembali asyik dengan tangisnya. Entah ini sudah ronde ke berapa dia menangis hari ini. Aku hanya diam memandanginya sampai tante Ria merosot dari duduknya dan berlutut di hadapanku.
    “Tante mohon Hana tolonglah menikahlah dengan Kean” ucapnya masih dengan isakannya.
    Aku merasa tidak enak dengan apa yang dia lakukan dan memintanya untuk bangun sampai suara seseorang yang kukenal sejak lahir mengagetkanku.
    “Hana akan menikah dengan Kean mbak tenang saja” ucap ibuku enteng yang tiba-tiba saja muncul entah darimana.
    Aku mendelik ke arahnya dan dia hanya tersenyum cengengesan, belum sempat aku berkomentar tante Ria keburu bangun dan langsung memeluk ibuku.
    “Terima kasih Hasna kamu memang sahabat terbaikku.” ucapnya penuh haru.
    “Sama-sama mbak seperti janjiku 20 tahun lalu saat menyelamatkanku dari geng amburadul itu bahwa kelak aku akan membalas kebaikan mbak dan inilah saat yang tepat.” ucap ibuku tak kalah haru.
    Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat dua ibu-ibu yang sedang berdrama di hadapanku. Setelah mereka berdrama ria mereka langsung menatap ke arahku.
    “jadi bulan depan kamu siap kan menikah dengan Kean?” tanya Tante Ria berbinar.
    Aku membulatkan mataku tak percaya mendengar ucapannya, yah aku bahkan belum pernah bertemu Kean sejak 5 tahun lalu bagaimana mungkin aku harus menikahinya dalam sebulan. Aku melihat ibuku yang mengangguk-angguk antusias menyetujui perkataan tante Ria tapi sebelum dia bicara aku langsung mendahuluinya.
    “tunangan, yah mari tunangan saja dulu jangan buru-buru menikah” ucapku.
    Mereka terlihat kecewa dengan ucapanku tapi dengan sedikit ancaman tunangan atau tidak menikah sama sekali akhirnya mereka setuju. Setelah mendapat yang mereka mau dua ibu-ibu itu pergi meninggalkanku dan sibuk berbicara tentang pesta untuk pertunangan itu.

    Aku menghela nafas berat dan mencari smartphoneku untuk menghubungi ayahku dan mengadukan tingkah ibuku tapi ayahku malah ketawa ngakak mendengar ceritaku dan malah dia cerita jika sejak aku dalam kandungan ibuku sudah bertekad jika aku lahir perempuan maka dia akan menikahkan aku dengan anaknya tante Ria.

    Setelah kejadian itu aku benar uring-uringan sedangkan ibuku bahagia luar biasa karena cita-citanya tercapai. Aku hanya bisa mengangguk-angguk saja dengan segala pilihan yang dipilih oleh dua ibu-ibu itu. Aku tak tahu Kean setuju atau tidak dengan pertunangan ini tapi aku harap dia menolak hingga pengorbanan gila ini tak perlu terjadi. Entah karena aku tak pernah mengharapkan hari ini atau apa tapi waktu sebulan cepat sekali berlalu hingga tibalah hari ini hari dimana aku mengantarkan diriku menuju tiang gantungan.

    Dekorasi serba putih di sebuah ballroom hotel bintang 5 menjadi lokasi pertunanganku ah dekorasi ini terlalu indah untuk diabaikan tapi aku benar-benar mengabaikan semua bentuk keindahan ini dengan segala isinya karena perutku melilit bukan karena mau BAB atau lagi diare tapi karena ucapan pria tampan yang sekarang sedang mengapit tanganku dan tebar senyum palsunya ke seisi ruangan mewah ini. Masih terngiang jelas di telingaku kata demi kata yang dia ucapkan.
    “Dengar aku menyutujui pertunangan ini hanya karena ancaman ibuku yang ingin bunuh diri tapi jangan harap semua berjalan sesuai rencana kalian. Kau bersiaplah pertunangan ini akan menjadi neraka untukmu” itulah kata yang dia ucapkan tepat di telingaku.

    Aku terus berjalan mengikuti langkah kakinya membawaku tapi pikiranku penuh dengan rutukan betapa bodohnya aku mengikuti rencana gila ibu-ibu itu, kalau begini terus sebelum aku menyembuhkannya bisa jadi aku keburu stres menghadapinya. Pertunangan berjalan lancar hingga tibalah hanya kami berdua, aku menarik nafas menetralkan perasaanku dan bersikap layaknya seorang psikiater sejati.

    “Kean, tentu anda tahu alasan dibalik pertunangan ini bukan? Ibu anda tentu saja sudah menceritakan siapa saya jadi mari kita bersikap seperti teman hingga proses konsultasi yang anda butuhkan selesai” ucapku seprofesional mungkin.
    Kean mendengus ke arahku, dia menatap meremehkan dan berdiri di hadapanku.
    “aku bukan orang gila jadi aku tak butuh konsultasi denganmu” ucapnya sinis
    “Saya tahu, anda tidak gila tapi apa salahnya mencoba berkonsultasi dengan saya untuk membagi beban pikiran anda” ucapku berusaha sabar.
    Dia masih menatap remeh kepadaku dan berjalan menjauh tapi aku segera meraih pegelangan tangannya.
    “Tolonglah setidaknya lakukan konsultasi demi ibu anda”
    “Sudah kukatakan aku tidak gila” bentaknya.
    “Saya tahu tapi menurut cerita ibu anda apa yang terjadi pada anda sedikit tidak lazim”
    Kean menatap sinis mendengar ucapanku, terlihat jelas kemarahan di wajahnya dan aku sadar ini saatnya untuk berhenti dan tidak memaksakan apapun padanya.
    “Ah maaf anda pasti lelah pergilah beristirahat” ucapku akhirnya.
    Dia masih menatapku sinis, lalu berlalu dengan menghempaskan tanganku yang tadi memegang lengannya dengan sedikit kasar. Aku hanya menatap kepergiaannya, yah ini tak mudah mengobati seseorang yang tidak merasa dirinya sakit ditambah lagi dia tipe orang yang berharga diri tinggi.

    Aku menatap sekeliling dan melihat tawa bahagia dari keluargaku, tamu undangan terutama kebahagiaan tante Ria, tawa bahagianya membuatku miris mengingat tangis sedih yang selalu dia tunjukan padaku seakan sirna begitu saja. Yah ini sudah jalan yang kupilih setidaknya dengan memilih jalan ini bisa membantu semua orang terhanyut dalam tawa bahagia seperti hari ini.

    Aku mulai mencari segala hal tentang Kean mulai dari searching di internet dan ternyata dia lumayan terkenal karena dia merupakan CEO di sebuah perusahaan kopi lokal dan memiliki puluhan coffe shop. Aku juga meminta tante Ria untuk menceritakan tentang Kean sejak masa kecil tapi itu tidak terlalu menbantu karena tante Ria tidak terlalu detail tahu tentang bagaimana Kean menjalani hidup selama ini karena terlalu sibuk mencari uang untuk kebutuhan hidup mengingat dia seorang single mother. Aku juga bertanya pada teman-temannya, para karyawannya hingga mantan kekasihnya tak lupa pula aku memeriksa secara detail ruangan pribadinya berharap mengenal keperibadiannya dari sana, yah memang benar di kamar itu terdapat segalanya termasuk foto kekasihnya.

    Ditemani secangkir kopi disinilah aku duduk berhadapan bersama wanita seusia ibuku. Wanita itu masih cantik di usianya yang mendekati 50 tahun, dengan senyum manis dan wajah hangat khas seorang ibu yang baik. Kami terdiam tanpa inisiatif memualai pembicaraan terlebih dahulu, sejujurnya aku agak segan memulai pembicaraan duluan aku takut apa yang kubicarakan akan menyinggung hatinya dan rasanya tidak enak menyakiti hati wanita yang bahkan seusia dengan ibumu bukan.

    “Jadi nona Hana sebenarnya apa dan maksud tujuan anda menemui saya?” tanya wanita itu dengan nada bicara yang sangat lembut dan menyejukan hati.
    Aku mendongak menatap ke arahnya yang masih setia menampilkan senyuman di wajahnya.
    “Saya… tunangannya Kean” ucapku hati-hati dan dapat kulihat senyum di bibirnya langsung menghilang.
    Wanita itu langsung memalingkan muka dariku dan hendak beranjak meninggalkan aku tapi sebelum itu terjadi aku perlahan menggenggam tangannya yang bergetar di atas meja.
    “Ibu Sarah tolong tenanglah dan dengarkan saya, saya butuh bantuan anda” ucapku lembut
    Wanita itu terdiam dan kembali memandang ke arahku, aku terus mengelus tangannya berusaha meyakinkannya jika aku tak akan melukainya.
    “Apa yang anda inginkan dari saya?” tanyanya.
    Aku tersenyum senang mendengar pertanyaannya karena wanita itu menangkap umpanku.
    “Ini tentang Kean, bagaimana laki-laki itu menurut anda?” tanyaku
    Ibu Sarah menatap bingung ke arahku.
    “Maksud saya menurut pendapat anda Kean itu pria seperti apa?”
    “Kenapa menanyakan hal itu?”
    “Saya tahu ini sedikit kurang sopan tapi yah saya ingin tahu saja bagaimana dia menurut pendapat anda”
    “Dia pria yang baik, perhatian dan sangat pengertian” Ucapnya sambil tersenyum menerawang.

    Aku tertegun mendengarnya, yah jawaban ibu sarah sangat jauh berbeda dengan jawaban mantan pacar Kean yang masih muda, ketika aku bertanya pada mereka. Yah mereka menjawab Kean sosok yang dingin dan tidak peka, tapi kenapa dia berubah menjadi perhatian dan pengertian di hadapan ibu Sarah? Aku memberikan beberapa pertanyaan pada ibu Sarah tapi setelah pertanyaannya menjurus ke arah pribadi ibu Sarah langsung menatapku tak suka.
    “Sebenarnya apa makaud anda terus bertanya pada saya?” tanyanya dengan nada yang sedikit sinis.
    Aku hanya tersenyum memandang ke arahnya, dapat kulihat gurat khawatir dan rasa gugup di mata ibu Sarah.
    “Seperti yang saya katakan saya tunangan Kean dan saya tahu anda wanita yang dicintainya, saya hanya ingin mencoba memahaminya. Anda tahu seorang pria muda mencintai wanita yang hampir seusia dengan ibunya tentu itu sedikit tidak lazim, saya ingin tahu sebenarnya sejenis apa cinta di antara kalian”
    “Apa maksud ucapan anda?” tanyanya sinis.
    “Saya tak bermaksud menyinggung anda dengan ucapan anda tapi apa yang saya katakan memang benar adanya, cinta seperti apa yang bersemi di hati seorang wanita pada seorang pria yang hanya berbeda 2 tahun dengan putra pertamanya?”
    “Kami saling mencintai apa itu salah? apa karena perbedaan usia kami cinta kami menjadi dosa?” tanyanya skaptis.
    “Saya tidak mengatakan cinta di antara kalian dosa hanya saja pernahkah anda terpikirkan bagaimana perasaan ibunya Kean?”
    Wanita itu diam mendengar pertanyaanku, matanya bergerak gelisah dan tangannya mengepal erat.
    “Anda seorang ibu juga, bayangkan jika anda di posisi ibunya Kean, bayangkan jika putra anda mencintai wanita seusia anda dan berniat menikahinya? Bayangkan betapa hancurnya hati seorang ibu ketika melihat putranya mencintai seseorang yang tidak pada umumnya, mungkin jika usia kalian berbeda 4 atau 5 tahun masih wajar tapi usia kalian terpaut lebih dari 20 tahun bagaimana ibunya Kean harus menerima ini?”

    Ibu Sarah terdiam dan matanya mulai berkaca-kaca tanpa kuminta dia perlahan menceritakan pertemuannya dengan Kean. Dia bercerita jika mereka bertemu saat anak bungsunya kecelakaan, dia tidak memiliki uang dan mantan suaminya tak mau ikut campur, saat itulah tiba-tiba Kean datang membantunya. Sejak saat itu Kean menjadi akrab dengan ketiga putranya, dia juga sering berkunjung ke rumah untuk sekedar ngobrol atau makan bersama awalnya hubungan kami biasa saja sampai Kean menunjukan ketertarikannya. Awalnya rasa ketertarikannya dianggap hal sepele tapi lama kelamaan ketika Kean menyatakan cinta, ketertarikan itu semakin kuat dan tak kuasa dia tolak apalagi Kean sanggup memberikan segala hal yang dibutuhkan seorang wanita, perhatian, pengertian hingga materi yang tak pernah dia dapatkan dari mantan suaminya.

    Aku hanya diam menyimak cerita ibu Sarah bahkan setelah ibu sarah pergi dengan mata berkaca-kaca miliknya aku masih diam di tempat dudukku. Pikiranku terus berputar mencari dan menyambungkan benang-benang merah tentang kehidupan Kean. Dapat kusimpulkan jika cinta ibu sarah dengan Kean adalah cinta yang saling melengkap luka lama. Ibu Sarah mendapatkan sosok pria yang dia cari di diri Kean dan Kean mendapatkan sosok wanita yang memberikan dia kasih sayang di diri ibu Sarah, mungkin itulah yang dapat aku simpulkan meskipun aku tidak yakin apalagi mengingat ekspresi ibu Sarah tadi membuatku merasa bersalah hah… kenapa juga ibu Sarah terlahir terlalu cepat dibanding Kean? kalau mereka terlahir di era yang sama mungkin kisah cinta mereka tak akan serumit ini dan aku juga tak perlu terseret di pusaran cinta mereka.

    Kepalaku benar-benar pusing sekarang setelah menangani beberapa konsultasi dan pasien di rumah sakit, tante Ria kembali datang dengan tangisannya dan sekarang anak tante Ria datang dengan kesinisannya.
    “Apa maksudmu mendatangi wanitaku?” tanyanya sinis
    “Tentu saja untuk mencari tahu tentang dirimu” ucapku tak formal
    “Mengetahui tentangku? haruskah hingga membuatnya menangis?” tanyanya sambil membentak.
    Aku tersenyum kecil mendengar ucapannya, aku tak menyangka wanita itu akan menceritakan pertemuan kami kemarin pada Kean padahal kupikir dia akan bertindak seperti para peran utama di drama yang menyembunyikan segala hal agar pasangannya bahagia.
    “Dengar kau bukan siapa-siapa bagiku jadi kau tidak berhak berkeliaran di sekeliling orang-orang yang kucintai apalagi sesumbar tentang statusmu” ucapnya masih dengan nada sinis yang terdengar jelas.
    “Apa air mata wanita itu lebih penting dari air mata ibumu?” tanyaku sebelum dia benar-benar beranjak untuk pergi.
    Dia berbalik ke arahku tercetak jelas jika dia tak suka dengan ucapanku.
    “Ibumu hampir setiap hari datang dengan tangisannya padaku, dengan luka hatinya karena dibentak oleh putra satu-satunya yang dia besarkan dengan keringatnya sendiri. Apakah itu tak ada artinya sedikitpun bagimu? Apa wanita yang melahirkan dan membesarkanmu hingga kau bisa berada disini sekarang tak lebih berarti dari wanita yang kau cintai?”
    “Berhenti bicara kau tidak tahu apapun tentangku” Bentaknya
    “yah aku tahu aku tidak tahu apapun tentangmu maka ayo kita lakukan konsultasi agar aku tahu tentangmu dan juga agar aku bisa mengerti dirimu dan perlahan membuat ibumu mengerti juga.” pintaku halus.
    “Sudah kubilang aku tidak gila jadi aku tak butuh konsultasi denganmu”
    “Aku tahu tapi setidaknya mari kita saling berbagi cerita setidaknya lakukan ini demi ibumu. Aku janji jika dalam 10 kali pertemuan aku tetap tak bisa membuka hatimu maka konsultasi ini akan berakhir dan aku akan mencoba menjelaskannya pada ibumu bagaimanapun akhirnya” tawarku.

    Kean terdiam sepertinya dia sedang berpikir untung ruginya dia menerima tawaranku dan akhirnya dia mengangguk setuju. Aku tersenyum menerima keputusannya yah ini adalah langkah awal yang baik meskipun aku juga tak yakin akan seperti apa semua ini berakhir. Akankah membawa tawa bahagia pada semua orang ataukah berakhir menjadi luka tak terobati.

    Cerpen Karangan: Nina
    Facebook: Min Hyu Na

    Artikel Terkait

    Oedipus Complex (Part 1)
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email