Showing posts with label Cerpen Misteri. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Misteri. Show all posts
Nameless Circus (Part 1)

Nameless Circus (Part 1)

Judul Cerpen Nameless Circus (Part 1)

Ada sebuah kebiasaan aneh yang saudarinya, Aria, lakukan setiap bulan.

Belanja pakaian.

Oke, mungkin untuk anak perempuan, itu sangat tidak aneh. Tapi kalau untuk anak laki-laki sepertinya, jelas itu aneh. Aria memiliki kebiasaan membeli pakaian-pakaian baru di mal dekat. Kata Dad, itu wajar karena Aria sedang dalam proses pubertas. Tapi apa dia perlu membeli banyak pakaian sebanyak isi lemari kamarnya?

Belum lagi, Akira sering diminta untuk mengikuti dan menemaninya selama di sana. Sungguh, Akira sangat kebosanan dengan semua itu. Hanya datang demi membawa barang belanjaan Aria yang sangat banyak, sangat merepotkan. Akira mau saja menolak dijadikan beban tapi Aria akan menampilkan wajah tidak sukanya dan dia akan terus ‘meneror’ Akira selama beberapa hari.

“Kira, temani aku ke mal yuk! Ada baju bagus di sana.”
“Ari, ini sudah yang kesebalas kalinya kamu mengajak aku ke mal demi urusan membeli baju.”
“Tapi kali ini baju-bajunya bagus, Kira. Tolong temani aku ya! Pleaseee!”
“Kenapa kamu suka banget belanja tanpa henti? Apa kamu enggak pernah pikirkan uang Dad?”
“Itu enggak masalah. Sekarang ini aku sudah bekerja dengan Melisa jadi masalah uang enggak perlu dipikirkan lagi.”
“Kenapa kamu enggak ajak teman-temanmu saja? Kenapa harus aku?”
“Karena kalau sama yang lainnya sudah bosen. Lagi pula, kamu kan cowok. Kalau aku ajak Melisa atau Delie, mereka enggak akan kuat bawa barang-barang belanjaan.”
“Ari, aku bukan bodyguard kamu, oke?”
“Tapi tetap aja. Tolonglah, Kira. Temani aku ya!”
“Kenapa kamu selalu menyusahkanku?”
“Temani aku saja! Apa susahnya sih?”
Menyebalkan bila seandainya memiliki saudari yang keras kepala.

Aria memang punya kebiasaan menarik bila sedang berjalan-jalan. Gadis itu selalu memeriksa internet, mencari-cari pakaian yang sedang populer di kalangan remaja. Baginya, melakukan hal itu sangat penting dalam dunia berteman. Akira tidak pernah bisa memahami hal itu. Akira hanya punya dua teman saat SD, Riki dan Philip. Keduanya mungkin paham dengan maksud Aria, mengingat Riki dan Philip adalah golongan murid-murid populer di SMA Perdana Alam.

Akira memang susah bergaul. Itu salah satu kelemahannya. Entah mengapa, berada di kerumunan orang yang seumuran dengannya membuat Akira gugup, malu, dan susah berbicara. Mom dan Dad pernah mengira dia penderita Agoraphobia —ketakutan di tempat-tempat terbuka atau banyak orang— walau terbukti tidak benar. Mereka bingung kenapa Aria bisa mendapat banyak teman sementara Akira tidak. Jangankan Mom atau Dad, Akira sendiri juga masih bingung dan terheran-heran. Mungkin karena dia terlalu cerdas dan lemah dalam fisik? Bisa jadi. Riki pernah bilang kalau Akira harus pintar dalam bidang olahraga, walau sampai sekarang dia masih payah.

Saat ini Aria sedang memilah-milah harga baju di salah satu toko. Aria terlihat menikmati momen-momen memilih pakaian, terukir dari ekspresi kesenangannya. Sementara Akira terbebani barang-barang berat miliknya.

“Ari, berapa lama lagi kamu berbelanja? Barang-barangmu ini sungguh berat,” gerutu Akira.
“Resiko kalau jadi cowok.”
Sialan. “Tapi ini enggak adil, Ari.”
“Memangnya aku peduli?”
Argh! Rasanya frustasi bila memiliki kakak sepertinya.

“Ari, kalau kamu enggak buru-buru, aku akan—”
Buk!
Badan Akira terhempas ke belakang karena tertabrak sesuatu —atau seseorang— dan membuat barang-barang belanja Aria ikut terjatuh ke mana-mana. Aria yang melihatnya langsung panik dan buru-buru mengambil barang-barangnya, bukan menolong adiknya terlebih dahulu. Dasar kakak tak tahu benar. Kenapa dia malah sibuk mengecek barang-barang miliknya?

“Aduh, Nak! Maaf banget! Tadi Tante enggak lihat.”

Seorang wanita berusia pertengahan tahun, memakai baju motif bunga mawar dengan warna yang berbeda, sepatu hak tinggi yang tidak serasi, dan tas besar ukura ibu rumah tangga. Tangannya menopang tubuh Akira supaya ia bisa berdiri dan membereskan kekacauan yang sudah ia lakukan.

“Kamu enggak kenapa-napa kan? Apa ada yang terluka? Apa ada yang berdarah? Apa kamu pusing? Lelah? Mual? Capek?”

Diberi pertanyaan sebanyak itu tentu membuat Akira bingung. Belum lagi, wanita ini bertanya dengan cepat-cepat dan terburu-buru, seolah-olah dikejar sesuatu. Orang lain pun pasti juga bingung jika diberi pertanyaan dengan cepat, apalagi jika banyak.

“E-Enggak apa-apa, Tan. Aku oke-oke aja.”
“Oh, baguslah. Tante sempat takut kamu terluka atau semacamnya.”
“Hei, Kira! Kenapa kamu bisa jatuh?” tanya Aria dengan wajah sebal. Yah, wajar saja kenapa Aria bisa sebal.
“Aku kan enggak sengaja. Lagian, kenapa kamu malah mempedulikan barang-barang kamu, bukan adikmu sendiri?”
“Ya ampun. Kamu ini kan udah besar. Memangnya masih perlu kuurus?”

Akira menggeleng kepala. Beruntung Akira masih bisa menahan emosi, tidak seperti kakaknya yang mudah berbawa emosi yang tidak jelas. Apa namanya? Ya, labil.

“Maaf ya. Tante enggak ada maksud buat kamu terluka.”
“Iya, Tante. Aku tahu kok. Tante enggak perlu khawatir.”
“Mana mungkin Tante enggak khawatir?” wanita itu terdiam sejenak lalu tiba-tiba berseru, “Ah! Tante tahu!”
Dia merogoh tas besarnya, mencari-cari sesuatu di dalamnya. Butuh waku beberapa menit sebelum ia menemukan apa yang hendak ia cari. Ketika tangannya keluar, dia menggenggam sebuah kertas panjang yang menampilkan gambar buku-buku, di mana tulisan TOKO BUKU LEBLANC tercetak besar dan ditulis menggunakan gaya yang menarik.

“Kupon pembelian buku?” guman Akira.
“Kebetulan Tante pemilik toko buku di sekitar sini. Kalau kamu mau membeli buku lama Tante, kamu boleh-boleh aja datang. Mau?” tawarnya.
“Tentu. Kenapa enggak?”

Dari dalam hati, Akira sudah berteriak kegirangan. Mendapat kupon pembelian buku merupakan hal yang sangat ia harapkan. Sebagai anak yang gemar membaca buku, mendapatkan kupon pembelian buku merupakan hal yang Akira harapkan. Kesempatan ini tidak akan selalu ia dapatkan setiap saat.

“Kupon beli buku? Serius? Dan kamu malah senang?” tanya Aria heran. Aria bukan maniak buku seperti adiknya tapi bukan berarti Aria tidak suka membaca. Dia masih mau membaca buku bergenre romance dan teenlit walau hanya sedikit saja. Masalahnya adalah Akira sering membeli buku-buku pelajaran sekolah dan sejarah dunia yang ketebalannya bisa mencapai 1000 halaman. Jangankan 1000 halaman, memiliki buku mata pelajaran setebal 200 halaman —seperti Matematika— saja sudah membuat otak Aria pusing tujuh keliling. “Memangnya Tante menjual buku-buku sejarah atau materi mata pelajaran SMA?”

“Oh, Tante punya banyak. Kalau kamu mau membeli buku, kamu bisa ke sana.” Dia melirik jam arlojinya lalu terkesiap. “Astaga, aku telat! Aku pergi dulu, Anak-anak!”
Sebelum Aria maupun Akira merespon jawabannya, wanita itu pergi dengan lari yang cepat.

“Dia sangat… aneh,” ujar Aria.
“Ya. Tapi menyenangkan,” balas Akira.
“Ya sudah. Ayo kita teruskan jalan-jalannya. Masih ada banyak hal yang ingin kubeli.”

Sesampainya di rumah, Aria mengeluarkan 6 pakaian barunya dengan perasaan gembira. Aria tidak sabar memperlihatkan baju-bajunya kepada Melisa, Delie, Vaina, dan Gwen. Pasti mereka akan suka sekali dengan baju-bajunya.

Aria tidak melihat Akira ke kamarnya. Kamar Aria dan Akira terletak cukup dekat satu sama lain, jadi dari balik pintu daun mereka bisa melihat siapa saja yang melewati kamar mereka. Ah, benar juga. Akira sedang mencari buku-buku materi untuk kelas 11 mendatang di toko buku terdekat. Ujian Akhir Sekolah sudah tinggal beberapa hari lagi dan Aria masib belum mengulangi setiap materi yang akan keluar di ujian. Argh, Aria tidak suka belajar. Apalagi yang materinya susah seperti Matematika atau Fisika.

Lebih baik kulihat internet dulu. Mumpung masih ada waktu, batinnya.

Tangan Aria refleks memeriksa berita-berita di beberapa situs website. Aria menemukan halaman berjudul PEMBATALAN KONSER JAZ WARDEN, SANG PENYANYI MENGHILANG yang menjadi berita hits nomor satu. Refleks, Aria meng-klik halaman berita tersebut dan sebuah artikel pun muncul di layar.

PEMBATALAN KONSER JAZ WARDEN, SANG PENYANYI MENGHILANG

Senin (26/02), konser Jaz Warden bertema “Lovely Flower” terpaksa dibatalkan di Jakarta karena keberadaan sang penyanyi yang menghilang tanpa kabar. Terakhir kalinya Jaz terlihat saat ia sedang berada di kamarnya, hendak mempersiapkan diri. Tidak ada siapa pun yang pernah melihatnya lagi.

Menurut sang manager, Jaz sering mendapat banyak pesan dan telepon anonim beberapa minggu terakhir. Tidak diketahui siapa dan bagaimana si pengirim mengetahui alamat pribadi Jaz yang tidak pernah ia tampilkan. Kemungkinan besar Jaz menerima ancaman dari seseorang yang membencinya, mengingat Jaz Warden memiliki banyak haters dan saingan di dunia musik sejak karirnya mulai menaik.

Hingga kini, pihak kepolisian masih mengadakan pencarian menyeluruh Jaz di daerah Jakarta. Polisi meminta siapa saja yang melihat atau mengetahui keberadan Jaz bisa menghubungi pihak polisi atau pihak manager supaya proses pencarian Jaz bisa cepat ditemukan.

Berita itu cukup mengejutkan Aria. Bagaimana tidak? Aria dan keempat temannya merupakan penggemar lagu-lagu Jaz Warden semenjak SD. Lagu-lagunya yang menarik dan indah, mampu menyihir siapa saja yang mendengarnya. Tentunya Aria ingat dengan Meg Ross, salah satu penyanyi sekaligus model majalah fashionista ternama yang bersaing keras dengan Jaz. Yang pasti, besok keempat temannya akan mulai merengek seperti bayi, mengoceh panjang-lebar dengan kabar menghilangnya Jaz dan konsernya yang terpaksa dibatalkan. Sejujurnya Aria sebal dengan berita ini. Padahal ia ingin sekali menemui Jaz dan kalau bisa meminta tanda tangan di album sebelumnya.

“Aaah! Kenapa konsernya harus dibatalkan sih?! Padahal aku harus menabung selama enam bulan demi beli tiketnya!” teriak Aria kesal.
“Ari, berhenti berteriak! Aku sedang sibuk belajar!” sahut Akira dari balik dinding kamarnya. Sepertinya dia sudah pulang.
Aria menghembus napas panjang lalu menatap jam kamarnya. Sepertinya dia perlu melakukan kegiatan lain hingga waktu tidur.

Akira paling benci bila waktu belajarnya diganggu.
Orang lain mungkin tidak akan mau belajar materi kelas 11 seperti yang Akira lakukan saat ini. Wajar saja, zaman sekarang remaja-remaja lebih malas dan lebih ingin santai. Apa ada orang yang ingin menghabiskan waktunya demi belajar materi pelajaran yang bahkan guru-guru di sekolah saja masih belum bahas? Mungkin hanya Akira saja yang akan melakukan hal semacam itu.

Saat Akira hendak menjawab soal Matematika nomor 26, ponsel pintarnya bergetar di meja. Layar menampikan nama si penelepon yakni Riki.

Akira menghembuskan napas pelan dan mengangkat panggilan. “Kenapa, Rik? Aku lagi belajar. Tolong jangan ganggu—”
“Aki, kamu enggak bakal percaya dengan apa yang akan kusampaikan!”
“Riki, jangan panggil aku Aki. Aku bukan mesin kendaraan.”
“Whatever,” sahut Riki tidak peduli sama sekali. “Kembli ke pembicaraan, aku mau menyampaikan sesuatu—”
“Kuharap ini bukan soal insiden batu semen seminggu lalu. Aku harus membersihkan seragamku sebanyak sepuluh kali.”
“Tenang, kawan. Yang ini jauh lebih besar.”
Akira menunggu hingga Riki berujar, “Philip udah punya pacar! Kali ini Leni!”
Astaga. Lagi?, tanya Akira dalam hati.
“Gila, bukan? Kudengar kali ini dia memakai lagu yang dia buat sendiri buat Leni mau jadi pacarnya! Aku yakin Yuno bakal menangis banget—”

Tangan Akira langsung mengakhiri panggilan Riki yang sangat tidak bermutu. Riki meneleponnya demi memberikan kabar soal temannya yang sudah berpacaran lagi? Membuang waktu berharga Akira untuk belajar. Kalau Riki mau menyampaikan berita itu, lebih baik disampaikan kepada Aria saja. Mungkin Aria yang sedang kesal entah apa bisa sedikit terhibur dengan berita itu.

Omong-omong soal tidak bermutu, Akira teringat dengan percakapan ia dengan Aria beberapa hari setelah ia pindah ke rumah. Saat itu ada salah satu teman Aria berkunjung ke rumah saat liburan sekolah—kalau tak salah, namanya Isabel. Isabel yang pertama kali melihat keberadaan Akira mulai menanyai berbagai hal padanya. Mulai dari yang pribadi seperti hobi, sekolah, pergaulan, lingkungan rumah, dan masih banyak lagi. Tapi yang membuat Akira cukup heran adalah pertanyaan: “Apa kamu sudah punya pacar?”
“Hah?”
“Pacar. Apa saat kamu bersekolah di LA, kamu sudah punya pacar?”
“Pacar? Buat apa aku punya pacar?”
“Buat apa? Buat apa? Kamu seharusnya tahu kan. Kenapa kamu malah bertanya buat apa punya pacar?”
“Maksudku, memangnya untuk apa aku berpacaran? Bukannya masih ada hal-hal yang lebih penting seperti belajar?”
“Belajar? Hanya itu yang ada di benakmu?”
“Memangnya salah? Bukankah belajar adalah hal yang diperlukan pelajar sebelum kuliah? Berpacaran merupakan hal yang tidak bermanfaat untukku.”
Saat itu Isabel menampikan ekspresi heran dan kejengkelan lalu berangsut pergi. Akira mendengar suara “Orang aneh” dari balik mulutnya. Orang lain mungkin tidak mendengarnya tapi ia mendengarnya. Sepertinya dia sengaja melakukannya.

Sekitar beberapa menit kemudian, Aria menarik Akira ke koridor, menjauhinya dari teman-temannya yang berkumpul di ruang tamu, mengambil kue tar buatan Tante Ira.
Aria melirik ke arah ruang tamu, mungkin sedang memastikan tidak ada yang mendengarnya. Setelah terlihat yakin, Aria berkata, “Kira, kamu tadi bilang apa sama Isabel?”
“Bilang apa?” tanya Akira kembali. “Aku hanya memberitahunya tentang jawabanku.”
“Kira, kamu buat Isabel kesal. Dia bilang kalau kamu secara respon sudah menyinggungnya.”
Akira semakin kebingungan. “Menyinggungnya? Tapi aku hanya bilang untuk apa aku punya pacar dan pacaran enggak penting buatku. Memangnya itu menyinggungnya?”
“Itu jelas menyinggungya. Isabel punya pacar bernama William. Kamu beruntung Will tak bisa datang karena ada urusan. Kalau dia ada di sini, kamu akan terkena masalah besar dengannya dan aku tidak bercanda soal itu.”
“Tapi bukankah memang begitu kenyataannya?”
Aria menghela napas panjang sebelum berkata, “Kira, enggak semua orang berpikir begitu—”
“Mom berpikir begitu,” sela Akira.
“Beda pendapat, Kira. Kamu seharusnya tahu. Bagi teman-temanku, hal itu cukup… Yah, sebut saja penting.”
“Aku enggak paham kenapa penting.”
“Karena pola pikirmu itu berbeda. Akira, kamu harus belajar untuk berubah dan mengerti keadaan. Terkadang pernyataanmu itu enggak selalu bisa diterima orang-orang di sini. Terkadang pola pikirmu itu dianggap aneh, gila, dan membosankan. Menurutmu kenapa kamu dijauhi orang lain selama ini?”

Akira mengakui bila perkataan Aria mungkin ada benarnya. Tapi sampai sekarang pun, Akira belum mampu memahami pola pikir teman-teman sekolahnya. Tinggal bersama Mom di LA membuat Akira bersikap lebih mandiri dan lebih dewasa. Bahkan Akira saja masih belum memahami isi pikiran kakaknya sendiri yang berubah mood.

Akira meletakkan pulpen di depannya, selesai merangkum tiga materi awal pelajaran Kimia.

Lebih baik aku belajar Biologi untuk UAS daripada memikirkan hal yang enggak penting lagi, pikirnya.

Cerpen Karangan: Kir Vanessa
Mystery Hunters, Menguak Misteri Putri Duyung (Part 1)

Mystery Hunters, Menguak Misteri Putri Duyung (Part 1)

Judul Cerpen Mystery Hunters, Menguak Misteri Putri Duyung (Part 1)

Ini adalah kisah awalku mengungkap misteri. Oh, ya namaku Zora Putra Anggara panggil saja Zora. Sekarang aku sedang sekolah di sekolah favorit yaitu SMK Negeri Harapan empat. Aku mempunyai empat orang sahabat dan seseorang yang amat kucintai Dara namanya serta empat orang sahabatku adalah Bara, Ray, Rika dan Dewi.

Kisah petualangan serta mengungkap berbagai misteri dimulai saat aku, Rey, Bara dan Dara tengah asyik berjalan-jalan di sekitar pantai dan. “Eh, kita foto-foto dulu yuk.” Ajak Dara “Boleh.” Sahut Bara. Kami pun melihat hasil foto tadi daan… “Ehm… boleh kupinjam dulu.” Tanyaku “Oh, ini Zor.” Sambil memberikan handphonenya. Aku terkejut, dengan yang kulihat tadi “Ada apa Zor?.” Tanya Rey padaku “Coba kalian lihat ke belakang tapi perlahan-lahan jangan sampai membuatnya terkejut.” Jawabku. Mereka pun melihat dengan cara yang aku suruh dan…

“Kalian dari mana saja?.” Tanya Dewi “Kami mencari kalian dari tadi tahu.” Sambung Rika. “Kalian tidak akan percaya dengan yang kami lihat.” Jawabku “Apa yang kalian lihat memangnya?.” Tanya Rika lagi “Kami melihat mer…maid.” Jawab Dara “Apa!!.” sontak membuat Dewi dan Rika terkejut “Kamu jangan bercanda ya Dar, mana ada mermaid di dunia ini itu hanya sebuah dongeng.” Kata Dewi (sekarang kalian tahu apa yang kami lihat tadi). “Yang Dara bilang benar Dew bahkan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri percayalah.” Kata Rey menyakinkan. Dan rupanya Dewi mulai yakin sayangnya… “Aku tetap tak percaya dan kau tak bisa membujukku ya Rey.” Sahut Rika “Baiklah, kalau kau tetap tak percaya tidak apa-apa kami tak memaksakanmu tapi setidaknya ikutlah dengan kami ke tepi pantai.” Ajak Bara “Baiklah aku akan pergi, tapi jika tak ada apapun awas ya…” Jawab Rika sekaligus mengancam kami. Kami semua pun pergi ke tepi pantai…


Di tepi pantai kami “Mana, mana mermaidnya man gak ada apapun di sini iya gak Dew.” “Iyah nih kok gak ada apapun yah.” Tanya Dewi dan Rika. “Coba kalian lihat ke arah sana.” Tunjuk Bara dan… “AAAAAA.” Teriak mereka berdua dan langsung jatuh pingsan. Kami bingung apa yang harus kami lakukan.

KISAH SILAM BANGSA MERMAID
Pesisir pantai…
Kami benar benar bingung, sangat bingung, sungguh kami benar-benar tidak tahu apa yang harus kami lakukan “Dewi, Rika bangun jangan pingsan dong, bangun Dewi, Rika!.” Kata Bara membangunkan mereka “Bagaimana ini apa yang harus kita lakukan?.” Kata Dara panik “Zora! Kau cepat cari bu Nila cepat!.” Suruh Rey padaku “Baiklah!.” Sahutku “Aku ikut Zor.” Pinta Dara “Baiklah, ayo.” Jawabku. Kami pun mencari bu Nila ke mana-mana tapi tak menemukannya lalu… “Aduuuh, bagaimana ini Zor kita tak menemukan bu Nila.” “Baiklah kita ke sana saja Dar bagiamana.” “Baiklah, ayo.”.

Di Blue Cafe…
Kami mencari bu Nila dan ternyata bu Nila sedang makan siang di Blue Cafe bersama bu Riska dan… “BU NILAAA!!!.” Teriak kami. Sontak itu membuat bu Nila dan bu Riska terkejut. “Ada apa dengan kalian kenapa kalian terlihat sangat panik??.” Tanya bu Nila pada kami “Dewi.. huft… huft Rika… pingsan.” Jawab Dara “APAA!!!!.” Teriak bu Nila “Di mana mereka sekarang.” Tanya bu Riska “Tepi pantai, bersama Bara dan Rey.” Jawabku “Ayo kita kesana sekarang! Zora antar kami ke sana sekarang! Cepat!!.” Perintah bu Riska “Baik bu!”

Tepi pantai…
“Bara, Rey!!.” Teriakku “Akhirnya Zora, Dara, bu Nila, bu Ris…ka.” Kata Rey “Apa yang terjadi kenapa mereka bisa seperti ini.” Tanya bu Nila

Di rumah…
Akhirnya jam 16:30 sore aku sampai rumah “Assallamualaiku, ibu aku pulang.” Sahut ku memberitahu kalau aku sudah sampai rumah “Oh, Zora kau sudah pulang rupanya bagaimana tudy our kau.” tanya ibu padaku “Ya, lumayan bu tapi, bukan tudy our, study tour bu!!.” Jawabku pada ibu “Ya sudah kau sekarang mandi siap-siap untuk sholat maghrib lalu kita makan malam.” Tambah ibu “Baik bu.”.

Di kamar…
Setelah makan malam bersama aku masih kepikiran oleh kejadian tadi lalu aku mencoba browsing di internet ternyata ada banyak sekali artikel yang menceritakan tentang mermaid tapi sayangnya info ini masih belum cukup untukku.

Di sekolah…
Seperti biasanya setiap hari senin sekolahku melakukan aktivitas seperti sekolah sekolah pada umumnya yaitu Upacara bendera hari senin dan hari ini aku akan mencari buku yang pernah secara tak sengaja kubaca yaitu Kitab Kuno Mermaid. Yeah… benar aku pernah membacanya tapi hanya sekilas lalu kutaruh kembali karena aku tak mau mengungkit masa laluku.

Di perpustakaan…
Dan akhirnya aku pergi mencari buku itu tapi aku tak bisa menemukannya sampai… “Aduuuh… di mana sih buku itu.” Gerutuku dalam hati “Kamu pasti mencari buku ini.” Tanya seseorang yang ternyata… “Waah… benar ini dia buku yang aku cari terima kasih ya… Yuri!.” kataku terkejut.
“Ya, benar. Oh, ya sepertinya aku tak bisa lama lama di sini karena aku harus piket aku ke sini ingin mengembalikan buku yang kubaca ini dan kau tahu kan aku bisa baca pikiran jadi aku pikir kalau buku ini aku berikan kepadamu dulu saja baru kukembalikan.” Katanya “Baiklah nanti kau taruh lagi ya aku pergi dulu.” Lanjutnya “Yuri!.” teriakku. “Ada apa?.” sahutnya. “Terima kasih.” ucapku. “Ya, sudah aku pergi ke kelas dulu dah.” katanya sambil melambaikan tangannya.

Di kelas…
“Bara, Rey kalian melihat Zora tidak?.” tanya Dara “Tidak lu liat gak Rey.” tanya Bara pada Rey “Dehh… lu nanya ke gua, gua aja ama lu geh dari tadi gimana sih!.” teriak Rey “Yeee jangan marah kan cuman… tu orangnya.” kata Bara sambil menunjuk diriku. “Ada apa?.” Tanyaku kebingungan “Zora kamu dari mana saja aku mencari mu dari tadi, aku khawatir kamu.” tanya Dara “Cieee yang khawatir.” sahut Rika “Apaan sih Rika?.” bentak Dara pelan “Dar jangan kesel ntar cantiknya ilang lho.” kataku menenangkan “Ciee…” kata Bara dan Rey serta Rika juga Dewi “Sudah lah teman teman coba lihat ini.” potongku “Buku??.”…

bersambung…

Cerpen Karangan: Candra Eko Saputra
Facebook: Candra Eko Saputra
Rabu Dini Hari

Rabu Dini Hari

Judul Cerpen Rabu Dini Hari

“Toolloonggg!!”

Aku langsung terbangun dengan nafas tercekat. Tubuhku menegang seketika. Kaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Tubuhku merasa seolah-olah aku yang merasakan itu ketika terdengar jeritan itu. Tanganku mengepal kuat, seolah-olah menahan sakit. Jeritan itu terus saja terulang dan membuatku semakin menegang.

“Toloo…!!”

Jeritan ke-5 selalu sama. Seolah tertelan sesuatu. Dan kemudian senyap. Aku pun sama. Tubuhku mulai mengendur. Hanya deru nafasku yang kudengar sendiri. Meskipun debaran jantungku tidak lagi sekencang tadi, tapi tetap saja aku belum berani bergerak.

Aku baru berani bergerak setelah setengah jam. Aku melakukan kegiatan yang sama, yaitu melirik melalui jendela yang mengarah langsung ke rumah kosong di samping rumahku. Sumber suara selalu sama. Tapi entah mengapa selalu tidak ada yang mendengarnya. Kenapa hanya aku yang mendengarnya?

Kejadian ini terjadi sejak 3 bulan yang lalu. Selalu setiap Rabu dini hari, aku mendengar suara jeritan dari rumah sebelah. Di awal-awal kejadian aku mengira itu perbuatan makhluk halus. Siapa yang tidak beropini seperti itu? Di rumah kosong terdengar suara jeritan, bukankah itu ulah hantu?

Seperti biasa, aku tidak bisa melihat apa-apa karena gelap. Rumah itu benar-benar tanpa penerangan. Bahkan salah seorang temanku mengira rumahku ini dekat hutan, karena tumbuhan yang lebat di depan rumah, seolah-olah rumah itu ditutupi hutan belantara.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku keluar dari rumahku. Aku berangkat kerja sekaligus ingin memastikan tebakanku. Sebelum itu aku hanya berdiri di depan pintu dan mengamati warga-warga lain yang berlalu lalang dengan panik dan penasaran. Pemandangan yang biasa setiap harinya di hari Rabu.

Benar saja, orang-orang sudah berkumpul di depan rumah kosong itu. Aku pun langsung menyusul mereka. Garis polisi telah terpasang menutup pintu masuk perkarangan rumah itu. Para wartawan tengah memotret kejadian tersebut. Sementara aku, aku hanya menyapa polisi yang biasa menanyaiku diawal-awal kejadian.

“Apa masih sama?” Tanyaku pada polisi tersebut. Polisi itu datang setiap hari Rabu pagi. Seperti rutinitas.
“Kamu benar-benar tidak tahu apa-apa? Kamu tidak mencoba mengintip?” Tanyanya. Sebenarnya dia sudah berhenti menanyaiku sejak 2 minggu yang lalu. Dia mungkin sudah bosan mendengar bahwa aku tidak melihat apa-apa
“Gelap. Aku tidak bisa melihatnya. Tubuhku saja sudah kaku ketika mendengar jeritan itu. Dan aku sendirian, aku takut.” Jawabku. Juga jawaban yang sama dengan sebelum-sebelumnya.
“Jawab pertanyaanku yang tadi, apa masih sama?”
“Ya, Luka-luka sayatan dan sulutan rokok. Ahhh… kenapa aku memberitahumu?” Jawabnya menyesal, tapi ia masih tersenyum.

Aku keluar dari kerumunan setelah memastikan polisi itu kembali bekerja. Aku berjalan dengan santai. Ya, aku bisa santai di pagi harinya jika korban ditemukan. Namun, ketika korban tidak ditemukan seperti 3 minggu yang lalu, aku selalu berjalan dengan was-was meskipun di siang hari.

Langkahku terhenti setelah merasa jauh dari kerumunan. Ketika berjalan tadi, mataku menangkap sosok laki-laki dengan tudung jaket menutupi kepalanya. Tidak salah lagi, laki-laki itu yang selalu hadir di tengah keramaian dan menghilang tiba-tiba. Siapa laki-laki itu? Aku mengenal seluruh orang di kompleks, tapi kenapa aku tidak bisa mengenalinya? Benar memang dia tertutup seperti itu, tapi biasanya aku bisa mengenali dengan mudah. Siapa dia?

Di kantor, berita tentang pembunuhan berantai sudah menyebar. Aku hanya mengamati rekan kerja di depanku yang sedang membaca berita dari salah satu media online. Aku sudah bisa menebak apa headlinenya, jadi aku tidak perlu membaca lagi. Dan kejadiannya? Aku juga tidak perlu untuk bertanya ada apa. Ini sudah biasa.

“Kamu tidak takut? Kejadian ini terus berlanjut, loh.” Tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
“Aku ketakutan setengah mati. Jeritannya terdengar sampai kamarku, bagaimana aku tidak ketakutan? Kamu bisa bayangkan, ditengah malam –tidak, itu dini hari… Wanita itu berteriak dan di pagi harinya seorang wanita ditemukan tewas di samping rumahku? Tidak bukan…” Aku menjelaskan dengan panjang lebar. Antara rasa takut dan emosi.
“Bukannya kamu ingin mereka mati seperti itu?” Tanyanya kali ini membuatku meremang. Dan aku memandangnya. Dan aku terdiam seketika.
“Malam itu, kamu bilang padaku kamu ingin wanita-wanita tuna susila itu mati dengan cara mengenaskan, bukan? Bukannya harusnya kau merasa senang sekarang?”
Aku masih memandang rekan yang duduk di bangku depan itu dengan tatapan ngeri. Rekanku itu hanya memandangku dengan biasa. Bahkan sangat biasa.
“Kenapa memandangku seperti itu?”

Hari ini datang, teror Rabu dini hari akan segera dimulai. Aku tidak akan berada di kamar itu ketika terror itu berlangsung. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.15. Itu artinya 15 menit lagi terror itu terjadi. Aku masih mengerjakan pekerjaanku di ruang tamu ini. Akankah itu menjadi lebih menakutkan?

Aku menoleh ke arah jendela. Kengerian kembali menjalari diriku. Aku tidak tahu ini perasaanku saja atau memang ada seseorang yang sedang berlari. Dia berlari sambil berteriak. Itu yang kudengarkan saat ini. Suara itu semakin lama semakin mendekat.

Aku mengambil ponselku di meja secepat mungkin. Semakin suara itu mendekat tubuhku semakin kaku. Aku tidak peduli adanya kesalahan pengetikan dalam pesanku, yang penting aku sudah mengirimnya. Tapi tetap saja aku aku masih belum merasa aman. Suara itu semakin terdengar.

Dor… dor… dor

Nafasku tercekat. Tubuhku semakin kaku ketika mendengar suaranya. Suara itu begitu miris terdengar. Sambil memohon untuk dibukakan pintu, ia terus saja berteriak.

“Aku mohon… Tolooonggg! Buka pintunya!!!!!” Teriaknya sambil manangis.

Aku terbangun dari dudukku. Jantungku berdebar begitu kencang. Tapi rasa penasaranku selama 3 bulan ini begitu kuat. Dan ini saatnya aku mengetahui itu… atau bahkan menyelamatkan wanita itu.

Pintu terbuka dan wanita itu langsung masuk. Aku membiarkannya. Ia berdiri menahan pintu. Deru nafasnya begitu memburu dan matanya tertutup.

Rambut wanita itu berantakan. Make up-nya lebih berantakan. Bajunya sangat ketat dan berkilauan. Korban selanjutnya?

Dor… dor… dor

Nafasku kembali tercekat. Ia juga merasakan hal yang sama. Kami saling berpandangan. Tatapannya begitu nanar dan mungkin tatapannya sama denganku.

Tanganku menariknya menjauh dari pintu. Aku tidak tahu itu tindakan yang benar atau salah. Tapi aku rasa lebih aman jika aku menariknya. Bayangan dia tertusuk benda tajam dari luar mendorongku untuk melakukan itu. Tuhan… selamatkan kami.

Gedoran pintu itu semakin keras. Aku rasa gedoran itu bukan lagi berasal dari tangan. Pintuku sepertinya tidak lagi diketuk menggunakan tangan tetapi sebuah benda tumpul yang mungkin itu kayu. Dan kemudian aku sadar akan sesuatu.

Tidak lama pintu itu terbuka dengan paksa. Seorang laki-laki dengan pemukul kayu dan rokok terlihat. Ia menggunakan celana jeans dan jaket hitam dengan tudung yang melindungi kepalanya. Laki-laki itu langsung menampilkan wajahnya dan menatap kami.

“Kemarikan wanita itu, Alana,” Ucapnya dingin.

Tubuhku menegang begitu mendengar ucapannya. Mataku menatapnya tajam sementara wanita itu terus memegangi tanganku. Bagaimana bisa? Kenapa?

“Apa yang kamu lakukan?” Jawabku.

Suaraku bergetar, aku bisa merasakannya. Bahkan sebenarnya aku tidak yakin apakah suaraku bisa muncul. Tapi sepertinya memang bisa ia dengar. Nafasku semakin tercekat begitu ia membuka tudungnya.

“Bukankah kamu yang meminta ini? Jadi serahkan wanita itu padaku biar bisa kubunuh sekarang,” ucapnya semakin dingin. Kali ini disertai seringai di wajahnya.
“Jangan! Aku tidak memintamu… Aku tidak pernah memintamu Davin.” Ucapku berusaha menyadarkannya.

Ia memukul lantai dengan pemukulnya. Kami langsung menegang. Pegangan wanita itu semakin kencang. Tuhan… selamatkan kami.

“Kamu ingat malam itu? Kamu ingin wanita seperti itu lenyap bukan? Aku mewujudkannya untukmu agar kamu senang, Lana. Dan sekarang kenapa kamu melarangku?”

Ia mendekat. Kami tidak bisa apa-apa. Kami di pojok ruangan ini sekarang. Aku hanya bisa berdoa agar tidak terjadi apa-apa sekarang.

“Lana, aku mohon serahkan wanita itu.” ucapnya semakin mendekat hingga ia berada tepat di depanku. Tapi ia tidak melakukan apapun.
“Kamu gila, aku tidak akan menyerahkannya. Sebentar lagi polisi akan datang Davin,” ucapku gemetar. Oke, aku mengatakan hal yang salah.

Matanya memerah. Ia menatapku dengan tajam. Tubuhku menegang seketika. Ya, aku melakukan kesalahan.

Tiba-tiba ia mengayunkan pemukulnya ke tubuh wanita itu. Aku berteriak. Dia juga berteriak. Tapi, Davin terus saja memukuli wanita itu meskipun aku dan wanita itu terus memohon.

Tidak lama, seorang pria yang kukenali masuk rumahku beserta rombongan. Ia menodongkan sebuah pistol ke arah Davin. Sementara rombongannya hanya mengekor tetapi mereka juga bersiap mengeluarkan sebuah pistol.

“Hentikan!” ucapnya membuat Davin berhenti.

Aku dengan jelas melihat seringai di wajahnya. Tapi ia terlihat pasrah. Entah apa maunya. Dan saat itu rombongan menangkapnya. Ia tidak melawan.

Aku terheran. Begitupula orang-orang yang ada di sana. Wanita di sampingku terisak kesakitan. Sementara seseorang yang kukenal itu menatapku.

“Baiklah, aku melakukannya untuk membuatmu bahagia. Saat ini maupun dulu, Alana.”

Cerpen Karangan: Eka Indrayani
Blog: mewkakara.blogspot.com
Perempuan yang Berlari dengan Sikunya

Perempuan yang Berlari dengan Sikunya

Judul Cerpen Perempuan yang Berlari dengan Sikunya

Tak ada yang lebih menyebalkan selain berjalan sendirian menuju rumah sepulang bekerja. Jalan setapak yang kulalui ini selalu saja sepi. Padahal jam masih menunjukkan pukul 8 malam. Seharusnya jalan ini masih ramai dilalui kendaraan seperti malam-malam sebelumnya. Tapi belakangan ini, isu-isu tidak mengenakkan mulai merebak ke telinga penduduk. Sehingga mereka lebih memilih berdiam diri di rumah, daripada harus keluyuran usai maghrib bertandang.

Jalan setapak ini basah, hujan membuat beberapa lubang di jalan itu tergenang air. Hawa dingin menyergap, membuatku segera merapatkan jaket. Malam gelap yang dingin membuat suasana jalan setapak ini terasa begitu mencekam. Aku berjalan menunduk, sampai tiba-tiba sudut mataku melihat sekelebat bayangan. Aku sigap menoleh, ah.. sial, gubuk kecil di bawah pohon besar itu selalu saja berhasil membuat bulu kudukku meremang. Gubuk yang tidak diketahui milik siapa itu, selalu mampu membuat aku takut melintas di jalan ini. Tapi mau bagaimana lagi, jalan ini adalah jalan yang paling singkat dan cepat menuju rumah.

Aku memperhatikan gubuk tua itu sambil berjalan perlahan. Mataku menelanjangi seluruh bagian dari gubuk yang tidak jauh dari jalan setapak ini. Gubuk tua yang masih kokoh berdiri itu berada tepat di belakang sebuah pohon besar tak jauh dari jalan. Selalu menarik perhatian karena hanya gubuk itulah satu-satunya yang ada di sekitar jalan setapak ini. Retinaku menangkap bayangan seseorang yang mulai terlihat dari jendela gubuk. Seorang perempuan yang kutaksir seusia denganku, tengah membersihkan sesuatu. Hanya sebagian dari tubuhnya yang kelihatan dari jendela itu. Sesudah melakukan tugasnya, perempuan itu segera menutup jendela tanpa tahu aku sedang memperhatikannya sejak tadi.

Pikiranku mulai berdiskusi, menanya dan menjawab sendiri. Siapa perempuan cantik itu? Bukankah selama ini gubuk itu hanya dipakai untuk warga yang tengah menjaga kebunnya di sekitar sini? Atau aku yang tidak tahu-menahu soal kedatangan penduduk baru yang menempati gubuk di jalan itu? Ah, entahlah.. barangkali aku mulai tidak acuh pada hal-hal di sekitarku karena beban pekerjaan yang selalu mengejar deadline. Pikiranku benar-benar tersita dengan pekerjaan, bahkan kekasihku pun ikut uring-uringan jika aku lebih menomorsatukan pekerjaan dibanding dirinya.

Aku tiba di rumah dengan suguhan teh buatan ibu. Meski telah sampai di rumah, pikiranku masih tertuju pada apa yang aku lihat di gubuk tua jalan setapak itu. Penasaran, kutanya ibu yang tengah menjahit seragam sekolah Beni. “Ibu tahu gubuk kecil yang ada di tengah jalan setapak menuju rumah kita?” tanyaku memandang ibu. “Gubuk tua di lahan Pak Karno maksudmu, Zal?” ibu bertanya balik padaku. Aku mengiyakan, “Kenapa memangnya?” tanya ibu lagi. Aku mendekat ke arah ibu, “Ketika melewati gubuk itu tadi, Zal melihat ada seorang perempuan cantik di sana, Bu. Ibu tahu dia siapa?” tanyaku antusias.
Ibu yang masih sibuk menjahit, dengan cepat menggeleng. “Barangkali keponakan Pak Karno, Zal.” Jawab ibu santai. Aku mengangguk perlahan, tapi pertanyaan di hatiku seolah belum terpuaskan oleh jawaban ibu. Aku melirik jam dan segera bergegas menuju kamar. Tapi kemudian, Beni datang dengan terengah-engah, membuka pintu dengan dengan sedikit mendobrak. Aku memelototinya, bikin kaget saja, batinku. “Ada pembunuhan, Bu,” cepat Beni memberi tahu. Kantukku serta merta hilang, berganti rasa penasaran dengan cerita yang baru saja dibawa Beni. “Pembunuhan di mana?” tanyaku ingin tahu. “Siapa yang dibunuh?” ibu tak kalah menyerbu.
“Nggak tahu namanya, Bu. Tapi yang jelas, pemuda yang sering membantu Pak Karno di kebunnya. Ada bekas sayatan di lehernya, panjang sekali. Hiii..” Beni bergidik ngeri. Aku menelan ludah, “Kapan kejadiannya?” tanyaku lagi. “Barusan, Bang. Di ujung jalan setapak itu. Pak Rahman yang tadi hendak ke masjid, menemukan mayat pemuda itu, sebab ada darah yang tercecer di sepanjang jalan,” Beni mengusap wajahnya. “Tega sekali…” ucap ibu berbisik.

Aku terdiam, mengapa tiba-tiba aku jadi merasa takut? Baru saja aku melewati jalan setapak itu, dan aku tidak melihat ada tanda-tanda bahaya di sana. Mengapa selang beberapa jam aku di rumah, ada kejadian mengerikan seperti itu? Bukankah tadi jalanan itu sepi sekali? Dan memang biasanya sangat sepi? Aku pamit pada ibu untuk masuk ke kamar, jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Besok masih ada pekerjaan penting yang harus kuselesaikan.

Aku baru akan berangkat kerja, ketika kulihat Beni tengah berkumpul di teras rumah dengan teman-teman sekolahnya. “Bang Hadi penjaga kebun Pak Karno itu, ternyata mati karena dibunuh hantu.” ucap salah seorang teman Beni. “Iya, padahal cerita itu sudah lama, ya. Hantu wanita yang pernah jatuh didorong seseorang tak dikenal di rel kereta api simpang jalan itu. Dan badannya terlindas hingga terbelah dua di bagian pinggang. Konon katanya ia selalu membawa sabit besar yang tajam dan berjalan mencari korban untuk balas dendam.” teman yang lain menimpali. Kulihat Beni hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan teman-temannya. Aku hanya mendengus sebal mendengar ucapan mereka. Dasar anak sekolah! Bisanya menggosip dan mengada-ada cerita saja. Aku menyalami ibu dan beranjak pergi bekerja, setelah sebelumnya melempar senyum kepada teman-teman Beni.

Aku merentangkan kedua tanganku. Berjam-jam menatap layar persegi empat ini, ternyata membuat mataku lelah. Aku mengucek mata dan melirik jam tanganku, pukul 9 malam. Ya ampun, ternyata kekasihku benar. Aku terlalu maniak dalam bekerja, hingga terkadang lupa waktu. Kubereskan semuanya dan aku beranjak meninggalkan ruang kerja. Beberapa teman masih sibuk menyelesaikan bahan untuk pertemuan besok. Aku pamit dan segera berlalu, mencari bus tercepat untuk bisa segera tiba di rumah. Tiba-tiba aku menjadi sangat rindu dengan teh buatan ibu.

Bus berhenti tepat ketika aku tiba di simpang jalan setapak. Aku turun sambil merapatkan jaket pemberian ibu. Usiaku 24 tahun, dan aku masih sangat menyukai semua barang yang dibelikan ibu. Dan kuakui, aku terkadang lebih manja dari adikku. Angin bertiup agak kencang, awan hitam mulai kelihatan menutup langit. Sepertinya hujan akan segera datang. Aku berjalan lebih cepat dari biasanya. Ah, kenapa aku harus pulang selarut ini? Aku mengutuk diriku sendiri, teringat kejadian malam kemarin soal pembunuhan Bang Hadi di ujung jalan. Juga terngiang percakapan ngaco Beni dengan teman-temannya pagi tadi. Padahal sejak tadi, aku sama sekali tidak memikirkan hal itu.

Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. Dan semakin bertambah tidak enak saat aku sadar bahwa aku harus melintasi gubuk tua di pertengahan jalan setapak ini. Dengan keberanian yang kubesar-besarkan, aku membaca bismillah dan berusaha menyeret kakiku untuk bisa segera tiba di rumah. Kubuang pikiran burukku jauh-jauh. Aku berjalan sambil bersenandung kecil, berusaha meminimalisir rasa takut. Jalan ini masih saja sepi, aku berdoa agar ada satu-dua orang yang melintas. Tapi nihil, jalan ini kosong melompong seperti pekuburan.

Tiba-tiba aku tersentak ketika mendengar suara aneh menyentuh gendang telingaku. Seperti suara seretan kaki yang dipaksa. Tapi aku tidak tahu suara itu berasal dari mana. Suara itu semakin jelas terdengar, ketika aku mulai mendekati gubuk tua itu. Aku menelan ludah, suara itu semakin menakutiku. Tiba-tiba, kakiku gemetar hebat ketika aku tak kuasa menerima apa yang telah aku lihat. Di bawah pohon besar yang menghadap utara itu, aku melihat seorang perempuan tanpa kaki tengah membersihkan sesuatu.

Wujud perempuan yang tak asing di mataku itu terlihat begitu mengerikan. Dengan tubuh yang hanya sebatas pinggang, tanpa kaki yang melengkapi. Kulihat dia memegang sabit tajam yang berlumuran darah. Dan astaga.. apa itu? Di belakang pohon besar yang terlihat retinaku, menjorok keluar kepala perempuan dengan rambut sebahu. Perempuan itu sudah tak bernyawa. Darahku berdesir hebat, merasa tak terima atas apa yang baru saja kusaksikan.

Perempuan yang memegang sabit itu adalah perempuan cantik yang malam kemarin kulihat di gubuk tua pertengahan jalan. Bulu kudukku sudah berdiri sejak tadi, tapi kakiku seakan tak bisa diajak kompromi untuk berlari. Aku menepi dan bersembunyi di balik pohon untuk melihat semuanya. Perempuan mengerikan itu berjalan menggunakan kedua sikunya sebagai penopang. Berjalan terseok-seok kesusahan untuk menyingkirkan mayat wanita yang telah dibunuhnya. Aku hampir gila melihatnya, betapa aku tidak mempercayai hal-hal mistik semacam itu. Tapi bagaimana mungkin aku bisa menyangkal lagi, jika sekarang kedua mataku menyaksikan hal semenyeramkan ini.

Tubuhku gemetar hebat, seumur hidup aku tidak pernah bermimpi dan berkeinginan melihat hal semacam ini. Ternyata apa yang diperbincangkan Beni dan teman-temannya pagi tadi adalah benar. Perempuan itu menggelindingkan jasad wanita yang berlumuran darah itu ke sudut jalan. Aku menahan napas, berusaha mengatur detak jantungku yang bertengkar. Lihat, wajah pucat miliknya terasa begitu menyeramkan. Dengan luka di pelipis kirinya yang dalam, membuatnya semakin tampak mengerikan. Usai menyelesaikan dendamnya, hantu perempuan yang memiliki tubuh sepinggang itu, menyeringai dingin.

Dia berlari menuju gubuk tuanya. Dia berlari dengan sikunya, terseok-seok menyeret dirinya untuk kembali bersembunyi. Sementara aku, berbalik arah dan berlari sekencang mungkin. Dengan degup jantung yang tak karuan, aku memilih berbalik dan melewati jalan lain. Aku tidak cukup berani melanjutkan langkah melewati gubuk tua itu. Keringat dingin masih membanjiri tubuhku hingga aku tiba di rumah. Ketika ibu membuka pintu, aku tersenyum dengan wajah yang aku yakin lebih pucat dari orang sakit. Sedetik berikutnya, aku limbung, tersungkur, dan kudengar teriakan ibu memanggil Beni. Setelahnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.

Cerpen Karangan: Nanda Dyani Amilla
Blog / Facebook: Nanda Dyani Amilla
Dunia di Balik Dinding

Dunia di Balik Dinding

Judul Cerpen Dunia di Balik Dinding

Karena setiap malam aku selalu mendengar suara orang yang sedang berpesta di balik dinding kamarku, aku mengajak sahabatku untuk menginap di rumahku malam ini. Kebetulan Ibu dan Ayahku sedang keluar kota untuk urusan pekerjaan. Bagiku, berada di rumah sendirian sudah seperti uji nyali.

“Dengar tidak?”, bisikku. Terdengar suara orang tertawa, bernyanyi dan dentingan piano yang mengalun indah.
“Apa yang harus kita lakukan?”, Tasya merengkuh tanganku.
“Sepertinya memang ada sesuatu di balik dinding ini, Sya. Hampir setiap malam aku mendengarnya.”, bisikku.
Aku mengusap keringat dingin yang ada di dahi. Ini sungguh mengerikan.
“Aku mau pulang saja kalau tahu begini”, rengek Tasya padaku.
“Enak saja! Kalau kau pulang, aku tidur dengan siapa malam ini?”, aku melotot ke arahnya.
“Aku takut! Bagaimana kalau kau tidur di rumahku saja? Biarkan saja rumahmu kosong satu malam ini”, Tasya mengajukan saran dan berharap aku akan mengabulkannya.
Aku menggelengkan kepala. Tasya yang dari tadi masih memegangi lenganku semakin manyun.
“Sudahlah, kalau kau takut kita tidur di kamar tamu saja. Yang penting malam ini kau di sini bersamaku.”, ucapku akhirnya memberikan solusi.

Kami akhirnya keluar dari kamarku dan memutuskan untuk tidur di kamar tamu. Bukannya aku tidak mau menginap di rumah Tasya, hanya saja aku tidak bisa tidur di rumah orang lain. Aku bisa terjaga sepanjang malam dan esoknya aku akan mengantuk sejadi-jadinya. Jadi, daripada besok aku ketiduran saat jam pelajaran, lebih baik aku bertahan di rumahku.

Aku memang terbilang masih baru di lingkungan ini. Kami baru sebulan menempati rumah ini. Rumah ini juga pemberian dari perusahaan karena Ayah ditugaskan untuk mengurus beberapa aset perusahaan yang berada di sini. Aku tidak menyukai tempat ini karena jauh dari peradaban manusia. Jauh dari sekolahku, jauh dari tempat perbelanjaan, jauh dari tempat nongkrong dengan teman-temanku. Aku selalu mengeluh kepada Ibu untuk membiarkanku tinggal bersama Nenek di kota. Tapi Ibu bukanlah Ibu yang gampang dibujuk. Sekali ia menggelengkan kepalanya, jangan coba-coba bertanya lagi, atau aku akan merasakan sakitnya uang jajan tak keluar sepeser pun berhari-hari.

Sejak pindah ke tempat ini, aku selalu mendengar suara-suara aneh. Kadang seperti suara orang yang sedang mengadakan pesta, kadang seperti orang yang sedang berdiskusi, kadang suara anak-anak yang sedang belajar bernyayi. Aku sempat mengira itu adalah suara dari tetangga sebelah, ternyata semakin jelas terdengar ketika aku merapatkan telingaku ke dinding kamarku. Aku sampai melompat ketika mendengar suara itu berasal dari balik dinding kamarku. Bagaimana mungkin?

Dinding kamarku menyatu dengan dinding toilet di kamarku. Aku mengira suara itu berasal dari toilet, ketika kuperiksa ternyata tidak ada apa-apa. Bahkan suara itu hanya bisa didengar ketika berada di kamar saja. Dan suara itu hanya bisa didengar saat kita sedang benar-benar berkonsentrasi. Aku selalu mencari kesempatan untuk menghancurkan dinding itu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya ada di balik dinding itu.

Hari ini adalah hari yang tepat, karena Ayah dan Ibuku tidak berada di rumah. Tapi sahabatku yang penakut ini semakin membuatku takut dengan teriakan-teriakannya. Tasya bisa berteriak kuat sekali saking takutnya. Teriakannya bisa memecahkan gendang telinga kita. Dan aku tidak akan sudi jika gendang telingaku harus pecah hanya karena teriakannya itu.

“Sya, aku mau melakukan sesuatu malam ini di kamarku. Sebagai sahabatku satu-satunya, kau harus membantuku.”, ucapku pada Tasya yang sedang mengurung dirinya di dalam selimut.
“Aku tidak mau membantumu jika itu menyangkut suara-suara aneh tadi!”, teriaknya.
“Ayolah, sekali ini saja. Kau hanya perlu menemaniku di dalam kamar. Kau tak perlu melakukan apapun. Hanya menemaniku saja.”, bujukku dengan nada memelas.
Kepala Tasya menyembul dari balik selimut, matanya seolah mengancamku, Awas kau kalau menyuruhku yang tidak-tidak. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali sambil tersenyum dan mengacungkan dua ibu jariku. Tasya keluar dari selimutnya dan mendorongku untuk keluar menuju kamarku. Yes! Akhirnya malam ini aku bisa memecahkan misteri ini.

“Kau mau melakukan apa?”, tanya Tasya.
Aku membuka lemari pakaianku dan mengambil dua palu besi besar dari sana.
“Kau mau membunuhku?!”, teriaknya.
Aku tidak bisa menahan tawa melihat wajah pucat sahabatku ini. Aku semakin menakut-nakutinya dengan berjalan perlahan-lahan ke arahnya. Ia hampir pingsan kalau saja aku tidak tertawa terbahak-bahak saat itu. Tasya memukul kepalaku dengan tangannya.
“Sialan kau!”

Kuberikan satu palu besi itu padanya. “Bantu aku menghancurkan dinding ini.”
“Kau gila? Bagaimana kalau Ibumu marah? Lagipula tadi kau yang mengatakan padaku untuk tidak melakukan apapun selain menemanimu.”, Tasya memalingkan wajahnya sambil berkacak pinggang.
“Ayolah, kau tega melihatku menghancurkan dinding ini sendirian? Kalau kau ikut membantu kan semuanya bisa cepat selesai.”, aku membujuknya.

Akhirnya Tasya mengalah. Ia mau membantuku mengancurkan dinding ini. Sebelum mulai menghancurkan dinding ini, kami mencoba mendengar kembali suara-suara aneh itu. Suara itu semakin jelas ketika kami benar-benar berkonsentrasi. Kami mulai memecahkan dinding kamarku, tidak butuh waktu lama, kami sudah membuat lubang di dinding itu.

Ternyata antara dinding kamar dengan dinding toiletku ada semacam jarak sekitar 50 sentimeter. Dan betapa kagetnya kami ketika mendapati ratusan jamur berwarna-warni seukuran jari manis sedang lalu lalang. Tasya yang dari tadi sibuk mengomel sekarang diam seribu bahasa. Aku yang dari tadi harap-harap cemas dengan apa yang akan kami temui dibalik dinding ini juga tidak bisa mengeluarkan kalimat sepatah katapun.
Sungguh ini seperti dongeng anak-anak yang penuh dengan imajinasi. Bagaimana mungkin ada jamur berwarna-warni dan bahkan beberapa dari jamur itu mengeluarkan cahaya yang menakjubkan. Aku benar-benar kagum melihat keindahan ini. Kalian pernah melihat film Disney yang berjudul Smurf? Kalian pasti tahu kan kota mereka seperti apa? Seperti itulah yang kulihat saat ini. Benar-benar tidak masuk akal. Tasya bahkan berulang kali menyuruhku mencubit lengannya.

Jamur-jamur cantik itu bergerak kesana kemari. Ada yang melakukan paduan suara, ada yang bermain piano, ada yang berdiskusi di sebuah meja kecil, entah mendiskusikan apa. Kulihat di leher jamur itu tergantung benda kecil seperti pengeras suara, entah apa gunanya aku tak tahu. Mungkin seperti alat pengenal atau alat komunikasi antar jamur itu. Aku mencoba mendengarkan bahasa yang mereka gunakan. Aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang mereka ucapkan. Mereka terdengar seperti orang yang sedang beradu mulut, cepat sekali ketika berbicara.

Tasya mencoba untuk menyentuh jamur-jamur itu. Tiba-tiba saja ia menjerit kesakitan.
“Kau kenapa?”, aku bertanya panik.
“Jamur itu menyetrumku. Dia punya sengatan listrik di tubuh cantiknya”, Tasya meringis kesakitan.
Sengatan listrik? Aku tak mempercayai perkataan Tasya. Kucoba untuk menyentuh jamur berwarna polkadot pink. Aku tidak merasakan apapun. Tapi tidak berapa lama kemudian, tanganku terasa sangat gatal dan panas. Aku mulai menyadari sesuatu, mungkin setiap jamur ajaib ini memiliki kekuatan yang berbeda-beda untuk melindungi diri mereka dari dunia luar.

Aku masih penasaran, aku mencoba menyentuh jamur berwarna pelangi. Hanya ada satu jamur yang berwarna pelangi dan ia sangat mencolok karena memiliki warna yang berbeda dari jamur lainnya. Aku beranggapan bahwa ia adalah leadernya. Ketika aku mulai menyentuhnya, “AAARGGHHH!!”.
Jamur itu menggigit tanganku. Aku kaget sekali. Aku dan Tasya menjauh beberapa saat dari lubang itu. Sial! Jamur ini memiliki potensi melukai manusia. Setelah mengumpulkan keberanian untuk mendekatinya lagi, aku melihat jamur pelangi itu berdiri menatap ke arahku dan Tasya.

“Sya, kau lihat itu? Dia menatap kita. Apakah dia marah karena kita telah mengetahui tempat tinggalnya?”, bisikku pada Tasya sepelan mungkin.
“Aku rasa dia tidak marah. Lihat matanya, sepertinya dia ingin berkomunikasi dengan kita, Sel.”
Aku mendekati jamur pelangi itu. Jamur itu tersenyum, ia mengulurkan tangannya yang kecil ke arahku, seperti mengajakku untuk bersalaman. Sebenarnya aku tidak tahu apakah itu tangannya atau bukan, karena kalau kusebut itu tangan bentuknya tidak seperti tangan dan tidak mempunyai jari seperti kita. Aku mengarahkan jari telunjukku untuk menyentuh tangannya. Jamur pelangi itu tiba-tiba berubah warna menjadi ungu. Aku pun mengerti satu hal, jamur cantik ini tidak akan menyakitiku jika aku tidak menyentuhnya secara tiba-tiba.

Setelah beberapa detik, jamur-jamur yang lain datang berkerumun melihat ke arah kami membentuk formasi. Sungguh, ini pemandangan yang sangat indah. Dan mereka semua mengulurkan tangannya ke arah kami untuk disentuh. Karena setiap sentuhan akan mengubah warna mereka. Tasya sangat bersemangat untuk menyentuh mereka semua. Ia bahkan lupa bahwa beberapa saat lalu ia disetrum oleh salah satu jamur itu.

“Ini pengalaman pertamaku melihat jamur berwarna-warni dan bergerak seperti layaknya manusia, Sel.”, ucap Tasya dengan nada terharu.
“Kita harus merahasiakan ini dari Ibuku maupun dari teman-teman kita. Hanya kita berdua saja yang tahu, kau setuju?”, tanyaku pada Tasya.
Tasya menganggukkan kepalanya dengan cepat.
“Tapi, bagaimana bisa merahasiakannya dari Ibumu? Sementara kita sudah membuat lubang besar di dinding kamarmu.”
“Itu gampang, kita tutup saja dinding ini dengan poster besar yang baru kau beli tadi siang, Sya.”, jawabku seenaknya.
Tasya memang baru saja membeli poster EXO berukuran besar. Kalian tahukan EXO? Boyband asal Korea yang ganteng-ganteng itu. Tasya sangat menggilai segala hal yang berbau Korea. Mulai dari penyanyinya, filmnya, makananannya, bahkan Tasya les Bahasa Korea untuk melengkapi kecintaannya terhadap negara itu.
“Enak saja!”, Tasya lagi-lagi memukul kepalaku dengan tangan mungilnya.
“Ayolah, nanti kubelikan lagi yang baru, yang lebih besar.”, ucapku mengarang jawaban.

Aku bergegas mengambil posternya dari dalam tas Tasya tanpa menunggu persetujuannya. Kupasang perekat di masing-masing ujung poster itu dan dengan hitungan menit lubang itu sudah tertutup oleh poster EXO kesayangan Tasya. Aku menarik napas lega. Ternyata selama ini suara-suara aneh itu berasal dari jamur-jamur cantik yang tinggal di balik dinding kamarku. Aku baru menyadari ternyata ada dunia di balik dinding itu. Dunia para jamur cantik dan ramah. Kalau sudah begini, aku tidak akan mengeluh pada Ibu untuk dipindahkan ke kota bersama Nenek. Aku bersedia tinggal di sini lebih lama lagi. Aku tersenyum, sementara Tasya masih memasang wajah super manyun karena poster EXO-nya nangkring dengan anggun di kamarku.

Cerpen Karangan: Devian Amilla
Blog / Facebook: Devian Amilla
My New Friend

My New Friend

Hari ini di kelasku ada murid baru. Ia berambut pirang, kulitnya putih bersih. Ia sangaaat cantik. Bu Herna, guruku bilang, bahwa ia orang Inggris.

“Ayo, perkenalkan dirimu.” pinta Bu Herna pada Melisa. Ia tersenyum simpul. Lalu ia berdiri di depan kelas.
“Hello, my name is Melisa David. You call me Melisa. I am from London, England. See you All, Goodbye.” ucap Melisa dengan PD.

Kami sekelas mendadak bingung dengan bahasa Melisa. Di SMPN kami memang tidak ada pelajaran Bahasa Inggris. Hanya ada Matematika, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam(IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), Bahasa Sunda, PJ (Pendidikan Jasmani), dan SBK (Seni Budaya Keterampilan). Namun, aku mengerti karena saat SD aku di SD Swasta, yaitu SDIT Al-Huda. Aku belajar MTK, B. Indo, IPA, IPS, PKN, PJ, SBK, TIK (Teknologi & Informasi &Komunikasi), PAI (Pelajaran Agama Islam), Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Bahasa Sunda.

“Hi, Melisa. Welcome at here! We happy can meet with you, thanks Melisa.” balasku sambil tersenyum. Melisa menoleh.
“You so great and excellent. What your name?” tanyanya.
“My Name is Shania Felischa.” jawabku pendek.
“Oke, Melisa. Kamu duduk di sebelah Shania, ya.” perintah Bu Herna. Melisa mengangguk senang. Terlebih aku, aku senang sekali!

“Shan, kamu dan anak baru itu ngomong apa sih? Nggak jelas banget.” ucap Luna, teman di depan mejaku. Ia sombong dan sok tahu.
“Luna, kamu jadul banget, sih. Itu bahasa Inggris tahu. Makanya gaul sedikit, dong.” ledek Kania, sahabatku. Ia duduk di sebelah Luna.
Muka Luna memerah. Ia sepertinya kesal sekali. Namun, ia juga malu. Akhirnya ia diam.

“Melisa, you can speak Indonesian?” tanyaku kepadanya saat ia sudah duduk di sebelahku.
“Of course. See and Listen! Hallo, namaku Melisa David. Aku dari London, Inggris. Senang bertemu kalian!” ucap Melisa riang.
Aku dan Kania bertepuk tangan. Sementara Luna menatap bingung.
“Hoy, ngomong yang jelas dong. Bahasa apa sih itu? Gak Jelas!” Luna menatap Melisa kesal.
“Itu bahasa Inggris. Bahasa Umum Dunia. Setiap orang harus bisa bahasa Inggris, untuk berbicara pada orang di Luar Negeri. Karena Orang Luar Negeri mana mungkin mengerti bahasa kita. Ada, sih, tapi, kan, gak semuanya. Misalnya kita sedang di Turki. Kita gak perlu repot-repot berbahasa Turki, cukup pakai bahasa Inggris, pasti mereka ngerti. Karena Bahasa Inggris adalah Bahasa Internasional!” Melisa menjelaskan. Luna mengangguk-ngangguk.
“Bahasa Inggris itu susah, ya?” Tanya Luna ragu.
“Tidak, sangat mudah malah.” jawabku. Luna ber-oooh pendek. Aku lalu kembali asyik mengobrol dengan Melisa, menanyakan kehidupan di Negara asalnya. Melisa menjawab riang. Sesekali, Kania ikut bertanya. Sementara Luna hanya pelanga pelongo saja melihatnya. Tanpa kusadari, Kania menatapku kesal.

Kania sekarang lebih sering menjauh dariku. Aku sebenarnya tidak terlalu peduli, karena aku lebih sering mengobrol dengan Melisa. Asyik sekali! Aku bertanya tentang sekolahnya waktu di Inggris, bagaimana suasana di Inggris, dsb.
“Ciee, punya sahabat baru, ni, yee…” sindir Kania waktu aku hendak jajan bersama Melisa. “Terus sahabat lamanya dicuekin?” sindirnya lagi.
Kata-kata Kania terus menghantuiku. Saat belajar, pulang sekolah, bermain dan bahkan makan dan minum. Aku menjadi bersalah karena telah menjauhi Kania.

“Maaf, ya, Kania.” aku waktu itu berkata padanya waktu pulang sekolah, ketika Piket bersama. Hari itu sebenarnya Aku, Kania, Luna dan Chika. Namun Luna sedang buru-buru. Katanya Adiknya sakit, dan dirawat di rumah sakit, sampai ia benar-benar panik. Sementara Chika ia tidak masuk sejak pagi.
“Kenapa minta maaf?” tanya Kania dingin. Aku menjadi semakin bersalah.
“Sejak ada Melisa, aku menjauhimu. Padahal, kita sahabat.” jawabku.
“Itu dulu, Shan. Kita sahabat itu dulu. Sekarang kita Cuma teman.” sahut Kania datar. Aku terkejut.
“Enggak, Ni. Jangan! Tolong, Maafkan aku!!” pintaku. Tak sadar, air mataku menetes.
“Maafkan aku juga, Shania. Telah mengambil keputusan ini.” Kania terisak. Aku mengusap air mataku.
“Kania, tidak salah kau mengambil keputusan ini. Aku memang bersalah. Maafkan aku, Kania.” pintaku dengan tersendat-sendat. Air mataku kembali mengucur deras.
“Maafkan aku, Shania. Aku tidak bisa memaafkanmu.” Kania lalu memelukku.
“Ini pelukanku untuk terakhir kalinya. Selamat bersahabat kembali dengan Melisa.” Kania melepas pelukannya, lalu ia kembali menyapu.
Aku terduduk di lantai kelas. Air mataku mengucur. Wajahku berpeluh.
“Kania, Kania. Maafkan aku. Maafkan aku!” pintaku sambil berteriak-teriak. Kehadiran Melisa membuatku kehilangan Kania. Tidak! Tidak boleh!

“Shania? Sudah selesai piketnya? Kok lama banget? Kamu acting apaan sama Kania?” tanya Melisa sambil melongok ke dalam kelas. Aku mengusap air mataku.
“Udah! Kamu duluan aja!” bentakku sebal.
“Benar, nih, Shan?” tanyanya memastikan.
“Iya.” jawabku gusar.
Melisa lalu pulang dengan langkah riang.
“Kania, mohon maafkan aku.” pintaku lagi. Kania menggeleng.
“Kania, walau kamu menganggapku bukan sahabatmu, tapi aku akan menganggapmu sahabatku, selamanya.” kataku sambil keluar kelas.

Pagi ini aku datang terlambat. Teman-teman sekelas menatapku sambil cekikikan. Aku diam saja. Di mejaku, terdapat surat.
“Surat kamu, Mel?” tanyaku.
“Bukan. Itu buat kamu.” jawabnya ramah.
“Dari siapa, Mel?” tanyaku lagi.
“Gak tahu, Shan. Aku Cuma baca depannya. For Shania. Gitu!” jawab Melisa.
Aku duduk di kursiku lalu membacanya karena Bu Herna belum datang.

Dear Shania…
Ini aku, Kania, sahabatmu. Maafkan aku telah mengambil keputusan putus denganmu. Tapi, aku telah mengubah keputusanku. Kita tetap sahabat, Shania. Aku akan memberikanmu waktu bersama Melisa. Yaitu ketika aku tidak mengajakmu ngobrol. Dan saat aku mengajakmu ngobrol, waktu ngobrolmu untukku, ya? Baiklah, Shania… byee!!

KANIA.
Aku terharu membacanya. Aku menengok ke belakang, Kania tak ada, ke mana sahabatku itu?!
“Hai, Luna. Gimana keadaan adikmu? Sudah baikan?” aku sengaja sedikit berbasa basi dengan Luna.
“Hai juga, Shania. Allhamduillah, adikku sudah mendingan, ia sudah pulang dari Rumah Sakit tadi malam, jam 21.00 WIB.” jawab Luna dengan wajah senang.
“Kania mana, Lun?” tanyaku.
“Kania katanya sakit. Tadi pagi, mamaku jenguk Kania ke rumahnya. Tapi nggak tahu sakit apa.” jawab Luna.
“Kita jenguk pulang sekolah mau nggak, Lun?” ajakku.
“Boleh juga, Shan. Kebetulan banget, sekalian sama mamaku mau nganterin jahitan ke mama-nya Kania.” Luna menyetujui ajakanku. Ibu Luna memang seorang penjahit.
“Aku ikutan dong, Shan, Lun!” Melisa tiba-tiba nimbrung.
“Ngapain?” Tanya Luna.
“Jenguk Kania.” jawab Melisa sembari tersenyum.
“Boleh, nanti ya, pulang sekolah,” jawabku.
“Oke,” Melisa tersenyum lagi.

“Mel, lihat penghapusku nggak?” aku bertanya pada Melisa. Aduh, bagaimana ini? Aku sedang ada tugas menggambar manga oleh guru kesenian. Manga adalah karya seni khas Jepang. Aku memutuskan menggambar wajah Ichigo, tokoh utama di Aikatsu. Namun, penghapusku tak ada.
“Gak tahu, Shan, tadi kan di pegang sama kamu,” jawab Melisa sambil melanjutkan menggambar mata anime.
“Luna, lihat penghapusku?” Tanyaku.
“Tidak!” jawab Luna, ia kembali asyik menggambar masjid yang di sekelilingnya ada bunga sakura.
Aku memutuskan mencari hingga ke kolong-kolong meja. Dan ketika mencari di kolong meja Kania, hey, ada kertas bagus! Kenapa kertas ini ada di Kania ya? Kenapa Kania buang kertas ini?
Aku meraih kertas itu dan melihatnya dengan saksama. Hey, ada tulisan!

Sebal sm ******. Dia udh menghancurkan hidup kk dn menghancurkan persahabatanku. Knp dia hrs jd saudaraku???!!!
Kania, Rabu, 3 Oktober 2015, pukul 11:10.

Hah? Siapa si ******?? Mengancurkan hidup kakak? Menghancurkan persahabatan? Saudara? Maksud Kania apa ini?
Tunggu, ada tanggalnya! 3 Oktober 2015! Itu baru saja kemarin. Dan pukul 11:10 adalah 40 menit sebelum bel pulang sekolah! Tunggu, MENGHANCURKAN PERSAHABATANKU? Mungkin saja Persahabatan Kania denganku? Ya, bisa saja. Dan pelaku penghancurnya adalah Melisa. Tapi? MENGHANCURKAN HIDUP KAKAK? SAUDARA?
Aku tak mengerti. Sudahlah! Aku simpan saja kertas ini. Aku melanjutkan menggambar sambil bertanya-tanya. Tiba-tiba aku teringat.
Mana penghapusku?!
Astaga, terlalu asyik memikirkan curhatan Kania, jadi lupa! Cari lagi deh!

Pulangnya, aku, Luna dan Melisa bersama-sama ke rumah Kania. Sebelumnya, kami ke rumah Luna dulu untuk menjemput mamanya.
Sesampainya di rumah Kania, kami mengetok pintu.
“Assalamu’alaikum!” seruku.
“Wa’alaikum salam!”
Lalu pintu dibuka. Keluarlah Bu Icha, ibu Kania.
“Eh ada Bu Ella (Ibu Luna), Luna, Kania dan… KAMUUU???!!!” Bu Icha terserentak melihat Melisa. Aku, Luna dan Bu Ella juga terkejut.
“Untuk apa kamu ke sini lagi?!” bentak Bu Icha.
“Saya mau menjenguk Kania, Tante! Gak usah marah-marah!” jawab Melisa balas membentak.
“Saya nggak mau ada pembunuh datang ke rumah saya! Pergi!!!” Bu Icha menunjuk Melisa dan menunjuk pagar rumahnya. Aku terkejut. PEMBUNUH???
Bu Ella sepertinya merasa tidak enak, langsung menarik Luna pergi. Lalu Luna dan Bu Ella pergi dari rumah Bu Icha. Aku juga merasa sama, akhirnya aku pun ikut. Namun, baru selangkah keluar dari pagar, tiba-tiba Melisa berseru,
“Lupakan dendam masa lalu, Tante! Lupakan! Lupakan! Aku tak sengaja! Aku ke sini bukan untuk melakukan hal yang sama, aku hanya ingin bertemu Kania! Hanya itu!”
“Untuk apa? Menjenguknya? Tidak. Saya yakin kamu pasti akan MEMBUNUHNYA sama seperti kamu membunuh kakaknya!”
“Tante Isabella, tenanglah! Aku ke sini hanya untuk menjenguk Kania. Aku dulu juga tak sengaja menewaskan kak Klara! Aku dulu tak bermaksud apa apa!” Melisa terduduk.
“Kamu itu, yang harusnya menjadi adik sepupu Klara, malah menewaskannya. Kamu yang harusnya menjadi sepupu yang baik untuk Kania, malah membuatnya kehilangan kakaknya tercinta! Kamu ke sini mau apa lagi? Pulanglah ke Inggris! Hiduplah bersama orangtua angkatmu yang memberikanmu nama MELISA DAVID!” Tante Icha menatap gadis berumur 15 tahun itu.
Hey, hey, apa maksudnya ORANGTUA ANGKATMU YANG MEMBERIKANMU NAMA MELISA DAVID?
“Tante Issabella, kau tak ingat perkataanku 2 tahun yang lalu?! Aku tak sengaja melakukan pembunuhan Kak Klara 5 tahun yang lalu! Lagipula, saat itu aku masih berumur 10 tahun!”
“MELISA DAVID! KAU BUKAN RENATA ANDRIANI! TAPI KAU ADALAH MELISA DAVID! YANG KEJAM, TIDAK TAHU DIRI, DAN TAK BERTANGGUNG JAWAB! KAU BUKAN RENATA ANDRIANI YANG DULU!!! KAU SEKARANG SUDAH MENJADI MELISA DAVID!!!”
Aku terserentak mendengarnya. Tiba tiba, Melisa mengeluarkan kalung mutiara dari tasnya.
“INGAT INI, ISSABELLA CLARISSA? Kau memberikan ini padaku sehari sebelum Klara meninggal. Sekarang, aku tak butuh lagi!!!” Melisa melempar kalung itu, dan aku menangkapnya.
“ASTAGA, SHANIA???” Melisa dan Tante Icha berpandangan. Tak sadar, kalau mereka barusan bertengkar hebat.
Aku berlari, menjauhi mereka, berlari kencang, tiba-tiba aku menabrak sesuatu. Dan GELAP!!

“Shania, bangun! Shania! Bangun! Tugasmu selesaikan dulu!” tiba-tiba sebuah suara menepukku.
“Ya ampun, Shania, lelap sekali tidurmu. Tugasmu belum selesai!”
Aku pun terjaga. Kania, Luna dan Melisa menatapku.
“Hello, Shania. Pagi pagi kok sudah tidur?” Melisa tersenyum.
Uhm, apakah tadi bermimpi? Kania menjauhiku itu mimpi atau bukan? Pertengkaran Melisa dengan Tante Icha?
“Tanggal berapa sekarang?” tanyaku.
“Selesa, 2 oktober 2015, pukul 09.28.” jawab Kania dan Melisa serempak.
“Ayo, selesaikan tugasmu cepat! Lalu kita berempat jajan! Kamu ini!” Kania tersenyum.
“Eh, iya!”
Aku mendadak bingung. Dari cerita yang tadi, manakah yang mimpi?

“Uhm, Melisa, kamu jadi anak baru mulai kapan ya?” Tanyaku. Melisa mengernyit heran.
“Bukankah baru senin lalu? Kamu sudah lupa?” Melisa tertawa.
Hufftt, syukurlah, tadi mimpi!!! Eh, tapi, ada apa ini di tanganku? Kalung mutiara???
Kalung mutiara yang dilempar Melisa di mimpi?

Cerpen Karangan: Nabila Alifiana
Blog: www.maswahid.com
Instagram: @nabila.alfn12
Hantu Palsu Di Sekolah

Hantu Palsu Di Sekolah

Judul Cerpen Hantu Palsu Di Sekolah

Aku berjalan terburu-buru dari parkiran menuju kelas. Aku datang sangat pagi, motorku pun terparkir pertama di tempat parkir Yang masih luas. Datang jam 6 kurang 15 menit, sehingga belum Ada seorang pun Yang Ada di sekolah. Cuaca mendung dengan kabut yang menyelimuti, sehingga pandangan terbatas. Alaskanku datang sepagi itu karena hari ini, yaitu hari jumat adalah jadwal piketku. Teman-temanku yang lain sudah piket kemarin setelah pulang sekolah. Biasanya ketika aku selesai rapat osis pintu kelas belum terkunci, namun kemarin pintunya sudah terkunci, jadi aku tak piket kemarin dan merupakan suatu keharusan bagiku untuk piket karena jika tidak akan didenda sebesar uang jajan yang orangtuaku berikan untuk jatah 1 hari. Rasanya konyol jika harus didenda karena tak piket kelas.

Sampailah di kelasku yaitu kelas 11 Ipa 1. Tak butuh berfikir terlebih dahulu untuk mengambil sapu, lalu mulai menyapu dari mulai ujung kelas. Ternyata belum ada satu orangpun yang piket, atau mungkin ada kumpulan di kelasku karena kelasnya sangat kotor dan juga banyak sampah plastik. Aku tak percaya akan adanya hantu, jadi awalnya tak sedikitpun merasa takut sendirian di kelas yang sepi. Namun baru beberapa bagian berhasil ku sapu, ada suara tangisan seseorang di luar sana karena penasaran aku berjalan menuju arah suara itu dengan terburu-buru karena rasa penasaran menyelimuti otakku.

Setelah kulihat, tak ada siapapun. Namun terlihat kursi taman yang sudah rapuh tak berdiri tegak sedang bergerak mengeluarkan suara “kreket kreket” mulai itu bulu kudukku berdiri, aku masih tak percaya soal hantu itu jadi aku memutuskan untuk meneruskan kembali pekerjaanku di kelas. Kuteruskan dengan kuhiraukan suara orang menangis yang kembali bersuara, namun kali ini ada suara seseorang yang batuk. Awalnya aku menghiraukan suara itu namun lama kelamaan rasa perasaanku kembali muncul.

Aku kembali berjalan, kini menuju ruang belakang karena arah seseorang yang batuk itu berasal dari kelas yang berada tepat di belakang kelasku. Aku berjalan namun dengan pelan, agar jika ada seseorang yang mengerjaiku orang itu tak bisa mendengar suara langkah kakiku. Semakin dekat dengan kelas itu, namun tak ada suara apapun lagi. Keyakinanku tentang tak adanya hantu mulai berubah, mungkin benar adanya makhluk lain di dunia ini juga di sekolahku saat pagi hari. Aku membalikan badan, serentak aku kaget, aku melihat seorang siswa yang berjalan pelan melewati sudut ruangan itu dengan baju di belakangnya yang berwarna merah seperti warna darah segar. Mulutku mulai bergerak juga bergetar, sebisa mungkin aku berdoa, membaca ayat-ayat al-quran juga membaca ayat kursi.

Sambil berjalan, Mulutku tetap membacakan doa-doa untuk mengusir setan itu. Aku kembali memasuki kelas karena area yang aku sapu belum apa-apa, mungkin masih 1/4nya. Baru sedikit aku menyapu, ada suara cewek yang berteriak meminta tolong namun tak sekeras tangisan sebelumnya. “Ya allah lindungi hamba, suara apa itu? Hentikan saja waktu ya allah, lebih baik aku didenda dari pada seperti ini” gerutu dengan pelan. Beberapa lama, suara teriakan meminta tolong itu mulai mereda dan berada di titik tak ada suara itu lagi.

Ketika aku melihat ke jendela dekat pintu aku melihat tangan yang dilambaikan. Aku yakin, mungkin seseorang mengerjaiku namun aku kembali berfikir di suasana sehening ini pasti suara kaki terdengar jelas namun ini tidak. Aku berjalan pelan, ketika aku membuka pintu tetap sama tak ada siapapun di sana.

Tapi ketika aku memutar badan untuk kembali masuk suara seseorang yang batuk kembali bersuara. aku kembali memutar badan, terlihat kembali sesosok pria berdarah yang berjalan ke arah lorong kecil, aku mencoba mengikuti makhluk di sana memastikan ia hantu atau hanya manusia yang tak punya kerjaan untuk mengerjaiku. Terdengar suara segala macam kali ini, burung yang menakutkan, tangisan, batuk, suara seseorang yang tertawa pelan juga suara lagu yang aku kira berasal dari handphoneku. Aku memutuskan untuk kembali menuju kelas untuk mengambil handphone yang bersuara sendiri juga tas yang sudah kusimpan di kursi tempatku duduk ketika kbm.

Tak butuh waktu lama, sampai juga di papan pintu. “Bismillah” aku membuka pintu. “Happy birthday chika, happy birthday chika.” Adrian, veti dan juga andini sahabat-sahabatku telah berdiri di depan pintu dengan kue ulang tahun juga lengkap dengan lilin berbentuk angka 17 berada di tangan veti. Aku menangis melihatnya, antara haru juga takut dengan kehorroran yang sangat menakutkan.

Ternyata suara-suara itu palsu, suara batuk seseorang, suara tangisan, suara seseorang berteriak juga seseorang yang berjalan menuju lorong itu manusia bukanlah hantu seperti yang aku duga. hanyalah suara sahabat-sahabatku yang konyol untuk membuat kejutan ulang tahun. Berkesan juga menakutkan ulang tahunku yabg ke 17.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany
Ig : renitamelviany_17