Teori Bahagia

Baca Juga :
    Judul Cerpen Teori Bahagia

    Tahukah kamu apa yang bisa membahagiakan seseorang?

    Untuk para pengusaha, mungkin bahagia adalah saat omzetnya sampai puluhan atau ratusan juta per bulan. Untuk bapak-ibu guru, mungkin bahagia saat anak muridnya bersikap baik atau berprestasi. Kalau penyanyi atau artis, bahagianya mungkin saat banyak yang jadi fans mereka.

    Kalau untuk ayah, mungkin bahagia adalah menikah dengan Tante Nia.

    Aku juga lupa kesambet apa waktu memberi izin ayah menikah lagi setelah mama meninggal. Apakah karena berbagai macam baju, sepatu, dan make up yang diberikan Tante Nia kepadaku setiap kali dia ketemu ayah? Mungkin iya. Tapi, ayah juga bisa membelikan itu semua untukku. Apakah karena apartemennya Tante Nia enak sekali? Apartemenku juga enak dan nyaman kok. Apakah karena Tante Nia begitu cerdas dan sopan? Ya, ini benar. Dengan pengetahuannya yang begitu luas dan bagaimana ia menasihati aku untuk jadi anak baik, aku tahu dia tak akan jadi ibu tiri yang kejam. Ia akan menjadi ibu tiri yang menyenangkan.

    Apakah itu saja?
    Tentu tidak.

    Jika Tante Nia tidak mencintai ayah, aku takkan mengizinkannya menikah dengan ayah. Kalau Tante Nia tidak sopan pada mama, Tante Nia tidak boleh menjadi mamaku yang baru. Kalau Tante Nia tidak suka padaku, sudah pasti aku bakal kabur dari rumah kalau ayah tetap menikah dengannya.

    Nyatanya, kisah cinta ayah dan Tante Nia terlihat bagai dongeng bagiku -mereka mencintai begitu tulus. Tante Nia juga mau mendaraskan rosario setiap ia sempat di makam mama. Dan, kalau Tante Nia tidak sayang padaku, ia tak akan mau membuatkan bekal sekolah untukku atau menemaniku mengerjakan tugas sampai larut waktu ayah ada keperluan ke Singapura.

    Ya, dengan berbagai macam hal tadi, aku jelas nggak disantet waktu mengizinkan ayah dan Tante Nia menikah lagi.

    “Valen?”

    Aku menoleh, mendapati Putra berdiri disana. Jantungku berdetak lebih memburu saat melihat Putra dalam setelan jas dan rambut rapi. Oke, aku tahu Putra memang ganteng dari sananya, tapi kalau sekarang Putra dikasih kuda putih, dia bisa langsung dikira pangeran!

    “Lo udah siap?” tanyanya. Aku menggeleng. “Gue belom selesai make up. Tangan gue gemeteran, Put. Eyelinernya goyang mulu!”
    Putra tertawa lepas. Astaga, makin tampan saja wakil ketua OSIS sekolahku ini. Ia berdiri di belakangku yang duduk di depan meja rias, lalu mematut bayangannya sambil membetulkan dasi. “Gue juga nervous dari tadi. Dari semalem malah.”

    Oh iya, sepertinya aku belum bilang Putra ini siapa. Kenalkan, ia adalah kakak kelasku sekaligus wakil ketua OSIS. Kami berdua sudah klop sejak aku pertama kali masuk SMA sementara dia naik kelas sebelas, jadi panitia PLS. Saking dekatnya, meski dia setahun di atasku, aku dan Putra bisa ngobrol pakai ‘lo-gue’.

    Sejujurnya, aku ada rasa sama Putra dan kakak kelas sudah menunjukku sebagai ‘gebetannya Putra’. Tapi, kami tetap berhubungan seperti biasa. Aku berusaha mati-matian supaya tidak menunjukkan perasaanku pada Putra, dan Putra sendiri juga sepertinya tidak tertarik menjadikan aku lebih dari adik kelas kesayangan. Jadi, satu semester berlalu, hubungan kami tetap sahabat. Dan sebentar lagi akan menjadi kakak-adik.

    Oh iya, sepertinya aku juga belum bilang kalau Putra ini anaknya Tante Nia.

    Aku memutuskan untuk pakai eyeliner nanti saja, lalu mengambil catokan dan mulai membentuk rambutku jadi gelombang-gelombang besar. Dulu, aku tidak pernah tahu cara menata rambut selain mengucir kuda dan mengepangnya, tapi Tante Nia mengajarkanku cara menggunakan catokan untuk meluruskan dan mengeriting rambut. Aku juga bisa make up natural dengan cepat begini karena diajari Tante Nia. Bahkan, mini dress berkerah halter yang sekarang kugunakan adalah hasil pilihanku dan Tante Nia setelah empat jam keliling butik.

    “Jasnya bagus gak sih?” Putra membenarkan jasnya. Aku mengerutkan kening. “Bagus-bagus aja. Lagian, perasaan jas modelnya gitu-gitu aja -gue nggak lihat perbedaan jas lo sama jas-jas lain di seluruh dunia.”

    Setelah aku dan Tante Nia mendapat dress untuk aku kenakan, ayah dan Putra masih sibuk mencoba berbagai jenis jas. Biasanya, yang lebih lama pilih baju itu cewek lho, tapi waktu itu aku sampai duduk lesehan sambil main ponsel di dekat manekin saking bosannya menunggu mereka.

    “Ih, beda tau Val. Ini kan yang buat nikahan. Kemaren tuh gue nyobain juga yang lebih casual, sama yang buat pesta prom gitu. Belom lagi kan warnanya beda-beda, milihnya susah lagi!”
    “Halah, ribet lo. Akhir -akhirnya lo milih model pertama yang lo coba juga, kan? Warna item juga lagi!”
    Tawaku dan Putra pecah.

    Tiba-tiba, pintu ruang tunggu kami terbuka. Kak Rahma, EO pernikahan ayah dan Tante Nia, menyembulkan kepalanya. “Put, Val, lima belas menit lagi ready ya! Ke luar sekarang juga boleh, udah rame tuh!”
    Putra mengacungkan jempolnya, “Oke kak, makasih!”
    Kak Rahma pun menutup pintu dan berlari kecil lagi di koridor, buru-buru menyiapkan semuanya.

    Aku menghela napas. Oke, sekarang, aku benar-benar deg-degan. Bukan deh, bukan deg-degan -ngapain deg-degan juga? Orang aku tinggal menunggu pemberkatan pernikahan selesai, resepsi selesai, sudah deh -beres semuanya.

    Tapi, tetap saja, rasanya aku pengen kabur dari sini dan pulang ke rumah sekarang. Atau nggak ke rumah juga nggak apa-apa, aku bisa telepon Mika atau Rin, lalu kita nongkrong di mall, minum es jeruk nipis sambil melupakan sejenak fakta kalau aku dan Putra akan jadi saudara. Alias kakak-adik. Alias perasaan cinta selain sebagai saudara berarti terlarang.

    Aku menghela napas. Lebih kencang. Mungkin aku deg-degan hanya karena khawatir ayah ingat rundown acara atau tidak. Mungkin yang lebih mendominasi adalah fakta kalau cinta pertamaku di masa SMA akan kandas begitu saja karena dia jadi kakakku.

    Ayah dan Tante Nia mungkin bahagia, tapi akankah aku bahagia?

    Perasaan yang sedari dulu aku tahan-tahan untuk tidak kurasakan muncul begitu saja, membangun sebuah rasa sesak di dada. Ayo, Valenshia, apa kata Tante Nia waktu itu? Kamu jangan egois untuk kebahagiaanmu sendiri. Terkadang, melihat orang lain bahagia itu jauh lebih membahagiakan daripada kamu yang bahagia sendiri. Kamu juga sudah berkomitmen untuk membuat ayah bahagia, kan? Apa kamu mau egois, membatalkan pernikahan ayah dan Tante Nia karena kamu suka sama Putra?

    Tapi, tapi aku nggak bermaksud egois!
    Kalau ayah bisa mencintai orang lain, apakah salah kalau aku juga jatuh cinta?
    Duh, jangan sampai make upku hancur karena air mata.

    “Udahlah, Val. Gue juga sama.”

    Putra mengelus kepalaku. Aku mengangkat wajah, menatap Putra yang berdiri di sampingku. Senyumnya terlihat tulus.

    “Dari pertama kali nyokap minta izin untuk nikah lagi sama bokap lo, gue juga kepikiran soal itu kok. Seumur hidup, gue belom pernah lho naksir sama cewek tanpa perlu ngerasa canggung.”

    Aku terdiam.

    Putra menghela napas. Di saat begini, ia merasa harus lebih kuat daripada gadis pujaannya yang sebentar lagi akan naik pangkat jadi adiknya. “Coba bayangin, Val. Gue sama lo nggak harus jadi kakak-adik. Dan kita bisa jadian.”

    Hening menjalar di antara kami.

    “Akankah hal itu lebih membahagiakan daripada bokap-nyokap kita nikah?”

    “Buat gue sih, bahagia itu nggak selamanya kalo keinginan kita terpenuhi. Gue pernah ngotot banget main futsal jam sepuluh malem sama nyokap gue. Awalnya dia nggak ngizinin, dan akhirnya gue maksa terus. Pas gue udah boleh main futsal, ya gue seneng sih, tapi awalnya doang. Pas main, gue ngerasa bersalah juga maksa gitu. Mana pulangnya gue terpaksa lewat kuburan lagi -berasa gak direstuin sama nyokap gue!”

    Mau tak mau, aku tersenyum kecil. Tapi awan kelabu masih menggantung di hatiku.

    “Hmm… gini deh!” Putra membalikkan aku menghadap dirinya. “Gimana kalau kita nyatain cinta aja?”
    “Mabok lo ya!? Mana bisa!?” seruku gemas.

    “Nggak, maksud gue tuh, kita ngakuin perasaan kita, for the last time sebelom kita nggak bisa nyatain cinta lagi. Mungkin, ini sekedar ngomong doang, tapi kalau kita nggak bisa bahagia, seenggaknya kita bisa lega, kan?”

    “… Kata lo bahagia nggak selamanya kalo keinginan kita terpenuhi -jadi, kalau kita nggak bisa jadian, belom tentu nggak bahagia, dong?”
    “Ini soal perasaan, Val. Gue cuma mau lo. ”
    Pipiku bersemu merah.
    Putra berdehem. “Oke. Bentar. Aduh, cara nembak cewek tuh gimana sih?”

    Sebelum Putra sempat buka mulut, aku menghambur duluan ke pelukannya. Kupeluk erat-erat dia sambil menangis pelan. Lima belas tahun tanpa saudara membuatku hampir tak pernah curhat ke siapapun. Menurutku curhat ke ayah bukanlah hal yang pantas karena ayah sibuk dan temanku pun tampaknya tak pernah mengerti apa yang kurasakan. Tapi sekarang aku punya saudara, sekalipun dia seseorang yang kusayang sebagai kekasih.

    Yah, setidaknya, aku bahagia.

    Cerpen Karangan: Leteesha Marthina
    Facebook: facebook.com/IamKanayanfans

    Artikel Terkait

    Teori Bahagia
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email