Judul Cerpen Natural Selection
Ini bukan tentang kisah cinta. Apalagi cerita yang berujung manis seperti di dalam negeri dongeng. Ini bukan kisah tentang dua orang yang selalu bersama. Seperti dua jari manis yang bertemu, mereka terpisahkan oleh kedua jari tengah yang selalu memihak.
Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Dan masih ada berkali-kali lagi. Sudah jelas.
Terkadang teori memang tidak sesuai dengan kejadian, sama seperti teori evolusi Jean Baptiste de Lamarck yang entah kelanjutannya seperti apa. Bahkan beberapa kali aku mencoba menyempatkan waktu, berkutat di perpustakaan dengan setumpuk referensi tebal; sebut saja seperti Campbell, dan yang aku dapatkan hanyalah pertanyaan-pertanyaan lain yang bermunculan di benakku. Betapa rumitnya dunia ini. Atau bisa jadi betapa sederhananya dunia ini.
Seleksi alam, sama seperti pemikiran Charles Robert Darwin. Aku kira seleksi alam memang terjadi dan akan selalu terjadi di sepanjang kehidupan ini. Sepertinya memang itu juga yang telah terjadi padaku. Alam menyeleksiku, dan kenyataannya adalah; aku tidak mampu bersaing dengan organisme lain yang berkompetisi denganku. Aku kalah, aku kehilangan sesuatu yang pernah ada di dalam genggamanku.
Kau pergi dariku. Bukan, lebih tepatnya aku yang tak bisa mengimbangimu. Kau berlari terlalu jauh, dan aku tak bisa mengejarmu. Aku bersikeras berpikir bahwa kita akan tetap bersama, namun nyatanya aku salah. Kita bertolak belakang. Yang kuinginkan tak lebih dari sekadar angka nol. Dan akan menjadi seperti itulah; seperti jerapah-jerapah berleher pendek yang mati karena alam tidak mendukung hidup dan kehidupannya. Aku sudah kalah, aku tak bisa melawan seleksi alam yang bekerja pada organisme semacam diriku. Sudah selesai. Aku harus melepas apa yang aku genggam. Atau bisa jadi aku memang tak pernah menggenggam apa-apa. Menggenggam angin.
Betapa kejamnya seleksi alam. Dan betapa kejamnya hidup. Membunuh untuk hidup, dan membunuh untuk mempertahankan hidup. Namun itulah kita; manusia-manusia yang berpredasi untuk menjadi lebih kuat, membiarkan yang lemah tertindas agar kita berada di atas. Seperti kau dan aku.
Cerpen Karangan: Louise Indah Utami
Blog: louiseindhutmi.wordpress.com
Ini bukan tentang kisah cinta. Apalagi cerita yang berujung manis seperti di dalam negeri dongeng. Ini bukan kisah tentang dua orang yang selalu bersama. Seperti dua jari manis yang bertemu, mereka terpisahkan oleh kedua jari tengah yang selalu memihak.
Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Dan masih ada berkali-kali lagi. Sudah jelas.
Terkadang teori memang tidak sesuai dengan kejadian, sama seperti teori evolusi Jean Baptiste de Lamarck yang entah kelanjutannya seperti apa. Bahkan beberapa kali aku mencoba menyempatkan waktu, berkutat di perpustakaan dengan setumpuk referensi tebal; sebut saja seperti Campbell, dan yang aku dapatkan hanyalah pertanyaan-pertanyaan lain yang bermunculan di benakku. Betapa rumitnya dunia ini. Atau bisa jadi betapa sederhananya dunia ini.
Seleksi alam, sama seperti pemikiran Charles Robert Darwin. Aku kira seleksi alam memang terjadi dan akan selalu terjadi di sepanjang kehidupan ini. Sepertinya memang itu juga yang telah terjadi padaku. Alam menyeleksiku, dan kenyataannya adalah; aku tidak mampu bersaing dengan organisme lain yang berkompetisi denganku. Aku kalah, aku kehilangan sesuatu yang pernah ada di dalam genggamanku.
Kau pergi dariku. Bukan, lebih tepatnya aku yang tak bisa mengimbangimu. Kau berlari terlalu jauh, dan aku tak bisa mengejarmu. Aku bersikeras berpikir bahwa kita akan tetap bersama, namun nyatanya aku salah. Kita bertolak belakang. Yang kuinginkan tak lebih dari sekadar angka nol. Dan akan menjadi seperti itulah; seperti jerapah-jerapah berleher pendek yang mati karena alam tidak mendukung hidup dan kehidupannya. Aku sudah kalah, aku tak bisa melawan seleksi alam yang bekerja pada organisme semacam diriku. Sudah selesai. Aku harus melepas apa yang aku genggam. Atau bisa jadi aku memang tak pernah menggenggam apa-apa. Menggenggam angin.
Betapa kejamnya seleksi alam. Dan betapa kejamnya hidup. Membunuh untuk hidup, dan membunuh untuk mempertahankan hidup. Namun itulah kita; manusia-manusia yang berpredasi untuk menjadi lebih kuat, membiarkan yang lemah tertindas agar kita berada di atas. Seperti kau dan aku.
Cerpen Karangan: Louise Indah Utami
Blog: louiseindhutmi.wordpress.com
Natural Selection
4/
5
Oleh
Unknown
