Hancur

Baca Juga :
    Judul Cerpen Hancur

    Kenapa mereka menyebutnya ‘patah hati’? Aku tidak mengerti. Karena yang aku rasakan sama sekali bukan patah, tapi hancur. Rasanya seperti ingin meledak berkeping-keping, atau terbakar hingga menjadi abu yang kemudian hilang diterbangkan angin.

    Mereka menyuruhku untuk menceritakannya dengan seseorang, berbagi beban akan meringankan kesusahanku. Tapi tidak ada yang bisa menyembuhkan sama sekali. Mereka hanya mendengarkan. Aku juga mendengarkan cerita yang keluar dari mulutku sendiri dan rasanya sangat memuakkan ketika aku merasakan sekaligus mendengarkan bagaimana aku menggambarkan perasaan itu sendiri.

    Aku bisa menenggak berbotol-botol minuman keras atau menelan beberapa obat penenang namun semua hanya bersifat sementara. Aku lupa hanya pada saat itu saja. Ketika aku mulai sadar dan kenangan itu kembali menghantui, rasanya jauh lebih menyakitkan. Aku berharap berlari sejauh mungkin bisa meninggalkan kenangan pahit di tempatnya terjadi. Tapi aku sadar kepahitan itu sudah tertancap teramat dalam di hatiku.

    Aku sudah coba mendatangi psikiater. Aku bahkan memohon padanya untuk menghapus ingatanku saja. Aku tidak keberatan untuk tidak mengingat siapa-siapa asalkan nama dia bisa terhapus dari memoriku. Permintaanku mengada-ada, katanya. Dokter itu tidak merasakan yang aku rasakan jadi ia tidak akan mengerti. Aku lelah mendebat orang yang tidak akan pernah mengerti.

    Aku sudah berdoa pada Tuhanku. Kata mereka hanya cara itu yang bisa membantuku sekarang. Aku kehilangan kekhusukanku saat beribadah. Karena kenangan itu berdatangan bagaikan tembakan paku pada ulu hatiku saat aku berusaha menyampaikan keluhku pada Tuhan. Aku justru semakin sakit ketika menyadari aku begitu lemah dan kehabisan akal. Tidak ada satu hal pun yang aku lakukan terasa benar.

    Seorang kenalanku mengantarku ke toko yang menjual barang-barang selundupan malam kemarin. Aku rasa aku sudah mendapatkan apa yang aku butuhkan. Dengan menulis ini, aku hanya ingin mereka tahu aku sudah pernah berusaha dengan cara lain. Aku tidak ingin mereka menganggapku sebagai manusia yang mudah menyerah.
    Aku masih mencintainya. Aku mencintainya hingga aku mati.

    Catatan ini akan kuletakkan di sebelah bantalku nanti. Juga bersama cincin yang aku belikan untuknya dulu. Aku tidak akan pernah bisa berbahagia untuk kebahagiannya. Aku tidak akan naïf. Apa yang aku lakukan semata-mata untuk diriku sendiri. Aku hanya menyelesaikan masalahku. Entah di neraka atau surga tempat kami bertemu nanti, akan kupastikan rasa sakit ini sudah hilang.



    “Kenapa dia begitu bodoh?”
    “Mengakhiri hidup hanya karena patah hati?”
    “Wanita itu membatalkan pertunangan dengannya. Setelah semua yang dia lakukan.”
    “Aku dengar wanita itu lari dengan laki-laki lain.”
    “Padahal mereka sudah bersama selama tiga tahun. Bulan depan harusnya mereka menikah.”
    “Dia meninggalkan pesan, katanya dia masih mencintai wanita itu, mencintainya hingga mati.”
    “Dia bunuh diri di kamar, membenamkan kepalanya di bantal dengan catatan dan cincin pertunangan mereka di sebelahnya.”
    “Dia juga membuat catatan di bukunya.”
    “Aku pernah bertemu dengannya di rumah sakit. Dia bertemu psikiater. Kasihan sekali.”
    “Aku juga pernah bertemu dengannya di apotik, membeli berbagai macam obat penenang.”
    “Hampir tiap malam dia mabuk di bar. Menangis dan mengamuk seperti orang gila. Menyedihkan.”
    “Dia membeli senjata itu di pasar gelap. Mungkin hanya ini cara mengakhiri penderitaannya.”
    “Mungkin.”
    “Mungkin.”
    “Mungkin.”

    Cerpen Karangan: Dhea CLP

    Artikel Terkait

    Hancur
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email