Judul Cerpen Cinta Lama Datang Kembali (Part 1)
Kamis siang ini pekerjaanku tidak terlalu banyak. Aku kira aku bisa sedikit bersantai. Tapi kenyataannya, baru saja aku memasangkan earphone dan bernyanyi kecil mengikuti irama lagu yang terdengar melalui earphoneku, tiba-tiba saja Bosku memerintahkanku untuk membeli beberapa ATK dan buku di toko buku yang ada di pusat perbelanjaan, yang terletak tidak jauh dari kantorku. Untuk menuju ke sana, aku segera menaiki ojek yang biasa mangkal di depan kantor.
Sesampainya di toko buku, aku segera mencari keperluan yang diperintahkan oleh bosku. Aku tidak ingin membuang waktu karena aku ingin kembali bersantai di kantor atau lebih tepatnya berpura-pura sibuk di hadapan bosku agar ia tidak memerintahku ini-itu. Aku ingin santai hari ini.
Setelah lima belas menit berkeliling toko buku, aku sudah mendapatkan semua yang ingin aku beli dan kemudian menuju ke kasir. Dengan tumpukan ATK dan beberapa buku, jelas saja membuatku kesulitan melihat ke depan sampai akhirnya aku menabrak seorang lelaki tinggi yang berada di hadapanku.
“Maaf.” Ucapku singkat sambil memungut barang bawaanku yang bertebaran di lantai.
“Tidak masalah.” Lelaki itu membalas dengan suara yang tak asing di telingaku. Mendengar suara itu, aku terdiam dan lelaki itu pun seketika ikut terdiam dan menunduk memperhatikanku yang sedang mengambil barang-barangku yang terjatuh.
“Tiana!” ucapnya lebih dahulu sebelum mulutku terbuka. Lelaki itu ternyata mengenalku atau lebih tepatnya masih mengenaliku. “Tian, kamu sedang apa?” tanyanya sambil membantuku memungut beberapa barang yang masih berserakan di lantai.
“Reno? Kamu di Jakarta?” Tanyaku seketika dengan nada heran yang seakan mengacuhkan pertanyaan Reno sebelumnya.
Lelaki tinggi tersebut yang bernama Reno hanya tersenyum sambil memegangi belanjaanku. “Iya aku di Jakarta. Aku akan ceritakan kepadamu alasan aku di Jakarta. Bagaimana kalau kita mengobrol di kedai kopi itu?” ajaknya sambil menunjuk kedai kopi yang berada tidak jauh dari kami.
“Aku harus kembali ke kantor. Menyerahkan barang-barang ini.” Ucapku sambil mengambil kembali belanjaanku yang sempat digenggam Reno. “Dan kemudian melanjutkan pekerjaanku di kantor,” Lanjutku.
“Bagaimana kalau setelah pulang kantor? Di mana kantormu? Biar setelah pulang kantor, aku langsung segera menjemputmu.” Tanya Reno sambil mengantarku menuju pintu keluar.
“Itu di sana.” Tunjukku ke sebuah gedung yang cukup tinggi, yang dapat terlihat dari depan pintu keluar pusat perbelanjaan itu.
“Oke! Jam lima aku tunggu kamu di depan gedung itu ya.”
Ternyata menunggu jam lima tidak selama yang kuduga. Setelah jam menunjukkan pukul lima, aku segera keluar kantor dan ternyata Reno sudah ada di depan kantorku dengan motor merah yang ia kendarai. Aku tersenyum kepadanya dan tanpa basa-basi segera naik ke atas motor tersebut menuju kedai kopi di pusat perbelanjaan tempat kami siang tadi bertemu.
Reno memesan secangkir Espresso sementara aku memesan segelas iced Caramel Macchiato. Saat itu Reno tiba-tiba saja tertawa kecil sambil melihatku. Aku pun segera menatapnya dengan tatapan sedikit sinis. “Kenapa tertawa?” tanyaku dengan nada yang tak kalah sinis dengan tatapanku sebelumnya.
“Kebiasaan bengongmu tidak pernah hilang.” Ucapnya sambil memukul kepalaku dengan kertas yang ada di genggamannya.
Setelah beberapa menit berbasa-basi dengan obrolan yang menurutku seperti orang yang baru kenal sehari, lama-lama kami terbiasa dan mulai membuka obrolan tentang kehidupan masing-masing.
Tidak terasa dua jam berlalu. Entah sudah berapa cangkir kopi dan cemilan yang kami habiskan. Kami, ya lebih tepatnya aku dan Reno seakan lupa pada waktu dan tenggelam dalam obrolan yang menurutku menyenagkan. Mungkin bisa aku ralat, sangat menyenagkan.
Setelah hampir dua jam lebih asyik berbincang, aku memutuskan untuk pulang karena ibu sudah berkali-kali meneleponku dan menyuruhku untuk pulang. “Aku bisa pastikan, ibumu menelepon untuk menyuruhmu segera pulang.” Ujar Reno sambil menghabiskan kopi terakhir yang ia pesan.
“Yup.” Jawabku singkat sambil menganggukan kepala. Seperti masih mengenali sifatku, tanpa aku minta, Reno segera berdiri dan bergegas untuk mengantarku pulang. Karena apabila ia mencoba menahanku dan memintaku untuk menemaninya mengobrol lebih lama, ia tahu itu pasti akan sia-sia. Aku mungkin akan merengek memintanya untuk mengantarku dan bila aku gagal, aku akan nekat pulang sendiri. Karena Reno tahu, aku tidak suka membantah perintah ibuku.
Areno Prayoga atau Reno merupakan teman SMAku yang juga merupakan mantan pacarku. Kami menjalin asmara sekitar empat tahun lebih dan putus ketika kami masih semester lima. Saat itu Reno yang memutuskanku karena Reno kesal dengan ulahku yang selalu menomor duakan dia dengan aktivitas-aktivitasku di kampus dan alasan lainnya karena ia tidak sanggup untuk menjalani cinta jarak jauh. Saat itu Reno di Jogja sementara aku tetap di Jakarta. Tapi menurutku itu alasan-alasan palsu yang menutupi kebosanannya terhadap hubungan kami.
Tanpa perlawanan, aku menerima keputusannya untuk mengakhiri hubungan kami. Aku juga merasa terganggu jika ia menghubungiku dan tiba-tiba saja merajuk karena aku lebih mementingkan kegiatan kampusku daripada harus mengabarinya setiap waktu. Menurutnya pacaran jarak jauh itu perlu saling mengabarkan setiap waktu. Tapi untukku, pacaran jarak jauh itu tidak masalah mengabarkan hanya sewaktu-waktu namun tetap menjaga kepercayaan.
Sudah hampir seminggu setelah pertemuan itu, Reno selalu mengajakku bertemu setelah pulang kantor untuk mengobrol di kedai kopi atau kadang mengajakku ke warung tenda. Dan setelah mengobrol, ia selalu mengantarku pulang sampai depan rumah.
Sesampainya di dalam, Ibu menyerangku dengan berbagai pertanyaan. “Siapa itu? pacarmu yang baru? Atau teman barumu di kantor? Hah sama saja ya. Ibu rasa teman atau pacar, kelak akan menjadi pasangan barumu.”
Aku mengangkat alisku mendengar ocehan-ocehan Ibu. “Itu Reno.” Jawabku singkat dan segera memasuki kamarku.
“Apa? Reno mantan pacarmu yang membuatmu bertahan pada kesendirianmu hingga saat ini?” ucap ibu yang mulai berhiperbola. Memang setelah putus dengan Reno, aku tidak memiliki pacar lain. Bukan karena tidak laku. Tapi aku malas membuka hati untuk yang baru. Aku masih menyukai beraktivitas dalam status sendiriku. Lagipula, status saat ini tidak terlalu penting. Aku bukan lagi anak ABG yang mementingkan adanya status untuk mengisi jejaring sosialku.
“Kenapa dia di Jakarta? Sudah berapa lama dia di sini?” lagi-lagi Ibu menghujaniku dengan pertanyaannya.
“Setelah lulus dan mendapat gelar S1 jurusan arsitektur dan sempat bekerja di Jogjakarta, ia mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan S2nya di Universitas Indonesia dan kebetulan ia mendapatkan kontrak pekerjaan yang membuat ia harus menetap di Jakarta. Sudah hampir seminggu.”
“Oh dia ingin melanjutkan S2nya di UI. Lalu, apa dia juga ingin melanjutkan hubungannya denganmu sehingga ia menemuimu?”
“Ibu! Jangan ngawur! Dia tidak menemuiku. Tapi kami tidak sengaja bertemu di pusat perbelanjaan dekat kantorku.”
“Cinta memang penuh teka-teki. Ketika keduanya sama-sama mencoba menghindar, Tuhan selalu memiliki jalan untuk mempertemukan.”
Aku segera meninggalkan ibu dengan kata-katanya yang semakin ngawur tak beraturan.
Pagi-pagi ketika aku di kantor, aku dikejutkan dengan adanya setangkai bunga mawar bewarna jingga di meja kantorku. Di bunga tersebut terdapat surat yang bertuliskan:
Dear, Tiana Fayra
I’m happy to find you, here. On Jakarta. Yeah! I’ve never thought before, that Jakarta will be a beautiful city.
-A.P
Aku tidak heran lagi melihat surat berinisial A.P. Ini pasti perbuatan Reno. Hampir dua minggu sudah ia menetap di Jakarta dan hampir dua minggu juga ia selalu mengajakku untuk menemaninya mengobrol.
“Gak ada yang marah kan kalau aku sering mengajak kamu jalan?” tanya Reno di sela-sela perbincangan kami.
“Enggak. Emang siapa yang mau marah? Ibu?” jawabku.
“Bukan, bukan Ibu. Kalau Ibu, aku sudah biasa dulu dimarahi oleh ibumu karena selalu mengajakmu jalan dari pagi hingga malam. Ya malamnya sih padahal baru jam sembilan.” Ujarnya sambil terkekeh sendiri. “Maksudku, pacarmu.”
“Aku tidak punya pacar.”
“Boleh aku jujur sama kamu?”
“Tentang apa?”
“Jujur aku sangat senang begitu aku bertemu denganmu di pusat perbelanjaan itu. Aku kira aku akan sepenuhnya menghabiskan waktuku di Jakarta dan Depok untuk kuliah, kerja dan bermanja dengan kemacetan Jakarta. Tapi ketika aku menemukanmu di Jakarta, aku seakan menemukan suntikan semangat yang membuatku perlahan mencintai Jakarta atau lebih tepatnya aku perlahan cinta untuk tinggal di sini.”
Aku hanya mengangguk dan tidak tahu harus membalas ucapan Reno namun sebuah kata tiba-tiba saja meluncur di kepalaku. “Kamu menemukanku? Aku tidak merasa kau temukan. Aku lebih setuju jika kamu mengatakan bahwa kita saling menemukan. Aku senang jika kamu perlahan mulai suka tinggal di kota ini.”
Seminggu, dua minggu, tiga minggu berlalu. Hampir sebulan Reno menetap di Jakarta. Aku dan dia semakin sering bertemu. Bahkan sudah beberapa kali Reno bertamu ke rumahku untuk bertemu dan berbincang dengan Ibu. Tidak ada yang berubah. Reno selalu menggoda ibuku dengan candaannya yang berujung Ibu akan menasihatinya dengan nasihat yang sering membuat kupingku menjadi gatal.
Namun Reno mengaku menyukai hal itu. Membuat Ibu bernasihat panjang lebar akan membuat kupingku gatal dan perlahan menyiksaku. Reno suka melihat diriku tersiksa karena mendengar nasihat Ibu yang super panjang.
“Gimana No, tinggal di Jakarta?” tanya Ibu kepada Reno.
“Jogja memang masih menjadi tempat tinggal ternyaman, Tante. Tapi Jakarta juga tidak seburuk yang aku duga. Apalagi saat aku bertemu Tian dan tante. Serasa ada keluarga jadinya.” Jawabnya yang membuatku mengernyitkan dahiku.
“Wah bagus dong kalau begitu. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan minta sama tante atau Tian ya. Atau jika kamu mau, kamu bisa menginap di sini.” Ucap Ibu.
“Ibu? Ibu bicara apa sih?” ucapku dengan nada setengah protes.
“Iya Tante. Didoakan saja supaya saya bisa cepat tinggal bersama kalian ya. Jadi satu keluarga gitu.” Jawab Reno yang menimpali celotehan ibu.
Aku yang sedikit terganggu dengan bercandaan Ibu dan Reno, kemudian mengangkat pantatku dan bergegas ke dapur untuk mengambil segelas air dingin. Aku tak tahu bercandaan macam apa yang mereka lakukan.
To be continued…
Cerpen Karangan: Ziah Nur Aisyah
Blog: ziah22.blogspot.com
Kamis siang ini pekerjaanku tidak terlalu banyak. Aku kira aku bisa sedikit bersantai. Tapi kenyataannya, baru saja aku memasangkan earphone dan bernyanyi kecil mengikuti irama lagu yang terdengar melalui earphoneku, tiba-tiba saja Bosku memerintahkanku untuk membeli beberapa ATK dan buku di toko buku yang ada di pusat perbelanjaan, yang terletak tidak jauh dari kantorku. Untuk menuju ke sana, aku segera menaiki ojek yang biasa mangkal di depan kantor.
Sesampainya di toko buku, aku segera mencari keperluan yang diperintahkan oleh bosku. Aku tidak ingin membuang waktu karena aku ingin kembali bersantai di kantor atau lebih tepatnya berpura-pura sibuk di hadapan bosku agar ia tidak memerintahku ini-itu. Aku ingin santai hari ini.
Setelah lima belas menit berkeliling toko buku, aku sudah mendapatkan semua yang ingin aku beli dan kemudian menuju ke kasir. Dengan tumpukan ATK dan beberapa buku, jelas saja membuatku kesulitan melihat ke depan sampai akhirnya aku menabrak seorang lelaki tinggi yang berada di hadapanku.
“Maaf.” Ucapku singkat sambil memungut barang bawaanku yang bertebaran di lantai.
“Tidak masalah.” Lelaki itu membalas dengan suara yang tak asing di telingaku. Mendengar suara itu, aku terdiam dan lelaki itu pun seketika ikut terdiam dan menunduk memperhatikanku yang sedang mengambil barang-barangku yang terjatuh.
“Tiana!” ucapnya lebih dahulu sebelum mulutku terbuka. Lelaki itu ternyata mengenalku atau lebih tepatnya masih mengenaliku. “Tian, kamu sedang apa?” tanyanya sambil membantuku memungut beberapa barang yang masih berserakan di lantai.
“Reno? Kamu di Jakarta?” Tanyaku seketika dengan nada heran yang seakan mengacuhkan pertanyaan Reno sebelumnya.
Lelaki tinggi tersebut yang bernama Reno hanya tersenyum sambil memegangi belanjaanku. “Iya aku di Jakarta. Aku akan ceritakan kepadamu alasan aku di Jakarta. Bagaimana kalau kita mengobrol di kedai kopi itu?” ajaknya sambil menunjuk kedai kopi yang berada tidak jauh dari kami.
“Aku harus kembali ke kantor. Menyerahkan barang-barang ini.” Ucapku sambil mengambil kembali belanjaanku yang sempat digenggam Reno. “Dan kemudian melanjutkan pekerjaanku di kantor,” Lanjutku.
“Bagaimana kalau setelah pulang kantor? Di mana kantormu? Biar setelah pulang kantor, aku langsung segera menjemputmu.” Tanya Reno sambil mengantarku menuju pintu keluar.
“Itu di sana.” Tunjukku ke sebuah gedung yang cukup tinggi, yang dapat terlihat dari depan pintu keluar pusat perbelanjaan itu.
“Oke! Jam lima aku tunggu kamu di depan gedung itu ya.”
Ternyata menunggu jam lima tidak selama yang kuduga. Setelah jam menunjukkan pukul lima, aku segera keluar kantor dan ternyata Reno sudah ada di depan kantorku dengan motor merah yang ia kendarai. Aku tersenyum kepadanya dan tanpa basa-basi segera naik ke atas motor tersebut menuju kedai kopi di pusat perbelanjaan tempat kami siang tadi bertemu.
Reno memesan secangkir Espresso sementara aku memesan segelas iced Caramel Macchiato. Saat itu Reno tiba-tiba saja tertawa kecil sambil melihatku. Aku pun segera menatapnya dengan tatapan sedikit sinis. “Kenapa tertawa?” tanyaku dengan nada yang tak kalah sinis dengan tatapanku sebelumnya.
“Kebiasaan bengongmu tidak pernah hilang.” Ucapnya sambil memukul kepalaku dengan kertas yang ada di genggamannya.
Setelah beberapa menit berbasa-basi dengan obrolan yang menurutku seperti orang yang baru kenal sehari, lama-lama kami terbiasa dan mulai membuka obrolan tentang kehidupan masing-masing.
Tidak terasa dua jam berlalu. Entah sudah berapa cangkir kopi dan cemilan yang kami habiskan. Kami, ya lebih tepatnya aku dan Reno seakan lupa pada waktu dan tenggelam dalam obrolan yang menurutku menyenagkan. Mungkin bisa aku ralat, sangat menyenagkan.
Setelah hampir dua jam lebih asyik berbincang, aku memutuskan untuk pulang karena ibu sudah berkali-kali meneleponku dan menyuruhku untuk pulang. “Aku bisa pastikan, ibumu menelepon untuk menyuruhmu segera pulang.” Ujar Reno sambil menghabiskan kopi terakhir yang ia pesan.
“Yup.” Jawabku singkat sambil menganggukan kepala. Seperti masih mengenali sifatku, tanpa aku minta, Reno segera berdiri dan bergegas untuk mengantarku pulang. Karena apabila ia mencoba menahanku dan memintaku untuk menemaninya mengobrol lebih lama, ia tahu itu pasti akan sia-sia. Aku mungkin akan merengek memintanya untuk mengantarku dan bila aku gagal, aku akan nekat pulang sendiri. Karena Reno tahu, aku tidak suka membantah perintah ibuku.
Areno Prayoga atau Reno merupakan teman SMAku yang juga merupakan mantan pacarku. Kami menjalin asmara sekitar empat tahun lebih dan putus ketika kami masih semester lima. Saat itu Reno yang memutuskanku karena Reno kesal dengan ulahku yang selalu menomor duakan dia dengan aktivitas-aktivitasku di kampus dan alasan lainnya karena ia tidak sanggup untuk menjalani cinta jarak jauh. Saat itu Reno di Jogja sementara aku tetap di Jakarta. Tapi menurutku itu alasan-alasan palsu yang menutupi kebosanannya terhadap hubungan kami.
Tanpa perlawanan, aku menerima keputusannya untuk mengakhiri hubungan kami. Aku juga merasa terganggu jika ia menghubungiku dan tiba-tiba saja merajuk karena aku lebih mementingkan kegiatan kampusku daripada harus mengabarinya setiap waktu. Menurutnya pacaran jarak jauh itu perlu saling mengabarkan setiap waktu. Tapi untukku, pacaran jarak jauh itu tidak masalah mengabarkan hanya sewaktu-waktu namun tetap menjaga kepercayaan.
Sudah hampir seminggu setelah pertemuan itu, Reno selalu mengajakku bertemu setelah pulang kantor untuk mengobrol di kedai kopi atau kadang mengajakku ke warung tenda. Dan setelah mengobrol, ia selalu mengantarku pulang sampai depan rumah.
Sesampainya di dalam, Ibu menyerangku dengan berbagai pertanyaan. “Siapa itu? pacarmu yang baru? Atau teman barumu di kantor? Hah sama saja ya. Ibu rasa teman atau pacar, kelak akan menjadi pasangan barumu.”
Aku mengangkat alisku mendengar ocehan-ocehan Ibu. “Itu Reno.” Jawabku singkat dan segera memasuki kamarku.
“Apa? Reno mantan pacarmu yang membuatmu bertahan pada kesendirianmu hingga saat ini?” ucap ibu yang mulai berhiperbola. Memang setelah putus dengan Reno, aku tidak memiliki pacar lain. Bukan karena tidak laku. Tapi aku malas membuka hati untuk yang baru. Aku masih menyukai beraktivitas dalam status sendiriku. Lagipula, status saat ini tidak terlalu penting. Aku bukan lagi anak ABG yang mementingkan adanya status untuk mengisi jejaring sosialku.
“Kenapa dia di Jakarta? Sudah berapa lama dia di sini?” lagi-lagi Ibu menghujaniku dengan pertanyaannya.
“Setelah lulus dan mendapat gelar S1 jurusan arsitektur dan sempat bekerja di Jogjakarta, ia mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan S2nya di Universitas Indonesia dan kebetulan ia mendapatkan kontrak pekerjaan yang membuat ia harus menetap di Jakarta. Sudah hampir seminggu.”
“Oh dia ingin melanjutkan S2nya di UI. Lalu, apa dia juga ingin melanjutkan hubungannya denganmu sehingga ia menemuimu?”
“Ibu! Jangan ngawur! Dia tidak menemuiku. Tapi kami tidak sengaja bertemu di pusat perbelanjaan dekat kantorku.”
“Cinta memang penuh teka-teki. Ketika keduanya sama-sama mencoba menghindar, Tuhan selalu memiliki jalan untuk mempertemukan.”
Aku segera meninggalkan ibu dengan kata-katanya yang semakin ngawur tak beraturan.
Pagi-pagi ketika aku di kantor, aku dikejutkan dengan adanya setangkai bunga mawar bewarna jingga di meja kantorku. Di bunga tersebut terdapat surat yang bertuliskan:
Dear, Tiana Fayra
I’m happy to find you, here. On Jakarta. Yeah! I’ve never thought before, that Jakarta will be a beautiful city.
-A.P
Aku tidak heran lagi melihat surat berinisial A.P. Ini pasti perbuatan Reno. Hampir dua minggu sudah ia menetap di Jakarta dan hampir dua minggu juga ia selalu mengajakku untuk menemaninya mengobrol.
“Gak ada yang marah kan kalau aku sering mengajak kamu jalan?” tanya Reno di sela-sela perbincangan kami.
“Enggak. Emang siapa yang mau marah? Ibu?” jawabku.
“Bukan, bukan Ibu. Kalau Ibu, aku sudah biasa dulu dimarahi oleh ibumu karena selalu mengajakmu jalan dari pagi hingga malam. Ya malamnya sih padahal baru jam sembilan.” Ujarnya sambil terkekeh sendiri. “Maksudku, pacarmu.”
“Aku tidak punya pacar.”
“Boleh aku jujur sama kamu?”
“Tentang apa?”
“Jujur aku sangat senang begitu aku bertemu denganmu di pusat perbelanjaan itu. Aku kira aku akan sepenuhnya menghabiskan waktuku di Jakarta dan Depok untuk kuliah, kerja dan bermanja dengan kemacetan Jakarta. Tapi ketika aku menemukanmu di Jakarta, aku seakan menemukan suntikan semangat yang membuatku perlahan mencintai Jakarta atau lebih tepatnya aku perlahan cinta untuk tinggal di sini.”
Aku hanya mengangguk dan tidak tahu harus membalas ucapan Reno namun sebuah kata tiba-tiba saja meluncur di kepalaku. “Kamu menemukanku? Aku tidak merasa kau temukan. Aku lebih setuju jika kamu mengatakan bahwa kita saling menemukan. Aku senang jika kamu perlahan mulai suka tinggal di kota ini.”
Seminggu, dua minggu, tiga minggu berlalu. Hampir sebulan Reno menetap di Jakarta. Aku dan dia semakin sering bertemu. Bahkan sudah beberapa kali Reno bertamu ke rumahku untuk bertemu dan berbincang dengan Ibu. Tidak ada yang berubah. Reno selalu menggoda ibuku dengan candaannya yang berujung Ibu akan menasihatinya dengan nasihat yang sering membuat kupingku menjadi gatal.
Namun Reno mengaku menyukai hal itu. Membuat Ibu bernasihat panjang lebar akan membuat kupingku gatal dan perlahan menyiksaku. Reno suka melihat diriku tersiksa karena mendengar nasihat Ibu yang super panjang.
“Gimana No, tinggal di Jakarta?” tanya Ibu kepada Reno.
“Jogja memang masih menjadi tempat tinggal ternyaman, Tante. Tapi Jakarta juga tidak seburuk yang aku duga. Apalagi saat aku bertemu Tian dan tante. Serasa ada keluarga jadinya.” Jawabnya yang membuatku mengernyitkan dahiku.
“Wah bagus dong kalau begitu. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan minta sama tante atau Tian ya. Atau jika kamu mau, kamu bisa menginap di sini.” Ucap Ibu.
“Ibu? Ibu bicara apa sih?” ucapku dengan nada setengah protes.
“Iya Tante. Didoakan saja supaya saya bisa cepat tinggal bersama kalian ya. Jadi satu keluarga gitu.” Jawab Reno yang menimpali celotehan ibu.
Aku yang sedikit terganggu dengan bercandaan Ibu dan Reno, kemudian mengangkat pantatku dan bergegas ke dapur untuk mengambil segelas air dingin. Aku tak tahu bercandaan macam apa yang mereka lakukan.
To be continued…
Cerpen Karangan: Ziah Nur Aisyah
Blog: ziah22.blogspot.com
Cinta Lama Datang Kembali (Part 1)
4/
5
Oleh
Unknown
