Judul Cerpen There Is No Chance To Back
Aku masih mengingat betul pelukan hangat serta belaian-belaian lembut yang bersarang di kepalaku. Aku masih ingat betul suara merdu yang terlantun dari bibir tipismu, suara petikan-petikan indah dawai yang mengalun dari gitar milikmu. Aku masih ingat bagaimana caramu tertawa, tersenyum.
Aku masih mengingat gelak tawa kita.
Kita.
Kau dan aku.
Kita bahagia.
Layaknya tak ada lagi pasangan yang lebih bahagia dari kita.
Hingga awal dari petaka itu datang. Saat selembar kertas berwarna perak itu membuat cairan di mataku turun mengalir. Selembar kertas yang mampu membuatku terjerembab dalam jurang yang disebut sebagai nestapa. Dengan jelas tertulis namamu bersanding dengan nama seorang wanita. Tapi bukan aku. Bukan namaku yang tertera di sana.
Aku mencoba memahami apa yang terjadi. Tapi hati ini hanya bisa meraung, meratapi semua keadaan yang tengah terjadi. Dada ini kian bergemuruh atas ketidakadilan yang Tuhan berikan. Kupejamkan mata ini, berharap ada sesuatu yang bisa membuatku bersyukur. Tapi aku terlanjur menganggap semuanya terlalu buruk, semua telah nampak tak berguna.
Layaknya roll film yang diputar, kejadian setahun yang lalu tereka dengan jelas di kepalaku. Semua masih sangat jelas. Ketika pipiku bersemu merah tatkala kau menyematkan cincin putih di jari manisku. Kala jemari panjangmu menyapu aliran anak sungai yang mengalir dari pelupuk mataku. Tapi semua kenangan indah itu justru membuatku kian terpuruk dalam kesedihan.
Entah sebenarnya apa yang sedang Tuhan rencanakan untukku. Tak satupun jawaban yang kunjung aku dapatkan. Hingga rasa kecewa, marah dan terbuang terkumpul menjadi satu dalam hati. Membentuk sebuah gumpalan yang kian lama kian membesar, membuat dadaku terasa sesak.
“Aku berjanji akan menjagamu selamanya, aku berjanji seluruh sisa hidupku akan kuhabiskan dengan berada di sisimu.”
Janjimu itu terus terngiang dalam telingaku. Sampai-sampai membuat pendengaranku terasa ngilu. Tapi tak sedikitpun ingin kulupakan janjimu itu. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah suatu hal yang bodoh. Ya, aku pun berpikir demikian. Tapi… tak ada lagi yang bisa kulakukan selain berharap bahwa suatu saat nanti kau akan menepati janjimu. Meski itu 1 tahun lagi, 2 tahun, 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun, bahkan hingga ratusan tahun nanti aku berharap janjimu akan kau penuhi. Meski dengan prosentase 0,000000000001%.
—
Deretan bangku berhias bunga-bunga putih itu kian cantik saat dua sejoli berdiri berdampingan di altar itu. Kelopak bunga berwarna-warni menjadi latar tempat mereka berdiri.
Seulas senyum terulas di bibir keduanya. Sebuah senyum yang menjadi cambuk bagiku. Rasa perih yang menjalar ke seluruh tubuh ini membuatku kaku. Aku yang terkhianati ini hanya bisa menangis, menangis, hingga kadang berteriak histeris atas perbuatan keji yang tega kau lakukan. Tapi lagi-lagi rasa ini melarang tekadku untuk membencimu. Sehingga aku hanya bisa menatapmu geram sebagai luapan kekecewaan atas apa yang telah kau perbuat.
Tapi… sesungguhnya tatapan ini hanya sebagai wujud kekesalanku karena melihatmu tersenyum bahagia di sampingnya, sebagai wujud kekesalanku karena hanya aku yang terlihat begitu terluka. Dan yang lebih parahnya, kaulah satu-satunya alasan yang membuatku seperti ini.
Dalam hati aku berteriak, membentak dengan segala rasa dan tenaga yang masih kumiliki. Kecupanmu di bibirnya mengiris hatiku yang tak lagi bisa menahan. Lagi-lagi aku kembali menangis. Tapi bukannya membuat tangisku reda, kau malah mempertontonkan romantisme percintaan yang kalian bangun. Tak sadarkah kau telah meremuk redamkan seorang gadis berhati lemah sepertiku?
Kau telah menghancurkannya menjadi bagian-bagian yang teramat sangat kecil, hingga kepingannya terserak, terbawa hembusan sang bayu. Langkah gontaiku malam itu merupakan sebuah awal dari perpisahan, perpisahan yang sebenarnya. Hingga aku yakin bahwa semua yang telah kita bangun hancur. Mungkin jika kau menatapku kau hanya akan menemukan tatapan pilu yang sarat akan kepedihan. Akan terlalu banyak luka yang kau temukan dalam mataku.
Tapi aku yakin Tuhan telah memberikan rencana yang benar. Aku yakin bahwa sedikit banyak Tuhan pasti menyelipkan makna di balik semua ini. Aku yakin, bahkan sangat yakin seiring dengan berjalannya waktu, luka yang kau torehkan akan mengering secara perlahan. Menyisihkan nanah dan darah dari luka di hatiku.
Tapi…
Aku hanya manusia. Melihatmu bahagia aku bahagia. Tapi untuk kali ini aku tak bisa. Aku tak bisa melihatmu bahagia karenanya. Separuh hatiku menangis menyadari bahwa kau baik-baik saja tanpaku.
Tapi…
Yah, hanya tapi, tapi dan tapi. Hanya kata tapi yang tersisa. Itu semua karena aku masih belum menerima jika nyatanya tak lagi ada cinta yang tersisa untukku. Namun, demi Tuhan, jika dengan merelakanmu adalah satu-satunya cara yang bisa membuatmu menuju bukit kebahagiaan, aku akan mencobanya. Meski terlampau berat, akan kucoba.
Namun, perlu kau tahu jika aku telah merelakanmu maka tak kan ada jalan lagi untukmu kembali padaku. Meski kau akan bersimpuh di hadapanku, meski kau akan meraung-raung hingga persediaan air matamu habis, aku tak akan pernah lagi bersamamu.
Tak ada kesempatan untuk kembali.
FIN
Cerpen Karangan: Dini Febri
Blog: Zircongalaxy.wordpress.com
Aku masih mengingat betul pelukan hangat serta belaian-belaian lembut yang bersarang di kepalaku. Aku masih ingat betul suara merdu yang terlantun dari bibir tipismu, suara petikan-petikan indah dawai yang mengalun dari gitar milikmu. Aku masih ingat bagaimana caramu tertawa, tersenyum.
Aku masih mengingat gelak tawa kita.
Kita.
Kau dan aku.
Kita bahagia.
Layaknya tak ada lagi pasangan yang lebih bahagia dari kita.
Hingga awal dari petaka itu datang. Saat selembar kertas berwarna perak itu membuat cairan di mataku turun mengalir. Selembar kertas yang mampu membuatku terjerembab dalam jurang yang disebut sebagai nestapa. Dengan jelas tertulis namamu bersanding dengan nama seorang wanita. Tapi bukan aku. Bukan namaku yang tertera di sana.
Aku mencoba memahami apa yang terjadi. Tapi hati ini hanya bisa meraung, meratapi semua keadaan yang tengah terjadi. Dada ini kian bergemuruh atas ketidakadilan yang Tuhan berikan. Kupejamkan mata ini, berharap ada sesuatu yang bisa membuatku bersyukur. Tapi aku terlanjur menganggap semuanya terlalu buruk, semua telah nampak tak berguna.
Layaknya roll film yang diputar, kejadian setahun yang lalu tereka dengan jelas di kepalaku. Semua masih sangat jelas. Ketika pipiku bersemu merah tatkala kau menyematkan cincin putih di jari manisku. Kala jemari panjangmu menyapu aliran anak sungai yang mengalir dari pelupuk mataku. Tapi semua kenangan indah itu justru membuatku kian terpuruk dalam kesedihan.
Entah sebenarnya apa yang sedang Tuhan rencanakan untukku. Tak satupun jawaban yang kunjung aku dapatkan. Hingga rasa kecewa, marah dan terbuang terkumpul menjadi satu dalam hati. Membentuk sebuah gumpalan yang kian lama kian membesar, membuat dadaku terasa sesak.
“Aku berjanji akan menjagamu selamanya, aku berjanji seluruh sisa hidupku akan kuhabiskan dengan berada di sisimu.”
Janjimu itu terus terngiang dalam telingaku. Sampai-sampai membuat pendengaranku terasa ngilu. Tapi tak sedikitpun ingin kulupakan janjimu itu. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah suatu hal yang bodoh. Ya, aku pun berpikir demikian. Tapi… tak ada lagi yang bisa kulakukan selain berharap bahwa suatu saat nanti kau akan menepati janjimu. Meski itu 1 tahun lagi, 2 tahun, 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun, bahkan hingga ratusan tahun nanti aku berharap janjimu akan kau penuhi. Meski dengan prosentase 0,000000000001%.
—
Deretan bangku berhias bunga-bunga putih itu kian cantik saat dua sejoli berdiri berdampingan di altar itu. Kelopak bunga berwarna-warni menjadi latar tempat mereka berdiri.
Seulas senyum terulas di bibir keduanya. Sebuah senyum yang menjadi cambuk bagiku. Rasa perih yang menjalar ke seluruh tubuh ini membuatku kaku. Aku yang terkhianati ini hanya bisa menangis, menangis, hingga kadang berteriak histeris atas perbuatan keji yang tega kau lakukan. Tapi lagi-lagi rasa ini melarang tekadku untuk membencimu. Sehingga aku hanya bisa menatapmu geram sebagai luapan kekecewaan atas apa yang telah kau perbuat.
Tapi… sesungguhnya tatapan ini hanya sebagai wujud kekesalanku karena melihatmu tersenyum bahagia di sampingnya, sebagai wujud kekesalanku karena hanya aku yang terlihat begitu terluka. Dan yang lebih parahnya, kaulah satu-satunya alasan yang membuatku seperti ini.
Dalam hati aku berteriak, membentak dengan segala rasa dan tenaga yang masih kumiliki. Kecupanmu di bibirnya mengiris hatiku yang tak lagi bisa menahan. Lagi-lagi aku kembali menangis. Tapi bukannya membuat tangisku reda, kau malah mempertontonkan romantisme percintaan yang kalian bangun. Tak sadarkah kau telah meremuk redamkan seorang gadis berhati lemah sepertiku?
Kau telah menghancurkannya menjadi bagian-bagian yang teramat sangat kecil, hingga kepingannya terserak, terbawa hembusan sang bayu. Langkah gontaiku malam itu merupakan sebuah awal dari perpisahan, perpisahan yang sebenarnya. Hingga aku yakin bahwa semua yang telah kita bangun hancur. Mungkin jika kau menatapku kau hanya akan menemukan tatapan pilu yang sarat akan kepedihan. Akan terlalu banyak luka yang kau temukan dalam mataku.
Tapi aku yakin Tuhan telah memberikan rencana yang benar. Aku yakin bahwa sedikit banyak Tuhan pasti menyelipkan makna di balik semua ini. Aku yakin, bahkan sangat yakin seiring dengan berjalannya waktu, luka yang kau torehkan akan mengering secara perlahan. Menyisihkan nanah dan darah dari luka di hatiku.
Tapi…
Aku hanya manusia. Melihatmu bahagia aku bahagia. Tapi untuk kali ini aku tak bisa. Aku tak bisa melihatmu bahagia karenanya. Separuh hatiku menangis menyadari bahwa kau baik-baik saja tanpaku.
Tapi…
Yah, hanya tapi, tapi dan tapi. Hanya kata tapi yang tersisa. Itu semua karena aku masih belum menerima jika nyatanya tak lagi ada cinta yang tersisa untukku. Namun, demi Tuhan, jika dengan merelakanmu adalah satu-satunya cara yang bisa membuatmu menuju bukit kebahagiaan, aku akan mencobanya. Meski terlampau berat, akan kucoba.
Namun, perlu kau tahu jika aku telah merelakanmu maka tak kan ada jalan lagi untukmu kembali padaku. Meski kau akan bersimpuh di hadapanku, meski kau akan meraung-raung hingga persediaan air matamu habis, aku tak akan pernah lagi bersamamu.
Tak ada kesempatan untuk kembali.
FIN
Cerpen Karangan: Dini Febri
Blog: Zircongalaxy.wordpress.com
There Is No Chance To Back
4/
5
Oleh
Unknown
