Judul Cerpen Bermain Di Punggung Malam
“Pengusik”. begitu aku menyebutnya, sebutan untuk sosok kecil yang selalu mengusik tidur malamku, sosok bocah lelaki yang menjadikan malam adalah waktu untuk melakukan segala hal yang ia mau, tak ada teman ataupun sahabat tempat berbagi segala keluh kesah, atau hanya sekedar untuk bercerita tentang segelintir permasalahan hidup yang ia hadapi. Sekali lagi, isak tangis yang sering mengulik telingaku itu terdengar lagi dan suaranya memaksaku untuk bangun, tapi ketika kutahu itu adalah tangisannya, kututup kembali jendela kamarku dan melanjutkan tidur pulasku yang diganggu olehnya. Entah apa yang membuatnya seperti itu aku tidak pernah mengerti, setiap malam, hanya disaat malam. Ia selalu duduk di bawah pohon kelapa yang menjadi pagar antara rumahku dengan rumahnya, dengan ditemani pendaran api unggun yang ia buat sebelum ia bermain dengan ombak dan pasir pantai.
Jika kau bertanya apakah air laut terasa hangat di saat malam yang tiada matahari menyinarinya?
Mungkin dia adalah satu-satunya orang yang akan menjawab “ya”. tapi jika kau tanyakan pertanyaan yang sama padaku, maka aku akan menjawab sebaliknya. Mungkin kau akan menganggap jawabanku itu benar, karena siapa yang berani menyangkal dinginnya air laut saat malam hari? hanya dia, satu-satunya orang yang pernah kulihat begitu bahagia berendam di air laut yang dingin. bermain, tertawa, selayaknya bocah berusia 10 tahun yang sangat asyik bermain di sepenggal malam yang sepi. Begitu menderitakah ia sampai sampai wanita gila itu membuatnya menjadi gila juga? Wanita yang kerap ia panggil ibu, tapi wanita itu tak pernah menunjukkan kasih sayanng layaknya seorang ibu padanya, bahkan wanita itu selalu saja memukulinya disaat bocah kecil itu berusaha melindungi dan membelanya saat orang-orang jahat ingin melukainya.
Wanita gila itu tak lain adalah ibunya, ia terlahir dengan keadaan ibu yang sudah gila, ayahnya meninggal di saat ia berumur tujuh tahun, jika ayahnya akan pergi melaut ia akan dititipkan pada ibuku. Satu hari itu menjadi awal perpisahan ia dengan ayahnya, hari yang tragis, ayahnya tenggelam karena badai dan ombak besar, dan mayatnya ditemukan terdampar di pulau seberang, ia berpisah dengan ayahnya untuk selamanya. sepeninggal ayahnya ibuku membujuknya untuk tinggal di rumah kami tapi ia tidak pernah mau, ia lebih memilih tinggal bersama ibunya, padahal ibunya itu gila, entah apa alasannya tak ada seorangpun yang tahu.
Ibunya gila, ayahnya sudah tiada, siapa yang akan memberinya makan?, atau menyekolahkannya?
Itu mungkin adalah pertanyaan kebanyakan orang, dan pertanyaan itu ia jawab dengan pembuktian kalau ia bisa hidup sampai sekarang dan ia juga bisa membaca dan menulis seperti anak-anak sebaya dengannya yang bisa merasakan dunia sekolah.
Ia hidup dengan hasil laut, hasil yang memang sudah sepantasnya dirasakan oleh penghuni pesisir pantai lainnya, berkat hasil mencari rumput laut dan barang sesekali mengumpulkan batu-batu apung yang ia kumpulkan dari pantai sudah cukup untuk biaya makan ia dan ibunya.
Lalu bagaimana ia bisa membaca dan menulis? mengikuti sekolah PBH sudah sangat luar biasa baginya, sebuah sekoah yang dibuka untuk orang-orang tua yang belum bisa membaca dan menulis, tapi ia tidak malu untuk ikut belajar di sekolah itu, meskipun ia bukan orang tua, P.B.H singkatan dari Pemberantas Buta Huruf. begitulah sedikit perjalanan hidup si pengusik malam. tapi satu pertanyaanku itu belum kutemui jawabannya, satu pertanyaan kenapa ia berteman dan bermain dengan malam, hanya malam yang menjadi sahabat terbaiknya. sampai jawabannya kutemukan di suatu malam yang tak seperti malam-malam biasanya. malam itu aku terbangun, lagi-lagi karena dia, tapi kali ini isak tangisnya yang bersahutan dengan celotehan burung-burung yang menghuni pohon kelapa terdengar sangat menyedihkan, apakah burung-burung itu sedang mencibirnya? karena ia selalu saja menjadi pengusik malam yang tenang? entahlah. tapi malam itu aku sangat ingin menemuinya. baru kali ini kulihat pengusik itu terlihat begitu menyedihkan, dan di sanalah kutemukan jawabannya, kucoba hampiri kawan yang lebih muda tiga tahun dariku itu, “lelaki cengeng” sindiran nakal yang sering ia lontarkan untuk mengejekku, karena aku satu-satunya lelaki yang paling sering ia lihat menangis hanya karena hal-hal sepele, tak jarang sindirannya itu membuatku jengkel, tapi malam ini di bawah pohon kelapa tempatnya duduk ku mulai berbincang dengannya, mencoba untuk memahaminya, dan kutanyakan semua pertanyaan-pertanyaan tentang keanehannya yang selama ini mengganggu pikiranku. dimulai dari berendam di air laut malam yang dingin, dan kebiasaannya yang selalu menangis di bawah pohon kelapa pagar kami. dan kau tahu jawabannya apa?
“Semuanya demi ibuku”. Sebaris kalimat sensitif itu mengundang air mata cengengku, suasana haru-biru pun menemaniku mendengar kelanjutan jawaban darinya. berendam di air laut malam membuat kantuknya hilang dan mengobati luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya. menghilangkan rasa kantuk dan meredam sedikit rasa sakit membantunya lebih khusuk berdoa kepada tuhan dalam shalatnya di ambang antara malam dan subuh. demi kebaikan ibunya, hanya demi ibunya. tangisannya di bawah pohon kelapa itu karena menahan perih luka dari ibunya yang acap kali mengamuk tanpa alasan yang jelas. begitu jelasnya padaku.
Mulai malam itu aku menjadi teman berbagi keluh kesahnya di setiap malam di bawah rindangnya pohon kelapa. dan seiring berjalannya waktu bocah itu beranjak remaja, saat usianya lima belas tahun ibunya meninggal, dan sepeninggal ibunya, tak pernah lagi kulihat aktifitas malam yang sering ia lakukan, sampai suatu saat kutanyakan padanya. “kenapa kau berhenti bermain? apa kau sudah tidak mengantuk lagi?”
Ia tersenyum, tapi matanya tak bisa menyembunyikan rasa sedih karena kehilangan ibunya. dengan suara lemah tertahan ia berikan jawabannya. “permainan itu membuang banyak waktuku, air wudhu saja sudah cukup membuatku terjaga, dan akan lebih banyak waktu untukku berdoa pada tuhan, agar Dia menyayangi ibuku”.
Setiap malam kubuka jendela hanya untuk melihat laut, laut yang membuatku mengingat semua kata-kata tentang pahit getir hidupnya yang selalu ia bagikan padaku, tentunya setelah ia usai bermain dengan sahabat malamnya, dan kisah hidupnya membuatku selalu bersyukur, kisah hidup luar biasa dari pengusik malamku.
Cerpen Karangan: Dian Pratiwi
Facebook: Dian Pratiwi
“Pengusik”. begitu aku menyebutnya, sebutan untuk sosok kecil yang selalu mengusik tidur malamku, sosok bocah lelaki yang menjadikan malam adalah waktu untuk melakukan segala hal yang ia mau, tak ada teman ataupun sahabat tempat berbagi segala keluh kesah, atau hanya sekedar untuk bercerita tentang segelintir permasalahan hidup yang ia hadapi. Sekali lagi, isak tangis yang sering mengulik telingaku itu terdengar lagi dan suaranya memaksaku untuk bangun, tapi ketika kutahu itu adalah tangisannya, kututup kembali jendela kamarku dan melanjutkan tidur pulasku yang diganggu olehnya. Entah apa yang membuatnya seperti itu aku tidak pernah mengerti, setiap malam, hanya disaat malam. Ia selalu duduk di bawah pohon kelapa yang menjadi pagar antara rumahku dengan rumahnya, dengan ditemani pendaran api unggun yang ia buat sebelum ia bermain dengan ombak dan pasir pantai.
Jika kau bertanya apakah air laut terasa hangat di saat malam yang tiada matahari menyinarinya?
Mungkin dia adalah satu-satunya orang yang akan menjawab “ya”. tapi jika kau tanyakan pertanyaan yang sama padaku, maka aku akan menjawab sebaliknya. Mungkin kau akan menganggap jawabanku itu benar, karena siapa yang berani menyangkal dinginnya air laut saat malam hari? hanya dia, satu-satunya orang yang pernah kulihat begitu bahagia berendam di air laut yang dingin. bermain, tertawa, selayaknya bocah berusia 10 tahun yang sangat asyik bermain di sepenggal malam yang sepi. Begitu menderitakah ia sampai sampai wanita gila itu membuatnya menjadi gila juga? Wanita yang kerap ia panggil ibu, tapi wanita itu tak pernah menunjukkan kasih sayanng layaknya seorang ibu padanya, bahkan wanita itu selalu saja memukulinya disaat bocah kecil itu berusaha melindungi dan membelanya saat orang-orang jahat ingin melukainya.
Wanita gila itu tak lain adalah ibunya, ia terlahir dengan keadaan ibu yang sudah gila, ayahnya meninggal di saat ia berumur tujuh tahun, jika ayahnya akan pergi melaut ia akan dititipkan pada ibuku. Satu hari itu menjadi awal perpisahan ia dengan ayahnya, hari yang tragis, ayahnya tenggelam karena badai dan ombak besar, dan mayatnya ditemukan terdampar di pulau seberang, ia berpisah dengan ayahnya untuk selamanya. sepeninggal ayahnya ibuku membujuknya untuk tinggal di rumah kami tapi ia tidak pernah mau, ia lebih memilih tinggal bersama ibunya, padahal ibunya itu gila, entah apa alasannya tak ada seorangpun yang tahu.
Ibunya gila, ayahnya sudah tiada, siapa yang akan memberinya makan?, atau menyekolahkannya?
Itu mungkin adalah pertanyaan kebanyakan orang, dan pertanyaan itu ia jawab dengan pembuktian kalau ia bisa hidup sampai sekarang dan ia juga bisa membaca dan menulis seperti anak-anak sebaya dengannya yang bisa merasakan dunia sekolah.
Ia hidup dengan hasil laut, hasil yang memang sudah sepantasnya dirasakan oleh penghuni pesisir pantai lainnya, berkat hasil mencari rumput laut dan barang sesekali mengumpulkan batu-batu apung yang ia kumpulkan dari pantai sudah cukup untuk biaya makan ia dan ibunya.
Lalu bagaimana ia bisa membaca dan menulis? mengikuti sekolah PBH sudah sangat luar biasa baginya, sebuah sekoah yang dibuka untuk orang-orang tua yang belum bisa membaca dan menulis, tapi ia tidak malu untuk ikut belajar di sekolah itu, meskipun ia bukan orang tua, P.B.H singkatan dari Pemberantas Buta Huruf. begitulah sedikit perjalanan hidup si pengusik malam. tapi satu pertanyaanku itu belum kutemui jawabannya, satu pertanyaan kenapa ia berteman dan bermain dengan malam, hanya malam yang menjadi sahabat terbaiknya. sampai jawabannya kutemukan di suatu malam yang tak seperti malam-malam biasanya. malam itu aku terbangun, lagi-lagi karena dia, tapi kali ini isak tangisnya yang bersahutan dengan celotehan burung-burung yang menghuni pohon kelapa terdengar sangat menyedihkan, apakah burung-burung itu sedang mencibirnya? karena ia selalu saja menjadi pengusik malam yang tenang? entahlah. tapi malam itu aku sangat ingin menemuinya. baru kali ini kulihat pengusik itu terlihat begitu menyedihkan, dan di sanalah kutemukan jawabannya, kucoba hampiri kawan yang lebih muda tiga tahun dariku itu, “lelaki cengeng” sindiran nakal yang sering ia lontarkan untuk mengejekku, karena aku satu-satunya lelaki yang paling sering ia lihat menangis hanya karena hal-hal sepele, tak jarang sindirannya itu membuatku jengkel, tapi malam ini di bawah pohon kelapa tempatnya duduk ku mulai berbincang dengannya, mencoba untuk memahaminya, dan kutanyakan semua pertanyaan-pertanyaan tentang keanehannya yang selama ini mengganggu pikiranku. dimulai dari berendam di air laut malam yang dingin, dan kebiasaannya yang selalu menangis di bawah pohon kelapa pagar kami. dan kau tahu jawabannya apa?
“Semuanya demi ibuku”. Sebaris kalimat sensitif itu mengundang air mata cengengku, suasana haru-biru pun menemaniku mendengar kelanjutan jawaban darinya. berendam di air laut malam membuat kantuknya hilang dan mengobati luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya. menghilangkan rasa kantuk dan meredam sedikit rasa sakit membantunya lebih khusuk berdoa kepada tuhan dalam shalatnya di ambang antara malam dan subuh. demi kebaikan ibunya, hanya demi ibunya. tangisannya di bawah pohon kelapa itu karena menahan perih luka dari ibunya yang acap kali mengamuk tanpa alasan yang jelas. begitu jelasnya padaku.
Mulai malam itu aku menjadi teman berbagi keluh kesahnya di setiap malam di bawah rindangnya pohon kelapa. dan seiring berjalannya waktu bocah itu beranjak remaja, saat usianya lima belas tahun ibunya meninggal, dan sepeninggal ibunya, tak pernah lagi kulihat aktifitas malam yang sering ia lakukan, sampai suatu saat kutanyakan padanya. “kenapa kau berhenti bermain? apa kau sudah tidak mengantuk lagi?”
Ia tersenyum, tapi matanya tak bisa menyembunyikan rasa sedih karena kehilangan ibunya. dengan suara lemah tertahan ia berikan jawabannya. “permainan itu membuang banyak waktuku, air wudhu saja sudah cukup membuatku terjaga, dan akan lebih banyak waktu untukku berdoa pada tuhan, agar Dia menyayangi ibuku”.
Setiap malam kubuka jendela hanya untuk melihat laut, laut yang membuatku mengingat semua kata-kata tentang pahit getir hidupnya yang selalu ia bagikan padaku, tentunya setelah ia usai bermain dengan sahabat malamnya, dan kisah hidupnya membuatku selalu bersyukur, kisah hidup luar biasa dari pengusik malamku.
Cerpen Karangan: Dian Pratiwi
Facebook: Dian Pratiwi
Bermain Di Punggung Malam
4/
5
Oleh
Unknown
