Ceritaku

Baca Juga :
    Judul Cerpen Ceritaku

    Aku menatap langit selagi kakiku melangkah perlahan-lahan. Rasanya seolah awan itu mengikuti setiap langkahku seperti waktu yang terus mengikutiku kemanapun aku pergi. Aku tahu bahwa aku tidak punya banyak waktu tersisa hanya untuk membuat semua orang bahagia. Tapi, aku pikir aku bisa membuat seseorang yang aku cintai bahagia.

    Hatiku menangis setiap melihat wajahnya yang terlelap lelah. Kerutan di wajahnya membuat aku tambah sedih kalau-kalau dia pergi sebelum aku dan aku masih belum mampu membuatnya bahagia. Aku sadar aku harus berusaha keras untuk itu, karena aku punya banyak kekurangan. Namun, ada saat-saat dimana aku ingin menyerah dengan keadaan. Keadaan yang membuatku menjadi seperti ini.

    Aku tahu betul tentang bagaimana mereka memandangku seolah aku ini hanya sampah. Aku juga ingat bagaimana dulu mereka mengataiku dan ibuku dengan segala hal buruk. Tapi, yang lebih buruknya saat itu aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Setiap hari bahkan setiap detik dihidupku selalu dibayang-bayangi mimpi buruk karena keluargaku sendiri. Tidak ada yang mengasihiku selain ibuku, tidak ada yang menemaniku selain ibuku, tidak ada yang memelukku selain ibuku, dan tidak ada yang merawatku ketika aku sakit selain ibuku.

    Bagiku tidak ada yang lebih penting daripada ibuku, bahkan aku rela mati demi dirinya meskipun aku tahu bahkan nyawaku saja tidak mungkin cukup untuk membalas semua pengorbanannya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya berjuang sendirian mengurus anak-anaknya disaat seharusnya seorang laki-laki yang menemaninya. Aku tidak tahu ayahku dimana dan aku juga tidak ingin tahu dimana dia. Untukku, dia bukanlah seorang ayah melainkan hanyalah pria pengecut yang lari dari janjinya untuk melindungi keluarganya. Aku hanya berharap jika ia mati saja, agar aku tidak harus bingung menjawab pertanyaan mengenai dirinya yang bahkan aku tidak tahu.

    Saat ini bahkan tidak ada sedikitpun rasa sakit, hanya kekhwatiran yang menyelimutiku. Aku tahu bahwa daun jatuh pun itu adalah takdir. Tapi, jika aku bisa memilih sebuah takdir, aku ingin tinggal bersama keluarga yang rukun setidaknya satu hari saja aku bisa merasakan sesuatu yang orang lain rasakan sebelum sesuatu terjadi. Aku berharap tuhan melihatku sekarang dan mengabulkan permintaanku. Tapi, mungkin itu hanyalah sebuah harapan yang tidak bisa menjadi nyata karena jikalau itu terjadi aku mungkin sudah tidak ada di sini lagi.

    Cerpen Karangan: Eka Sundari

    Artikel Terkait

    Ceritaku
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email