Judul Cerpen Risalah Cinta
Sebuah perasaan hati dalam rangkaian kata yang ingin diungkapkan oleh seorang arga saat perasaan itu sudah menjadi kenangan dalam kisah kehidupannya. Berharap dan berharap dalam sebuah sajak ia ukirkan dalam sohifah persembahan untuk seseorang yang menjadi impian tulang rusuknya. Impian itu menjadi bumerang dalam kehidupannya. Tersakiti membuat ia termangu dalam kesedihan yang mendalam. Jiwanya masih terikat dengan memori kenangan indah seperti pesona cleopatra yang tidak pernah pudar dalam ingatannya.
Mega merah di sore hari tertutup awan hitam, arga duduk di selasar masjid kampus menikmati angin dan hawa sejuk yang muncul dari sekelilingnya. Matanya nanar memandangi rerumputan di sekeliling kampus hijau salah satu kampus swasta di kota kelahirannya banten. Menjadi mahasiswa dan hampir setiap hari pergi ke kampus merupakan kegiatan wajib yang harus ia lakukan, mengingat ia sudah termasuk mahasiswa senior dan sebentar lagi akan memakai toga kebanggaannya.
Setelah putus hubungan dengan indri seorang perempuan kelahiran tanah lampung dan memang sudah lama menetap di banten semenjak ia menjadi mahasiswa. Sekarang arga hanya menelan pil pahit saat cintanya diduakan oleh indri yang lebih memilih jalan lain dengan cara yang sangat menyakitkan bagi arga. Keribangan hati arga menentukan sang pujaan hati ternyata menjadi trauma yang mendalam setelah merasakan sakit itu. Kelakuannya seolah tidak ada semangat untuk menjalani kehidupannya.
“bro, kita touring yu” tiba-tiba suara dani terdengar di sampingnya.
“touring kemana?” jawab arga malas.
“ke tanjung lesung, kita punya tempat bagus nih” lanjut dani semangat.
Arga hanya terdiam masih terpaku dengan pandangan yang tidak berarti mengarah ke halaman masjid.
“eh bro, lo kenapa sih? Kayanya lagi ada masalah” tanya dani heran.
“enggak kok gua gak kenapa-napa”. Arga langsung meninggalkan dani ke arah tempat wudhu di masjid itu. Kerutan di kening dani tergambar jelas setelah melihat respon arga tidak seperti biasanya. Arga yang setiap harinya bergabung dengan genknya sekarang terlihat menjauh dan sering menyendiri tidak jelas. Entah sebab apa yang jelas sahabat-sahabatnya tidak mengetahui kalau arga sedang mengalami patah hati. Ditambah lagi arga sudah mulai tidak terbuka dengan mereka.
Tidak lama arga kembali masuk ke dalam masjid dan duduk di samping kanan masjid setelah berwudhu. Ia hanya duduk terdiam menghayati seseorang yang sedang membaca al-qur’an di sampingnya. Rasanya indah dan menenangkan jiwanya.
“pengen banget hamba seperti orang ini ya allah, sepertinya hatinya selalu tenang” ucap arga dalam hati.
Ia merasakan malu selama ini ia hanya menikmati indahnya dunia tanpa memikirkan akhirat yang memang suatu kehidupan yang kekal di dalamnya. Menjadi seorang muslim yang kaaffah dan beristiqomah. Mengingat Allah bukan saat ia merasakan gundah tapi mengingat Allah untuk selamanya dalam kehidupannya. Arga mulai merasakan aneh setelah beberapa jam duduk di dalam masjid, Rasanya masalah semakin menghilang. kenyamanan itu ia iringi dengan pengakuan dan penyesalan dosa yang pernah ia lakukan. Ia semakin sadar banyak kesalahan dan dosa dalam kehidupannya baik dari hubungan secara vertikal kepada Allah maupun hubungan secara horizontal kepada manusia di sekelilingnya. Sejatinya arga menemukan ketenangan yang tidak pernah ia duga setelah terbelenggu dalam sakit yang membelukar dalam hati.
Satu minggu setelah arga mulai menemukan ketenangan jiwanya. Melupakan dan meninggalkan kebiasaan yang membuatnya melakukan sesuatu yang tidak berguna. Kini arga mulai mendekati majlis-majlis ilmu, kajian islami, dan seminar islami. Ketenangan itu semakin sempurna ia rasakan setelah banyak mengenal orang-orang alim, para ustadz dan teman-teman yang baik. Hal ini membuatnya semakin istiqomah dalam memilih perjalanan hidup. Harta dan kemewahan bukan segalanya tidak akan bisa membuat seseorang menjadi kaya hati, kaya iman, dan kaya moral. Semua itu harus didapat dengan mendekatkan diri kepada sang pemilik kekayaannya. Arga semakin yakin, bahwa rizki, jodoh dan yang lainnya sudah Allah atur dengan kemasaan yang istimewa untuk setiap hambanya. Allah akan memenuhi hak dan janjinya kepada kita setelah kita memenuhi hak kita sebagai hamba kepada Allah. Yang terpenting ia selalu bisa menjadi orang baik tanpa harus dianggap baik oleh orang lain.
“akh bisa ikut kajian tafsir kan hari ini?” ajak mahmud salah satu ketua umum aktifis dakwah kampus (ADK).
“inshaallah akh bisa, kita barengan aja”. Respon arga semangat sambil memasukan tasbih setelah berdzikir usai sholat ashar tadi.
Sore ini arga dan teman-teman ADK akan mengikuti kajian tafsir ayat-al-ahkam yang akan di sampaikan langsung oleh pimpinan pondok pesantren Riyadhussolihin KH. Hasan basri namun beliau sering disapa kang hasan sebuah nama sederhana dari lelaki mulia yang sudah berkepala lima ini. Tempatnya tidak jauh dari kampus kurang lebih hanya 500 meter saja ke arah timur kampus dan sampai menuju pondok pesantren itu. Beliau memang sering memberikan kajian-kajian islami dan sudah kenal dekat dengan arga semenjak arga mendapatkan motivasi kehidupan yang sejati. Kehidupan yang diajarkan oleh rasul panutan umat islam. Sampai disana kang hasan sudah menunggu mereka di masjid pesantren dan kajianpun tidak lama dimulai.
Setelah kurang lebih satu jam kajian ditutup oleh kang hasan. Beliau tidak pernah mengajarkan materi dengan porsi yang lama. Sebagai pemula mereka dituntut sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Artinya walaupun materi yang diberikan kang hasan sedikit yang terpenting mereka paham dan bisa mengamalkannya nanti juga akan tumbuh banyak.
“kita ke rumah dulu yu” ajak kang hasan kepada kami setelah usai kajian.
“iya kang” jawab mereka sambil menundukan kepala sedikit.
Tiba-tiba arga dikagetkan oleh sosok hawa yang berpakaian akhwat. Memakai gamis warna cokelat berkerudung sampai menutupi kedua sikutnya berwajah hampir mirip kang hasan. Ia menyuguhi mereka minum dan makanan kecil. Hanya uluman senyum kecil kepada mereka selebihnya ia hanya menundukan wajahnya.
“subhanaallah” ucap arga dalam hati. Araga terpaku melihatnya. Jarang sekali ia melihat perempuan seperti ini. Terhiasi dengan pakaian muslimah yang menyejukan hati setiap adam saat melihatnya.
“nah, tadi anak pertama akang namanya zahrotul auliya sapaan akrabnya neng ulya”. Terang kang hasan setelah neng ulya masuk kedalam kamarnya.
“owh, itu kang” jawab mereka terkagum.
“astagfirullah” lanjut arga dalam hati sambil menggelengkan kepala. Ia merasa malu kepada kang hasan setelah terpaku lama menatap anaknya neng ulya itu.
Jelas mereka terkagum dan kaget. Selama ini kang hasan hanya bercerita mempunyai lima anak tiga diantaranya perempuan dan dua orang laki-laki. Neng ulya ini anak pertama yang baru saja lulus dari universitas Ummul Qura Kota Makkah mengambil jurusan al-qur’an dan hadits. Jelas saja pakaian dan karakternya begitu sangat istimewa di mata kaum adam.
Setelah beberapa lama kang hasan membicarakan perihal pondok pesantrennya. Tahun ini pesantrennya masih kekurangan tenaga pengajar mengingat santri yang masuk semakin bertambah banyak sehingga diharuskan membuka kelas cukup banyak pula. Kang hasan menginginkan tambahan pengajar eksak di pesantrennya karena masih minim dan melelahkan jika digarap dengan beberapa orang pengajar eksak saja. Hal ini untuk menghasilkan kegiatan belajar mengajar menjadi lebih efektif dan efisien.
“arga kang” sontak teman-teman ADK menunjuk arga. Walaupun arga mengambil jurusan ekonomi dan bisnis setidaknya masih dekat dengan materi matematika sekolah menengah dibandingkan teman-temannya yang lain. Arga kaget dan menolak usulan itu.
“maaf kang bukannya saya enggak mau, tapi jurusan saya jelas tidak merujuk untuk mengajar” ucap arga menolaknya dengan takdzim.
“tidak apa-apa sebagai dasar untuk mereka. Sebagai bukti nyata ilmu yang diamalkan. Mengajar bukan berarti kita paling hebat justru dengan mengajar kita akan bisa dan semakin bertambah ilmu kita selain amal jariyah yang kita dapatkan” respon kang hasan dengan bijaknya.
Ucapan kang hasan itu membuat arga terdiam sambil mengangguk-anggukan kepalanya hatinya terbuka dan menyadari perkataan kang hasan itu faktanya memang benar.
“inshaallah saya siap kang, tapi saya butuh bimbingan dari guru-guru yang lainnya” setelah beberapa lama arga menyetujui usulan teman-temannya dan juga nasihat dari kang hasan.
Satu tahun sudah berlalu, arga sudah berubah 180 derajat selain sudah wisuda kuliahnya arga juga semakin betah berada di lingkungan pesantren. Kegiatan sehari-hari ia habiskan dalam pesantren selain mengajar ia juga banyak belajar tentang ilmu agama islam kepada kang hasan dan ustadz-ustadz yang lain. Hal ini membuat kagum dan bangga kang hasan setelah memperhatikan hijrah arga yang begitu dahsyat. Semangatnya untuk mempelajari islam sangat berkobar tidak pernah putus. Kang hasan tidak meragukannya walaupun arga bukan alumni pondok pesantren tapi moralitas dan istiqomahnya kepada islam sangat sebanding dengan alumni-alumni pondok pesantren. Hal ini membuat kang hasan memilih arga untuk menjadi pendamping hidup neng ulya anak pertamanya yang belum menikah. Selain ingin cepat mempunyai cucu kang hasan tidak mau menunda pernikahan seorang anak perempuannya karena memang harus cepat dinikahkan ditakutkan akan menimbulkan fitnah yang tidak baik untuk keluarganya. Tidak hanya dengan pemikiran kang hasan, beberapa kali kang hasan beristiqoroh sosok arga selalu muncul dalam mimpinya dan menjadi pilihan terbaik bagi kang hasan untuk menikahkan dengan putrinya. Sebelum arga tahu tentang maksud kang hasan, neng ulya lebih dulu tahu kalau kang hasan akan menikahkan dirinya dengan arga. Sungguh ini tidak ada penolakan dari neng ulya selain menuruti keputusan kang hasan sebenarnya ia sudah menaruh hati untuk arga semenjak melihatnya pertama kali di rumahnya usai kajian tafsir setahun yang lalu. Hanya doa yang sering ia sampaikan dan bermunajat memohon keridhoan cintanya kepada arga. Mencintai dengan doa itu senjata yang sangat ampuh menurut ulya tanpa harus mengumbarnya kepada siapapun orang di sekelilingnya.
Sore hari di tempat ruang tamu kang hasan hanya berdua dengan arga membicarakan maksud baik kang hasan.
“ustadz, ada hal penting yang harus saya sampaikan” ucap kang hasan membuat hati arga berdebar. Tidak biasanya kang hasan berbicara serius seperti itu. Karena setahu arga kang hasan orangnya humoris dan selalu diawali dengan candaan saat berbicara dengan beliau. Berbeda dengan saat itu.
“maaf kang, hal penting apa ya? Apa saya melakukan kesalahan di pondok ini” tanya arga merasa tidak enak.
“bukan itu, ada maksud baik yang ingin saya sampaikan, saya ingin menikahkan ustadz dengan putri saya neng ulya”. Kang hasan mengulum senyum kepada arga.
“akang ini ada-ada aja, becandanya makin tinggi” respon arga sambil tertawa sedikit. Ia menganggap kang hasan hanya bercanda.
“akang serius, sama sekali enggak becanda” jawabnya menyakinkan arga.
Arga hanya terdiam, ia tidak percaya dengan keadan ini. Walaupun arga juga menyukai dan mencintai neng ulya, jelas arga belum menunjukan kepada kang hasan kalau dia juga mencintainya dengan cara mendoakan yang terbaik untuk neng ulya dan agra. Kehebatan doa memang tidak pernah mengkhianati seorang hamba yang tulus dan terus tanpa putus asa menunggu jawaban dari sang pemilik segalanya.
“kang, bukannya saya tidak menghargai niat baik akang. Tapi lelaki seperti saya tidak begitu baik dengan neng ulya yang jelas-jelas wanita solehah. Saya takut tidak bisa menjadi imam yang baik untuk neng ulya. Saya sangat kurang dengan pengetahuan agama islam” respon arga merendah. Dan memang benar araga merasa tidak pantas untuk neng ulya.
“ustadz, manusia itu tidak ada yang sempurna dan tidak ada yang bisa menentukan seseorang masuk syurga hanya karena dia sekarang menjadi seorang ulama, yang menentukan baik atau buruknya seseorang adalah amalan di akhir kehidupannya. Tidak ada gunanya seseorang yang awalnya menjadi ulama namun diakhir hidupnya melakukan dosa yang besar. Seseorang ahli maksiat namun diakhir hidupnya bertaubat dengan sungguh-sungguh dan mati dengan keadaan husnul khotimah itulah sebaik-baik hamba. Dan yang paling baik dari yang baik adalah seseorang yang mampu beristiqomah dari awal kehidupannya sampai ia kembali kepada sang pencipta”. Sambung kang hasan dengan nasihat yang menggetarkan hati arga.
“iya kang”. arga menundukan kepalanya sambil meneteskan air mata menyadari dan mengakui semuanya. Tidak ada yang harus ia pendam lagi perasaannya semakin jelas mencintai neng ulya. Tidak henti-hentinya air mata itu mengalir deras seiring hatinya mengingat kehidupan masa lalu dan cukup membuat ia merasa sedih. Sekarang dengan segala kekurangannya ia menemukan tulang rusuknya dengan hadirnya wanita solehah impian semua kaum adam. Kang hasan bersyukur dan tersenyum mendengar arga menyetujui pernikahan neng ulya dengan dirinya.
Selang beberapa minggu, pernikahan arga dengan zahrotul auliya berjalan dengan khidmat. arga memilih surat al-waqi’ah sebagai mahar pernikahannya sesuai permintaan dari neng ulya yang menginginkan mahar hafalan al-qu’an. Sungguh pasangan yang menjadi pelengkap kehidupan. Senyum bahagia dan tatapan dari keduanya tergambar sangat membahagiakan setelah ijab qobul diucapkan arga dengan lancar dan resmi menjadi seorang suami untuk neng ulya seorang wanita solehah penyejuk kedamaian dalam kehidupan.
Jodoh adalah cerminan diri, tidak perlu sibuk mencari dan memilih siapapun. Yang perlu dilakukan adalah memperbaiki diri dan memenuhi hak-hak kita sebagai hamba kepada sang pencipta. jodoh, rizki dan segalanya sudah diatur dalam sekenario yang indah. Jika sudah tiba, putaran waktu akan menjemput kita menemui cinta sejati dan menemukan kehidupan yang diridhoi dan berkah untuk dunia dan akhirat.
Segala puji bagi allah tuhan semesta alam.
Cerpen Karangan: Cecep Ulul Albab Al-bantani
Facebook: Cecep Ulul Albab Al-bantani
Sebuah perasaan hati dalam rangkaian kata yang ingin diungkapkan oleh seorang arga saat perasaan itu sudah menjadi kenangan dalam kisah kehidupannya. Berharap dan berharap dalam sebuah sajak ia ukirkan dalam sohifah persembahan untuk seseorang yang menjadi impian tulang rusuknya. Impian itu menjadi bumerang dalam kehidupannya. Tersakiti membuat ia termangu dalam kesedihan yang mendalam. Jiwanya masih terikat dengan memori kenangan indah seperti pesona cleopatra yang tidak pernah pudar dalam ingatannya.
Mega merah di sore hari tertutup awan hitam, arga duduk di selasar masjid kampus menikmati angin dan hawa sejuk yang muncul dari sekelilingnya. Matanya nanar memandangi rerumputan di sekeliling kampus hijau salah satu kampus swasta di kota kelahirannya banten. Menjadi mahasiswa dan hampir setiap hari pergi ke kampus merupakan kegiatan wajib yang harus ia lakukan, mengingat ia sudah termasuk mahasiswa senior dan sebentar lagi akan memakai toga kebanggaannya.
Setelah putus hubungan dengan indri seorang perempuan kelahiran tanah lampung dan memang sudah lama menetap di banten semenjak ia menjadi mahasiswa. Sekarang arga hanya menelan pil pahit saat cintanya diduakan oleh indri yang lebih memilih jalan lain dengan cara yang sangat menyakitkan bagi arga. Keribangan hati arga menentukan sang pujaan hati ternyata menjadi trauma yang mendalam setelah merasakan sakit itu. Kelakuannya seolah tidak ada semangat untuk menjalani kehidupannya.
“bro, kita touring yu” tiba-tiba suara dani terdengar di sampingnya.
“touring kemana?” jawab arga malas.
“ke tanjung lesung, kita punya tempat bagus nih” lanjut dani semangat.
Arga hanya terdiam masih terpaku dengan pandangan yang tidak berarti mengarah ke halaman masjid.
“eh bro, lo kenapa sih? Kayanya lagi ada masalah” tanya dani heran.
“enggak kok gua gak kenapa-napa”. Arga langsung meninggalkan dani ke arah tempat wudhu di masjid itu. Kerutan di kening dani tergambar jelas setelah melihat respon arga tidak seperti biasanya. Arga yang setiap harinya bergabung dengan genknya sekarang terlihat menjauh dan sering menyendiri tidak jelas. Entah sebab apa yang jelas sahabat-sahabatnya tidak mengetahui kalau arga sedang mengalami patah hati. Ditambah lagi arga sudah mulai tidak terbuka dengan mereka.
Tidak lama arga kembali masuk ke dalam masjid dan duduk di samping kanan masjid setelah berwudhu. Ia hanya duduk terdiam menghayati seseorang yang sedang membaca al-qur’an di sampingnya. Rasanya indah dan menenangkan jiwanya.
“pengen banget hamba seperti orang ini ya allah, sepertinya hatinya selalu tenang” ucap arga dalam hati.
Ia merasakan malu selama ini ia hanya menikmati indahnya dunia tanpa memikirkan akhirat yang memang suatu kehidupan yang kekal di dalamnya. Menjadi seorang muslim yang kaaffah dan beristiqomah. Mengingat Allah bukan saat ia merasakan gundah tapi mengingat Allah untuk selamanya dalam kehidupannya. Arga mulai merasakan aneh setelah beberapa jam duduk di dalam masjid, Rasanya masalah semakin menghilang. kenyamanan itu ia iringi dengan pengakuan dan penyesalan dosa yang pernah ia lakukan. Ia semakin sadar banyak kesalahan dan dosa dalam kehidupannya baik dari hubungan secara vertikal kepada Allah maupun hubungan secara horizontal kepada manusia di sekelilingnya. Sejatinya arga menemukan ketenangan yang tidak pernah ia duga setelah terbelenggu dalam sakit yang membelukar dalam hati.
Satu minggu setelah arga mulai menemukan ketenangan jiwanya. Melupakan dan meninggalkan kebiasaan yang membuatnya melakukan sesuatu yang tidak berguna. Kini arga mulai mendekati majlis-majlis ilmu, kajian islami, dan seminar islami. Ketenangan itu semakin sempurna ia rasakan setelah banyak mengenal orang-orang alim, para ustadz dan teman-teman yang baik. Hal ini membuatnya semakin istiqomah dalam memilih perjalanan hidup. Harta dan kemewahan bukan segalanya tidak akan bisa membuat seseorang menjadi kaya hati, kaya iman, dan kaya moral. Semua itu harus didapat dengan mendekatkan diri kepada sang pemilik kekayaannya. Arga semakin yakin, bahwa rizki, jodoh dan yang lainnya sudah Allah atur dengan kemasaan yang istimewa untuk setiap hambanya. Allah akan memenuhi hak dan janjinya kepada kita setelah kita memenuhi hak kita sebagai hamba kepada Allah. Yang terpenting ia selalu bisa menjadi orang baik tanpa harus dianggap baik oleh orang lain.
“akh bisa ikut kajian tafsir kan hari ini?” ajak mahmud salah satu ketua umum aktifis dakwah kampus (ADK).
“inshaallah akh bisa, kita barengan aja”. Respon arga semangat sambil memasukan tasbih setelah berdzikir usai sholat ashar tadi.
Sore ini arga dan teman-teman ADK akan mengikuti kajian tafsir ayat-al-ahkam yang akan di sampaikan langsung oleh pimpinan pondok pesantren Riyadhussolihin KH. Hasan basri namun beliau sering disapa kang hasan sebuah nama sederhana dari lelaki mulia yang sudah berkepala lima ini. Tempatnya tidak jauh dari kampus kurang lebih hanya 500 meter saja ke arah timur kampus dan sampai menuju pondok pesantren itu. Beliau memang sering memberikan kajian-kajian islami dan sudah kenal dekat dengan arga semenjak arga mendapatkan motivasi kehidupan yang sejati. Kehidupan yang diajarkan oleh rasul panutan umat islam. Sampai disana kang hasan sudah menunggu mereka di masjid pesantren dan kajianpun tidak lama dimulai.
Setelah kurang lebih satu jam kajian ditutup oleh kang hasan. Beliau tidak pernah mengajarkan materi dengan porsi yang lama. Sebagai pemula mereka dituntut sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Artinya walaupun materi yang diberikan kang hasan sedikit yang terpenting mereka paham dan bisa mengamalkannya nanti juga akan tumbuh banyak.
“kita ke rumah dulu yu” ajak kang hasan kepada kami setelah usai kajian.
“iya kang” jawab mereka sambil menundukan kepala sedikit.
Tiba-tiba arga dikagetkan oleh sosok hawa yang berpakaian akhwat. Memakai gamis warna cokelat berkerudung sampai menutupi kedua sikutnya berwajah hampir mirip kang hasan. Ia menyuguhi mereka minum dan makanan kecil. Hanya uluman senyum kecil kepada mereka selebihnya ia hanya menundukan wajahnya.
“subhanaallah” ucap arga dalam hati. Araga terpaku melihatnya. Jarang sekali ia melihat perempuan seperti ini. Terhiasi dengan pakaian muslimah yang menyejukan hati setiap adam saat melihatnya.
“nah, tadi anak pertama akang namanya zahrotul auliya sapaan akrabnya neng ulya”. Terang kang hasan setelah neng ulya masuk kedalam kamarnya.
“owh, itu kang” jawab mereka terkagum.
“astagfirullah” lanjut arga dalam hati sambil menggelengkan kepala. Ia merasa malu kepada kang hasan setelah terpaku lama menatap anaknya neng ulya itu.
Jelas mereka terkagum dan kaget. Selama ini kang hasan hanya bercerita mempunyai lima anak tiga diantaranya perempuan dan dua orang laki-laki. Neng ulya ini anak pertama yang baru saja lulus dari universitas Ummul Qura Kota Makkah mengambil jurusan al-qur’an dan hadits. Jelas saja pakaian dan karakternya begitu sangat istimewa di mata kaum adam.
Setelah beberapa lama kang hasan membicarakan perihal pondok pesantrennya. Tahun ini pesantrennya masih kekurangan tenaga pengajar mengingat santri yang masuk semakin bertambah banyak sehingga diharuskan membuka kelas cukup banyak pula. Kang hasan menginginkan tambahan pengajar eksak di pesantrennya karena masih minim dan melelahkan jika digarap dengan beberapa orang pengajar eksak saja. Hal ini untuk menghasilkan kegiatan belajar mengajar menjadi lebih efektif dan efisien.
“arga kang” sontak teman-teman ADK menunjuk arga. Walaupun arga mengambil jurusan ekonomi dan bisnis setidaknya masih dekat dengan materi matematika sekolah menengah dibandingkan teman-temannya yang lain. Arga kaget dan menolak usulan itu.
“maaf kang bukannya saya enggak mau, tapi jurusan saya jelas tidak merujuk untuk mengajar” ucap arga menolaknya dengan takdzim.
“tidak apa-apa sebagai dasar untuk mereka. Sebagai bukti nyata ilmu yang diamalkan. Mengajar bukan berarti kita paling hebat justru dengan mengajar kita akan bisa dan semakin bertambah ilmu kita selain amal jariyah yang kita dapatkan” respon kang hasan dengan bijaknya.
Ucapan kang hasan itu membuat arga terdiam sambil mengangguk-anggukan kepalanya hatinya terbuka dan menyadari perkataan kang hasan itu faktanya memang benar.
“inshaallah saya siap kang, tapi saya butuh bimbingan dari guru-guru yang lainnya” setelah beberapa lama arga menyetujui usulan teman-temannya dan juga nasihat dari kang hasan.
Satu tahun sudah berlalu, arga sudah berubah 180 derajat selain sudah wisuda kuliahnya arga juga semakin betah berada di lingkungan pesantren. Kegiatan sehari-hari ia habiskan dalam pesantren selain mengajar ia juga banyak belajar tentang ilmu agama islam kepada kang hasan dan ustadz-ustadz yang lain. Hal ini membuat kagum dan bangga kang hasan setelah memperhatikan hijrah arga yang begitu dahsyat. Semangatnya untuk mempelajari islam sangat berkobar tidak pernah putus. Kang hasan tidak meragukannya walaupun arga bukan alumni pondok pesantren tapi moralitas dan istiqomahnya kepada islam sangat sebanding dengan alumni-alumni pondok pesantren. Hal ini membuat kang hasan memilih arga untuk menjadi pendamping hidup neng ulya anak pertamanya yang belum menikah. Selain ingin cepat mempunyai cucu kang hasan tidak mau menunda pernikahan seorang anak perempuannya karena memang harus cepat dinikahkan ditakutkan akan menimbulkan fitnah yang tidak baik untuk keluarganya. Tidak hanya dengan pemikiran kang hasan, beberapa kali kang hasan beristiqoroh sosok arga selalu muncul dalam mimpinya dan menjadi pilihan terbaik bagi kang hasan untuk menikahkan dengan putrinya. Sebelum arga tahu tentang maksud kang hasan, neng ulya lebih dulu tahu kalau kang hasan akan menikahkan dirinya dengan arga. Sungguh ini tidak ada penolakan dari neng ulya selain menuruti keputusan kang hasan sebenarnya ia sudah menaruh hati untuk arga semenjak melihatnya pertama kali di rumahnya usai kajian tafsir setahun yang lalu. Hanya doa yang sering ia sampaikan dan bermunajat memohon keridhoan cintanya kepada arga. Mencintai dengan doa itu senjata yang sangat ampuh menurut ulya tanpa harus mengumbarnya kepada siapapun orang di sekelilingnya.
Sore hari di tempat ruang tamu kang hasan hanya berdua dengan arga membicarakan maksud baik kang hasan.
“ustadz, ada hal penting yang harus saya sampaikan” ucap kang hasan membuat hati arga berdebar. Tidak biasanya kang hasan berbicara serius seperti itu. Karena setahu arga kang hasan orangnya humoris dan selalu diawali dengan candaan saat berbicara dengan beliau. Berbeda dengan saat itu.
“maaf kang, hal penting apa ya? Apa saya melakukan kesalahan di pondok ini” tanya arga merasa tidak enak.
“bukan itu, ada maksud baik yang ingin saya sampaikan, saya ingin menikahkan ustadz dengan putri saya neng ulya”. Kang hasan mengulum senyum kepada arga.
“akang ini ada-ada aja, becandanya makin tinggi” respon arga sambil tertawa sedikit. Ia menganggap kang hasan hanya bercanda.
“akang serius, sama sekali enggak becanda” jawabnya menyakinkan arga.
Arga hanya terdiam, ia tidak percaya dengan keadan ini. Walaupun arga juga menyukai dan mencintai neng ulya, jelas arga belum menunjukan kepada kang hasan kalau dia juga mencintainya dengan cara mendoakan yang terbaik untuk neng ulya dan agra. Kehebatan doa memang tidak pernah mengkhianati seorang hamba yang tulus dan terus tanpa putus asa menunggu jawaban dari sang pemilik segalanya.
“kang, bukannya saya tidak menghargai niat baik akang. Tapi lelaki seperti saya tidak begitu baik dengan neng ulya yang jelas-jelas wanita solehah. Saya takut tidak bisa menjadi imam yang baik untuk neng ulya. Saya sangat kurang dengan pengetahuan agama islam” respon arga merendah. Dan memang benar araga merasa tidak pantas untuk neng ulya.
“ustadz, manusia itu tidak ada yang sempurna dan tidak ada yang bisa menentukan seseorang masuk syurga hanya karena dia sekarang menjadi seorang ulama, yang menentukan baik atau buruknya seseorang adalah amalan di akhir kehidupannya. Tidak ada gunanya seseorang yang awalnya menjadi ulama namun diakhir hidupnya melakukan dosa yang besar. Seseorang ahli maksiat namun diakhir hidupnya bertaubat dengan sungguh-sungguh dan mati dengan keadaan husnul khotimah itulah sebaik-baik hamba. Dan yang paling baik dari yang baik adalah seseorang yang mampu beristiqomah dari awal kehidupannya sampai ia kembali kepada sang pencipta”. Sambung kang hasan dengan nasihat yang menggetarkan hati arga.
“iya kang”. arga menundukan kepalanya sambil meneteskan air mata menyadari dan mengakui semuanya. Tidak ada yang harus ia pendam lagi perasaannya semakin jelas mencintai neng ulya. Tidak henti-hentinya air mata itu mengalir deras seiring hatinya mengingat kehidupan masa lalu dan cukup membuat ia merasa sedih. Sekarang dengan segala kekurangannya ia menemukan tulang rusuknya dengan hadirnya wanita solehah impian semua kaum adam. Kang hasan bersyukur dan tersenyum mendengar arga menyetujui pernikahan neng ulya dengan dirinya.
Selang beberapa minggu, pernikahan arga dengan zahrotul auliya berjalan dengan khidmat. arga memilih surat al-waqi’ah sebagai mahar pernikahannya sesuai permintaan dari neng ulya yang menginginkan mahar hafalan al-qu’an. Sungguh pasangan yang menjadi pelengkap kehidupan. Senyum bahagia dan tatapan dari keduanya tergambar sangat membahagiakan setelah ijab qobul diucapkan arga dengan lancar dan resmi menjadi seorang suami untuk neng ulya seorang wanita solehah penyejuk kedamaian dalam kehidupan.
Jodoh adalah cerminan diri, tidak perlu sibuk mencari dan memilih siapapun. Yang perlu dilakukan adalah memperbaiki diri dan memenuhi hak-hak kita sebagai hamba kepada sang pencipta. jodoh, rizki dan segalanya sudah diatur dalam sekenario yang indah. Jika sudah tiba, putaran waktu akan menjemput kita menemui cinta sejati dan menemukan kehidupan yang diridhoi dan berkah untuk dunia dan akhirat.
Segala puji bagi allah tuhan semesta alam.
Cerpen Karangan: Cecep Ulul Albab Al-bantani
Facebook: Cecep Ulul Albab Al-bantani
Risalah Cinta
4/
5
Oleh
Unknown
