Jaket

Baca Juga :
    Judul Cerpen Jaket

    Sabtu, 6 Desember 2014
    “Selamat pagi dan selamat ulang tahun anak mamah yang paling ganteng, udah gede yaa sekarang sudah 18 tahun. Semoga menjadi anak yang soleh, berbakti dan berguna untuk semua orang. Seluruh doa yang terbaik menyertaimu sayang.” ujar mamaku seraya membangunkanku yang masih terlelap tidur.
    “Hah? Memang sekarang tanggal berapa mah? Perasaan ulang tahunku masih 2 hari lagi deh.” ucapku setengah tersadar.
    “Hari ini sayaang, ini kan tanggal 6 masa kamu lupa? Mungkin kamu lupa karena terlalu fokus dengan ulangan akhir semester. Ya sudah sekarang buruan mandi ya jangan lupa sarapan lalu segera berangkat.” ucap mamaku lembut.
    Kulangkahkan segera kakiku menuju kamar mandi lalu menunaikan sarapan dan langsung berangkat sekolah seperti yang Mama perintahkan.

    Tak ada yang spesial bagiku hari ini, selain karena masih mengantuk karena semalam disibukkan oleh mata pelajaran yang diujikan. Meskipun hari ini merupakan momen spesial sekalipun namun rasannya hari ini seperti hari biasa bahkan pagi ini aku memulainnya dengan bibang. Bagaimana tidak bimbang? Semalam masih ingat dengan jelas aku dan pacarku yang bernama Yura bertengkar lewat SMS. Entahlah apa yang kami ributkan aku pun tak ingat namun jelas hal itu sangat menggangguku sejak semalam hingga pagi ini menjelang ulangan. Sesampainnya di kelas pun suasana juga seperti biasa anak anak kelasku yang terkenal usil, gaduh dan kocak seketika menjadi pendiam karena serius mengulang dan mengingat apa yang sudah mereka pelajari. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing masing seperti membuat contekan, membaca buku pelajaran, menjaili orang yang belajar dan sebagainnya. Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB dan anak-anak sudah menempatkan diri di kursi masing-masing dan ujian dilaksanakan dengan khidmat.

    Bel pulang sekolah berdering itu tandannya ujian untuk hari ini selesai dan kami diperbolehkan pulang. Tak disngka dan tak diduga tiba-tiba kedua sahabatku Helmi dan Ayas membekapku dari belakang.
    “Heh apa apaan nih, lepasin gue gak? Gue mau ketemu Yura nih jangan usil dong.” pintaku sambil terus berusaha melepaskan diri.
    “Lah ikut kita-kita bentaran lah Daf bentaran doang.” ucap Helmi.
    “Eh Hel ini anak jangan sampe lepas pokoknya, gue ngerti banget nih anak paling doyan ngloyor apalagi pas pelajaran fisika.” kata Ayas.
    “Ya udah sekarang kita kerjain nih anak deh yook, udah gak sabar gue.”

    Akhirnya mereka pun menyeretku tanpa ampun menuju lapangan bola yang letaknya berada di sebelah kelasku. Sebelum sampai di lapangan Ayas sempat menutup mataku dengan slayer dan menali tanganku dengan tali sepatu yang kencangnya bukan main sedangkan Helmi sibuk memegangiku agar tidak kabur.

    Sesampainnya di lapangan mereka segera melucuti sepatu dan tasku lalu menaliku di sebuah pohon besar. Aku sudah pasrah dan sudah merasa bahwa aku akan benar benar sial hari ini. Firasatku benar tiba tiba tubuhku basah karena air yang disontakkan oleh mereka dan melumuriku dengan telur, kopi dan tepung terigu. “Happy birthday kak Daffa we love you Hahahaha.” Cukup banyak teman temanku disana yaa mereka benar benar mengerjaiku lalu setelah itu mereka melepaskan penutup mataku dan mulai menyalami aku, rasannya senang sekali namun pikiranku masih sibuk mencari Yura.

    Tak seperti biasannya malam minggu ini tak ada ajakan ke luar dari teman temanku, bahkan orangtuaku yang biasannya getol mengajakku ke luar kini mereka justru terlihat mendiamkanku. Aku mencoba menelepon Yura namu selalu saja direject dan itu membuatku sedih. Entahlah biasannya Yura adalah oraang yang paling bersemangat mengucapkan jika aku sedang ultah namun saat ini dia benar benar menghilang. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur dan berharap pagi segera datang. “Aku harus menemui Yura besok di rumahnya.” pikirku.

    Waktu terus berjalan dan aku mulai terlelap dalam tidurku namun tiba tiba ada seseorang yang dengan usil membangunkanku dari tidurku. Terpaksa kubuka mata lebar-lebar dan saat kulihat ada sekumpulan teman-teman kelasku sedang berdiri di depan kamarku sambil membawa roti ulang tahun dan membawa kuenya pula. Mereka bernyanyi dengan keras hingga aku tersadar jika ini bukan mimpii.
    “Ini sebagai permintaan maaf kami karena tadi siang kami sudah mengerjai kamu hehehe.” ucap Ayas dan langsung diiyakan oleh semua temanku.
    “Tiup lilin dulu dong yaa make a wish.” ucapnya lagi. Langsung kupanjatkan doa tentang keinginan dan cita-citaku tak lupa berdoa agar Yura ada disini utuk menemaniku setelah itu kutiup lilin.

    Kami semua berkumpul dan bercengkrama dengan akrab diiringi suara alunan gitar milik Helmi dan melantunkan lagu lagu pop yang tengah naik daun. Aku baru menyadari bahwa orangtuaku tak ada di rumah lalu segera kutanyakan pada Ayas.
    “Yas liat nyokap sama bokap gue gak?”
    “Kagak tau gue Daf lagian lo sih malam minggu pake acara molor.”
    “Lah lo pegang kunci rumah gue dong? Gimana lo bisa masuk?”
    “Buset dikira gue maling kali yaak, pintunnya kagak dikunci.”
    Ditengah debat tiba-tiba orangtuaku datang bersamaan dengan Yura yang membawa kue ulang tahun dan kado darinnya. Segera kupeluk dia.
    “Aku minta maaf yaa kalo semalem aku salah.” ucapku
    “Gak papa sayang lagian itu rencana kok hehehe maaf yaa cintaaku, aku penngen bikin sesuatu yang spesial buat kamu.” ucap Yura.
    Kami berbaikan dan setelah itu kubuka kadonnya yang ternyata adalah sebuah jaket hitam dengan garis putih.

    Minggu, 6 Desember 2015
    Tepat setahun yang lalu jaket itu diberikan oleh orang yang kucinta. Ulang tahunku kali ini juga terasa sangat hambar karena kami sudah putus sebelum UN dimulai. Kini aku berada di Semarang untuk melanjutkan studiku. Jaket hitam itu hingga kini masih setia menemaniku kemanapun aku pergi dan biarkan kenangan tentangnya hidup di dalam jaket tersebut.

    Cerpen Karangan: Bagas Kharismanto
    Facebook: Bagas Kharismanto

    Artikel Terkait

    Jaket
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email