Judul Cerpen Where Are Their Now?
Dulu, saat aku masih kelas satu SD, aku mempunyai 3 orang sahabat, yaitu Safina, Quela dan Afwa. Kami sangat dekat dan sangat sering main bersama. Di kelas dua, aku masih dengan mereka, mereka yang selalu menghadirkan canda tawa di Sekolah Dasar.
Saat kami naik ke kelas tiga, aku lebih sering bersama Shafa daripada dengan ketiga sahabatku, persahabatan kami pun mulai retak. Ditambah lagi dengan perbedaan kelas, parah.
Saat kelas empat, kami berempat benar benar putus bersahabat, hancur tak tersisa. Dan aku sudah tak bisa menyatukan ini kembali.
Aku tetap ingin mempunyai sahabat. Siapapun itu. Dan aku mulai mendekati Fadilla dan Nayya. Cukup lama kami dekat, akhirnya aku memberi tahu mereka bahwa aku ingin kita bertiga menjadi sahabat.
“Teman-teman, mau gak kalau kita menjadi sahabat?” tanyaku kepada Fadilla dan Nayya.
“Hmm boleh-boleh aja,” kata Fadilla, sedangkan Nayya hanya mengangguk.
Kami memutuskan untuk membuat kelonpok persahabatan
“Apa ya namanya? Menurut kamu apa Mel?” tanya Nayya.
“Hmm, bagaimana jika FNN The Best Forever?” balasku.
“FNN apa tuh?” tanya Fadilla balik.
“Fadilla, Nayya dan Nirmala,” jawabku.
“Boleh juga Amel,” kata kedua sahabatku. Hari itu kami resmi menjadi sahabat
Oh, ya ampun! Aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Nirmala Ananda, kalian bisa memanggil aku Amel.
Sudah 3 bulan lamanya kami bersahabat. Tapi aku mulai merasa jika persahabatan kami ini tidaklah sejati. Entahlah.
“Teman-teman, bagaimana kalau kita putus persahabatan saja?” usulku. Ide yang tidak bermanfaat. Habisnya aku capai dengan tingkah laku mereka.
Tanpa kuduga, mereka langsung mengangguk mantap dan berkata ‘iya’.
Dan sejak itu persahabatan kami pun putus.
Aku gonta-ganti teman terus, sambil berdoa, semoga di kelas lima nanti aku mempunyai teman baru yang asyik
Haah?!
Seorang anak baru masuk ke kelas 5-A, kelasku yang sekarang bersama ibunya. Dia pun duduk di salah satu bangku kosong. Belum sempat aku mengambil tas, Cicha susah duluan memindahkan tasnya ke samping Adel, anak baru itu. Ya… Berarti mungkin bukan takdirku.
Esok harinya, datang lagi seorang murid baru. Perempuan lagi. Sebelum seseorang duduk di sampingnya, aku segera memindahkan tasku ke sebelahnya.
Aku berkenalan denganya. Namanya Zahra. Dia pindahan dari Bandung dan telah tiga tahun di Korea.
Dia anaknya lumayan seru. Aku dan dia selalu istirahat bareng. Dia suka menggambar di atas tanganku. Aku tak melarangnya, malah senang. Hihihi. Tapi kita harus berpisah duduk sejenak karena ulangan semester. Mending duduknya sama perempuan, lah ini dengan anak lelaki. Aku pun duduk dengan Syahrul yang sampai sekarang masih aku dan Zahra panggil ‘Botak’ dan Zahra duduk dengan Devan.
Ternyata seminggu duduk bersama anak tuyul itu memberikan efek selama setahun. Sampai sekarang (kelas enam), aku diledek mulu sama teman teman.
Tapi, saat semester kedua aku dan dia sudah tidak duduk bersama lagi. Dia sama Nayya dan aku dengan Mira. Mira sebenarnya duduk dengan Vania, tapi dia sekarang pengen duduk denganku. Sekarang, Vania pun duduk bersama Faras, anak baru yang berasal dari Padang, Sumatera Barat.
Kami mulai akrab. Bahkan sudah sangat akrab. Akhirnya, Faras yang agak kasar itu (peace Faraz!) mengajak aku, Vania dan Mira membentuk kelompok persahabatan yang bernama The Four Smart Girls, menyontek dari sebuah buku novel anak.
Sampai-sampai kami membeli gelang yang sama. Tapi Mira tulisanya “The”, Faras “Four”, Vania “Smart” sedangkan aku “Girls”.
Kami jadi sering istirahat bersama, mengerjakan tugas bersama, bermain pun bersama. Semua bertahan hingga kenaikan kelas enam.
Saat naik ke kelas enam, woah, kami terpecah belah lagi, Faras duduk dengan Nila, Vania dengan Kirana, Mira dengan Cicha, dan aku dengan Safina (again). Persahabatan kami mulai retak, tapi aku tidak mau kisah masa laluku terulang kembali. Kami berempat mencoba menyatukan itu kembali. Tapi sampai sekarang belum utuh banget.
Sekarang aku sudah duduk sama Mira, Faras masih dengan Nila, Vania juga dengan Kirana. Walaupun kami sudah membentuk 3 buah grup chat, belum terlalu utuh. Kami lebih sering mengobrol bersama teman-teman yang lain di grup VI-A Patek 32 (kelas enam A, Puspa Teknologi, dan nanti lulisan yang ke tiga puluh dua).
Itulah cerita kecilku tentang persahabatan. Teman, jika kamu punya seorang sahabat, pertahankan dia, jangan biarkan apapun menghancurkan persahabaran kalian…
Aku mendapat banyak pelajaran dari sini. Aku tidak boleh egois, yaitu demi menyatukan persahabatan TFSG, aku tidak mempedulikan Nila yang juga ingin bersahabat dengan Faras.
Sahabat
Mempunyai sahabat yang humoris dan polos itu penting, agar bisa menyunggingkan senyum di bibir kita, mempunyai sahabat yang setia dan agak kasar juga perlu unuk membela kita, dan mempunyai sahabat yang pintar serta bertanggung jawab juga butuh, untuk membimbing kita menuju masa depan yang cerah.
Aku punya mereka semua…
But…
Where are their now?
Cerpen Karangan: Narabel Qendra Kehaulani
Facebook: Indra Kristianto
Dulu, saat aku masih kelas satu SD, aku mempunyai 3 orang sahabat, yaitu Safina, Quela dan Afwa. Kami sangat dekat dan sangat sering main bersama. Di kelas dua, aku masih dengan mereka, mereka yang selalu menghadirkan canda tawa di Sekolah Dasar.
Saat kami naik ke kelas tiga, aku lebih sering bersama Shafa daripada dengan ketiga sahabatku, persahabatan kami pun mulai retak. Ditambah lagi dengan perbedaan kelas, parah.
Saat kelas empat, kami berempat benar benar putus bersahabat, hancur tak tersisa. Dan aku sudah tak bisa menyatukan ini kembali.
Aku tetap ingin mempunyai sahabat. Siapapun itu. Dan aku mulai mendekati Fadilla dan Nayya. Cukup lama kami dekat, akhirnya aku memberi tahu mereka bahwa aku ingin kita bertiga menjadi sahabat.
“Teman-teman, mau gak kalau kita menjadi sahabat?” tanyaku kepada Fadilla dan Nayya.
“Hmm boleh-boleh aja,” kata Fadilla, sedangkan Nayya hanya mengangguk.
Kami memutuskan untuk membuat kelonpok persahabatan
“Apa ya namanya? Menurut kamu apa Mel?” tanya Nayya.
“Hmm, bagaimana jika FNN The Best Forever?” balasku.
“FNN apa tuh?” tanya Fadilla balik.
“Fadilla, Nayya dan Nirmala,” jawabku.
“Boleh juga Amel,” kata kedua sahabatku. Hari itu kami resmi menjadi sahabat
Oh, ya ampun! Aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Nirmala Ananda, kalian bisa memanggil aku Amel.
Sudah 3 bulan lamanya kami bersahabat. Tapi aku mulai merasa jika persahabatan kami ini tidaklah sejati. Entahlah.
“Teman-teman, bagaimana kalau kita putus persahabatan saja?” usulku. Ide yang tidak bermanfaat. Habisnya aku capai dengan tingkah laku mereka.
Tanpa kuduga, mereka langsung mengangguk mantap dan berkata ‘iya’.
Dan sejak itu persahabatan kami pun putus.
Aku gonta-ganti teman terus, sambil berdoa, semoga di kelas lima nanti aku mempunyai teman baru yang asyik
Haah?!
Seorang anak baru masuk ke kelas 5-A, kelasku yang sekarang bersama ibunya. Dia pun duduk di salah satu bangku kosong. Belum sempat aku mengambil tas, Cicha susah duluan memindahkan tasnya ke samping Adel, anak baru itu. Ya… Berarti mungkin bukan takdirku.
Esok harinya, datang lagi seorang murid baru. Perempuan lagi. Sebelum seseorang duduk di sampingnya, aku segera memindahkan tasku ke sebelahnya.
Aku berkenalan denganya. Namanya Zahra. Dia pindahan dari Bandung dan telah tiga tahun di Korea.
Dia anaknya lumayan seru. Aku dan dia selalu istirahat bareng. Dia suka menggambar di atas tanganku. Aku tak melarangnya, malah senang. Hihihi. Tapi kita harus berpisah duduk sejenak karena ulangan semester. Mending duduknya sama perempuan, lah ini dengan anak lelaki. Aku pun duduk dengan Syahrul yang sampai sekarang masih aku dan Zahra panggil ‘Botak’ dan Zahra duduk dengan Devan.
Ternyata seminggu duduk bersama anak tuyul itu memberikan efek selama setahun. Sampai sekarang (kelas enam), aku diledek mulu sama teman teman.
Tapi, saat semester kedua aku dan dia sudah tidak duduk bersama lagi. Dia sama Nayya dan aku dengan Mira. Mira sebenarnya duduk dengan Vania, tapi dia sekarang pengen duduk denganku. Sekarang, Vania pun duduk bersama Faras, anak baru yang berasal dari Padang, Sumatera Barat.
Kami mulai akrab. Bahkan sudah sangat akrab. Akhirnya, Faras yang agak kasar itu (peace Faraz!) mengajak aku, Vania dan Mira membentuk kelompok persahabatan yang bernama The Four Smart Girls, menyontek dari sebuah buku novel anak.
Sampai-sampai kami membeli gelang yang sama. Tapi Mira tulisanya “The”, Faras “Four”, Vania “Smart” sedangkan aku “Girls”.
Kami jadi sering istirahat bersama, mengerjakan tugas bersama, bermain pun bersama. Semua bertahan hingga kenaikan kelas enam.
Saat naik ke kelas enam, woah, kami terpecah belah lagi, Faras duduk dengan Nila, Vania dengan Kirana, Mira dengan Cicha, dan aku dengan Safina (again). Persahabatan kami mulai retak, tapi aku tidak mau kisah masa laluku terulang kembali. Kami berempat mencoba menyatukan itu kembali. Tapi sampai sekarang belum utuh banget.
Sekarang aku sudah duduk sama Mira, Faras masih dengan Nila, Vania juga dengan Kirana. Walaupun kami sudah membentuk 3 buah grup chat, belum terlalu utuh. Kami lebih sering mengobrol bersama teman-teman yang lain di grup VI-A Patek 32 (kelas enam A, Puspa Teknologi, dan nanti lulisan yang ke tiga puluh dua).
Itulah cerita kecilku tentang persahabatan. Teman, jika kamu punya seorang sahabat, pertahankan dia, jangan biarkan apapun menghancurkan persahabaran kalian…
Aku mendapat banyak pelajaran dari sini. Aku tidak boleh egois, yaitu demi menyatukan persahabatan TFSG, aku tidak mempedulikan Nila yang juga ingin bersahabat dengan Faras.
Sahabat
Mempunyai sahabat yang humoris dan polos itu penting, agar bisa menyunggingkan senyum di bibir kita, mempunyai sahabat yang setia dan agak kasar juga perlu unuk membela kita, dan mempunyai sahabat yang pintar serta bertanggung jawab juga butuh, untuk membimbing kita menuju masa depan yang cerah.
Aku punya mereka semua…
But…
Where are their now?
Cerpen Karangan: Narabel Qendra Kehaulani
Facebook: Indra Kristianto
Where Are Their Now?
4/
5
Oleh
Unknown
