Dia Jahat

Baca Juga :
    Judul Cerpen Dia Jahat

    Aku terbelalak kaget melihat pipi mama penuh dengan air mata. Aku bergegas menghampirinya, “Mah, kenapa nangis?” Tanyaku dengan intonasi nada pelan. Mama tidak berkata apa-apa. Sungguh aku tidak tega melihatnya. Aku mencoba menenangkan, mengusap-usap punggungnya. Tapi ada daya, Mama malah menangis hebat di telapak tangannya. Tuhan, ada apa ini? Kenapa harus melihat mama menangis? Terhitung ini bukan yang pertama kalinya.
    “Kak Rein?” mendengar namaku dipanggil. Aku menoleh. Seorang anak kecil sesunggukkan menahan tangis sedang berdiri di ambang pintu. Aku segera beranjak menghampirinya.
    “Adik, kenapa nangis? Dinakalin sama Poppy ya?” Tanyaku sambil mengusap air mata di pipinya.
    Adikku menggeleng, “Ada yang mau Vio omongin, Kak. Tapi jangan disini.” ucapnya pelan, “Di kamar Vio aja.”
    Aku pun menuruti. Dia menarik tanganku, menuntun menuju ke kamarnya. Meninggalkan mama menangis tanpa aku tahu apa penyebabnya.

    Setiba di kamar adikku, aku langsung duduk di tepi ranjang. Berhadapan dengan adikku.
    “Vio mau ngomong apa?”
    “Kakak mau tau kenapa mama nangis?”
    Aku mengerutkan kening, “Emang Vio tau kenapa mama bisa nangis?”
    Vio mengangguk. Aku menatap matanya dalam-dalam.
    ‘kenapa Vio bisa tahu, sementara gue enggak?’ batinku.
    “Tadi Vio, papa sama mama ke rumah nenek. Terus Vi-”
    “Papa pulang?” Tanyaku memotong ucapan Vio, “Kapan?”
    “Tadi pagi.” jawabnya.
    “Terus sekarang papa ke mana?”
    “Vio nggak tau. Ssttt…” Desis Vio seraya meletakkan jari telunjuk di bibirnya, “Vio kapan ngomongnya?”
    “Iya, iya.” pasrahku.
    “Mama nangis karena nenek, Kak.”
    Nenek? Mau apalagi dia. Belum cukup puas menghancurkan kebahagiaan orang lain.
    “Vio sempet denger nenek bilang, Kalau nenek mau nikahin papa sama orang lain” Lanjutnya.
    “nenek bilang gitu? Terus papa?”
    “Iya kak. Papa diem aja. Vio sedih lihat mama kayak gitu” jawabnya.
    Mama… Jadi ini alasan mama menangis. Dilecehkan mertua sendiri. Arrghhhh… Dia masih punya otak bukan? Dan papa? hanya diam?
    “Vio tadi juga lihat nenek nampar pipi mama” Ucap Vio meneruskan.
    Aku membulatkan mataku. Kurang ajar. Berani-beraninya dia melakukan itu semua. Di depan anak kecil. Vio, yang masih berumur 8 tahun. Aku yakin Vio tidak mengada-ngada. Karena anak kecil tidak bisa berbohong dan daya ingatannya sangat kuat.

    Ini tidak bisa dibiarkan. Aku segera beranjak ke luar dari kamar Vio. Mengingat jarak rumahku tidak jauh dengan rumah nenek, aku akan pergi ke sana. Meminta penjelasan.
    Sampainya disana aku masuk ke rumah nenek tanpa mengetuk pintu, tanpa mengucapkan salam.
    “Rein? Kapan kamu kesini? Kok nggak ketuk pintu dulu? Sini sayang salam dulu sama nenek.” Ucapnya dengan suara lembut.
    Aku tersenyum sinis, “Maaf, saya tidak sudi untuk mencium tangan kotor anda.”
    Nenek mengerutkan keningnya. Seakan bingung mengapa tiba-tiba aku bersikap konyol seperti ini. Berbeda dengan Rein yang kemarin dikenalnya.
    “Apa maksud kamu, Rein?”
    Aku terkekeh pelan, “Anda tidak menyadarinya? Atau anda sedang menjalankan skenario yang anda buat?” Tanyaku memojokkannya.
    “Rein, bicaralah yang jelas. Nenek tidak tau apa maksud dari ucapanmu.”
    “Masih belum jelas?”
    Oke, permainan dimulai.
    “Anda tidak bisa bersandiwara di depan saya. Kemarin saya memang bodoh, tapi untuk hari ini saya tidak akan mengulang kebodohon itu lagi.” Ucapku sedikit menaikkan suara.
    Nenek bergeming tanpa suara. Menatapku dengan sorotan mata yang tajam. Seperti… hantu? Oh bukan, melebihi hantu tepatnya. Aku segera mengalihkan pandanganku dari nenek. Bukan karena aku takut dengan tatapannya. Melainkan aku jijik. Melihat wajahnya mengingatkanku dengan mama yang sedang menangis meringkuk di atas kasur.
    “Masih belum bicara?” Tanyaku tanpa menatapnya, “Pura-pura amnesia?”
    “Kau ini masih kecil, tidak usah ikut campur urusan orang dewasa!” Bentak nenek.
    Wahh… berani membentak dia. Nenek pikir Rein takut. Baiklah…
    “Saya sudah dewasa. Saya sudah SMA. Saya bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk” Jelasku menekankan kata terkahir, “Dan Saya berhak ikut campur. Karena ini menyangkut mama saya, seseorang yang telah membesarkan saya!” Ucapku sambil menundingkan jari telunjuk ke dadaku.
    “Diam! Lebih baik kamu pulang. Tenangkan pikiranmu. Nenek yakin kamu telah diguna-guna sama mama kamu.” Katanya seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
    “Berulang kali anda menyakiti hati mama, apa anda kurang puas melihat air mata mama saya terus menetes?” Aku menarik nafas, “Mama saya punya salah apa, sampai anda segitu bencinya sama mama saya?”
    Nenek diam, tidak menjawab pertanyaanku. Aku cukup bosan dengan suasana seperti ini.
    “Dulu nenek bersikap baik sama mama, dulu nenek selalu perhatian. Tapi sekarang? Nenek berubah!” Aku mulai memikirkan kata-kataku, “Apa karena mama tidak sekaya dulu?”
    Nenek tersenyum lebar, “Iya. Buat apa sekarang dipertahankan kalau tidak mempunyai uang.”
    Begitu mudahnya dia berbicara seperti itu. Apa dia tidak berpikir dengan baik. Kata-kata mencolos tersebut kembali menumbuhkan api membara di hatiku. Iya, ini terdengar begitu menyakitkan. Bagaimana kalau mama mendengarkannya? Aku yakin mama akan pingsan seketika.
    Aku terkekeh pelan, “Karena hal itu? Sungguh anda jahat. Dasar materalistis.” ucapku seperti aku berbicara dengan teman sebayaku. Ini memang tidak wajar. Masa bodoh!
    Segera nenek melayangkan tangannya di pipiku. Aku diberi kejutan. Sebuah tamparan. Aku meringis kesakitan. Tapi itu tidak ada apa-apanya, dibanding sakit hati yang dialami mama.
    “Lakukan lagi. Beribu-ribu kali lakukanlah. Saya siap menerimanya.” aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, “Asal. Jangan. sakiti. hati. mama. saya.” Ucapku memberi tekenan di setiap kata.

    “REIN!!!! Apa yang kamu lakukan!”
    Papa… Dia disini. Sejak kapan? kuharap sejak aku datang kemari agar dia bisa melihat keberanianku melawan monster pengkhianat ini.
    “Dia nenekmu.”
    Aku tertawa keras. Sekeras mungkin, “Nenek? Sejak saya dilahirkan di dunia ini, saya sama sekali tidak menganggap dia sebagai nenek saya.”
    PLAKK…
    Pa.. Papa menamparku. Oh Tuhan. Ini terasa perih. Aku tidak menyangka. Tapi aku harus bersikap tegar, demi membela mama.
    “Dua kali saya mendapatkan tamparan di rumah ini. Rumah berhantu.” Ucapku semena-mena.
    “Diam! Atau papa akan menamparmu lagi.”
    Aku mendelik, “papa mau melakukannya lagi? Lakukan! Lakukan, Pa. Jika ini membuat papa sadar atas apa yang papa lakukan.”
    Tak sadar sudah banyak air mata yang tertampung di kelopak mataku. Diam. Semua orang disini diam. Apa mereka sudah menyadiranya? Aku rasa belum. Lihat. Senyum nenek sedari tadi terlihat jelas tergambar di raut wajahnya.
    “Rein, lebih baik kamu pulang.” Ucap papa memecahkan keheningan.
    Papa berpihak pada nenek?
    “Enggak, Pa. Rein akan membalas perlakuan di-”
    “Rein! Papa bilang kamu pulang sekarang! Pulang!” Tegas papa.
    Sebutir air ke luar dari mataku. Aku menangis? Tuhan, ternyata memang benar aku tidak setegar apa yang aku kira. Aku bisa menangis dikala seseorang yang aku sayangi membentakku. Aku bisa menangis saat seseorang yang aku anggap kekasih mulai berubah. YA, KEKASIH ITU AYAHKU. DAN DIA BERUBAH.
    “Papa membentak, Rein? Sejak kapan kekasih Rein berani berbicara keras tepat di depan mataku? Sejak kapan?!”
    Aku tidak bisa terus-menerus begini, memperlihatkan kelemahanku di hadapan nenek. Aku akan bangkit. Harus.
    “Papa laki-laki, bukan? Tapi kenapa papa terus-terusan diam seperti patung, membiarkan harga diri mama diinjak-injak. Mana mental papa untuk angkat bicara? Mana nyali papa untuk melindungi mama? Mana keberanian papa untuk memarahi orangtua papa disaat mereka melakukan kesalahan. Mana, Pa? Mana?! Ini bukan papa yang Rein kenal. Bukan.”
    Akhirnya, air mataku lolos terjatuh di kedua pipiku. Mengalir tiada henti. Melihat papa menundukkan kepalanya, segera aku menghapus kasar air mataku dengan tanganku. Dengan cepat aku mengambil tangan papa. Menggenggam jari-jarinya kuat-kuat. Dan seketika papa mendongak.
    “Pah,” Aku menarik nafas, “Rein yakin di lubuk hati terdalam papa masih mempunyai rasa kekhawatiran terhadap mama. Papa ingin angkat bicara tapi terhalang oleh-”
    Tiba-tiba sebuah tangan memisahkan genggaman tanganku yang terkait oleh jemari papa. Aku menoleh. Dia lagi!.
    “Tutup mulutmu anak kecil! Pergi dari sini. Pergi!” Ucap nenek seraya menundingkan jari telunjuk ke arah pintu rumah.
    “Tanpa anda suruh, saya akan pergi. Muak dengan muka penjahat seperti anda.”
    Aku segera mengangkat kakiku ke luar dari rumah nenek. Tapi kuharap papa akan mencegahnya. Kenyataan? Tidak. Oh iya, aku melupakan sesuatu. Aku membalikkan badanku. Menatap nanar wajah papa.
    “Maaf, saya melupakan sesuatu.”
    Aku maju dua langkah ke arah papa. Meskipun itu tidak dekat, tapi setidaknya suaraku terdengar olehnya. Aku melirik ke arah nenek, dia menatapku.
    “Papa segera menikah, kan?” Tanyaku langsung ke intinya, “Dan nggak mungkin papa memiliki hati keduanya.”
    “Ini waktunya papa memilih, antara mama atau calon tunangan papa.”
    Nenek mendelik ke arahku, “Jelas dia akan memilih opsi kedua.”
    “Saya tidak berbicara dengan anda. Tolong diam.” ucapku tegas.
    Aku melihat wajah papa yang kelihatan bingung, “Kenapa papa diam? papa bingung memilih yang mana? Ayolah, pah. Untuk kali ini saja dengarkan suaru hati kecil papa. Rein, mohon.”
    Aku seperti pengemis, memohon sesuatu yang menggantung di perasaanku. Aku ingin mendengarkan langsung apa jawaban papa. Sekarang. Detik ini, juga.

    Lima menit aku terlarut di permohonanku. Tetap saja papa tak mau menjawab.
    “Diam. Diam terus aja, pah. Sampai Rein, Vio, dan mama bosan menunggu kepastian dari papa.” Aku menarik napas dalam-dalam, “Kalau papa mencintai mama nggak mungkin papa bingung memilih. Mungkin ini jawaban dari papa. Bahwa papa tidak bisa memilih mama. Papa nggak cinta sama mama.”
    Aku seperti hidup di duniaku yang kedua. Sangatlah berbeda dengan apa yang aku harapkan.
    “Rein pikir papa memilih kami untuk kehidupan papa di masa yang akan datang. Rein pikir papa akan menghibur kami di saat kami sedang dilanda duka. Tapi Rein salah.” Aku menggeleng tak percaya
    Lagi, air mataku tidak bisa diajak kompromi. Terus mengalir. Menggambarkan keadaan hatiku saat ini.
    “Rein,”
    “Dan Rein pikir papa akan menjaga Rein selamanya!”
    Untuk pertama kalinya aku membentak papa. Tidak mau tahu dibilang anak durhaka. Ini juga untuk kebaikkan, bukan?
    “Rein, papa nggak bermaksud gitu. Papa Cuma mau-”
    Aku menggeleng pelan, “Papa Cuma mau bilang kalau papa ninggalin kita dan memilih calon pengantin papa yang baru, gitu? Udah pah, cukup. Rein muak dengan semua ini. Rein benci sama papa, Rein benci!!”
    Tuhan, kenapa harus begini. Aku bahkan tidak terpikirkan bahwa semua akan jungkir balik dari apa yang aku bayangkan. Ini adalah cobaan terberat yang pernah aku alami. Aku harus lebih bersabar lagi. Aku harus pandai mengontrol emosi.
    “Papa harus punya pendirian. Kalau Iya, harus iya. Kalau enggak, ya enggak.” Aku menghela nafas, “Rein pulang. Assalamu’alaikum.”

    Aku segera melangkahkan kaki untuk ke luar dari rumah nenek, menghiraukan teriakkan papa yang terus-menerus memanggil namaku. Aku capek. Lebih baik aku pulang lalu menemui mama dan menghiburnya. Mungkin itu lebih baik. Daripada terus berdebat, menghabiskan energi.

    Cerpen Karangan: Assifa Rohmalya
    Blog: https://selow-aja-guys.blogspot.com

    Artikel Terkait

    Dia Jahat
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email