Dean

Baca Juga :
    Judul Cerpen Dean

    Aku suka melihatmu dari jauh, Dean…
    Memandangmu memang tidak sakit, tetapi percayalah setelah memandangmu aku sakit. Aku ingin menghampirimu, aku tidak tahu apa yang ingin aku bicarakan percayalah aku bukan pembicara baik, di benakku hanya ada satu pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab “apakah perasaanku sama dengan perasaanmu?” membahasakanmu tidak akan pernah ada habisnya tapi percayalah aku tidak pernah bosan dengan sosokmu.

    Aku menghela nafas yang panjang, ketika selesai memandangmu, itulah pekerjaanku setiap hari, duduk menunggumu di bawah pohon setelah kau muncul aku pun menikmati keindahan Tuhan tiada tara dan ketika kamu hilang di garis pandang aku pun meninggalkan tempat itu dan bergegas melanjutkan aktivitasku kembali. Aku berjalan menyusuri koridor tiba-tiba seekor kupu-kupu melebarkan sayapnya tepat di hadapanku seketika itu juga kamu muncul, menoleh ke arahku kemudian pergi tanpa meninggalkan senyum tetapi ada satu hal yang aku dapat dari pertemuan tak terduga itu “aku hanya perlu menyederhanakan kebahagiaan saja, seperti pertemuanku denganmu Dean tanpa mengharapkan apa-apa.”
    “Jika cinta adalah drama, maka Aku dan Kamu adalah pemeran utama,” Pikirku.

    Tiba-tiba seorang teman membuyarkan lamunanku
    “hei, mengapa sendiri di tempat seramai ini?” “sedang menikmati secangkir teh, dan mencampakkan diri dalam keramaian,” kataku sembari meneguk secangkir teh.
    Temanku tertawa terbahak-bahak tiba-tiba menatapku lamat-lamat, “mengapa menatapku dengan tatapan seperti itu?” tanyaku.
    Dia menghela nafas yang panjang kemudian menyandarkan diri ke sofa “bergulatlah dengan perasaanmu tetapi jangan pernah menghakimi perasaanmu,”
    “apa maksudmu?” tanyaku serius.
    “kamu, dengan sosok lelaki yang sampai sekarang tak dia sadari kehadiranmu yang setiap hari kamu berharap dia mengetahuimu.”
    Aku pun mengerti dan mampu menafsirkan ke arah mana pembicaraanku dengannya. Aku hanya tersenyum kemudian mengalihkan pandanganku ke arah jendela, kami terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.

    Pagi itu di bawah pohon yang sama dan waktu yang sama Aku menunggu, menunggu kedatanganmu. Dentang jam untuk kesekian kalinya semakin memaksaku untuk tidak berhenti memandangmu. Aku selalu berharap kamu melihatku, benar-benar melihatku dan aku sudah menyiapkan kata yang pas apabila suatu saat memang benar kamu melihatku,
    “aku mengagumimu di luar pemahaman. Selesai! dan Aku bahagia. Cukup!” kataku dalam hati.

    Tiba-tiba sosokmu muncul Dean, pagiku selalu sempurna untuk sebuah awal yang terjaga, harapanku, dan segala apapun tentangmu. Cukup dengan memandangmu, pagi ini sudah indah. Tetapi kuputuskan untuk tetap bungkam, mengingatmu hanya dalam diam karena aku sadar aku dihadapkan pada sebuah ketidakmungkinan yang takkan pernah kudapatkan meski selalu kusemogakan dalam setiap doa-doa panjang yang kupanjatkan untukmu.
    Aku suka melihatmu dari jauh, Dean…

    “Dean aku mungkin tidak bisa mengisi penuh ruang kosongmu, tetapi setidaknya aku bisa menjadi jendela untukmu, jadi ruangan itu tidak gelap lagi.”
    Pernyataan itulah yang akan Aku katakan ketika kamu benar-benar melihatku dan Aku berharap semesta akan berkonspirasi denganmu untuk benar-benar menoleh ke arahku sekali lagi kemudian tersenyum padaku Dean…

    Cerpen Karangan: Rara Rezky Setiawati
    Facebook: Rara Rezky Setiawati

    Artikel Terkait

    Dean
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email