Empat Belas Hari

Baca Juga :
    Judul Cerpen Empat Belas Hari

    “Rin, kenalkan kakak sepupuku!” seru Mita mengenalkan cowok yang muncul tiba-tiba, saat kami sedang belajar bersama.
    “Rina,” ucapku menyodorkan tangan.
    “Sandy,” sahutnya menjabat tanganku.
    “Ohh… jadi ini yang namanya Rina?” celetuknya membuatku bingung dan penasaran, melirikkan mata ke arah Mita. Sementara ia hanya nyengir melihatku. “Tenang saja, nggak usah bingung begitu. Mita sudah banyak cerita tentangmu. Makanya aku jadi penasaran.”
    “Hah? Banyak cerita? Wah… dasar nih anak satu, pasti cerita yang bukan-bukan deh,” pikirku cemas.
    “Dan akhirnya baru sekarang kita bisa ketemu,” cowok itu melebarkan senyum ke arahku. Membuatku salah tingkah. “Ternyata memang benar,” celetuknya lagi.
    “Benar? Soal apa?” selidikku penasaran.
    “Iya, kamu memang benar-benar cantik. Sesuai dengan yang Mita katakan,” pujinya membuatku tersipu malu.
    Padahal baru sehari kenal, tapi Sandy sudah bersikap layaknya orang yang kenal lama. Tanpa henti-hentinya ia menceritakan banyak hal. Mulai dari hobbinya bermain basket, berenang, sampai celotehannya yang menjadikanku tertawa terbahak-bahak. Aku sampai lupa, kalau tengah menyelesaikan tugas dari guru. Tapi Mita tak mempermasalahkan pekerjaan kami.

    Entah mengapa sehari itu, aku jadi langsung akrab dengan Sandy. Lelaki yang baru saja aku jumpai. Ingin rasanya aku terus bisa mengobrol dengannya. Tapi waktu terasa cepat berlalu. “Rin, ini sudah malam. Yuk aku antar kamu pulang!” celetuk Mita.
    “Ahh… iya, nggak kerasa kalau ternyata udah gelap di luar. Hehehe…” sahutku nyengir. Aku pun bergegas merapikan buku-bukuku dan memasukkannya ke dalam tas. Entah kemana perginya Sandy, tiba-tiba saja dia menghilang. “Hemtt… kemana lagi itu cowok. Padahal belum sempat pamitan, malah udah pergi duluan…” gumamku sedikit kecewa.
    “Yuk!” ajak Mita yang sudah berdiri di depan pintu, lengkap dengan jaket di tangannya. Aku segera beranjak dan menyusulnya.

    Saat kami berjalan ke luar pintu, tiba-tiba saja. “Bremm… brem… brem…” seorang cowok mengenakan jaket hitam lengkap dengan helm di kepalanya, menghentikan sepeda motor besarnya tepat di depan rumah Mita.
    “Siapa itu?” pikirku bingung. Ku lihat Mita hanya tersenyum tipis melihat pemuda itu. “Mita, temanmu ya?” tanyaku kemudian.
    “Teman?” sentaknya mengangkat alisnya. “Lihat saja!” serunya melirikkan mata ke arah cowok itu.
    Selang beberapa menit cowok barusan, membuka penutup helmnya. “Hah… dia?” gumamku lagi kaget, melihat wajah yang kukenal.
    “Rin, ayo naik! Aku akan nganterin kamu pulang!” serunya kemudian menatap ke arahku. Jantungku berdebar tidak karuan. Hatiku terus bergejolak melihat cowok yang bersikap seenaknya sendiri. Tadi menghilang begitu saja, tanpa sempat pamitan. Sekarang muncul lagi, tanpa terduga. Macam jelangkung saja, datang nggak diundang, pulang nggak diantar. Tapi mendadak ada.
    “Nggak perlu, Mita yang akan nganterin aku kok,” balasku menolak ajakannya. Meskipun sebenarnya aku ingin sekali diantar olehnya.
    “Tuh kan, dengar sendiri?!” celoteh Mita meledek kakak sepupunya.
    “Kamu apaan sih Mit, udahlah! Biar aku aja yang nganterin dia!” kekeh Sandy.
    “Yee… ngarep banget dia mau diboncengin kamu!” ledek Mita menjulurkan lidahnya. Aku hanya tersenyum geli, melihat tingkah mereka berdua.
    Tanpa pikir panjang, Sandy lekas turun dari motornya, kemudian menarik tanganku. “Deg… deg… deg…” perasaanku makin bingung, panik, tidak karuan. “Pakai!” serunya menyodorkan helm ke arahku. Sontak aku melirik ke arah Mita, yang masih berdiri di depan teras rumah. Meminta kode darinya, apa yang harus kulakukan. Namun Mita cuma diam dan menggerdikkan bahunya.
    “Gimana ini?” celetukku komat-kamit, bertanya ke Mita. Sementara Sandy sudah nangkring di atas motornya, dan menyalakan kemudi.
    “Udah sana!” balas Mita melambaikan tangan, sembari berbisik.
    “Ayo cepat naik!” suruh Sandy. Mau tidak mau, aku harus segera mengikuti perintahnya.
    Sepanjang perjalanan kami berdua saling diam. Tak ada obrolan yang keluar, kecuali ketika ia menanyakan arah rumahku dan mengucapkan selamat malam. Kemudian menancapkan gas motornya lagi, meninggalkan rumahku.
    “Hemm… dasar cowok aneh!” gumamku menggeleng, tidak mengerti akan sikapnya.

    Pagi ini dengan muka sumringah, Mita mendatangiku. “Hey, gimana semalam?” tanyanya.
    “Maksudmu?”
    “Kakak ku bilang apa aja ke kamu?”
    “Jangankan bilang sesuatu, mau ngomong aja nggak!” ketusku. “Dia cuma diam saja sepanjang perjalanan. Ya udah, aku diemin aja,” lanjutku sedikit kesal.
    “Hahaha… aku kirain, dia coba godain kamu!”
    “Godain?”
    “Iya, dia itu orangnya suka ngegodain cewek. Hati-hati aja kamu, kalau nanti bakalan terperangkap sama rayuannya!”
    “Maksud kamu?” selidikku penasaran.
    “Gimana ya, dia itu kakak sepupuku. Mana mungkin aku bicarakan kejelekan dia. Tapi kamu teman baikku,” celotehnya sembari berpikir. Sementara aku sudah penasaran tingkat dewa, tidak sabar ingin mendengar penjelasannya.
    “Kamu jangan bikin aku makin penasaran deh!”
    “Nggak ahh… nanti kamu juga tau sendiri,” sahutnya melengos, kemudian melangkah pergi.
    “Dasar tuh anak! Cerita kok setengah-setengah, bikin geregetan aja!” kesalku.

    Tidak tau dari kapan datangnya, namun Sandy sudah nangkring di atas sepeda motornya di depan gerbang sekolah. Kaget bukan kepalang, melihat sosok itu lagi muncul di hadapanku. “Apa mungkin dia jemput Mita?” pikirku menggumam.
    “Rina!” serunya dari kejauhan melambaikan tangan kearahku.
    “Apa? Dia manggil aku?” gumamku lagi. Dia terus saja melambaikan tangan, memanggilku. Aku pun berjalan menghampirinya.
    “Sandy, ngapain disini? Mau jemput Mita ya?”
    “Mita? Nggak lah!” sahutnya nyengir.
    “Terus?”
    “Ya jemput kamu lah!”
    “Aku?!”
    “Iya kamu! Siapa lagi?” perasaanku makin tidak karuan. Kemarin malam, dia tidak berucap apapun. Bahkan bilang mau jemput juga nggak. Kok sekarang mendadak muncul, mengatakan mau jemput. “Ayo naik!” suruhnya kemudian.
    Semenjak saat itu, hari-hariku terasa berubah. Sandy mulai sering menjemputku usai pulang sekolah. Mengajakku nongkrong ke berbagai tempat. Lalu mengenalkan aku kepada teman-temannya, bahkan ia juga kerap mengajakku untuk menyaksikan pertandingannya.

    Meski cuma seminggu jalan bareng dengannya, tapi aku merasa seolah sudah lama mengenalnya. Ada banyak hal yang membuat obrolan kami cocok dan makin seru setiap harinya. Membuatku ingin selalu dekat dengannya. Dan keinginanku untuk terus berada di sampingnya terwujud. Mendadak Sandy mengungkapkan cintanya padaku.
    “Rin, aku cinta sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacarku?” tukasnya memandangku tajam.
    “Hemm… iya… aku mau…” sahutku mengangguk pelan. Kulihat ia tersenyum, langsung memelukku erat.
    Begitulah singkat cerita kami jadi pacar. Sama seperti waktu ia mendekatiku, Sandy tetap perhatian padaku. Rutin mengantar dan menjemputku pulang sekolah. Mengkhawatirkan setiap detail keadaanku. Seperti menanyakan apakah aku sudah makan atau belum, apakah hariku di sekolah menyenangkan atau tidak. Serta mengenai tugas-tugasku. Karena itulah aku jadi makin menyukainya.

    Seminggu kami jadian, semua terasa baik-baik saja. Namun dua hari belakangan, aku merasa ada yang aneh. Sandy tidak lagi memberiku kabar seperti biasa. Ia juga tidak menjemputku pulang sekolah. Aku mencoba memahaminya. Akan tetapi keadaan ini membuatku cemas, lantaran tidak ada kabar sama sekali darinya. Bahkan smsku tidak dibalas, telepon juga tidak diangkat.

    Empat hari berlalu begitu cepat. Sandy tetap tidak memberiku kabar. Jelas aku jadi khawatir padanya. Sebab tidak biasanya ia seperti ini. “Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi padanya,” pikirku sambil guling-guling di atas kasur. Tak ada yang bisa ku lakukan, selain kebingungan dan menunggu kabar darinya.
    Aku kembali mengecek handphone. Terlihat di layar ada banyak sms.
    “San, kamu dimana?” terkirim 5 Agustus.
    “San, kenapa tidak memberiku kabar? Apa kamu baik-baik saja?” terkirim 6 Agustus.
    “Sandy, tidak biasanya kamu seperti ini? kamu dimana? Bagaimana keadaanmu?” terkirim 7 Agustus.
    “San, ini sudah empat hari. Tapi kenapa kamu masih tidak memberiku kabar? Aku sangat khawatir padamu…” terkirim 8 Agustus, jam 15.00.
    “Sandy, aku sangat khawatir padamu… kenapa kau tidak membalas sms ku?” terkirim 8 Agustus, jam 19.00.
    Pikiranku pun campur aduk, antara bingung, panik, cemas, dan ketakutan. Aku benar-benar takut kalau terjadi sesuatu padanya.

    Enam hari pun berlalu, keadaan tetap sama saja. Sandy masih tidak memberiku kabar sama sekali. Semua smsku tak ada satupun yang dibalas olehnya. Jalan satu-satunya aku harus menanyakan langsung ke Mita. Sebab dia sepupunya, pikirku ia tau bagaimana keadaan Sandy, dan alasan kenapa tidak pernah memberiku kabar.
    “Mit, kira-kira kamu tau nggak? Kabar kakakmu gimana?”
    “Kakak?” Mita balik bertanya.
    “Iya si Sandy.”
    “Emang kenapa dengan dia?”
    “Loh, kok malah kamu nanya ke aku sih?! Karena aku nggak tau, makanya aku nanya ke kamu. Siapa tau, kamu lebih ngerti. Sebab sudah beberapa hari ini dia tidak memberiku kabar sama sekali. Aku jadi cemas,” jelasku resah.
    “Bentar, kenapa kamu mencemaskan dia? kalian tidak ada hubungan apapun bukan?” selidik Mita. Aku hanya diam, bingung harus jawab apa. Sebab selama ini aku menyembunyikan hubunganku dengan Sandy darinya. “Rina, kenapa kamu diam?! Jawab pertanyaanku?!” bentaknya meremas pundakku. Terlihat raut mukanya berubah kesal.
    Aku tidak bisa lagi menyembunyikan semua ini darinya. Sudah saatnya untuk jujur, kalau aku berpacaran dengan kakak sepupunya. “Maaf…” ucapku lirih.
    “Maaf untuk apa?!” sentaknya.
    “Maaf… aku telah menyembunyikan sesuatu darimu…”
    “Apa yang sudah kamu sembunyikan?”
    “Sebenarnya aku berpacaran dengan Sandy selama ini…”
    “Sejak kapan?”
    “Ya tepatnya hampir dua minggu.”
    “Kamu gimana sih Rin?! Kenapa nggak pernah cerita padaku?” geramnya melepaskan tangannya dari pundakku dan memalingkan mukanya.
    “Maafkan aku Mit…”
    “Percuma kamu meminta maaf! Semua sudah terlanjur!”
    “Terus sudah sejauh apa hubungan kalian?”
    “Ya seminggu kemarin sih, baik-baik saja. Tapi beberapa hari belakangan aku jadi khawatir. Sebab sudah enam hari ini dia menghilang tanpa memberiku kabar sama sekali. Bahkan semua sms ku tidak dibalas. Di telepon juga tidak diangkat,” jelasku cemas.
    “Benar kan dugaanku?” celetuknya.
    “Apa?” sahutku bingung.
    “Bukankah dulu aku sudah bilang sama kamu, untuk hati-hati sama dia?! Kamu pasti sudah terperangkap sama rayuannya. Makanya kalian bisa jadian.”
    “Terperangkap gimana sih maksud kamu?”
    “Buktinya kamu bisa pacaran sama dia?!”
    “Loh, itu kan karena dia ngungkapin perasaannya. Dan aku pikir, aku juga sama dia, ya udah kita jadian.”
    “Nah… itu dia yang aku maksud!” ucapnya sambil menunjuk mukaku. Membuatku makin bingung. “Begini saja, kalau kamu mau dengar saranku. Putuskan dia!” suruhnya.
    “Loh, kok kamu malah nyuruh aku putus sama dia sih? Kan dia kakak sepupu kamu?”
    “Iya memang benar, dia kakak sepupuku. Tapi kamu sahabatku. Aku nggak mau, kalau nantinya kamu jadi semakin sakit hati.”
    “Maksud kamu?” selidikku penasaran.
    “Baiklah, mungkin memang saatnya kamu harus tau. Sandy itu sudah terbiasa gonta-ganti cewek. Dia tidak pernah bisa menjalani hubungan dengan serius. Paling lama pacaran cuma sebulan. Itu pun karena dia kasihan,” Mita menghela napas sejenak. “Karena itulah, aku mau kamu putus sama dia. Aku nggak mau lihat kamu sedih… Kalau kamu terus pacaran sama dia, hasilnya juga akan sama! Kamu diputusin dan ujungnya sakit hati. Jadi sebelum cintamu semakin besar, akhiri hubungan kalian sekarang,” lanjutnya penuh kecemasan.
    “Tapi Mit…”
    “Tidak ada tapi-tapian! Ini demi kebaikanmu!” potongnya sebelum aku melanjutkan ucapanku.

    Aku terus dibayang-bayangi oleh ucapan Mita. Antara harus melanjutkan hubungan ini, atau memilih mengakhirinya. Jika aku melanjutkan, pasti Mita akan semakin marah padaku. Namun aku tidak akan kehilangan Sandy. Sementara kalau aku memutuskan hubungan kami, maka risikonya adalah jauh dari Sandy. Hal yang paling tidak kuinginkan. Ini adalah keputusan yang sangat sulit bagiku.

    “Sandy kamu dimana sih? Kenapa tidak menghubungiku sama sekali?” terkirim 10 Agustus, jam 22.00.
    Tak lama kemudian, handphone berbunyi. Terlihat satu pesan masuk di dalam layar. “Maafkan aku Rin, kau pasti sangat cemas. Ada sedikit masalah yang harus kuselesaikan. Jadi aku tidak bisa menghubungimu. Tapi sekarang sudah selesai. Besok aku akan menemuimu. Miss U…” ternyata itu sms dari Sandy. Lelaki yang sudah kutunggu-tunggu. Akhirnya dia memberiku kabar juga.
    “Aku juga merindukan…” belum sempat melanjutkan ketikan, aku buru-buru menghapusnya. Saat mendengar ucapan Mita yang memintaku putus dengannya kembali terdengar. “Apa yang harus kulakukan?!” kesalku membanting handphone di atas kasur.

    Sandy membuktikan ucapannya, siang ini ia datang menjemputku. Tapi perasaanku sudah tidak sama lagi, seperti saat kami awal pacaran. Hatiku berada diantara keputusan yang sulit untuk diambil, antara harus mempertahankan dia atau memutuskan hubunganku dengannya. Aku kembali memutar otakku. “Mita adalah sahabatku, dia tidak akan pernah berbohong padaku. Sementara Sandy, aku begitu mencintainya. Namun bagaimana kalau ucapan Mita benar, dan suatu saat dia memutuskan hubungan kami. Tentu aku akan jadi sakit hati.”
    “Padahal baru seminggu tidak ketemu, tapi aku sangat merindukanmu Rin,” celetuk Sandy, begitu aku tiba di hadapannya.
    “Ayo naik, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”
    “Suatu tempat? Apa ini artinya?” pikirku terus berkecamuk.
    “Tidak San, aku tidak mau!” tolakku.
    “Loh, kenapa?”
    “San, sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini. Aku tidak bisa lagi pacaran denganmu,” dengan berat hati aku harus mengucapkannya. Aku pun segera berlari, lantaran tak kuasa menahan perasaanku.
    “Tunggu!” teriaknya. Namun aku tak menghiraukannya, dan terus berlari menjauh darinya.

    “Brem… brem… brem…” dia mengejarku dengan sepeda motornya. “Rin, aku mohon berhentilah sebentar! Kita harus bicara!” teriaknya. Aku semakin mempercepat langkah kakiku. Tak kuasa menahan, kalau mendadak air mataku mulai keluar.
    “Aku bilang berhenti!” tiba-tiba saja, seseorang meraih tanganku. Membuat langkahku terhenti seketika. Mata kami saling bertemu satu sama lain. Mata yang selalu membuatku tersipu malu. Tatapannya begitu tajam, sementara tangannya masih menggenggam erat lenganku.
    “Deg… deg… deg…” jantungku berdetak lebih kencang. Aku pun lekas memalingkan mukaku. Tak kuasa menatap mata itu terlalu lama.
    “Kenapa kamu berlari?!” bentaknya. Aku tetap diam tak menyahut ucapannya. “Rin, aku tidak ingin hubungan kita berakhir. Aku ingin terus menjadi pacarmu.”
    “Bohong!” sentakku.
    “Kenapa kamu bilang begitu? Bukankah hubungan kita baik-baik saja?”
    “Iya memang. Tapi kemana kamu selama seminggu belakangan? Ada tujuh hari, waktu yang bisa kamu gunakan untuk memberiku kabar. Tapi apa?! Seharipun kamu tidak mencoba membalasnya. Bahkan teleponku juga tidak diangkat!”
    “Maafkan aku Rin. Bukankah semalam aku udah bilang, ada sesuatu yang harus aku selesaikan?”
    “Apa? Urusan dengan cewek yang lagi coba kamu dekati?”
    “Rin, kok kamu bisa nuduh aku begitu sih?”
    “Sudahlah! Jangan berbohong lagi, aku sudah dengar semuanya dari Mita. Dia teman baikku, jadi dia tidak akan pernah berbohong padaku.”
    “Apa yang dia katakan padamu?”
    “Kamu sering gonta-ganti cewek kan? Pasti aku termasuk salah satu cewek, yang habis ini bakalan kamu putusin. Jadi sama aja kan? kalau kita akhiri sekarang saja, dari pada nanti-nanti?!” ketusku menepis tangannya dan beranjak melewatinya.
    “Rina! Tunggu! Dengar dulu penjelasanku!” teriaknya lagi, menghadang langkahku. “Oke aku akan jujur padamu. Memang benar selama ini aku sering ganti pacar. Aku tidak pernah bisa menjalin hubungan lama, dengan seorang cewek,” jelasnya membuatku semakin yakin dengan keputusanku, meski awalnya sempat ragu.
    “Nah, benar kan?” celetukku.
    “Tunggu! Jangan berasumsi dulu! Dengar penjelasanku sampai selesai,” sentaknya kembali meraih tanganku. “Tapi kamu juga harus tau. Setelah bertemu denganmu, aku merasakan ada yang lain darimu. Kau tidak seperti cewek-cewek yang selama ini ku kenal ataupun aku pacari. Dan setiap kali melihatmu, aku selalu ingin terus bersamamu.
    “Deg… deg… deg…” perasaanku pun jadi tidak karuan mendengar pengakuannya. “Benarkah ini? atau dia sedang berbohong dan mencoba merayuku?” gumamku.
    “Aku minta maaf, karena beberapa hari tidak mengabarimu. Memang benar, karena aku harus menyelesaikan urusanku dengan cewek lain. Tapi bukan untuk jadi pacar mereka. Melainkan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Semua ini aku lakukan untuk kamu Rin. Aku hanya ingin bersamamu, bukan dengan yang lain,” tukasnya. Nampak sorot matanya penuh keseriusan. Akan tetapi aku tidak bisa merubah keputusanku.
    “Maaf San, aku tidak ingin sakit lebih dari ini. Jadi kita akhiri sekarang saja. Makasih untuk empat belas hari yang kau berikan untukku. Dan telah mengizinkanku untuk memiliki pacar sepertimu,” balasku kemudian melangkah pergi. Tanpa kusadari air mataku perlahan menetes membasahi pipi. Aku tak mampu menatap ke belakang maupun melihat Sandy lagi.

    Cerpen Karangan: Putri Andriyas
    Blog / Facebook: www.putriandriyas.wordpress.com / Putri Andriyas

    Artikel Terkait

    Empat Belas Hari
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email