Judul Cerpen Cerdle (Cerpen Riddle) Tori
“Hey! Kemarilah!!!” teriak anak yang sedang berlari di atas padang rumput. Dia menemui seorang anak lainnya yang sedang berenang di sungai. Tanpa takut basah, dia menyeburkan diri ke dalam sungai dangkal itu. “Namamu siapa?” tanyanya.
“Tansuigyo, panggil saja Sui. Kalau kamu? Sudah lama tidak ada yang berkunjung ke sini,” ucapnya sambil melompat dan kembali ke sungai.
“Toriko, kau bisa memanggilku Tori. Boleh aku berenang?”
Sui melihat kaki Tori dengan seksama. “Iie, kau tidak bisa. Sebaiknya kau di atas saja,” mendengar hal itu, Tori mengangkat “Tangan”-nya dan melompat ke atas. “Aku lupa aku tidak bisa berenang. Kamu makan apa? Aku bawa beberapa cacing,”
Sui tersenyum. “Ah! Aku suka itu! Ayo, makan,”
“Ittadakimasu!!!”
“Mulut” mereka berdua dengan lahap menghabisi cacing-cacing itu. Setelah habis, mereka bertukar cerita sampai ibu Sui datang. “Ah, Sui, kau punya kawan baru ternyata. Anata no namae wa nan desuka?”
“Watashi wa Toriko,”
“Kau bisa menginap di tempat kami. Tampaknya, ‘tangan’-mu terluka,”
Dan Tori menyetetujuinya, kemudian mereka pergi ke hilir sungai. Tori akan tidur di atas pohon. Sementara Sui dan ibunya tidur di dalam air.
“DOR!”
Suara tembakan yang begitu keras sampai ke telinga mereka bertiga. Kaget, mereka meninggalkan sarapan dengan berlari dan berenang sejauh mungkin. Ada yang tidak beres disini, pemburu itu ingin menangkap mangsanya yang lepas.
“Hmm… burung itu lumayan, dia cukup gemuk. Hei, ikan itu juga,”
Dan mereka bertiga tertembak. Sui mengeluh sakit di sekitar punggungnya, tapi ibunya terus membawanya. Sementara Tori mengepakkan sayapnya dan kemudian hilang di angkasa, tapi jatuh setelah suara “DOR!” keras dari pemburu. “Cih, ternyata burungnya terluka. Ya sudah, lebih baik dapat daripada tidak sama sekali,”
Kemudian dia pergi, meninggalkan bercak darah pada permukaan sungai yang jernih.
Cerpen Karangan: Muhammad Rasyid T. H.
Facebook: tmuhammadrasyid[-at-]gmail.com
“Hey! Kemarilah!!!” teriak anak yang sedang berlari di atas padang rumput. Dia menemui seorang anak lainnya yang sedang berenang di sungai. Tanpa takut basah, dia menyeburkan diri ke dalam sungai dangkal itu. “Namamu siapa?” tanyanya.
“Tansuigyo, panggil saja Sui. Kalau kamu? Sudah lama tidak ada yang berkunjung ke sini,” ucapnya sambil melompat dan kembali ke sungai.
“Toriko, kau bisa memanggilku Tori. Boleh aku berenang?”
Sui melihat kaki Tori dengan seksama. “Iie, kau tidak bisa. Sebaiknya kau di atas saja,” mendengar hal itu, Tori mengangkat “Tangan”-nya dan melompat ke atas. “Aku lupa aku tidak bisa berenang. Kamu makan apa? Aku bawa beberapa cacing,”
Sui tersenyum. “Ah! Aku suka itu! Ayo, makan,”
“Ittadakimasu!!!”
“Mulut” mereka berdua dengan lahap menghabisi cacing-cacing itu. Setelah habis, mereka bertukar cerita sampai ibu Sui datang. “Ah, Sui, kau punya kawan baru ternyata. Anata no namae wa nan desuka?”
“Watashi wa Toriko,”
“Kau bisa menginap di tempat kami. Tampaknya, ‘tangan’-mu terluka,”
Dan Tori menyetetujuinya, kemudian mereka pergi ke hilir sungai. Tori akan tidur di atas pohon. Sementara Sui dan ibunya tidur di dalam air.
“DOR!”
Suara tembakan yang begitu keras sampai ke telinga mereka bertiga. Kaget, mereka meninggalkan sarapan dengan berlari dan berenang sejauh mungkin. Ada yang tidak beres disini, pemburu itu ingin menangkap mangsanya yang lepas.
“Hmm… burung itu lumayan, dia cukup gemuk. Hei, ikan itu juga,”
Dan mereka bertiga tertembak. Sui mengeluh sakit di sekitar punggungnya, tapi ibunya terus membawanya. Sementara Tori mengepakkan sayapnya dan kemudian hilang di angkasa, tapi jatuh setelah suara “DOR!” keras dari pemburu. “Cih, ternyata burungnya terluka. Ya sudah, lebih baik dapat daripada tidak sama sekali,”
Kemudian dia pergi, meninggalkan bercak darah pada permukaan sungai yang jernih.
Cerpen Karangan: Muhammad Rasyid T. H.
Facebook: tmuhammadrasyid[-at-]gmail.com
Cerdle (Cerpen Riddle) Tori
4/
5
Oleh
Unknown
