Maafkan Aku Ina

Baca Juga :
    Judul Cerpen Maafkan Aku Ina

    Aku kembali melewati jalan itu, jalan yang sudah kulalui selama sepuluh hari.

    Tiga hari yang lalu, sepulang sekolah Aku melihat Seorang Anak Perempuan yang berusia kira-kira sepuluh tahun tengah duduk di depan Rumah yang berpagar kawat. Ia tampak lusuh, wajahnya begitu mengiba.

    Hari ini Sepulang sekolah Aku memberanikan diri mendekati Rumah Besar itu dan memberikan Kue yang Aku beli di Kantin Sekolah tadi pagi.
    Dengan Ragu-ragu Ia mengambil Kue itu dan memakannya, selesai makan kue itu dengan suara bergetar Ia mengucapkan terima-kasih. Dengan hati-hati Aku bertanya padanya “Adek ini siapa namanya dan kenapa kakak lihat selalu berada di balik pagar ini?” tanyaku penasaran.
    Setengah berbisik ia menjawab “Namaku Inaya Kak, Aku tinggal disini. Rumah itu milik Tuan Mister dan Nyonya Misis” jawabnya lugu.
    “Siapa Mereka Dek?” Ia diam sejenak lalu katanya, “Mereka itu Majikan Orangtuaku, Sejak Kedua Orangtuaku meninggal Disinilah Aku Tingal” katanya sedih.

    Aku pulang ke rumah dengan perasaan yang berkecamuk, setibanya di rumah Kuceritakan semuanya pada Mama dan Papaku juga keinginanku untuk menjadikannya saudaraku. Aku telah berjanji pada Ina akan menbawanya pergi dari tempat itu dan ternyata jawaban kedua orangtuaku sama, “Tika Sayang, jika kamu memang berniat mengambil Anak itu Mama dan Papa tidak keberatan, lagian Tika kan sering kesepian di rumah gak ada Teman” Senangnya hatiku ternyata mereka menyetujui keinginan putri Tunggal mereka ini.

    Keesokan Harinya Mama dan Papa menemaniku untuk menemui Pemilik Rumah Mewah itu.
    Sesampainya disana Tidak kulihat lagi Ina duduk di balik Pagar itu dan betapa terkejutnya kami melihat ada bercak darah yang berceceran di sekitar tempat Ina biasanya duduk. Papaku memencet Bel Rumah itu tapi tidak ada jawaban. Tiba-tiba ada Seorang Perempuan mendekati kami, “Maaf, Kalian ini Siapa ya?” Tanyanya penuh selidik. Papaku pun menceritakan maksud dan tujuan kami datang kesitu, tapi apa jawaban yang kami terima sungguh diluar dugaan. Ibu itu menceritakan sebuah kejadian yang tidak bisa Aku terima, Katanya semalam sang pemilik Rumah yang berkebangsaan Belanda itu Menyiksa Ina, Ia diseret dibanting bahkan dicambuk berkali-kali, warga yang melihat hanya diam saja karena kalau ada yang membantu akan bernasib sama seperti Ina. “Maafkan kami Pak, sungguh kami warga disini tidak bisa berbuat apa-apa, Penyiksaan yang kami tidak tau sebabnya itu sering mereka lakukan bahkan hampir tiap malam itu terjadi, tetapi tadi malam adalah puncak bahkan mungkin akhir dari penderitaan Gadis kecil itu. Warga sudah melaporkan kejadian itu tapi sampai sekarang Polisi belum menemukan Pelaku dan Tubuh Gadis itu” jelasnya panjang lebar.

    Tiba-tiba tubuhku terasa lemah Aku pun tejatuh ke tanah Papa memeluk dan menenangkan hatiku, Aku menangis sejadi-jadinya betapa tidak, harapanku untuk menolong Ina hancur berantakan. masih kuingat tatapan sendunya, Senyum manis dan kata-kata lembutnya juga sentuhan yang sempat aku rasakan masih berbekas di hatiku.
    “Kudoakan Selalu untukmu Ina, Dimanapun Engkau berada semoga Tuhan menunjukan jalan yang Terbaik Untukmu, Saat Dirimu ditemukan dalam keadaan apapun, jika kau masih diberi kesempatan untuk hidup, akan kurawat Dirimu tetapi jika tidak akan kutempatkan Kau di tempat yang Seharusnya. Dan Apapun yang terjadi Kau tetaplah Saudaraku, Untuk yang terakhir kalinya kuucapkan, Maafkan Aku, Ina” Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk Ina, Kami bertiga akhirnya pulang dengan perasaan yang penuh kedukaan.

    Cerpen Karangan: Jumi Novica

    Artikel Terkait

    Maafkan Aku Ina
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email