Judul Cerpen Misteri Pencurian Permata
Rumah Pak Jupri semalam kemalingan. Pagi itu, hampir seluruh warga komplek berkumpul untuk menyaksikan rumah Pak Jupri. Sementara beberapa polisi sibuk memeriksa dan memasang garis polisi. Kejadian itu baru diketahui pagi harinya setelah Pak Jupri pulang ke rumah. Pak Jupri adalah seorang pengusaha, sering pergi ke luar kota. Istrinya sudah meninggal dan anak-anaknya sudah dewasa dan tinggal di daerah lain. Rumahnya sering ditinggal tak berpenghuni.
Johan yang kebetulan akan berangkat ke sekolah juga mampir sebentar untuk ikut melihat kejadian itu. Kaca depan rumah Pak Jupri pecah, dan pintu depannya dicongkel. Dari pembicaraan orang-orang disitu Johan mendengar bahwa Pak Jupri kehilangan beberapa koleksi batu permatanya dan uang di dalam amplop yang dia simpan di dalam laci.
Di sekolah Johan bertemu Rudi. “Kamu sudah tahu belum Jo. Rumah Pak Jupri kemalingan?” Tanya Rudi.
“Iya, tadi aku juga mampir melihat keadaan rumah itu.” Jawab Johan.
Jam pelajaran sekolah telah usai. Johan dan Rudi pulang bersama. Di jalan mereka masih membicarakan tentang peristiwa pencurian rumah Pak Jupri.
“Menurutmu, siapa yang melakukan pencurian itu Jo.” Tanya Rudi kepada Johan. Johan mengerutkan kening dan tidak menjawab apa-apa.
“Kalau menurutku ada yang tidak beres Rud. Sepertinya ada yang janggal dari peristiwa itu. Tapi aku tidak tahu pasti.” Johan menjawab pelan sambil terus berpikir.
“Ah, aku suka kalau kamu sedang berpikir seperti ini. Kamu memang memiliki bakat jadi detektif. Hehehe..” Rudi tersenyum. Mereka bercanda di sepanjang jalan pulang.
Ketika sampai di depan rumah Pak Jupri, Johan melihat seorang polisi sedang berdiri mengamati Rumah Pak Jupri dari seberang jalan.
“Siang pak. Bagaimana perkembangan kasusnya pak?” Tanya Johan sambil menyapa Pak Polisi tersebut.
“Siang dik. Sudah pulang sekolah ya. Sudah mendapatkan beberapa petunjuk. Mungkin beberapa hari lagi akan dapat dipecahkan kasusnya.” Jawab Pak Polisi tersebut.
“Maaf pak. Kalau menurut saya ini bukan kasus pencurian biasa.” Johan berkata kepada Pak Polisi tersebut. Pak Polisi itu memandang tajam ke arah Johan, kemudian tersenyum sambil mengajak Johan untuk duduk sebentar di bangku di bawah pohon di tepi jalan.
“Saya Sersan Anton. Siapa namamu dik?” Tanya Pak Polisi tersebut.
“Johan pak.” Jawab Johan tegas.
“Bagaimana kamu bisa menyimpulkan ini bukan pencurian biasa?” Sersan Anton bertanya sekali lagi, tetapi kemudian radio panggil miliknya berbunyi.
“Maaf dik. Rupanya saya dipanggil ke kantor sebentar. Nanti sore kamu mau kan menemani saya lagi disini.” Sersan Anton bergegas menaiki motor dinasnya. Johan mengangguk setuju.
Sore itu Johan dan Rudi menemui Sersan Anton di depan rumah Pak Jupri. Sambil duduk-duduk di bangku di bawah pohon menunggu Sersan Anton datang, mereka sesekali bercanda.
Beberapa menit kemudian Sersan Anton datang, tetapi tidak mengenakan pakaian dinas melainkan baju biasa. Sambil tersenyum dari kejauhan Sersan Anton melambaikan tangannya.
“Sudah lama ya kalian menunggu.” Tanya Sersan Anton sambil memarkir sepeda motornya di tepi jalan.
“Kasus pencurian ini sudah selesai. Tadi siang kami sudah menangkap pelakunya. Tapi saya masih penasaran dengan kata-katamu Johan.” Sersan Anton duduk di tengah-tengah mereka.
“Wah.. cepat sekali pak memecahkan kasusnya. Siapa pelakunya pak?” Tanya Rudi.
“Nanti aku kasih tahu siapa pelakunya. Tapi aku ingin dengar dari cerita Johan dulu. Aku penasaran.” Jawab Sersan Anton dengan santai.
“Menurut saya kasus pencurian itu agak janggal Pak. Tapi saya juga belum tahu siapa pelakunya karena tidak memiliki petunjuk lain.” Jawab Johan.
“Ah. Coba kalau aku beri beberapa petunjuk, apakah kamu bisa menebak siapa pelakunya?” Tantang Sersan Anton kepada Johan. Johan tersenyum dan mengangguk.
“Oke. Saya ingin tahu pasti apa yang dicuri, dimana barang itu dicuri, dan jam berapa Pak Jupri pulang dan mengetahui pencurian itu.” Kata Johan dengan serius sambil mengeluarkan buku catatan kecil.
“Hmmm.. Baiklah. Yang dicuri adalah koleksi batu permata Pak Jupri yang bernilai ratusan juta yang berada di dalam peti brankas, kemudian segepok uang sepuluh juta di dalam amplop yang diletakan dalam laci meja di kamar Pak Jupri. Kemudian pagi sekitar jam setengah enam Pak Jupri pulang dari luar kota baru mengetahui telah terjadi pencurian di rumahnya.” Sersan Anton memberikan penjelasan.
“Tadi pagi saya melihat pintu depan rumah Pak Jupri dicongkel, dan kaca jendela di samping pintu juga dipecahkan. Disitu sudah terlihat janggal. Kalau pencuri bisa mencongkel pintu, dia tidak perlu memecahkan kaca jendela yang bisa mengeluarkan suara keras. Kemudian untuk membuka brankas berisi permata akan sangat susah kalau tidak mengetahui kodenya. Terakhir, kejadian itu tidak terjadi di malam hari. Waktu Pak Jupri meninggalkan rumahnya adalah siang hari sebelumnya dan kembali lagi keesokan harinya.” Johan mulai menganalisa dari petunjuk-petunjuk itu.
Sersan Anton terlihat manggut-manggut. Rudi hanya melongo mendengar uraian temannya.
“Oke, petunjuk pertama dan kedua mungkin benar. Tapi darimana kamu tahu kejadiannya tidak di malam hari?” Tanya Sersan Anton.
“Memecahkan kaca jendela akan terdengar jelas, karena di komplek ini sangat sepi kalau malam hari. Itu sangat beresiko mengingat Pak Umar satpam komplek disini selalu waspada kalau malam hari. Tapi Kalau sore seperti ini, banyak kendaraan lewat dan anak-anak keluar bermain. Suara kaca yang pecah akan tersamarkan.” Johan menjelaskan.
“Oke, bisa diteima. Selanjutnya setelah disimpulkan analisanya, mengarah kepada siapakah petunjuk itu?” Sersan Anton serius menanggapi penjelasan Johan.
“Petunjuk pertama, pintu dan kaca yang dirusak itu hanya pengalihan. Sebenarnya pelaku bisa dengan mudah masuk ke rumah itu. Kemudian, brankas juga mudah bagi pelaku karena memiliki kodenya. Uang di laci itu juga pengalihan. Dan terakhir pelaku tahu situasi dan kondisi lingkungan sekitar rumah itu.” Johan berhenti untuk memberi kesempatan Sersan Anton bertanya lagi.
“Aku tahu siapa pelakunya.” Rudi berkata keras dengan wajah bangga. Johan dan Sersan Anton menoleh ke arahnya.
“Pelakunya adalah Pak Jupri sendiri. Mungkin dia melakukannya untuk mendapatkan klaim asuransi.” Rudi dengan bangga tersenyum.
Johan menggelengkan kepala. Sersan Anton masih menatap penasaran kepada Johan. Rudi yang tadi terlihat bangga hanya diam dan bingung. Dia bertanya-tanya dalam hati, kalau bukan Pak Jupri siapa lagi. Semua petunjuk sudah jelas.
“Bukan Pak Jupri. Alasan mencuri barang sendiri untuk klaim asuransi juga pasti sangat rumit dan bertele-tele. Pak Jupri bukan orang yang suka bertele-tele. Kesimpulan yang saya dapatkan adalah pelaku sangat paham situasi lingkungan di komplek. Yang artinya ada dua orang yaitu satpam komplek.” Sersan Anton melongo mendengar kesimpulan Johan. Rudi semakin bingung dan tidak percaya kesimpulan Johan.
“Bagaimana kamu bisa menyimpulkannya begitu? Apakah kamu memiliki bukti yang lain.?” Tanya Sersan Anton
“Pak Umar mendapat giliran jaga malam pada saat kejadian itu. Tadi pagi saya melihatnya sekilas ketika polisi memintai keterangan darinya. Dari raut mukanya saya simpulkan Pak Umar tidak mengetahui kejadiannya. Karena memang malam hari itu tidak terjadi pencurian.” Johan menarik nafas sebentar.
“Jadi pelakunya adalah Pak Sabeni. Satpam komplek rekan Pak Umar.”
“Tunggu dulu. Darimana kamu tahu? Apakah ada bukti yang mengarah kepadanya.” Tanya rudi penasaran.
“Pada saat sore hari setelah kita pulang bermain sepak bola, kamu ingat Pak Sabeni tidak ada di pos satpam. Dan Apakah kamu melihat ada orang asing memakai jaket dan helm di atas motor tepat didepan rumah Pak Jupri?” Tanya Johan kepada Rudi.
“Ya benar. Aku ingat. Tapi aku tidak begitu memperhatikan orang asing itu. Tapi bukti itu belum cukup Jo.” Rudi masih belum yakin.
“Sepertinya itu cukup. Orang asing itu adalah anak Pak Jupri sendiri. Dia yang mengetahui kode brankasnya. Dia bertugas mengawasi keadaan di luar, sementara Pak Sabeni adalah orang yang bertugas untuk mengambil permata itu.” Sersan Anton menimpali.
“Hmmm.. Aku masih bingung.” Rudi menghela nafas.
Sore itu Pak Umar terlihat berjalan berpatroli di komplek. Dia berjalan melewati Johan, Rudi dan Sersan Anton sambil melambaikan tangan.
“Lihat dengan seksama. Tongkat kecil di pinggang Pak Umar. Waktu dia dimintai keterangan oleh polisi, dia masih mengenakannya. Padahal polisi menunjukan juga tongkat lain yang ada disitu. Dari situ polisi pasti menemukan barang bukti berupa tongkat kecil milik satpam untuk memecahkan kaca. Milik siapa lagi kalau bukan Pak Sabeni.” Johan menjelaskannya pada Rudi.
“Tepat sekali. Dan tadi siang saya buru-buru ke kantor karena anak Pak Jupri yang bersekongkol dengan Pak Sabeni telah ditangkap. Dan sekarang karena hari sudah terlalu sore, kalian harus segera pulang untuk mandi dan belajar.” Sersan Anton menutup pembicaraan mereka sambil tersenyum puas.
“Johan, Rudi, kapan-kapan saya akan meminta bantuan kalian kalau ada kasus lagi. Kalian anak-anak berbakat.” Sambil beranjak pergi, Sersan Anton menepuk kepala Johan dan Rudi.
Cerpen Karangan: Kusri Widodo
Blog: kusriwi.blogspot.co.id
Rumah Pak Jupri semalam kemalingan. Pagi itu, hampir seluruh warga komplek berkumpul untuk menyaksikan rumah Pak Jupri. Sementara beberapa polisi sibuk memeriksa dan memasang garis polisi. Kejadian itu baru diketahui pagi harinya setelah Pak Jupri pulang ke rumah. Pak Jupri adalah seorang pengusaha, sering pergi ke luar kota. Istrinya sudah meninggal dan anak-anaknya sudah dewasa dan tinggal di daerah lain. Rumahnya sering ditinggal tak berpenghuni.
Johan yang kebetulan akan berangkat ke sekolah juga mampir sebentar untuk ikut melihat kejadian itu. Kaca depan rumah Pak Jupri pecah, dan pintu depannya dicongkel. Dari pembicaraan orang-orang disitu Johan mendengar bahwa Pak Jupri kehilangan beberapa koleksi batu permatanya dan uang di dalam amplop yang dia simpan di dalam laci.
Di sekolah Johan bertemu Rudi. “Kamu sudah tahu belum Jo. Rumah Pak Jupri kemalingan?” Tanya Rudi.
“Iya, tadi aku juga mampir melihat keadaan rumah itu.” Jawab Johan.
Jam pelajaran sekolah telah usai. Johan dan Rudi pulang bersama. Di jalan mereka masih membicarakan tentang peristiwa pencurian rumah Pak Jupri.
“Menurutmu, siapa yang melakukan pencurian itu Jo.” Tanya Rudi kepada Johan. Johan mengerutkan kening dan tidak menjawab apa-apa.
“Kalau menurutku ada yang tidak beres Rud. Sepertinya ada yang janggal dari peristiwa itu. Tapi aku tidak tahu pasti.” Johan menjawab pelan sambil terus berpikir.
“Ah, aku suka kalau kamu sedang berpikir seperti ini. Kamu memang memiliki bakat jadi detektif. Hehehe..” Rudi tersenyum. Mereka bercanda di sepanjang jalan pulang.
Ketika sampai di depan rumah Pak Jupri, Johan melihat seorang polisi sedang berdiri mengamati Rumah Pak Jupri dari seberang jalan.
“Siang pak. Bagaimana perkembangan kasusnya pak?” Tanya Johan sambil menyapa Pak Polisi tersebut.
“Siang dik. Sudah pulang sekolah ya. Sudah mendapatkan beberapa petunjuk. Mungkin beberapa hari lagi akan dapat dipecahkan kasusnya.” Jawab Pak Polisi tersebut.
“Maaf pak. Kalau menurut saya ini bukan kasus pencurian biasa.” Johan berkata kepada Pak Polisi tersebut. Pak Polisi itu memandang tajam ke arah Johan, kemudian tersenyum sambil mengajak Johan untuk duduk sebentar di bangku di bawah pohon di tepi jalan.
“Saya Sersan Anton. Siapa namamu dik?” Tanya Pak Polisi tersebut.
“Johan pak.” Jawab Johan tegas.
“Bagaimana kamu bisa menyimpulkan ini bukan pencurian biasa?” Sersan Anton bertanya sekali lagi, tetapi kemudian radio panggil miliknya berbunyi.
“Maaf dik. Rupanya saya dipanggil ke kantor sebentar. Nanti sore kamu mau kan menemani saya lagi disini.” Sersan Anton bergegas menaiki motor dinasnya. Johan mengangguk setuju.
Sore itu Johan dan Rudi menemui Sersan Anton di depan rumah Pak Jupri. Sambil duduk-duduk di bangku di bawah pohon menunggu Sersan Anton datang, mereka sesekali bercanda.
Beberapa menit kemudian Sersan Anton datang, tetapi tidak mengenakan pakaian dinas melainkan baju biasa. Sambil tersenyum dari kejauhan Sersan Anton melambaikan tangannya.
“Sudah lama ya kalian menunggu.” Tanya Sersan Anton sambil memarkir sepeda motornya di tepi jalan.
“Kasus pencurian ini sudah selesai. Tadi siang kami sudah menangkap pelakunya. Tapi saya masih penasaran dengan kata-katamu Johan.” Sersan Anton duduk di tengah-tengah mereka.
“Wah.. cepat sekali pak memecahkan kasusnya. Siapa pelakunya pak?” Tanya Rudi.
“Nanti aku kasih tahu siapa pelakunya. Tapi aku ingin dengar dari cerita Johan dulu. Aku penasaran.” Jawab Sersan Anton dengan santai.
“Menurut saya kasus pencurian itu agak janggal Pak. Tapi saya juga belum tahu siapa pelakunya karena tidak memiliki petunjuk lain.” Jawab Johan.
“Ah. Coba kalau aku beri beberapa petunjuk, apakah kamu bisa menebak siapa pelakunya?” Tantang Sersan Anton kepada Johan. Johan tersenyum dan mengangguk.
“Oke. Saya ingin tahu pasti apa yang dicuri, dimana barang itu dicuri, dan jam berapa Pak Jupri pulang dan mengetahui pencurian itu.” Kata Johan dengan serius sambil mengeluarkan buku catatan kecil.
“Hmmm.. Baiklah. Yang dicuri adalah koleksi batu permata Pak Jupri yang bernilai ratusan juta yang berada di dalam peti brankas, kemudian segepok uang sepuluh juta di dalam amplop yang diletakan dalam laci meja di kamar Pak Jupri. Kemudian pagi sekitar jam setengah enam Pak Jupri pulang dari luar kota baru mengetahui telah terjadi pencurian di rumahnya.” Sersan Anton memberikan penjelasan.
“Tadi pagi saya melihat pintu depan rumah Pak Jupri dicongkel, dan kaca jendela di samping pintu juga dipecahkan. Disitu sudah terlihat janggal. Kalau pencuri bisa mencongkel pintu, dia tidak perlu memecahkan kaca jendela yang bisa mengeluarkan suara keras. Kemudian untuk membuka brankas berisi permata akan sangat susah kalau tidak mengetahui kodenya. Terakhir, kejadian itu tidak terjadi di malam hari. Waktu Pak Jupri meninggalkan rumahnya adalah siang hari sebelumnya dan kembali lagi keesokan harinya.” Johan mulai menganalisa dari petunjuk-petunjuk itu.
Sersan Anton terlihat manggut-manggut. Rudi hanya melongo mendengar uraian temannya.
“Oke, petunjuk pertama dan kedua mungkin benar. Tapi darimana kamu tahu kejadiannya tidak di malam hari?” Tanya Sersan Anton.
“Memecahkan kaca jendela akan terdengar jelas, karena di komplek ini sangat sepi kalau malam hari. Itu sangat beresiko mengingat Pak Umar satpam komplek disini selalu waspada kalau malam hari. Tapi Kalau sore seperti ini, banyak kendaraan lewat dan anak-anak keluar bermain. Suara kaca yang pecah akan tersamarkan.” Johan menjelaskan.
“Oke, bisa diteima. Selanjutnya setelah disimpulkan analisanya, mengarah kepada siapakah petunjuk itu?” Sersan Anton serius menanggapi penjelasan Johan.
“Petunjuk pertama, pintu dan kaca yang dirusak itu hanya pengalihan. Sebenarnya pelaku bisa dengan mudah masuk ke rumah itu. Kemudian, brankas juga mudah bagi pelaku karena memiliki kodenya. Uang di laci itu juga pengalihan. Dan terakhir pelaku tahu situasi dan kondisi lingkungan sekitar rumah itu.” Johan berhenti untuk memberi kesempatan Sersan Anton bertanya lagi.
“Aku tahu siapa pelakunya.” Rudi berkata keras dengan wajah bangga. Johan dan Sersan Anton menoleh ke arahnya.
“Pelakunya adalah Pak Jupri sendiri. Mungkin dia melakukannya untuk mendapatkan klaim asuransi.” Rudi dengan bangga tersenyum.
Johan menggelengkan kepala. Sersan Anton masih menatap penasaran kepada Johan. Rudi yang tadi terlihat bangga hanya diam dan bingung. Dia bertanya-tanya dalam hati, kalau bukan Pak Jupri siapa lagi. Semua petunjuk sudah jelas.
“Bukan Pak Jupri. Alasan mencuri barang sendiri untuk klaim asuransi juga pasti sangat rumit dan bertele-tele. Pak Jupri bukan orang yang suka bertele-tele. Kesimpulan yang saya dapatkan adalah pelaku sangat paham situasi lingkungan di komplek. Yang artinya ada dua orang yaitu satpam komplek.” Sersan Anton melongo mendengar kesimpulan Johan. Rudi semakin bingung dan tidak percaya kesimpulan Johan.
“Bagaimana kamu bisa menyimpulkannya begitu? Apakah kamu memiliki bukti yang lain.?” Tanya Sersan Anton
“Pak Umar mendapat giliran jaga malam pada saat kejadian itu. Tadi pagi saya melihatnya sekilas ketika polisi memintai keterangan darinya. Dari raut mukanya saya simpulkan Pak Umar tidak mengetahui kejadiannya. Karena memang malam hari itu tidak terjadi pencurian.” Johan menarik nafas sebentar.
“Jadi pelakunya adalah Pak Sabeni. Satpam komplek rekan Pak Umar.”
“Tunggu dulu. Darimana kamu tahu? Apakah ada bukti yang mengarah kepadanya.” Tanya rudi penasaran.
“Pada saat sore hari setelah kita pulang bermain sepak bola, kamu ingat Pak Sabeni tidak ada di pos satpam. Dan Apakah kamu melihat ada orang asing memakai jaket dan helm di atas motor tepat didepan rumah Pak Jupri?” Tanya Johan kepada Rudi.
“Ya benar. Aku ingat. Tapi aku tidak begitu memperhatikan orang asing itu. Tapi bukti itu belum cukup Jo.” Rudi masih belum yakin.
“Sepertinya itu cukup. Orang asing itu adalah anak Pak Jupri sendiri. Dia yang mengetahui kode brankasnya. Dia bertugas mengawasi keadaan di luar, sementara Pak Sabeni adalah orang yang bertugas untuk mengambil permata itu.” Sersan Anton menimpali.
“Hmmm.. Aku masih bingung.” Rudi menghela nafas.
Sore itu Pak Umar terlihat berjalan berpatroli di komplek. Dia berjalan melewati Johan, Rudi dan Sersan Anton sambil melambaikan tangan.
“Lihat dengan seksama. Tongkat kecil di pinggang Pak Umar. Waktu dia dimintai keterangan oleh polisi, dia masih mengenakannya. Padahal polisi menunjukan juga tongkat lain yang ada disitu. Dari situ polisi pasti menemukan barang bukti berupa tongkat kecil milik satpam untuk memecahkan kaca. Milik siapa lagi kalau bukan Pak Sabeni.” Johan menjelaskannya pada Rudi.
“Tepat sekali. Dan tadi siang saya buru-buru ke kantor karena anak Pak Jupri yang bersekongkol dengan Pak Sabeni telah ditangkap. Dan sekarang karena hari sudah terlalu sore, kalian harus segera pulang untuk mandi dan belajar.” Sersan Anton menutup pembicaraan mereka sambil tersenyum puas.
“Johan, Rudi, kapan-kapan saya akan meminta bantuan kalian kalau ada kasus lagi. Kalian anak-anak berbakat.” Sambil beranjak pergi, Sersan Anton menepuk kepala Johan dan Rudi.
Cerpen Karangan: Kusri Widodo
Blog: kusriwi.blogspot.co.id
Misteri Pencurian Permata
4/
5
Oleh
Unknown
