Judul Cerpen Teka Teki Cinta Dalam Takdir Nya
“Tidak akan ibu restui!!” kata-kata yang terdengar dari ucapan ibu saat aku mulai menyebutkan namanya, nama yang selalu aku sebutkan ke ibu. “kenapa ibu tak restui hubungan aku dengannya, bu” tanya raisa. Ada alasan yang begitu kuat atas ketidak-restuain ibu dengannya.
Sesak dada ketika semua itu harus sadar kualami, ibu belum merestui hubungan aku dan Lion saat itu, padahal hubunganku telah berjalan tiga tahun dan kami ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Sore itu saat setelah tiga hari ucapan ibu kudengar, Lion tiba-tiba hadir ke rumah dengan membawa bunga mawar merah. “tok, tok, tok”, begitu aku membuka pintu terkejut melihatnya karena sejauh ucapan ibu 3 hari lalu aku tidak menghubunginya, mungkin Lion tau apa tanggapan ibu tentangnya.
“silahkan masuk Lion, ucapku mengajaknya menuju rung tamu. Aku tau jika ibu ada di dalam kamar dan menguping apa yang kami bicarakan, Lion mengatakan keseriusannya terhadapku karena Lion dan aku telah siap menikah. Tak lama ibu datang menemui Lion, aku mengira ibu akan memarahinya ternyata ibu hanya ingin bicara berdua dengannya hanya berdua ya berdua
Aku pun pergi manuju taman belakang agar aku tidak menguping pembicaraan ibu dengan Lion. Entah apa yang dibicarakan ibu dengan Lion. Aku sangat berharap ibu tidak memarahi kesungguhan Lion.
Tak lama ketika aku terus gelisah memikiran apa yang dibicarakan. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku “Oh my God ini seperti tangan ibu” ucapku dalam hati. Benar saja ibu yang menepuk pundakku dan apa yang dikatakan ibu kepadaku, ibu mengubah pikiran tentang Lion. Apa yang dibicarakan ibu saat itu menjadi ucapan yang membuat aku lega.
Mentari pagi menusuk mataku terhembus dari jendela kamarku seperti mimpi mengalami masa itu masa dimana aku merasakan keterpurukan setelah ibu tidak merestui hubungan aku dan Lion. Akhirnya dengan segala ketakutanku dan doa-doa malamku Tuhan memberikan aku restu.
Aku mengetahui sebelumnya mengapa ibu tak merestui hubungan aku dan Lion, saat di taman ibu bercerita jika aku dan Lion ibu sulit menemui aku karena aku anak perempuan tunggal yang tak mempunyai kakak dan adik, sehingga ibu nantinya akan merasa kesepian dan sangat kehilangan ketika aku menikah dengan Lion.
Lion blasteran Indonesia dan Belanda yang nantinya ketika aku telah menikah dengan Lion aku akan dibawa ke Belanda. Mungkin ini yang ibu sangat takutkan.
Hari yang kunanti tiba, hari dimana Aku dan Lion melakukan lamaran kedua pihak keluarga kami saling bertemu, hari yang sangat indah bagiku. Kami menentukan hari dimana kami akan menjadi putri dan raja.
Detik, menit, jam dan hari-hari di mana hari yang aku dan Lion akan nantikan. Rasa yang tak biasa itu benar-benar membuatku begitu tak bisa tidur membayangkan akan hadirnya setiap pagi bisa memandangnya, bisa membatkan sarapan pagi untuknya, menyiapkan baju kerjanya dan menyambutnya ketika pulang kerja. “Ah, itu yang aku bayangkan dengan Lion” renungku setiap malam.
Akhirnya hari yang aku tunggu, satu hari menjelang pernikahan kami aku mendapat telepon dari ibu Lion, mengatakan bahwa Lion tidah pulang ke rumah sejak kemarin. Sontak aku dan ibu mendengar itu langsung bingung dan air mataku tak henti-hentinya habis. “Cobaan apalagi ini, ucapku dalam doa”. Semua persiapan sudah siap bahkan undangan semua telah tersebar, catering bahkan dekorasi sudah mulai ditata.
“Kemana Lion, hingga beberapa kali aku telepon tidak aktif.” jeritku dalam hati memikirkan ini bayanganku sedikit mulai memudar tentang hari pernikahan besok. “Kring.. kring” suara telepon rumahku memanggil cepat aku mengangat dan ternyata suara Lion. “Halo Lion, Lion, kamu di mana sekarang aku khawatir kamu ingat besok hari pernikahan kita, hari yang kita tunggu, ucapku pada telepon itu”. Lion hanya berbicara “cari saja penggantiku, karena aku akan hilang besok” ucapnya seperti lemas.
“Lion, Lion apa yang kamu bicarakan Lion…” tangisku sangat deras hingga ibuku datang memelukku kencang. Aku tak tau ada apa dengan teka teki pernikahanku aku tak mengerti. Jeritku dalam hati tak selesai. Malam pun tiba hanya menghitung jam pernikahanku berlangsung.
Ibu Lion pun menginap di rumah, kami semua tidak ada yang tau teka teki pernikahan aku dan Lion. Mengapa Lion begitu tega ingin membatalkan perikahan ini padahal keluarga kami sudah sama-sama setuju dan tinggal beberapa jam lagi.
Mataku menangis hingga bengkak, hingga pagi aku tidak tidur memikirkan Lion. Akhirnya pagi hari pernikahanku tiba. Tak ada lagi tawa dan senyum dalam hatiku. Aku mulai dimake-up dan mulai memakai baju pengantin yang sudah aku siapkan dengan Lion. Keluarga tak henti-hentinya mencari keberadaan Lion aku pun begitu.
Setelah semua siap kurang dari setengah jam telepon rumahku kembali berdering, ibu mengangkat dan tiba-tiba ibu menjatuhkan telepon itu ke lantai. Semua saudara bahkan tamu yang telah hadir melihat ibu dan ibu mulai meneteskan airmata.
Aku berlari menghampiri ibu dan bertanya, “siapa bu? Lion? Siapa bu, ada apa dengan calon suamiku?” tanyaku. “Lion, Raisa, Lion, Raisa. Maafkan ibu dulu sempat tidak merestui kalian, Lion yang begitu mencintaimu walau kalian berbeda negara kesungguhannya menikahimu cukup besar, Lion saat ini sedang di rumah sakit dan hari ini Lion akan dioperasi” ucap ibu padaku.
“Tidak ibu, tidak, hari ini hari pernikahanku, hari ini hari bahagiaku, ada apa dengan Lion” jeritku sambil tangiis. “Liooon, I Love You..” tangis tak henti. Sembari kebaya telah menghiasi tubuhku. Tak lama keluarga Lion tiba dan mengetahui hal itu bahwa Lion akan dioperasi karena ternyata Lion mempunyai penyakit yang begitu mematikan dan tidak ada yang mengetahui hal itu aku hingga keluarga besarnya.
“Ya Tuhan, ada apa dengan hari bahagiaku, ada apa dengan Lionku” tangisku tak henti-henti. Bagaimanapun pernikkahan akan tetap berjalan aku tak akan mau menikah kecuali hanya pada Lion.
Keluarga aku dan Lion beserta tamu udangan hingga penghulu ikut ke rumah sakit. Tak henti dari semalam air mataku mengalir hingga mataku terasa bengkak.
Tiba di rumah sakit aku langsung berlari menuju kamar dimana Lion dirawat. Lion terlihat lesu tetapi senyumnya tak lepas melihatku yang telah memakai kebaya pernikahan. Aku menggenggam tanganya erat hingga airmataku menetes.
Dokter, karyawan rumah sakit, keluarga dan tamu undangan semua meneteskan air mata melihat kisah aku dan Lion. Tepat lima menit Lion akan segera dioperasi karena penyakitnya, penyakit tumor yang telah merambah ke otaknya. “Lion, aku cinta kamu Lion, kamu kuat kamu bisa melalui operasi ini dan kita akan menikah”, pesanku sebelum Lion dimasukan ke ruang operasi, kukecup keningnya hingga semua yang menyaksikan ikut medoakan kami.
Operasi Lion Berlangsung
Tak henti aku terus berdoa mendoakan Lion, semua berdoa. “Raisa, raisa” panggil dokter memanggil namaku. Aku lekas lari menghampiri, ternyata operasi telah selesai Lion terus mengucap namaku. “Ada apa Lion, bicara padaku”, tanyaku padanya. “Raisa, aku telah lemah aku tak sanggup melihatmu sedih, aku tak bisa melihatmu meneteskan air mata, lepaskan aku akad ini akan berjalan tapi aku tak bisa bertahan” ucapnya padaku dengan nada terputus-putus. Tangisku semakin meledak, semua orang datang ke ruang operasi hingga penghulu pun akhirnya memutuskan untuk menikahkan kami di ruang operasi.
Tangisanku makin membesar tak tahan melihat ucapan Lion terputus mengucapkan akad itu akad di ruang operasi semua karywan rumah sakit menyaksikan dan tamu undagan ikut hadir. Tak lama setelah mengucap akad dengan susahnya air mata Lion keluar dan mulai menyayukan matanya lalu dokter memeriksa kembali keadaanya dan “Innalillahi wa innailaihi roji’un” dokter mengucap dan mejulurkan tangannya ke muka Lion.
“Allahu akbar, Innalillahi wa innailaihi roji’un” aku diam membeku airmataku terus mengalir, jantungku terasa berhenti menyaksikan akad dan kematian Lion. “Lioooon…” jeritku, semua orang meneteskan airmata. Di sini di tempat operasi ini aku menyaksikan wajah dan senyum Lion untuk terakhir kalinya. Akhirnya pada hari itu keramaian di rumahku dan Lion meningkat karena hari itu hari dimana aku sah menjadi istri Lion dan Lion kembali kepada-Nya.
Semua itu aku tuliskan di dalam bukuku, hingga pada akhirnya nama Lion tak pernah bisa kugantikan dengan nama orang lain. Lion sosok pendiam yang tak banyak tingkah, sifatnya yang pelindung dan penyayang membuatku yakin menerima cintanya. Selama kami kenal tiga tahun sebelum kami menikah Lion tidak pernah berucap bahwa dia mempunyai penyakit, yang aku tau Lion selalu meberikan senyumannya kepadaku setiap kali kita bertemu. Tapi semua itu hanya menjadi ingatanku semua tak ada yang mengetahui arti dari jodoh dan maut. Semua sudah menjadi kehendak-Nya.
Tiap malam aku berdoa, sandingkan aku sesungguhnya dengan Lion di Surga-Nya. Karena doa ini tak pernah terputus. Selamat jalan Lion, Selamat berjumpa di alam-Nya dan Tenangkan dirimu. Bye Lionku, Bye Suamiku.
Cerpen Karangan: Isnaeni Widowati Sutoyo
Blog / Facebook: ainunaz-zahra.blogspot.com / Isnaeni Widowati Sutoyo
“Tidak akan ibu restui!!” kata-kata yang terdengar dari ucapan ibu saat aku mulai menyebutkan namanya, nama yang selalu aku sebutkan ke ibu. “kenapa ibu tak restui hubungan aku dengannya, bu” tanya raisa. Ada alasan yang begitu kuat atas ketidak-restuain ibu dengannya.
Sesak dada ketika semua itu harus sadar kualami, ibu belum merestui hubungan aku dan Lion saat itu, padahal hubunganku telah berjalan tiga tahun dan kami ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Sore itu saat setelah tiga hari ucapan ibu kudengar, Lion tiba-tiba hadir ke rumah dengan membawa bunga mawar merah. “tok, tok, tok”, begitu aku membuka pintu terkejut melihatnya karena sejauh ucapan ibu 3 hari lalu aku tidak menghubunginya, mungkin Lion tau apa tanggapan ibu tentangnya.
“silahkan masuk Lion, ucapku mengajaknya menuju rung tamu. Aku tau jika ibu ada di dalam kamar dan menguping apa yang kami bicarakan, Lion mengatakan keseriusannya terhadapku karena Lion dan aku telah siap menikah. Tak lama ibu datang menemui Lion, aku mengira ibu akan memarahinya ternyata ibu hanya ingin bicara berdua dengannya hanya berdua ya berdua
Aku pun pergi manuju taman belakang agar aku tidak menguping pembicaraan ibu dengan Lion. Entah apa yang dibicarakan ibu dengan Lion. Aku sangat berharap ibu tidak memarahi kesungguhan Lion.
Tak lama ketika aku terus gelisah memikiran apa yang dibicarakan. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku “Oh my God ini seperti tangan ibu” ucapku dalam hati. Benar saja ibu yang menepuk pundakku dan apa yang dikatakan ibu kepadaku, ibu mengubah pikiran tentang Lion. Apa yang dibicarakan ibu saat itu menjadi ucapan yang membuat aku lega.
Mentari pagi menusuk mataku terhembus dari jendela kamarku seperti mimpi mengalami masa itu masa dimana aku merasakan keterpurukan setelah ibu tidak merestui hubungan aku dan Lion. Akhirnya dengan segala ketakutanku dan doa-doa malamku Tuhan memberikan aku restu.
Aku mengetahui sebelumnya mengapa ibu tak merestui hubungan aku dan Lion, saat di taman ibu bercerita jika aku dan Lion ibu sulit menemui aku karena aku anak perempuan tunggal yang tak mempunyai kakak dan adik, sehingga ibu nantinya akan merasa kesepian dan sangat kehilangan ketika aku menikah dengan Lion.
Lion blasteran Indonesia dan Belanda yang nantinya ketika aku telah menikah dengan Lion aku akan dibawa ke Belanda. Mungkin ini yang ibu sangat takutkan.
Hari yang kunanti tiba, hari dimana Aku dan Lion melakukan lamaran kedua pihak keluarga kami saling bertemu, hari yang sangat indah bagiku. Kami menentukan hari dimana kami akan menjadi putri dan raja.
Detik, menit, jam dan hari-hari di mana hari yang aku dan Lion akan nantikan. Rasa yang tak biasa itu benar-benar membuatku begitu tak bisa tidur membayangkan akan hadirnya setiap pagi bisa memandangnya, bisa membatkan sarapan pagi untuknya, menyiapkan baju kerjanya dan menyambutnya ketika pulang kerja. “Ah, itu yang aku bayangkan dengan Lion” renungku setiap malam.
Akhirnya hari yang aku tunggu, satu hari menjelang pernikahan kami aku mendapat telepon dari ibu Lion, mengatakan bahwa Lion tidah pulang ke rumah sejak kemarin. Sontak aku dan ibu mendengar itu langsung bingung dan air mataku tak henti-hentinya habis. “Cobaan apalagi ini, ucapku dalam doa”. Semua persiapan sudah siap bahkan undangan semua telah tersebar, catering bahkan dekorasi sudah mulai ditata.
“Kemana Lion, hingga beberapa kali aku telepon tidak aktif.” jeritku dalam hati memikirkan ini bayanganku sedikit mulai memudar tentang hari pernikahan besok. “Kring.. kring” suara telepon rumahku memanggil cepat aku mengangat dan ternyata suara Lion. “Halo Lion, Lion, kamu di mana sekarang aku khawatir kamu ingat besok hari pernikahan kita, hari yang kita tunggu, ucapku pada telepon itu”. Lion hanya berbicara “cari saja penggantiku, karena aku akan hilang besok” ucapnya seperti lemas.
“Lion, Lion apa yang kamu bicarakan Lion…” tangisku sangat deras hingga ibuku datang memelukku kencang. Aku tak tau ada apa dengan teka teki pernikahanku aku tak mengerti. Jeritku dalam hati tak selesai. Malam pun tiba hanya menghitung jam pernikahanku berlangsung.
Ibu Lion pun menginap di rumah, kami semua tidak ada yang tau teka teki pernikahan aku dan Lion. Mengapa Lion begitu tega ingin membatalkan perikahan ini padahal keluarga kami sudah sama-sama setuju dan tinggal beberapa jam lagi.
Mataku menangis hingga bengkak, hingga pagi aku tidak tidur memikirkan Lion. Akhirnya pagi hari pernikahanku tiba. Tak ada lagi tawa dan senyum dalam hatiku. Aku mulai dimake-up dan mulai memakai baju pengantin yang sudah aku siapkan dengan Lion. Keluarga tak henti-hentinya mencari keberadaan Lion aku pun begitu.
Setelah semua siap kurang dari setengah jam telepon rumahku kembali berdering, ibu mengangkat dan tiba-tiba ibu menjatuhkan telepon itu ke lantai. Semua saudara bahkan tamu yang telah hadir melihat ibu dan ibu mulai meneteskan airmata.
Aku berlari menghampiri ibu dan bertanya, “siapa bu? Lion? Siapa bu, ada apa dengan calon suamiku?” tanyaku. “Lion, Raisa, Lion, Raisa. Maafkan ibu dulu sempat tidak merestui kalian, Lion yang begitu mencintaimu walau kalian berbeda negara kesungguhannya menikahimu cukup besar, Lion saat ini sedang di rumah sakit dan hari ini Lion akan dioperasi” ucap ibu padaku.
“Tidak ibu, tidak, hari ini hari pernikahanku, hari ini hari bahagiaku, ada apa dengan Lion” jeritku sambil tangiis. “Liooon, I Love You..” tangis tak henti. Sembari kebaya telah menghiasi tubuhku. Tak lama keluarga Lion tiba dan mengetahui hal itu bahwa Lion akan dioperasi karena ternyata Lion mempunyai penyakit yang begitu mematikan dan tidak ada yang mengetahui hal itu aku hingga keluarga besarnya.
“Ya Tuhan, ada apa dengan hari bahagiaku, ada apa dengan Lionku” tangisku tak henti-henti. Bagaimanapun pernikkahan akan tetap berjalan aku tak akan mau menikah kecuali hanya pada Lion.
Keluarga aku dan Lion beserta tamu udangan hingga penghulu ikut ke rumah sakit. Tak henti dari semalam air mataku mengalir hingga mataku terasa bengkak.
Tiba di rumah sakit aku langsung berlari menuju kamar dimana Lion dirawat. Lion terlihat lesu tetapi senyumnya tak lepas melihatku yang telah memakai kebaya pernikahan. Aku menggenggam tanganya erat hingga airmataku menetes.
Dokter, karyawan rumah sakit, keluarga dan tamu undangan semua meneteskan air mata melihat kisah aku dan Lion. Tepat lima menit Lion akan segera dioperasi karena penyakitnya, penyakit tumor yang telah merambah ke otaknya. “Lion, aku cinta kamu Lion, kamu kuat kamu bisa melalui operasi ini dan kita akan menikah”, pesanku sebelum Lion dimasukan ke ruang operasi, kukecup keningnya hingga semua yang menyaksikan ikut medoakan kami.
Operasi Lion Berlangsung
Tak henti aku terus berdoa mendoakan Lion, semua berdoa. “Raisa, raisa” panggil dokter memanggil namaku. Aku lekas lari menghampiri, ternyata operasi telah selesai Lion terus mengucap namaku. “Ada apa Lion, bicara padaku”, tanyaku padanya. “Raisa, aku telah lemah aku tak sanggup melihatmu sedih, aku tak bisa melihatmu meneteskan air mata, lepaskan aku akad ini akan berjalan tapi aku tak bisa bertahan” ucapnya padaku dengan nada terputus-putus. Tangisku semakin meledak, semua orang datang ke ruang operasi hingga penghulu pun akhirnya memutuskan untuk menikahkan kami di ruang operasi.
Tangisanku makin membesar tak tahan melihat ucapan Lion terputus mengucapkan akad itu akad di ruang operasi semua karywan rumah sakit menyaksikan dan tamu undagan ikut hadir. Tak lama setelah mengucap akad dengan susahnya air mata Lion keluar dan mulai menyayukan matanya lalu dokter memeriksa kembali keadaanya dan “Innalillahi wa innailaihi roji’un” dokter mengucap dan mejulurkan tangannya ke muka Lion.
“Allahu akbar, Innalillahi wa innailaihi roji’un” aku diam membeku airmataku terus mengalir, jantungku terasa berhenti menyaksikan akad dan kematian Lion. “Lioooon…” jeritku, semua orang meneteskan airmata. Di sini di tempat operasi ini aku menyaksikan wajah dan senyum Lion untuk terakhir kalinya. Akhirnya pada hari itu keramaian di rumahku dan Lion meningkat karena hari itu hari dimana aku sah menjadi istri Lion dan Lion kembali kepada-Nya.
Semua itu aku tuliskan di dalam bukuku, hingga pada akhirnya nama Lion tak pernah bisa kugantikan dengan nama orang lain. Lion sosok pendiam yang tak banyak tingkah, sifatnya yang pelindung dan penyayang membuatku yakin menerima cintanya. Selama kami kenal tiga tahun sebelum kami menikah Lion tidak pernah berucap bahwa dia mempunyai penyakit, yang aku tau Lion selalu meberikan senyumannya kepadaku setiap kali kita bertemu. Tapi semua itu hanya menjadi ingatanku semua tak ada yang mengetahui arti dari jodoh dan maut. Semua sudah menjadi kehendak-Nya.
Tiap malam aku berdoa, sandingkan aku sesungguhnya dengan Lion di Surga-Nya. Karena doa ini tak pernah terputus. Selamat jalan Lion, Selamat berjumpa di alam-Nya dan Tenangkan dirimu. Bye Lionku, Bye Suamiku.
Cerpen Karangan: Isnaeni Widowati Sutoyo
Blog / Facebook: ainunaz-zahra.blogspot.com / Isnaeni Widowati Sutoyo
Teka Teki Cinta Dalam Takdir Nya
4/
5
Oleh
Unknown
