Inikah Cinta

Baca Juga :
    Judul Cerpen Inikah Cinta

    Namaku Gristina Aprilia Galuh Panuntun. Umurku kini 15 tahun, lebih tepatnya seragam putih abu-abu ada padaku sekarang. Ya, sudah menuju sikap labil memang. Tapi Cinta? Ah, Aku sangat tidak bersemangat membahas tentang cinta. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka sehingga kawan-kawanku tak pernah bosan membahas tentang cinta. “Cinta Itu datang secara tiba-tiba, begitulah ungkap kawan-kawanku. Sedangkan kata guru sejarahku “Cinta itu sulit dilupakan”. Sungguh aneh dan tak ada henti-hentinya memang jika membahas hal tersebut.

    “Permisi… Permisi dong ah!!”, Ucapku geram melewati kerumunan kakak kelas yang akan berfoto bersama satu kelas.
    BRUAK!!
    “Maaf, Dek! Nggak ada yang sakit kan?”, ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba saja menabrakku.
    “Nggak. Nggak ada yang sakit kok!”,
    “Kamu bisa fotoin kita disini? tolong ya?” pintanya mengulurkan kamera DSLR nya padaku dan meninggalkanku.

    Jujur, aku tak tahu cara menggunakan kamera itu. Aku melongo memegang kamera itu di depan kerumunan kakak kelas. Dalam hatiku bergumam, “Haduh! Mati aku! ini gimana?.. Ilia!!! Pasti nanti kelihatan deh, kalau aku nggak bisa. Haduhh!!”, aku panik dan takut, tapi aku harus berani bertanya jika tak ingin malu.
    “Emm… Kak, Maaf… ini makainya gimana?”
    “Woyu Ilia!! Nih kamera lo gimana sih?!, ucap kakak kelas meneriaki temannya yang ada di hadapannya. Aku heran, siapa Ilia? Apakah aku yang dipanggilnya?, Apa dia tahu namaku?
    “Lhoh..? Kakak tahu namaku?”, tanyaku mengerutkan kening.
    “Bukan kamu.. Itu Ilia!”, tunjuknya pada laki-laki yang tadi menabrakku.
    “Gimana dek? Apa yang salah?”, tanya laki-laki itu yang kelihatannya sopan.
    Kutunjukkan kamera itu padanya, dengan sabar ia mengajariku.
    “Ini kek gini dek! Nah, jari kamu nanti disini separo! terus kalo udah muncul yang ijo. Tekan! Nah, bisa?”
    “Ohh… Oke!”

    Akhirnya aku berhasil menjepret foto kakak kelas kakak kelas itu.
    “Dek, makasih ya…!”, senyumnya melebar lalu mengulurkan tangan.
    “Aku Ilia!”, ucap laki-laki itu melanjutkan.
    “Aku juga Ilia!”, menerima uluran tangannya.
    “Oke, sekali lagi makasih ya… dan maaf soal yang tadi”, sahutnya
    Aku segera pergi meninggalkannya, karena sebenarnya tujuanku adalah ke RUANG OSIS untuk membenahi foto kalender.

    SELANG BERAPA LAMA…
    “Dek! Tolong dong foto buat kalender kamu cepetin pengumpulannya. Masih berapa kelas sih yang belum?”, ucap kak Gilang selaku Ketua OSIS.
    Mendengar hal itu aku teringat kakak kelas yang tadi. Aku pun menceritakannya pada kak Gilang.
    “hhahaha… tumben kamu bahas cowok. Dek-dek ah!”, ledeknya.
    Aku hanya diam. Dalam hatiku bertanya “Iya ya… kenapa aku cerita?”
    “Jangan-jangan kamu suka sama si Ilia itu ya?”, cetus kak Gilang menerawang tatapanku.
    Hatiku seakan akan hilang. Jantungku berdegup kencang. “Perasaan apa ini?, Tuhan!!”, Apakah ini cinta? Entahlah, aku rasa tidak. Tapi, mana mungkin aku akan menceritakan apa yang kurasa ini pada kak Gilang. Tidak mungkin!!

    “Ilia!!”, teriakku sambil menutup kedua kupingku.
    “iya?”, tiba-tiba saja masuk seorang laki-laki yang tadi menabrakku dan mengajariku menggunakan kamera. Ya! Dia adalah Ilia.
    “Kamu manggil aku dek?”, lanjutnya bertanya menghampiriku.
    “Ooohh… eng-enggak kok. Itu tadi cuman… cuman…”
    “Cuu-maannn… tadi dia cerita aja kalau dia lagi jatuuh cinta”, potong kak Gilang.
    “Ohh… kebetulan ya nama kita sama. Ini! aku mau ngumpulin foto kelasku, oh iya ada lagi”, ucapnya mengulurkan foto ke arahku.
    “Aku ngambil data bentar ya?”, ungkap kak Gilang dan pergi meninggalkan kami.

    Kini tiba saatnya hanya aku dan dia, tapi Ruang OSIS masih dengan pintu yang terbuka lebar.
    “Dek! Kebetulan ya nama kita sama. Kebetulan juga kita ketemu lagi disini”.
    “Hhehehe… Iya kebetulan”, jawabku perengesan.
    “Kebetulan lagi tadi aku ketemu sama kamu yang bisa aku mintain tolong buat fotoin kelasku. Oh iya, kamu percaya takdir?”
    “Percaya!”, jawabkku spontan.
    “Kalau kamu percaya, seharusnya kamu yakin kalau kita ketemu karena takdir bukan kebetulan.”
    “Aku percaya kok!”, jawabku spontan lagi.
    “Terus.. kamu percaya kalau aku suka sama kamu walau aku baru kenal kamu belum genap sehari?”,
    “Aku percaya kok!”, tiba-tiba saja jawab kak Gilang masuk Ruang OSIS.
    Akhirnya, muka kami dipenuhi warna merah jambu. Kami sangat malu. Namun, karena kamera atau hal sekecil itu aku dapat merasakan cinta.

    Jadi, Inikah Cinta?

    Cerpen Karangan: Nursaidah
    Facebook: Nursaidah

    Artikel Terkait

    Inikah Cinta
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email