Showing posts with label Cerpen Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Lingkungan. Show all posts
Curahan Hati Si Pucuk Muda

Curahan Hati Si Pucuk Muda

Judul Cerpen Curahan Hati Si Pucuk Muda

Di siang hari yang terik, dengan sengatan matahari yang membuat suhu udara terasa semakin panas. Di hamparan sebuah bukit yang gundul, dulunya bukit ini sangat hijau mempunyai banyak pepohonan dan rumput hijau yang terbentang sangat luas. Tetapi kini pemandangan itu tergantikan dengan hamparan batang-batang pohon yang ditebang dan sisa-sisa pembakaran menghasilkan asap yang dapat membuat paru-paru mengeluh.

Di sudut hamparan yang gersang itu terdapat beberapa makhluk hidup yang sedang berbincang-bincang “sungguh serakah para manusia itu mereka telah mendapatkan tempat untuk hidup nyaman tetapi masih saja mengincar tepat tinggal makhluk hidup lain untuk di kuasai” ujar seekor siput. “Ya, mereka memang makhluk Tuhan yang sangat serakah, apa salah kita kepada mereka sehingga mereka menghancurkan hutan kita tercinta ini. Tidakkah mereka sadar bahwa tempat yang mereka bantai habis-habisan ini juga terdapat makhluk hidup yang mempunyai hak untuk hidup?” ujar sang belalang. “Sudahlah semua sudah terjadi kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatakan kepada mereka jangan menghancurkan tempat tinggal kita” ujar serumpun semak yang masih bertahan di daerah yang gersang itu dengan pasrah. “Ya semak benar kita tidak bisa berbuat apa-apa tetapi setidaknya kita bisa menyelamatkan diri dari kekejaman para manusia itu, sungguh malang nasibmu semak kau hanya bisa menunggu maut untuk menjemputmu di sini, sebentar lagi mereka pasti akan memusnahkan dirimu seperti pohon-pohon itu” ujar seekor burung pipit sambil melihat ke sekililing daerah yang gersang itu.

Serumpun semak itu pun tertunduk lesu, meskipun manusia tidak memusnahkan aku, pasti aku juga tidak mampu bertahan di daerah yang gersang dan panas seperti ini, batin si semak. “Apa yang sedang kau pikirakan?” tanya si belalang, “dia pasti sedang memikirkan nasib hidupnya yang tinggal sebentar lagi” ujar si burung sombong. “Apa yang kau katakan burung kau tidak boleh begitu semak juga sama nasibnya dengan kita, kita ini makhluk hidup yang terkena dampak kekejaman manusia” ujar siput, “Ya tapi setidaknya kita bisa mencari tepat tinggal baru benar kan?, tidak seperti si semak ini”. “Sudahlah jangan berdebat disaat yang seperti ini, semak dengarkan aku, meskipun kau akan segera pergi tapi yakinlah suatu saat nanti akan ada pucuk-pucuk muda yang akan menggantikanmu dan mereka akan tumbuh lebih tinggi daripada dirimu” ujar si belalang memberi semangat. Kata-kata itu ibarat sebuah mantra bagi semak dan memuat sebuah senyuman di wajahnya.

Keesokan harinya sinar matahari telah menyapa di pagi hari, menerangi bekas tempat para mekhluk hidup itu berbincang kemarin. Termasuk bekas jejak si semak yang kini hanya meninggalkan tanah yang gersang, si semak tidak terlihat lagi setelah kedatangan manusia yang menebas habis seluruh tempat tersebut kemarin sore. Tampak seekor burung yang sedang melayang-layang di udara, yang tidak lain adalah si burung pipit. Dan terdapat seekor belalang yang melompat-lompat di sepanjang tanah yang gersang sendirian, si siput telah berimigrasi bersama kelompoknya ke tempat yang jauh sejak kemarin sore. Hembusan angin sepoi-sepoi menerbangkan debu-debu di sekitar bukit sehingga membuata keadaan seperti terasa berada di gurun. Perbuatan manusia yang membuat lingkungan bukit yang dulu indah kini menjadi sebuah padang gurun yang sangat menyesakkan.

Seminggu kemudian tempat itu sangatlah sepi dan gersang tidak ada satu pun makhluk hidup yang terlihat. Seketika kemudian turunlah hujan dan menguyur bukit yang gersang itu mengembalikan kehidupan yang hilang di sana dan memberikan kehidupan baru bagi benih-benih makhluk hidup yang baru. Setelah peristiwa hujan yang menghapus debu di bukit yang gersang tersebut terapat sebuah kehidupan baru yang tumbuh dari benih-benih sisa pepohonan si sudut bukit, hari demi hari benih itu tumbuh dan semakin lama semakin besar hingga tumbuhlah sebuah pohon kecil di sana. Namun selang beberapa hari setelah tumbuh pohon kecil itu tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar sehingga sedikit demi sedikit pohon itu layu, namun dari pohon itu muncul sebuah pucuk muda yang sedang termenung dan memandangi lingkungan di sekitarnya yang gersang. Apakah aku dapat bertahan di lingkungan hidup yang bahkan tidak ada satu makhluk hidup yang tinggal batin si pucuk muda.

Tiba-tiba lewatlah di depannya seekor belalang yang sedang melompat-lompat, “hai!!” sapanya, “siapa kau, kau begitu muda tetapi kau tinggal di lingkungan seperti ini” ucap si belalang ketus. Si pucuk muda pun tertunduk lesu sambil berkata “aku baru tumbuh dari benih pohon yang ditebang itu” ujar si pucuk. “Kau tidak akan bertahan terlalu lama wahai pucuk, kau tidak akan sanggup hidup di lingkungan seperti ini, lihat saja batangmu saja sudah hampir mati” ujar si belalang, “tolong jangan bekata seperti itu belalang, aku akan merasa sangat sedih, aku juga ingin melanjutkan kehidupanku dan menjadi besar seperti pohonn-pohon yang ada di seberang sana”. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu sedih, tetapi itulah kenyataannya lihatlah sekelilingmu apakah masih ada makhluk hidup yang terlihat, tidak” “itu benar tapi aku sangat ingin hidup belalang, akankah aku tidak berhak untuk hidup?” “aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku hanya seekor belalang yang hanya bisa mencari makanan untukku bertahan hidup” “apakah kau tidak bisa membantuku atau memberi saran apa yang harus aku lakukan?” “saranku adalah sebaiknya kau berdoa pada Tuhan agar memberikanmu kesempatan untuk hidup dan tumbuh besar, berharaplah akan ada seseorang yang datang untuk menyelamatkanmu, hanya itu yang bisa kau lakukan menurutku” “oh benarakah? Jika itu memang bisa memberikanku kehidupan aku pasti akan melakukannya” ujar si pucuk muda girang, si belalang hanya terkesiap mendengar semangat dari si pucuk, lalu ia berlalu pergi, “sampai jumpa!!” ujar si pucuk sedangkan si belalang sudah berada jauh sekali.

Setelah belalang pergi si pucuk muda bersegera memanjatkan do’a kepada Sang Kuasa, “oh Tuhan lihatlah diriku yang malang ini, akankah aku dapat bertahan di lingkungan hidup yang seperti ini? jika tidak, jika aku harus mati untuk apa Engkau meberiku kehidupan Tuhan, seharusnya engkau tidak membiarkan aku tumbuh dan berkembang hingga sekarang. Oh Tuhan aku hanya ingiin hidup dan tumbuh menjadi sebuah pohon yang besar kasihanilah aku Tuhan, kasihanilah sebuah pucuk seperti diriku ini tuhan jika aku mati aku tidak tahu akankah aku dapat kesempatan untuk menjadi sebuah pucuk baru lagi, oh Tuhan berikanlah kejaibanMu kepada diriku yang malang ini aku mohon kabulkanlah keinginanku Tuhan” si pucuk muda terus berdoa hingga pagi hari.

Di pagi harinya si pucuk muda melihat matahari terbit di ufuk timur dan kembali berdoa pada Sang kuasa. Setelah beberapa lama matahari terbit muncul beberapa manusia yang kembali ke bukit itu untuk melanjutkan beberapa pekerjaan, di sebuah ranting pohon nun jauh dari bukit itu si belalang mengamati pucuk muda yang sedang menangis, “aku tidak tahu akankah keajaiban Tuhan akan muncul untuk menyelamatkan si pucuk muda itu, aku merasa kasihan sekali padanya”. Di seberang pohon tepatnya di bukit si pucuk muda menangis ketakutan melihat beberapa manusia yang membawa berbagai senjata tajam. Tentu saja manusia yang lalu lalang tersebut tidak dapat mendengar. Si pucuk kembali berdoa “oh Tuhan selamatkanlah aku”, si pucuk berteriak minta tolong ketika senjata-senjata tajam itu ingin menyentuhnya, tiba-tiba terjadi keributan yang membuat orang-orang yang memegang senjata tajam itu ditangkap oleh beberapa orang yang berseragam. Tiba-tiba seorang gadis menhampiri si pucuk muda itu dan berkata “oh, coba lihat ini ada sebuah benih pohon muda yang sedang berjuang untuk tumbuh, untung saja mereka tidak sempat menyakitinya”, lalu seornag gadis lain menyahut “oh, benarkah ya Tuhan kasihan sekali, akan kuambil gambarnya lalu kusebarakan di media masa agar orang-orang tahu bahwa tumbuhan-tumbuhan ada yang berjuang untuk hiudp juga” lalu sekejap cahaya yang menyilaukan muncul, “hei, kau kan menyakitinya!, oh kasihan sekali ihatlah batangnya yang mulai layu”. Sang pucuk merasa sangat aneh dikasihani seperti itu.
“apakah mereka manusia yang berbeda?” ujar si pucuk muda. “Akan kita apakan pohon dengan pucuk muda ini?” kata seorang gadis bertanya dengan gadis lainnya. “kita bawa saja pulang, ini pindahhkan ke dalam pot ini” “apa kau sudah gila, kita akan membuat bukit ini ditumbuhi pohon lagi bukannya memusnahkannya”, “oh ayolah lihat dia, dia tidak kan bertahan di lingkungan seperti ini, dia aka segera mati” ujar sang gadis. Mendengar itu si pucuk muda merasa sangat khawatir aku mohon tolong bawa aku pulang bersama kalian batin si pucuk, kali ini dia bukan ingin agar manusia pergi tetapi dia malah ingin mausia-manusia ini membawanya pergi. “oh kau benar kita bisa menanam pohon yang baru lagi di sini, yang lebih kuat dan tahan akan kondisi lingkungan disini, kita kan membawanya pulang dan membuatnya tumbuh besar setelah besar baru kita bawa dia kembali ke sini” ujar si gadis “aku sangat setuju dengan caramu itu, sekarang pindahkan dia ke dalam pot ini agar mudah membawanya”. Mendengar itu di pucuk muda sangat kegirangan rasanya ia sangat ingin melompat, dan ia sangat bersyukur pada Sang Kausa karena telah mengabulkan keinginannya.

Gadis itu menggali akar pohon si pucuk dan ini membuat tubuh si pucuk muda itu sangat lemah ketika sudah berada di dalam pot dan diberi air, tubuh si pucuk kembali kuat.

Setelah kejadian hari itu di bukit yang dulunya gersang dan berdebu kini sudah terdapat beberapa pohon yang mulai tumbuh tinggi, dan terlihat beberapa burung dan binatang yang berkumpul di sana. Perlahan-lahan bukit itu kembali hijau dan subur, membuat para makhluk hidup di sana merasa sangat gembira, burung-burung terbang dengan riang, belalang melompat kesana-sini dan masih banyak makhluk hidup lainnya.

Setelah beberapa bulan berlalu pohon-pohon di bukit itu menjadi tinggi dan ada beberapa yang sudah besar, tetapi masih ada yang kurang disana si pucuk muda belum kembali untuk bergabung bersama pohon-pohon di sana.

Tiba-tiba sebuah mobil di jalanan menuju bukit berhenti, lalu turun dua orang gadis yang salah satunya membawa sebuah pot berisi pohon muda, semua makhluk hidup di sana terkejut karena berita si pucuk yang hebat telah tersebar di seluruh penjuru bukit, mereka bertanya-tanya apakah itu adalah si pucuk muda yang dulu sangat gigih untuk bertahan hidup. “hei semua coba lihat siapa yang datang, apakah itu si pucuk muda yang dulu sangat gigih berjuang untuk hidup?” ujar si belalang, “kelihatannya itu dia” ujar si burung. Kedua gadis itu berbincang-bincang seperti sedang merundingkan sesuatu. “kita akan tanam dimana pohon kecil ini, dia seharusnya tidak berada di sini, seharusnya dia ada di forum penghargaan untuk mendapat penghargaan sebagai pohon terhebat” ujar sang gadis bercanda. “ha ha, kau ini bercanda saja, ayo cepat kita harus segera membawa pohon kecil ini utntuk bergabung bersama teman-temannya” “bagaimana kalau di sebelah sana saja?” tanya si gadis. “ow, tempat yang hebat ayo!!” ujar si gadis satunya lagi.

Mereka langsung bergegas menuju tempat yang telah ditetapkan dan langsung menanam pohon kecil itu, setelah menanam pohon kecil kedua gadis itu mengucapkan selamat tinggal. Setelah kedua gadis itu pergi beberapa makhluk hidup di sana berkumpul di dekat si pucuk muda tersebut, “hai apakah kau pucuk muda yang sama beberapa bulan lalu, yang dibawa oleh kedua gadis itu” ujar si belalang, “hai belalang, benar kau si pucuk muda yang sama tetapi sekarang aku telah tumbu menjadi sebuah pohon kecil dan sebentar lagi aku kan tumbuh menjadi pohon yang besar, oh terimakasih belalang aku tidak akan pernah melupakan jasamu itu berkat saranmu aku jadi seperti sekarang” ujar si pucuk muda. “ya sama-sama itu juga berkat Sang Kuasa yang telah mengabulkan doamu”. “Waah, lihat bukit ini, ini bukan bukit yang sama ketika aku lahir” ujar si pucuk muda “benar, tetapi inilah bukit tempa di mana kau dilahirkan hai pucuk muda” ujar si belalang.

Matahari terbenam seiring pembicaran mereka, para makhluk hidup di sana merasa sangat gembira dengan kembalinya lingkungan hijau yang sangat mereka cintai dulu, dan mereka berharap tidak ada lagi tangan-tangan manusia yang jahat menjamah dan menghancurkan lingkungan tercinta mereka.

SEKIAN

Cerpen Karangan: Bella Cintya
Facebook: Bella Cintya
Guardianteli

Guardianteli

Judul Cerpen Guardianteli

Dunia benar-benar kacau selama dua puluh tahun terakhir ini. Jika dilihat dari Planet Mars, maka tak ada lagi sepetak hijau yang melekat. Biru menguasai Bumi. Dua puluh tahun silam es mencair serentak, Kutub Utara dan Kutub Selatan berkolerasi, air laut pasang, menenggelamkan daratan, hanya tersisa secerca hijau yang masih pula menyisakan kehidupan bagiku dan penduduk Bumi lain yang masih bertahan.

Di Bumi sekarang ini terbagi tiga golongan besar manusia. Manusia pelindung, perusak dan manusia tak acuh yang hanya menggantungkan hidup pada nasib. Apa yang kami lindungi, rusaki atau bahkan ditak acuhkan saja? Adalah secerca hijua itu, pohon Tree Of Life. Aku adalah kaum pelindung pohon agung itu. Dengan gelar yang disematkan di belakang namaku, dengan bangga aku menyebut namaku, Ardan Guardianteli, Guardian Of ‘Tree Of Life.’

Dua hari kedepan adalah hari yang kami damba, adalah hari dimana Bumi telah mengalami 21 tahun dalam fase kerusakan fatal. Saat itulah bibit Tree Of Life yang pertama akan tumbuh, membawa harum semerbak serta harapan yang menumpuk. Bibit itu kemudian akan kami jatuhkan tepat pada titik khatulistiwa, dan akan tumbuh menjadi pulau yang baru bersama Tree Of Life yang kedua. Jadilah Bumi ini akan mendapat mahkota kedua. Begitulah yang akan terus diwarisi generasi kami, menunggu selama 21 tahun untuk memperoleh bibit baru, sampai bumi dipenuhi hijau kembali, benar-benar perjuangan.

“Hei! Itu kaum Perusak!” Ramiro berteriak keras, membuyarkan hayalanku tentang dua hari kedepan. Ia menunjuk sebelah timur samudera, terlihat buram mereka melaju kencang dengan perahu inovasi kami yang telah mereka curi. Semakin jelas wujud mereka, tiga perahu besar. Dua perahu berbendera merah, dan satunya lagi… Apa maksud Kaum Tak Acuh berbendera putih itu?

Tanpa pikir panjang, tangan kami sudah mencekal papan kayu, tombak, parang, panah, bahkan pistol bawah air yang siap menembus hati kosong mereka. Beberapa kawan lain juga sudah membimbing perahu untuk berlayar. Dengan gagah, Mento mengibarkan kain hijau. Kami siap bertugas.

Deburan ombak menjawab semangat kami, suara mesin ramah lingkungan terdengar ramah, namun tak seramah ketika bertempur melindungi pusat kehidupan yang mulai sekarat. Kami harus cepat, jarak kami dari pulau inti harus sekitar satu kilometer, tak boleh satupun bahan kimia yang boleh mencolek Tree Of Life. Rentan sekali.

Pertempuran sengit terjadi begitu saja, tanpa naskah ataupun latihan. Segera kuceburkan diriku ke dalam air, sementara yang lain bertahan beberapa menit untuk menghalau serangan, kemudian menyusul selam. Belum satu menit terbelenggu air, kaum perusak juga menyeruak permukaan air. Mereka mulai menembaki kami dengan peluru timah yang asal saja, karang-karang berhamburan, ikan-ikan melarikan diri mencari tempat lindung, benar-benar menjengkelkan mereka. Daratan sudah hancur, apa mereka juga hendak membinasakan laut? Mataku berapi, serasa hawa laut memanas. Kugerakkan kakiku dengan cepat arah vertikal, aku menjemput peluru mereka, meliuk bagai duyung, menghindar, tangan kanan memegang tombak, kuhempas tongkat mata runcing dengan beringas, tepat mengenai perut Marvent, putra Ketua Kaum Perusak.

“Bagus Guardianteli! Lakukan terus! Masih banyak dari mereka” Kapten Terre berteriak menyemangati, sudah jatuh tujuh musuh. Benar-benar sukses pertempuran kali ini. Betapa tidak, sisa dua hari lagi puncak kehidupan akan bertambah tinggi. Bibit Tree Of Life. Tak akan kami biarkan harapan itu hancur. Semakin ganas kami menyerbu, peluru-peluru mereka ditembak ganas pula, namun kami lebih terlatih, liak sana-liuk sini, mudah kami menghindar, lantas bila target sudah mengempuk, segera kami tikam, tembak atau sekadar memukul.

“Kau sudah tak bisa apa-apa lagi Tuan Perusak” ancam Kapten Terre pada Ibil, ketua Kaum Perusak. Ibil tak takut, malah sekarang tersenyum sinis di atas perahu. Ia tertawa bahak, sangat gembira terdengar.
“Dimana urat rasa kalian? Tak merasakan napas kalian tersengal sekarang?” ia menyembur pertanyaan aneh, meski memang napas kami susah terkontrol, “Dan juga tak sadar dengan raibnya kapal Kaum Tak Acuh?” ia melanjutkan.
Kami seperti tersetrum, baru menyadari keganjilan yang kami hiraukan. Kemana gerangan kapal bendera putih itu? Lalu mengapa napas kami terengah-engah seperti ini? Entah, Ibil benar-benar menanam pohon tanya pada kami.
“Tree Of Life kalian akan binasa!” Ibil bersuara tiba-tiba, segera membuncahkan rasa takut.
“Tidak mungkin!” teriak Kapten.
“Dasar bodoh, kalian pikir buat apa kami menyerang tembak saja tidak menombak atau minimal berenang ke arah kalian untuk memukul?” Ia diam, menunggu reaksi, “Kami mengulur waktu kalian. Sekarang Kaum Tak acuh dungu itu mungkin sudah setengah kerja, menyisakan setengah diameter batang Tree Of Life. Tinggal beberapa menit lagi pohon itu akan tumbang menghanguskan oksigen kalian.”
“Ah! Diam kau!” teriakku sambil membidik jantungnya, tombakku telak menembus jantungnya. Aku tersenyum jemawa melihatnya kesakitan memegang tombak yang sudah tertancap. Namun bukan darah yang mengalir keluar, kepulan asap yang bermunculan. Ia kembali tertawa, tertawa yang menjengkelkan. Dengan mudah ia menarik tombak, membuat kepulan asap bertambah pekat. Sedetik asap hilang menyisakan dada kiri yang masih utuh, hanya baju yang sobek. Kami terperangah, sihir macam apa yang dianut Ibil ini?
“Sudah kuduga sejak lama, kau adalah Iblis terkutuk!” Kapten Terre berucap pasti. Yang diteriaki memasang wajah bangga.
“Maksud Kapten?” aku memecah balon tanya. Kapten Terre tak menjawab, tetap menatap marah Ibil yang dianggapnya Iblis.
“Tak ada waktu para Pelindung! Segera kembali ke pusat Tree Of Life! Tak ada gunanya mengurusi Iblis bertubuh manusia itu”

Kapten segera berbalik badan mengunyah daun kering Pohon Kehidupan. Itu pertanda kondisi darurat. Daun kering itu sangat langka, hanya jatuh setiap satu tahun sekali dan hanya boleh digunakan pada keadaan terpaksa. Kami ikut mengunyah daun kering. Segera badan kami dipenuhi stamina. Kupijakkn kakiku pada permukaan air, lantas tanganku cepat kuayunkan ke belakang seperti hendak berlari. Maka melesatlah tubuhku seperti mengendarai ski air. Begitulah salah satu kekuatan daun kering itu, membuat kami dapat berjalan dan melesat cepat di atas air.

“Sebenarnya apa yang terjadi Kapten?” aku berhasil menyamakan posisi dengan Kapten Terre.
“Kau tau Ardan? Sudah sejak lama aku menduga kedok Ibil itu. Tidak mungkin manusia berakal ingin menghancurkan Pohon yang menyediakan mereka oksigen,” Kapten terdiam sejenak, “karena Ibil bukan manusia, dia Raja Iblis Khatulistiwa. Raja dari segala raja Iblis di dunia paceklik. Selama hidup ia terus meracuni pikiran manusia, terutama manusia Tak Acuh. Sebenarnya dulu tidak ada golongan penghancur, namun berkat ulah Ibil beserta bala tentaranya ia mencipta partai baru, Kaum Penghancur. Kaum itu adalah himpunan manusia tak acuh yang sudah menghitam hatinya, tak menyisakan titik putih karena racun goda yang sudah berlumur.”
“Lalu mengapa Ibil tidak menggoda kita saja?” aku mendaftar pertanyaan kedua.
“Karena kita adalah Guardianteli, kaum yang dekat dengan Pohon Suci yang diberkahi. Ibil tak dapat meracuni kita atau bahkan untuk sekadar meneteskan racun itu, tubuh kita otomatis melindungi. Kau pasti tidak pernah melihat Ibil mendekati kita dengan jarak satu meter bukan? Karena ia akan merasa panas bila berada lebih dekat dengan para Pelindung, bila kau memeluknya maka seutuh tubuhnya akan terbakar. Dan kau bisa lihat sediri, saat kita berbalik ia tidak mengerjar” aku tekesiap, memang Ibil tak mengejar, bahkan malah lenyap bersama asap hitam.
“Tak ada gunanya memikirkan Iblis itu. Segera percepat diri, dunia sudah diambang mati” Kapten menyudahi percakapan.
Aku mengerti, kukencangkan lagi lajuku.

Disana sudah terlihat Tree Of Life, tampak bergoyang-goyang daun rimbunnya. Aku tak dapat membayangkan kemungkinan terburuk. Manusia dapat seketika musnah begitu Pohon itu jatuh. Sepersekian menit kami tiba di pesisir pulau. Kaum Tak acuh menggerakkan kiri-kanan sebuah logam datar, mereka menggergaji batang Tree Of Life.
“Hentikan kaum bodoh!” Aku sudah berteriak lebih dulu, benar-benar membara amarahku. Namun mereka malah tak acuh denganku. Ah, benar-benar kaum tak berguna. Kapten Terre tak memperhatikan kejengkelanku, lantas turun lebih dulu menapaki tanah, segera mencekal batang tubuh mereka. Orang-orang berkulit abu-abu itu membalas dengan memutar badan dengan lincah, tampaknya mereka sudah dilatih lebih dahulu sebelum beraksi. Genggaman tangan Terre terlepas. Belum sempat mengembalikan posisi tubuh, Terre ditendang kencang ke belakang.
Hal tersebut membuat kami geram. Aku dan yang lain sudah mengangkat tombak, mengincar jantung mereka. Tombak terhempas. Sia-sia, mereka menghindar. Aduhai, obat apa yang dirasukkan dalam diri mereka. Sekarang mereka malah memungut tombak kami, lantas membelah udara dengan batang tembaga itu. Bahuku tergores, perih. Sementara Nidri, putri perkasa Kapten Terre tertusuk tepat di perutnya. Darah mengucur sudah, hatiku kian sesak.

Kaki kami terus melaju, mendekati Kaum Tak Acuh. Tak ada senjata, tak apa. Gunakan apa yang ada, walau itu hanya sengenggam udara. Perang tak dapat dibendung. Kali ini bukan pertempuran bawah laut. Baru pertama kalinya bumi ini mendapati pertempuran darat setelah hampir 21 tahun mengalami kehancuran. Benar-benar hari ini menjadi penentu.
Aku mulai tahu teknik kelahi mereka. Baik, akan kugunakan cara ini. Kuberikan kode kepada yang lain, bahasa telepati Kaum Pelindung. Mereka mengerti. Kami membiarkan mereka terus menuruti hasrat memukul. Gesit kami menghindar, seperti kadal pohon yang tetap lincah kendati pijakan pohon tiada. Lalu jika tangan kulit abu-abu itu mendekati samping telinga, segera muncul sifat ganas kami, menggigit tangan mereka, menyebarkan liur racun hasil kunyahan daun kering Pohon Kehidupan.

Mereka memundurkan langkah, mengenggam lengan mereka. Sudah terlambat, mereka akan binasa. Mereka berlutut, merunduk, seolah memeluk sakit.
“Jangan percaya Guardianteli!,” Kapten Terre berteriak tiba-tiba, sembari menghindar dari pukulan musuh lain, “itu kamuflase, mereka menjalarkan racun dari dalam tanah. Cepat ludahi tanah di sekitar kalian” Kapten memerintah. Kami mengikut saja. Terciptalah asap hitam ketika kami meludahi hamparan tanah sekitar, hampir kami mati perlahan. Itu adalah racun pamungkas Kaum Tak Acuh. Mereka dapat mengalirkan racun ke beberapa medium. Lantas mengapa racun kami tak mempan?
Belum sempat kami meretas tanya, Kaum Tak Acuh mulai menyemprotkan serbuk ungu. Racun kedua dengan medium udara. Benar-benar, Pohon Kehidupan akan bertambah sakit dengan semua bahan kimia ini. Kami hanya dapat menahan napas, dan tak henti terus melakukan penyerangan. Kami maju, namun bertarung dengan napas yang tertahan dan terengah membuat kami kewalahan. Uronas yang begitu semangat kini tumbang, serbuk itu berhasil menggerogoti pernapasannya. Satu demi satu para Pelindung jatuh merangkul harapan besar, selamatkan bumi ini.

Aku sudah tak tahan, aku mulai terbatuk lantas dijatuhi tendangan dari salah seorang musuh. Terlemparlah tubuhku. Apakah sekarang adalah giliranku? Kapten Terre tiba-tiba saja mencium kepalaku, aku tahu itu. Adalah penyaluran beberapa usia hidup. Darahku mulai menormal, suhu tubuhku mulai seimbang, dan tentu gerakanku akan lebih gesit lagi. Aku menatap Kapten Terre.
“Kenapa kau melakukannya Kapten?” kukirim telepatiku.
“Karena sesuatu hal besar ada pada dirimu” Kapten Terre tersenyum menjawab. Ia kemudian menghirup seluruh serbuk ungu itu. Kembali bening udara. Ia bejalan tersuruk mendekati Tree Of Life. Dapat kulihat jelas wajahnya. Wajah yang menampung beban yang teramat sakit. Cairan bening mengalir dari ceruk matanya. Tidak pernah ada sejarahnya Kapten Terre menangis. Kapten yang berambut hitam diselingi putih tersebut mulai membentangkan tangan, seolah memasrahkan diri. Jelas, Kaum Tak Acuh seketika berhasrat menyerang. Mereka memajukan ujung tombak dengan beringas pada tubuh Kapten, aku dan yang lain berusaha berdiri, hendak membantu, namun entah tubuh kami seperti membeku.

Tertusuk sudah tubuh Pemimpin kami, ujung-ujung tombak tampak menyembul dari tubuhnya. Aku menatap bisu, mulutku menganga kaku. Pemimpin kami dibunuh dengan ganas. Tapi kapten tak mengubah posisi, tetap membentangkan tangan. Sedetik-semenit kami dapat merasakan sakit Kapten Terre, sakit hati jikalau kehilangan satu-satunya pohon dan tentu sakit tertusuk tiga tombak dari tiga arah. Di tengah terjangan sakit, Kapten masih sempat menengok kami sambil menyemburatkan senyum simpul. Aku tak sanggup melihatnya. Lihatlah! Kapten seperti pendosa yang dihukum mati.

Entah, tiba-tiba saja cahaya seperti terbit di tubuh Kapten Terre, begitupula dengan Tree Of Life. Kaum Tak Acuh mengaduh kesakitan, teramat sakit terdengar. Sebentar sekali peristiwa itu. Tubuh anggota Kaum Tak Acuh seperti raib, tidak menyisakan bekas. Lantas cahaya itu gegas menyebar memenuhi seluruh jarak pandang kami. Silau namun menenangkan jiwa. Aku mendapat telepati, jenis telepati yang amat langka.

“Kau tahu nak, tidak sedemikian rupa aku menyalurkan setengah umurku padamu. Demikian bukan hanya usia dan energi yang tersalur, namun sekaligus darah pemimpin baru. Seharusnya pergantian pemimpin terjadi setelah munculnya benih. Tak akan ada anggota dari kaum kita yang akan dapat memimpin sebelum bibit pertama muncul. Namun ini semua di luar rencana. Dan aku melihat hal yang lebih besar darimu daripada kawanmu yang lain bahkan diriku sendiri. Maka kuberi kau darah pemimpinku, hal besar darimu itu sudah cukup untuk membantumu memimpin, maka kupilihlah dirimu wahai Ardan. Orang tua ini harus menghilangi, TAPI TETAP DI SINI.”

Habis telepati itu, cahaya menyusut cepat pada satu inti titik di tengah pulau, lantas dengan cepat kembali menyemburkan butir-butir cahaya yang indah. Membawa kedamaian dan ketenangan. Mataku basah haru, lihatlah di pusat pulau! Tree Of Life tetap menegak dengan gergaji besar dan tombak yang berserakan di sekitarnya. Tak habis pikir, perjuangan kami tidak sia-sia. Kawan lain segera menghambur saling peluk, mengacak rambut sebagai tanda kegembiraan. Tak terkecuali diriku, Mento dan Ramero melepas gembira. Kuacak keras rambut ikal Mento. Kami bersuka ria.

Di balik itu semua, keanehan masih menggantung. Kaum Tak Acuh tak menyisakan jejak walau sebatas bau amis mereka. Begitupulah Kapten Terre. Aku masih rabun fakta, apa maksudnya ‘orang tua ini harus menghilangi, tapi tetap di sini’? Apakah Kapten Terre menjelma bagian Tree Of Life yang hilang karena digesek logam raksasa? Terkaanku benar-benar luar akal.

“Kau sudah dapat telepati, Ardan?” tanya Romero yang memperbaiki rambut panjangnya, telah dililit kayu kecil oleh Mento.
“Yah, dan sepertinya kalian juga,” aku menarik napas, “Ro, aku ingin meyakini bahwa bagian Tree Of Life yang digergaji itu benar-benar adalah tubuh dan nyawa Kapten,” lanjutku. Tampak wajah Remero memaklumi.
“Tak apa kau menerka. Yang terpenting kau yakin bahwa tentu kapten akan melakukan sesuatu yang bijak. Termasuk mengangkatmu sebagai penggantinya” Romero mulai meletakkan genggaman tangan kanan di dada kiri dan tangan kirinya memeluk perut secara bersamaan. Penghormatana khas Kaum Pelindung. Kawan lain mengikut. Suasana seorang pemimpin menyergapku. Aku akan memimpin para Guardianteli dalam penangguhan bibit pertama. Kami harus menunggu 21 tahun lagi.

Kaki senja mulai menapaki Bumi, kami mengelilingi Tree Of Life. Kami berikrar akan benar-benar melindungi Pohon Kehidupan beserta nyawa Kapten Terre di dalamnya. Sore itu kami dikungkung haru. Harapan baru mulai menyala, kami rajut semangat. Duhai waktu, jalankan cepat 21 tahunmu.

Cerpen Karangan: Dahdawi Anka
Blog: dahdawi-anka.blogspot.co.id