Showing posts with label Cerpen Penantian. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Penantian. Show all posts
Tasbih Cinta Ahnaf

Tasbih Cinta Ahnaf

Judul Cerpen Tasbih Cinta Ahnaf

Allah..
Aku telah melalaikan ridho yang menjadi ridho-Mu. Telah mengabaikannya untuk aku meniti setiap ruang kehidupan di jalan-Mu. Aku telah membuka hati ini begitu luas untuk sebuah perasaan duniawi yang tertuju untuknya.

Allah..
Kenapa kau memberikan rasa ini untuk manusia seperti aku? Saat hati ini menjelma menjadi jembatan yang terputus, sementara aku ada di atasnya, bagaimana aku harus memilih di antara dua jalan yang kelak akan bisa menyelamatkanku dan pula menjerumuskanku?

Allahu rabbi..
Sesungguhnya Kau telah menentukan pertemuan kami. Entah akan ada keajaiban apa di sepanjang alur skenario yang telah kau gerai dalam tema hidupku.

Allahu rabbi..
Izinkan aku menghargai cinta yang ada, karena-Mu. Sama seperti aku memuliakan untaian do’a dan keridhoan yang ada dalam genggaman-Mu. Izinkan aku menghalalkan cinta yang Kau simpan dalam jiwa kami. Walau entah dengan siapa Kau izinkan aku untuk mensucikan kasih dan sayang yang selama ini Kau rahasiakan.
Antara Aku dan jodohku..

Sudah hampir menginjak 3 bulan setelah Fariz, lelaki yang Ahnaf cintai sejak kelas 1 SMA itu datang ke rumahnya. Meminta restu kepada Ayah Ahnaf untuk meminang putrinya di langkah yang lebih serius. Jujur, setelah lima tahun lamanya menjalin hubungan dengan lelaki bersih itu, mungkin itulah saat yang paling ditunggu Ahnaf. Kedatangan Fariz dengan niatnya yang suci sebelum mengkhitbah gadis itu. Meyakinkan Ayah Ahnaf dengan bukti kesetiaan dan tanggungjawabnya dalam menjaga Ahnaf, serta tanggungjawabnya sebagai pria yang sudah memiliki pekerjaan tetap. Yang dengan keberaniannya menyatakan kesiapannya untuk menjadi kepala rumah tangga, menjadi imam bagi anak gadis pertamanya. Langkah seperti itulah yang selalu Ahnaf tunggu. Meski memang harus ia akui, tidak mudah meyakinkan Ayahnya untuk sekali menerima dan membiarkan Fariz datang dengan setumpuk tujuannya bersama Ahnaf. Terutama dalam meraih ridho orangtua gadis berusia dua puluh tiga tahun itu. Berulang kali sang ayah menentang hubungan yang Ahnaf sendiri tahu bahwa hubungan itu sama sekali tidak diperkenankan dalam agamanya. Hubungan dengan istilah pacaran itu sama sekali tidak direstui oleh Tuhan-nya yang memberikan rasa. Menciptakan rasa itu sebagai wujud bahwa cinta adalah hal yang fitrah untuk mereka yang segera dihalalkan. Namun Ahnaf tetap optimis, ia tetap berharap bahwa segala penolakan yang secara terang-terangan ditunjukan ayahnya hanyalah bukti kecemasan pada dirinya. Karena jika hanya begitu, Ahnaf setidaknya merasa bersyukur. Meski ia telah mengungkapkan begitu serius perasaan yang telah diamanahkan Allah kepadanya, Ahnaf bersyukur ia mampu menjaga dirinya sendiri.

Fariz adalah lelaki yang meski usianya hanya terpaut 2 tahun lebih tua dari Ahnaf, namun sikap dan cara berpikirnya sangat dewasa. Tak jarang ia selalu mengingatkan, menuntun dan bercerita dengan kalimat-kalimat khasnya yang lebih terkesan seperti pidato. Tak jarang ia juga selalu membicarakan tentang agama. Membuat Ahnaf malu karena sejujurnya Fariz lebih banyak tahu tentang hal-hal seperti itu dibanding dirinya. Dan yang lebih membuat bangga Ahnaf terhadap lelaki itu adalah, Fariz mampu menjaga kehormatannya. Ia tidak pernah berani menyentuh bagian termudah dari dirinya bahkan selama lima tahun mereka berpacaran. Keberhasilan Fariz dalam menjaga Ahnaf secara lahiriyah dan dalam mengukir prestasi menjadi harapan Ahnaf untuk Ayahnya meletakan kepercayaan kepada lelaki itu, meski hanya sedikit demi sedikit.

Namun saat ini justru rasa percaya diri itu seperti melenyap ditelan waktu. Fariz menghilang setelah kedatangannya beberapa bulan yang lalu. Ia tidak tahu apa saja yang telah dikatakan sang ayah kepada Fariz. Namun ketika Ahnaf bertanya kepada ayahnya sendiri, ayahnya itu hanya berkata bahwa Fariz harus memikirkan kembali keseriusannya dalam memilih Ahnaf untuk menjadi istrinya kelak. Berkali-kali Ahnaf bertanya perihal perbincangan mereka saat itu, dan berkali-kali pula Ayah Ahnaf memberikan jawaban yang sama. Kalau sudah begitu, ia tidak bisa menyangkal lagi. Ahnaf yakin bahwa ayahnya berkata jujur. Namun yang ia tidak habis pikir adalah, mengapa Fariz menghilang begitu saja ketika ayahnya hanya menyuruhnya untuk berpikir kembali? Apa sesuatu telah terjadi? Tidak. Terlalu ekstrim untuk berpikir ke arah seperti itu. Namun ia benar-benar tidak habis pikir. Segala jejak yang seharusnya bisa ia ikuti, sama sekali tidak menampakan diri. Nomor handphonenya sudah jelas tidak aktif. Media sosial yang biasa menjadi tempat ia menyebarkan dakwah dalam kalimat-kalimat sederhana sama sekali tidak memberi petunjuk. Tidak ada postingan yang tampak sekalipun. Berulang kali Ahnaf menghubungi beberapa teman dekat dari Fariz, namun mereka juga mengatakan tidak tahu. Entah benar atau tidak keadaannya, Ahnaf hanya bisa mempercayai apa yang ia dengar. Meski di dalam hatinya terbesit keraguan bahwa teman-teman Fariz memang mencoba menutupi keberadaan lelaki itu.

Minggu pertama setelah berbulan-bulan dalam kegalauan, Ahnaf mencoba untuk berhenti mengkhawatirkan keadaan Fariz dan sebab kemana ia menghilang setelah hari itu, serta alasan apa secara tiba-tiba lelaki itu meninggalkannya. Barangkali dengan seperti itu, Fariz akan datang memberi kejutan bersama kedua orangtuanya untuk segara melamar Ahnaf. Itulah harapan terbesarnya saat itu. Harapan yang mungkin memang lebih terkesan seperti khayalan. Dan saat ini hanya Pipit lah satu-satunya teman yang bisa ia andalkan, untuk menjadi tempat curahan hatinya. Saat ia benar-benar membutuhkan seseorang yang bisa membantunya dengan memberikan rangkaian solusi. Karena selain itu, ia tidak bisa lagi mengharapkan solusi dari paman, adik-adik atau sang nenek, keluarga kecilnya di rumah.

Awalnya memang keluarga Ahnaf tidak begitu menyukai Fariz. Entah karena alasan apa mereka tidak setuju dengan pilihan Ahnaf. Namun semenjak kedatangan Fariz waktu itu, mereka mulai sedikit demi sedikit menerima kepribadian lelaki itu. Sopan dan santunnya yang dipandang baik oleh keluarga Ahnaf tentu membuat Ahnaf bahagia bukan main. Penerimaan itu seolah menjadi penghargaan atas apa yang selama ini Ahnaf lakukan untuk memperjuangkan Fariz, pria yang diyakini sebagai masa depannya. Tapi apalah daya, ketika sekuntum bunga mulai merekah, angin yang menerpa bagai menerjangkan setangkai bunga yang sedang kuncup itu. Mematahkan duri dan setiap kelopaknya. Tindakan Fariz yang seperti teroris meruntuhkan kembali dinding kepercayaan keluarga Ahnaf menjadi tumpukan bebatuan pada jurang yang semakin dalam dari sebelumnya. Karena itulah jika sesekali Ahnaf bercerita tentang keresahannya, mereka hanya mengungkapkan kepasrahan dengan apa adanya.

Sudahlah Naf, jangan terlalu dipikirkan.
Mungkin dia ingin sukses dulu. Baru nanti setelah mapan, dia akan datang ke sini.

Ya, mungkin dia hanya butuh waktu. Tapi bukan itulah yang membuat hatinya bimbang. Ada dua hal yang menggamang dalam pikirannya. Dua hal yang menjadi alasan Fariz memutuskan kontak dengannya. Kedua hal itu antara ekspektasi dan realita. Pertama, Fariz memilih pergi karena ia akan mengejar karirnya sementara sebelum ia kembali berniat mempersunting Ahnaf. Kedua, Fariz merasa pengorbanannya adalah hal yang sia-sia ketika Ayah Ahnaf memberikan penolakan secara tidak langsung, dan kemudian ia memilih untuk melepaskan Ahnaf dengan menghilang. Bisa jadi apa yang dilakukan Fariz adalah salah satu di antara dua kemungkinan yang merayap dalam benak Ahnaf. Atau jika tidak keduanya, Ahnaf tidak bisa membayangkan kemungkinan lain. Memikirkan dua hal itu saja sudah cukup membuat pikirannya terbebani. Jika Fariz memang benar-benar telah memutus hubungan di antara mereka, Ahnaf yakin ia merasa batinnya telah dipukul begitu keras. Penantian selama lima tahun yang mereka jalani seolah berjalan sia-sia. Bahkan pepatah yang mengatakan hasil dari kesabaran selalu berbuah manis yang selalu diyakininya kini menjadi entahlah. Semua hal yang telah dilakukannya menjadi bayangan-bayangan mengerikan bila Ahnaf berpikir sampai pada hal itu. Wallahu’alam.

Menjelang isya ketika Ahnaf sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ia menghentikan bacaannya sebelum suara wanita yang dikenalinya itu mengucap salam. Ahnaf segera bergegas untuk membukakan pintu, masih dalam balutan mukenanya. Wanita yang datang itu adalah Pipit. Ahnaf sangat mengenali bagaimana suara sahabatnya itu. Dengan segera ia mempersilahkan Pipit masuk. Hari itu memang sedang tidak ada siapapun di rumah, kecuali dirinya. Namun entah ada ilham apa Pipit menyambangi rumahnya pada jam seperti ini, mengingat hari itu mereka belum juga bersapa lewat sms atau chat.

“Tumben Pit, kamu ke sini. Kenapa nggak telepon dulu?”
“Maaf Naf, aku ndak sempat pegang handphone tadi. Lagipula lebih baik mendadak seperti ini kan..” Kata Pipit sambil mengulas senyum.
“Kenapa lebih baik mendadak? Nggak biasanya lho buat surprise begini.”

Pipit hanya tersenyum simpul. Ia lalu terdiam. Matanya memandangi wajah Ahnaf dengan sendu. Namun seperti kosong. Tatapan itu seperti tidak ada makna selain hanya keraguan yang tersirat. Setelah memastikan keadaan Pipit yang sebenarnya, Ahnaf baru yakin bahwa ada yang tidak beres pada sahabatnya itu. Ia lalu meraih tangan Ahnaf, menyadarkannya perlahan.

“Pit, ada masalah apa?” Suaranya nyaris tak terdengar.
Pipit segera mengalihkan pandangan. Sebutir kristal bening tampak mengalir dari sudut matanya. Ahnaf semakin khawatir menyaksikan keanehan sahabatnya itu.
“Pit..”

Tak menghiraukan Ahnaf sama sekali, Pipit segera mengambil sebuah amplop dari tas tangannya. Kemudian mengembuskan nafasnya sejenak sebelum menjawab keheranan yang terpancar dari wajah Ahnaf.

“Naf, aku baru dapat kabar dan kiriman foto ini sore tadi dari kawan lamaku. Ternyata dia juga teman Fariz. Maaf sebelumnya, bukan aku ingin menyembunyikan hal ini. Tapi aku pun baru tahu yang sebenarnya hari ini..” Pipit menjelaskan dengan nada tertekan, sementara Ahnaf masih belum mengerti maksud sahabatnya itu. Dan entah kenapa jantungnya serasa berdetak lebih cepat. Ahnaf merasa seperti ada hawa panas yang menyergapnya tiba-tiba.

“Kamu akan tahu setelah membuka amplop ini Naf..” Disodorkannya amplop itu kepada Ahnaf. Air muka Pipit nampak lebih tenang dari sebelumnya.
“Baiklah, kalau begitu. Aku permisi dulu Naf, sudah malam.. Semoga ini memang yang terbaik untuk kamu.” Pipit beranjak dari kursinya untuk segera meninggalkan kediaman Ahnaf. Membiarkan Ahnaf bergumul dengan pikirannya sendiri.

Setelah mengantar Pipit sampai di teras rumah seraya membalas ucapan salamnya, ia segera memasuki rumah. Di atas sajadah yang masih terhampar di lantai kamarnya, cukup lama Ahnaf memandangi amplop yang diberikan Pipit. Pikirannya kembali mengatur gambar-gambar wajah Fariz dan segala hal yang mengusik memorinya selama ini. Lalu jari-jemarinya yang lentik perlahan membuka kepala amplop yang tidak begitu tertempel itu.

Hanya dalam hitungan detik, sebuah foto pernikahan yang bahagia terlukis di sana. Allah. Tidak. Apa yang baru saja dilihatnya? Laki-laki dengan pakaian adat khas Jawa Barat berdiri tersenyum di samping seorang wanita cantik yang juga mengenakan pakaian adat khas pengantin. Cantik. Begitu cantik dengan geraian jilbab putihnya yang tertata indah. Ya Allah. Seketika dada Ahnaf terasa sakit. Tenggorokannya serasa tercekat. Ada sesuatu yang berteriak dalam hatinya. Tangisannya seolah tertahan di dalam dada. Ia memang tidak bisa menjerit saat itu juga, namun hatinya begitu menjerit. Di atas sajadah yang terhampar itu, Ahnaf meluapkan buncahan-buncahan perasaan yang menghimpit dalam benaknya. Air mata deras mengalir. Ya Tuhan, inikah jawaban atas pertanyaan yang tak juga hamba temukan jawabnya selama ini? Inikah kejutan yang Kau sediakan untukku?

Ahnaf melongok kembali isi amplop tersebut. Tak ada apapun. Tak ada surat atau lipatan kertas di sana. Fariz mungkin telah bahagia dengan wanita pilihannya. Dan mungkin juga lelaki itu telah berhasil melupakan kehadiran Ahnaf sepanjang 1825 hari ia mengenalnya, sehingga tak tersisa satupun surat untuk sekadar memberi penjelasan pada gadis itu. Memberi setidaknya sedikit ketenangan untuk Ahnaf benar-benar bernafas. Ia hampir menggigit ujung mukenanya ketika menahan tangis. Beruntung tidak ada satupun salah satu dari keluarganya yang tinggal di rumah, sehingga ia bisa membiarkan rahasia itu menjadi rahasia yang hanya tercipta antara ia dan Tuhan-nya. Foto yang seolah menggambarkan kebahagiaan di atas penderitaan orang lain itu tak henti-hentinya terlepas dari pandangan Ahnaf. Terkejut? Tentu. Tak menyangka? Tentu saja. Rupanya lelaki yang telah menghilang dan ia tunggu-tunggu itu melunturkan janji yang mereka bangun, dan membangun kembali ikatan janji suci dengan seorang wanita lain. Sakit memang mengetahui kenyataan yang tidak sejalan dengan harapannya. Namun yang lebih sakit adalah kenyataan untuk mengetahui bahwa wanita yang telah dipersunting lelaki itu adalah seseorang yang pernah dikenalnya dulu. Safina. Wanita yang Ahnaf tahu pernah menyukai Fariz ketika masa SMA dulu. Subhanallah. Ahnaf tidak mampu berkata-kata. Kedua matanya terus berkaca-kaca menumpahkan tetes demi tetes air ketulusan.

Dalam tangisan itu, ia menyadari banyak hal yang selalu ditepisnya selama ini. Cinta memang luar biasa. Dengan keberadaannya, seseorang bisa menjadi sosok di luar dugaan. Dengan keberadaannya pula, seseorang bisa menjadi sosok yang rapuh. Fariz mungkin pernah memberinya kebahagiaan, namun juga telah memberinya pelajaran dengan serangkaian teka-teki yang ia ciptakan. Teka-teki yang telah menjadikannya luruh bagai daun yang disapu angin. Lelaki itu telah membiarkannya memikul penderitaan selama berpuluh-puluh hari, bahkan lebih. Tanpa kabar, tanpa penjelasan, tanpa ingin memberinya keputusan.

Rupanya Allah telah mengujinya. Membiarkan Ahnaf melepas seseorang yang bukan jodohnya. Dalam ketegasan itu, Ahnaf merasa sangat malu di hadapan Yang Kuasa. Selama ini ia terlalu membangga-banggakan orang yang belum pasti disuratkan untuk menjadi pasangan hidupnya. Ia telah begitu terlena memperjuangkan cinta yang belum pasti dihalalkan untuknya.

Dan satu hal yang ia sadari saat itu.. Cinta memang menipu dan meniupkan perasaan yang tiada pernah mati.

Cerpen Karangan: Aina Awliya
Facebook: facebook.com/aina.auliya
Bukan Pertemuan Yang Aku Sesali

Bukan Pertemuan Yang Aku Sesali

Judul Cerpen Bukan Pertemuan Yang Aku Sesali

Seorang gadis yang akrab dipanggil una, dengan nama aslinya husnah, sekarang duduk di kelas 3 SMA yang merindukan kebahagian, tetapi karena masa lalunya yang begitu pahit dan rumit ia curahkan seperti ini ketika ada seorang pria yang tulus menerima dan mencintainya yang nama pria itu arifin.

Bukan pertemuan yang aku sesali, aku rasa itu kalimat yang cocok buat menggambarkan diriku. Kata-kata ini jugalah yang dulunya diberikan oleh seorang cowok yang kukenal kepadaku, yang aku rasa ia begitu kecewa akan kelakuan yang kuberikan padanya. Meski aku tau dia begitu tulus padaku, tapi waktu itu situasinya yang tidak tepat karena posisiku sedang dalam penantian. Meski ia telah bersusah payah untuk meyakinkanku dan menunjukkan betapa ia tulus mencintaiku. Karena waktu itu ia mengerti akan posisiku dan oleh karena itu kami hanya menjalin hubungan sebagai teman, bukan teman seperti biasa yang dilakukan orang-orang tapi lebih tepatnya sebagai teman tapi mesra. Teman dalam hal ini yaitu kami seperti orang yang satu sama lain benar-benar saling mengerti dan memahami. Perhatian yang kami tunjukkan tidak ubahnya seperti sepasang kekasih yang sedang memandu kasih.

Oh betapa indahnya masa-masa itu… Masa yang tidak akan terlupakan. Ingin rasanya untuk kembali ke masa itu, dan andai saja aku di posisi yang benar pada saat itu, maksudnya dalam artian aku lagi sendiri dan ia juga sendiri, pasti semua itu tidak akan terjadi seperti sekarang, pasti kami saling bahagia satu sama lain. Tapi apa yang terjadi sekarang, semua keinginan itu hanya sebagai andai-andai saja. Ya lebih tepatnya hanya sebagai harapan kosong yang tidak menghasilkan apa-apa dan tidak ada arti apa-apa.

Oh tuhan…
Ku masih teringat akan masa-masa indah yang pernah kami lalui bersama, bantulah aku untuk bisa menemukannya… Aku merindukan masa-masa indah dengannya, dan ingin hal itu terulang lagi.
Meski awalnya aku tidak tau dengan pasti apakah dia menyukaiku atau tidak, sama sekali aku tak tau itu! Tapi yang pasti, aku masih teringat kejadian tiga tahun yang lalu saat aku bertemu dengannya untuk pertama kali. Pertemuan itu masih tergambar jelas di memoriku. Dan bahkan sangat begitu terasa dalam sanubariku, meski hal itu tidak sedang terjadi.

Dimana kamu sekarang arifin, una begitu merindukanmu… Izinkan una minta maaf langsung sama arifin… Dan mencurahkan isi hati una yang selama ini una pendam dalam hati una. Una hanya bisa berharap, semoga kita segera bertemu kembali arifin.

Cerpen Karangan: Rahmayanti
Facebook: Rahma Yanti (Rahmayantiekonomi)
Rindu Menyempurnakan Separuh Agama

Rindu Menyempurnakan Separuh Agama

Judul Cerpen Rindu Menyempurnakan Separuh Agama

Pagi hari disertai hujan yang tak kunjung reda membuat manusia enggan untuk beraktivitas. Untungnya hari ini hari minggu, waktuku libur mengajar. Aku membuka jendela kamar sambil mengingat sesuatu. Tak terasa air mata ini mengalir begitu saja. Entah kenapa air mata ini selalu muncul ketika aku mengingat peristiwa dua tahun yang lalu.

“Hiiiimaaa” suara ibuku memanggilku. Segera kuusap air mata yang masih membasahi pipi sembari menuju ke tempat asal suara.
“Iya bu?” tanyaku pada ibu.
“Nak, kamu kenapa? habis nangis ya?” sepertinya air mata tadi menyisakan bekas di wajah
“Tidak apa-apa kok bu, ibu kenapa memanggil Hima?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Nak, ibu ini orangtuamu. Cobalah terbuka dengan ibu! ibu tahu kamu belum bisa melupakan Faris, tapi tidakah kau menginginkan untuk menikah?” sepertinya ibu mengerti apa yang aku fikirkan.
Aku hanya terdiam mendengar kata-kata ibuku
“Sudah dua tahun ini dia tak ada kabar. Meskipun dia sudah mengkhitbahmu, tapi kalian belum menikah. Kamu berhak mencari seseorang yang bisa menjadi imammu nak. Jika kau masih menunggu Faris. Sampai kapan kau akan menunggunya?”
“Bu, bang Faris itu pergi ke papua untuk berdakwah. Tugas itu tidak mudah bu, mungkin saat ini dia harus berfokus pada tugasnya tersebut” air mataku mengalir kembali
“Ibu hanya tidak ingin anak ibu yang cantik selalu menangis, setidaknya jika kamu mendapatkan pengganti Faris kamu bisa move on nak” Ibu menyeka air mataku. “Ibu lihat Rizal menyukaimu dan dia anak yang baik. Kemarin ayahnya datang kepada ibu ingin mengkhitbahmu” lanjut ibu.
“Aku menginginkan waktu dua minggu bu”
“Ya sudah, kamu tenangkan fikiranmu dulu. Semoga kamu memikirkan ini dengan baik”.

Bang Faris adalah kakak tingkatku waktu kuliah. Dia pria yang sangat baik. Bahkan dialah yang mengenalkanku tentang islam lebih dalam. Aku yang dulu tak berjilbab kini selalu memakainya. Dia juga sering sekali menasehatiku. Aku yang dulu suka membantah perintah ibuku, sekarang lebih sering mendengarkannya. Aku yang dulu cerewet, dan banyak yang berkata sekarang aku lebih terlihat anggun dan tak banyak bicara. Ketika ada temannya yang meminta tolong pasti, dia akan membantunya. Dia juga sering memberikan ceramah pada acara-acara keagamaan di kampus. Entah apa yang membuat dia pada akhirnya mengkhitbahku. Memang dialah sosok suami yang aku nantikan selama ini. Namun entah kenapa dia tiba-tiba menghilang seperti ini. Tapi aku merasa dia akan kembali lagi dan pasti akan kembali. Lalu bagaimana aku bicara dengan ibu mengenai Rizal itu, apa alasanku untuk menolaknya. Dia memang terlihat baik tapi, ada sesuatu yang mengganjal. Nanti malam aku akan melakukan shalat istikharah. Semoga Alloh akan menunjukkan jalan yang terbaik.

Seperti biasa, pukul 7 pagi aku harus siap-siap berangkat ke sekolah untuk mengajar. karena motorku bannya bocor, akhirnya aku naik angkot saja. Sepulang dari mengajar aku mampir ke sebuah toko sepatu dekat sekolah. Sepatuku yang kupakai sudah cukup kusam karena memang sudah dua tahun aku pakai, tapi aku masih sangat menyukai sepatu ini. Sepatu yang diberikan oleh bang Farid. Tak lama aku memilih sepatu, karena memang aku tidak terlalu ribet dalam memilih barang. Aku berjalan ke tepi jalan untuk menunggu angkot. Ada anak kecil berumur 5 tahun berjalan di seberang jalan sambil membawa boneka. Dia begitu lucu dengan dua rambutnya yang dikepang dua. Ia berjalan sendirian. Tiba-tiba ada sebuah motor dengan kecepatan tinggi menyrempet anak kecil itu. Ia pun terjatuh dan menangis karena kesakitan. Aku segera menghampirinya, kulihat lukanya cukup parah. Aku melihat di dekat situ ada musolla segera aku menuju ke sana sambil menggendongnya. Ia masih tetap menangis. Aku berhenti di depan teras musola dan kuobati lukanya tadi. Untungnya aku tadi membawa obat. Tangisannya mulai reda.

“Adek kok sendirian, mamanya mana?” aku mulai bertanya padanya.
“Mama lagi kerja” Ya Alloh kenapa dia tega meninggalkan anaknya yang masih kecil demi pekerjaan, dan anaknya ditiggalkan sendirian.
Tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekati kami
“Maaf mbak, ini anak majikan saya. Tadi masih saya tinggal sebentar untuk belanja”
“Dia tadi keserempet motor di jalan, jadinya saya membawanya ke sini.”
“Ya Alloh, makasih ya mbak sudah menolongnya.”
Aku pun mengangguk dengan tersenyum.
Ia pun menggendong anak kecil tadi. Aku pun menuju musola untuk sholat dhuhur karena memang aku belu sholat dhuhur.

Selesai sholat aku kembali menunggu angkot. Lama sekali angkot belum juga datang. Sudah setengah jam aku menuggu angkot. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, jalanan pun mendadak sepi. Akhirnya aku kembali ke musholla sambil menungu shalat ashar. Ku lihat para jama’ah tak cukup banyak, namun sholat justru terasa begitu khusyuk. Sedikit demi sedikit jama’ah sholat meninggalkan musholla. Aku duduk terdiam di depan musholla. Tiba-tiba ada seorang pria bertanya.
“Mbaknya mau pulang?” suaranya terdengar samar-samar. Aku tak bisa melihat wajahnya karena hujan yang cukup deras.
“Iya mas, nunggu angkot lama sekali” jawabku
“Rumahnya di mana mbak?” ia bertanya kembali.
“Di jalan mangga no. 15 mas” dia diam agak lama. Entah apa yang difikirkan. Tapi sepertinya dia orang baik-baik. Aku tadi melihat dia jama’ah di musolla ini juga.
“Ya sudah mbak bareng saya aja, ini pasti angkot nggak bakal lewat. Soalnya hujannya deras banget” Pria tadi menawariku.
Aku masih bingung. Tapi kalau nggak bareng sama mas ini nanti nggak bisa pulang lagi.
“Iya deh” kataku sambil mengangguk.
Dia pun mengambil motornya. Dingin mulai menusuk kulit karena hujan yany semakin deras. Jarakku dengannya cukup jauh karena aku tahu kita bukan muhrim. Kalau saja keadaan tak seperti ini aku tak mungkin mengiyakan untuk pulang bersama.

Tak terasa motor pria itu sudah berada di depan rumahku.
“Mbak sudah sampai, ini kan rumahnya” pria itu memberi tahuku.
“Oh, iya mas.” Aku turun dari motornya dan mengucapkan terima kasih. Sebenarnya aku menawarinya untuk mampir, tapi sepertinya dia buru-buru. Dia meminta nomor ponselku. Aku pikir untuk apa, tapi akhirnya aku memberinya mungkin saja lain kali dia yang butuh bantuan aku bisa membalas kebaikannya.

Aku semakin bingung karena tinggal dua hari aku akan memberi keputusan mengenai pinangan Rizal. Kemarin pria yang mengantarkanku pulang akan mengajakku bertemu siang ini di pantai. Katanya dia butuh bantuanku. Akhir-akhir ini kami cukup dekat. Setelah meminta nomor ponselku waktu itu, dia jadi sering menghubungiku. Dia bilang namanya maulana. Nama itu mengingatkanku pada seseorang. Kedekatan kami bukan apa-apa karena yang selama ini kami bahas adalah pengetahuan mengenai islam. Dia cukup pintar dalam masalah agama. Aku sering bertanya padanya mengenai apa yang tak aku tahu. Entah kenapa aku merasa aku pernah mengenalnya. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh. Aku tak tahu itu. Kulihat jam yang ada di tanganku. Aku segera pamit pada ibu. Aku pun melaju bersama motor mungilku.

Perjalanan hanya setengah jam aku pun sudah sampai. aku segera turun dan semakin mendekat ke bibir pantai. Kutoleh kanan kiri, aku belum melihatnya. Yang terlihat hanyalah Masjid yang cukup megah yang tak jauh dari pinggir pantai. Masjid ini begitu unik. Bangunanya dipenuhi ukiran kaligrafi yang indah dengan gaya klasik yang mengingatkanku pada masa-masa para wali menyebarkan agama islam. Jarang-jarang ada masjid di pinggir pantai seperti ini. Kualihkan pandanganku ke pantai. Deburan ombak menghasilkan bunyi yang cukup keras. Semilir angin pantai membuat jilbabku berkibar. Kudengar ada suara langkah kaki yang semakin mendekat. Aku menolehnya.

“Maaf aku membuatmu lama menunggu” Rupanya pria itu sudah datang. Dia memakai topi dan kacamata hitam. Wajahnya tak terlihat jelas tapi aku sangat mengenal suara ini. Aku menggeleng mendengar pertanyaannya.
“Benarkah kau tak lama menungguku Hima?” Dia melepaskan topinya dan membuka kacamatanya. Aku tersentak. Air mataku meleleh. Terasa jiwa ini seperti tumbuhan kering yang terguyur hujan. Aku tak percaya dia telah kembali. Bang Farisku yang pergi telah kembali.
“Kau jangan menangis, karena aku belum bisa menghapus airmatamu.”
“Hima, maafkan bang Faris yang telah lama meninggalkanmu. Bang Faris pergi karena ini merupakan tugas bang Faris untuk berdakwah. Maafkan bang Faris tidak bisa menghubungimu, ceritanya begitu panjang, tapi sekarang aku sudah kembali.” Dia terus berkata sedangkan aku masih tetap diam dengan airmataku yang masih mengalir.
“Aku tak menyangka kau begitu setia. Padahal kita belum menikah apalagi kalau kau menjadi istriku” ia terus berkata.
“Belum jadi istri saja aku sudah kau tinggal selama ini, bagaimana kalau menjadi istrimu?”
aku mendebat pujiannya.
“Kalau kau menjadi istriku aku tak akan meninggalkanmu, aku akan membawamu kemanapun aku pergi, ikutlah denganku” dia mengajakku mendekati masjid. Dia mengajakku masuk. Aku kaget disana sudah ada ibu, ayah, kedua orangtua bang Faris, dan beberapa orang. Di tengah-tengahnya ada sebuah meja dan seorang penghulu.
“Hima, maukah kamu menjadi khadijahku?” aku bingung dan masih terdiam. Kulihat ibu, dia tersenyum padaku. Aku pun mengangguk dengan sebuah senyuman meskipun airmata ini tak kunjung reda.

Cerpen Karangan: Shukhufim Mukarromah
Facebook: Fishukhufim Mukarromah
Surat Tanpa Nama

Surat Tanpa Nama

Judul Cerpen Surat Tanpa Nama

Kusapa engkau dari ribuan juta mil jarak “Assalamualaikum engkau pemilik hati.”
Tanyakan kabar pada angin samudera yang menyejukan dan mengenyahkan gundah hatimu. Ia mengatakan kau akan selalu bahagia dan rindu itu senantiasa bersemayam dalam jiwa.
Aku ingin memberi tahumu pada “Surat tanpa Nama,” maukah kau membacanya sekiranya ada minat dipikirmu.

Gundahku pabila nanti ku tak kunjung temukan hatimu pada perualanganku menapaki jejak kehidupan. Setiap jengkal duniamu seiring berjalannya waktu dan kebersamaan yang kita lalui.
Ada harap menyisih keraguan, jangan kau sampaikan lagi pada dewi malam, kiranya kau akan melepas gengaman tangan lalu enyah menghindar.

Dalam diam dalam hening, kusematkan rasa dalam doa semoga ia akan tetap terjaga, separuh hatiku akankah tetap utuh disana? Pertanyaan itu menganggu tidurku.

Sayang. Kau dimana?
Ribuan hari aku menantimu dengan setia, percaya bahwa lukisan takdir di tanganmu akan membawamu kepadaku. Entahlah, pada detik ini atau sampai nanti, aku ingin terus menulis surat rindu untuk dikau pemilik hatiku, lalu akan aku titipkan pada sekelompok burung laut yang siap berkelana menyusuri luasnya samudera.

Sayang? Entah aku sebut namamu di surat ini aku memanggil namamu “Wan.”
Pula ingin aku ceritakan padamu, pada dia, mereka dan pada penduduk bumi. Akan aku katakan kepada alam; aku yang dibuat mengangakan kepala mengagumi ciptaan Allah yang paling sempurna yang bisa kulihat pada sendu matamu, pribadi yang mengagumkan. Denganmu kembali ku mengenal warna dari cinta. Dari kejauhan ribuan mil jarak aku milihatmu, aku bisa melihat senyummu, dan bayangmu melayari lautan mimpiku. Wan, sahabatku, bawalah aku kemanapun kau ingin. Genggam erat tanganku akan kutemani engkau dalam petualangan hidup. Dengan garis bawah “jika kau mau,”

Kini aku berdiri disini di dermaga yang bisu, menatap hamparan lautan berkabut tak bertepi. Udara dingin merasuk ke dalam tulang sendi. Sayang, aku tak menghiraukan dingin dunia pabila cintamu mampu menghangatkan. Katakan kepadaku aku tak peduli katamu itu bohong, aku hanya ingin mendengarnya, sekali saja katakan. Biar aku temukan penawar kerinduan.

Segala penat, aku lepaskan di dermaga ini. Sepiku kini ditemani secangkir kopi. Kubawakan secangkir kopi ini teruntukmu yang dirindukan hati, sesungguhnya aku menunggu kapalmu sandar di dermaga ini, lalu kau dan aku akan bertukar rindu sembari menikmati sepasang cangkir kopi dengan nuansa musim dingin awal januari. Wan, kau akan sandar disini. Aku tahu.

Tak ada yang menyenangkan dimusim dingin, apalah artinya aku pabila tanpa engkau membersamai. Kesunyian hanya mengundang keraguan. Tumpukan buku-buku, lembar tugas dan sisa-sisa harapan tentang petualangan menaklukan samudera mimpi. Aku merasakan hadirmu, ini sebuah kegilaan yang nyata, dan mungkin orang lain akan menganggapku tidak waras menulis “Surat Tanpa Nama”. Banyak kiranya yang ingin kutulis, berikan tempat paling luas untuk mereka beradu kata, mengomentari kekurangan orang lain tanpa mengomentari kekurangan dirinya terlebih dulu. Biar saja kebisingan di luar sana membuat penat dunia.

Dikesunyian, kau dan aku dapat merentangluaskan unsur pemahaman dan cara pandang yang berbeda, menjadikan kita kuat takkala kita tersungkur jatuh. Aku bisa rasa kau akan sandar di dermaga sunyi ini, menemuiku wanitamu yang paling tabah di antara penduduk bumi lainnya.

Sebelum kulanjutkan menulis Wan, iya menulis surat tanpa nama untuk engkau pemilik hati. Sejenak kuteguk secangkir cappuccino. Kuletakkan kembali cangkir itu di atas meja bundar. Pandanganku masih terlempar kesana, aku melihat hamparan laut berkabut itu tak nampak lagi, langit mulai cerah namun aku masih merasa duka-cita dalam gundah. Ku memejamkan kedua bola mata, ini lebih menenangkan. Angin kembali bermain-main sesukannya mengombang-ambingkan rasa hingga tak ada satupun makhluk-Nya memahami apakah arti dari rasa yang singgah dalam jiwa. Berkatalah dan jelaskan kepadaku. Sayang kau harus mengatakannya.

“Dia juga rindu!”
Terdengar sayu suara itu. Aku membuka mata dan mencari-cari siapakah yang baru saja bicara.
Entah ini mimpi atau hasulinasi, mungkin saja suatu fatamorgana bayangmu, atau entah aku sedang bermimpi yang pasti aku senang dengan hadirmu.
“Kamu disini, ini kamu?” Tanyaku dengan detak gemuruh jantung. Seakan hadirmu kini menyulap musim gugur menjadi musim semi.
“Kenapa? Apakah kau tak mau berbagi secangkir cappuccino itu denganku?” Engkau bertanya seraya tersenyum. Dan kau tahu senyummu itu bagaikan bius yang mematikan. Selanjutnya mungkin aku akan tertidur seribu tahun.
“Kau tahu Wan sahabatku, disetiap pagi kala sendiri, menuang bubuk cappuccino ke dalam cangkir lalu kutuangkan air mendidih ke dalamnya. Aku mengaduknya pelan. Ada harapan menyenangkan dalam pulau mimpiku, aku ingin membuatkan secangkir capucino untukmu setiap pagi ketika aku terbangun dari mimpi usai menatap fajar.”
“Aku sangat senang bila nanti yang Maha cinta menyatukan hati kita. Sebelum itu maukah kau bersabar menunggu? Terus menyimpan separuh hatimu sampai ia bertemu dengan separuh hatinya,” katamu dengan ekspresi wajah penuh keyakinan. Kedua bola mata itu menatapku tajam, pun tak merasa saat ini aku berada di musim dingin, karena yang kurasa begitu hangat. Jangan pergi begitu cepat. Wan sayangku, aku masih rindu.

Selanjutnya ada suara lain yang memecah keheningan.
“Jingga, jam berapa ini? Kamu sudah ditunggu Pak Dosen. Kamu lupa kalau tugasmu belum kamu kumpulkan?” Kata itu begitu lantang. Aku tersentak kaget sampai kertas surat ini jatuh ke tanah dan berhamburan. Ah kenapa harus menganggu moment menyenangkan tadi. Oh kau Afi, selalu rempong sendiri. Berisik. Selanjutnya aku menguap dan mendrama: Aku akan mengatakan sedang sakit kepala dan mules.
“Iya Fi, tadi aku lagi nggak enak badan terus tiduran disini. Lagian ini terlalu pagi untuk masuk ke kelas dan berjumpa dengan Mr. Botak!”
“Dasar kau! Pasti lagi berkhayal lagi kan, berkhayal tentang pangeran lautmu itu.”
“Hahha sudahlah kawan, mari kita cus menemui Mr. Botak.”

Maaf Wan. Tadi gegara kedatangan teman rempongku itu jadi buyar obrolan manis kita. Sudah dulu ya, aku lanjut study hard. Nanti aku sambung lagi nulis surat untukmu Wan, iya untuk engkau separuh hatiku.

Salam Rindu
Nicma

Cerpen Karangan: Nicma Faneri
Blog: Nicmafaneri.blogspot.com
Kepergianmu

Kepergianmu

Judul Cerpen Kepergianmu

“Kalau aku panggil kamu dari jauh, kamu bakal dengar nggak?”
“Seberapa jauh?”
“Nggak jauh-jauh amat kok, paling cuma 5000 Km.”
“…”
“Aku akan teriak sekencang mungkin, supaya kamu dengar.”



Aku mencoret satu tanggal lagi dari kalenderku. 1826 hari, tepat 5 tahun sejak dia pergi. Tepat 5 tahun juga semenjak aku terus-terusan sendiri, tanpa teman ataupun kekasih.

Aku bukannya introvert atau tak bisa bergaul, aku cuma takut akan melupakan dia. Aku takut tenggelam dalam kehidupan baruku dan kehilangan dia dari dalam memoriku.

Kamu boleh bilang bahwa aku berlebihan. Memang benar, aku juga tahu bahwa aku berlebihan. Tapi kamu tak pernah merasakan jadi diriku. Kamu tidak pernah merasakan mengenal dia.

Dia yang ramah. Dia yang supel. Dia yang selalu ada di sampingku. Dia yang telah membuat aku jatuh ke dalam lubang bernama “cinta”.

Memang, sekarang aku bisa bertemu dengannya di dunia maya. Aku bisa tetap berbicara dengannya walaupun ada samudera yang membentang di antara kita.

Tapi, apakah kau tak sadar? Bahwa itu terasa sangat semu. Palsu. Aku tidak bisa merasakan dia di sisiku. Aku merasa bahwa aku bisa melupakan dia kapanpun jika aku tidak melakukan hal seperti ini. Menutup diriku dari semua orang agar hanya ada dia di dalam pikiranku.

Tik.. Tik.. Tik..
Aku mendengar suara hujan yang menetesi genting. Dulu, Aku tak pernah suka hujan tapi selalu menyukai pelangi. Dia selalu suka hujan dan tak pernah suka pelangi. Bagiku, hujan menyebalkan, berisik. Bagi dia, hujan itu menenangkan. Bagiku, pelangi itu indah. Bagi dia, pelangi itu kebohongan. Dia bilang, warna-warna yang ada di pelangi itu palsu. Tapi itu dulu. Sekarang, setiap aku melihat hujan, aku akan teringat dia. Aku suka hujan, karena hujan membantuku untuk tidak melupakan dia. Dia juga berkata bahwa dia mulai menyukai pelangi. Ia bilang wajahku seolah-seolah terlukis di sana saat ia melihatnya. Dan dia suka itu, katanya.

Kamu kapan pulang? Di sini lagi hujan, kamu pasti suka.

Aku menekan tombol send di layar HP-ku.

Aku mengalihkan pandanganku ke seberang jendela. Entah mengapa, tetesan hujan itu terdengar menenangkan.

Aku mulai memahami dia.



Lewat 24 jam sejak Aku mengirimkan pesanku padanya. Aku menatap layar HP-ku. Terdiam seraya membaca tiap-tiap kata yang tertulis di situ.

Aku tak akan pulang. Lupakan saja diriku.

Aku merasa duniaku hampa. Gelap. Matahari seolah-olah menghilang.



Bisakah kamu bayangkan perasaanku? 5 tahun aku menunggu dan jawaban yang aku dapatkan hanyalah kalimat itu.

Aku tak mengerti. Aku tak mau mengerti. Yang aku mau cuma dia. Sungguh.

Hujan turun lagi. Lebih deras dari yang kemarin. Seolah-olah mengerti betapa sedihnya aku. Aku berlari ke luar dari rumah menuju ke tengah hujan. Berharap dengan begini, aku bisa merasakan pelukannya. Aku ingin teriak, melepaskan amarahku padanya. Tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa marah padanya. Dan aku hanya bisa marah pada diriku sendiri. Aku diam di situ. Di tengah jalan sepi tanpa satu kendaraan ataupun orang yang melewatinya kecuali aku. Ditemani hujan dan langit senja yang tertutup awan, aku menangis.

“Bodoh, nanti kamu sakit.” Suara berat terdengar dari belakangku. Sebelum aku menoleh, si pemilik suara itu sudah terlebih dahulu memelukku.

Aku terdiam. Walaupun 5 tahun sudah berlalu, walaupun tubuhnya sudah jauh lebih tinggi dari yang dulu. Aku tetap tahu, aku tetap bisa merasakan bahwa itu adalah dia.

“Yang bodoh itu kamu.”

Dia membalikkan badanku sehingga aku sekarang menatapnya. Dia tersenyum, masih sama manisnya dengan 5 tahun yang lalu.

Dia menatap mataku lekat-lekat. Seakan-akan ada sesuatu di sana. Padahal yang ada hanyalah bola mataku.

“Mata kamu masih cantik.”

Dia tersenyum lebih lebar lagi. Seakan memaksaku untuk ikut tersenyum.

“Bodoh.” Aku memukul dadanya pelan.

“Maaf. Aku memang bodoh.” Dia mengelus rambutku lalu mendekapku lagi ke dalam pelukannya.
“Aku cukup bodoh untuk tetap mencintai orang yang sama setelah 5 tahun,” dia berbisik pelan.

Aku memeluknya balik.

“Maaf kalau teriakan aku tidak terdengar.”
“Aku pikir kamu benar-benar tidak akan kembali.”
“Aku janji, itu terakhir kalinya aku pergi.”

Cerpen Karangan: Divangelis
Blog: divangelis.wordpress.com
Tak Berujung Denganmu

Tak Berujung Denganmu

Judul Cerpen Tak Berujung Denganmu

Sejuk senyap embun pagi menemani hati dalam rindu. Perlahan angin berhembus menerbangkan dedaunan menuju titik perhentian. Seiring dengan itu riuhan kicauan burung mengisi ruang pendengaran. Aku sudah lama menanti setiap pagi. Tidak ada yang berbeda, sunyinya hari-hariku sejak dia pergi. Hitam kelabu rindu menyelimuti kalbu. Aku menunggu untuk dibuai sendu. Kamu yang selalu kunanti tak kunjung kembali.

Tepat 4 tahun 2 bulan kita tidak bertemu, perpisahan jarak antar benua membuatku tak pernah henti mengkhawatirkan keadaanmu. Sudah 4 tahun kan? itu artinya dia pasti akan segera kembali ke Indonesia. Ohh sahabatku, tak sabar lagi aku ingin sekali menatap wajahmu, merangkulmu, bercanda tawa denganmu, dan itu aku tidak sabar untuk membuka kotak kecil dibawah pohon di dekat taman SMA kita. Tapi, aku sedikit ragu dengan sahabatku itu selama 4 tahun dia tidak pernah membalas E-mail dariku. Apakah kuliah di luar negeri itu sulit sekali? sampai dia tak menyempatkan waktu untuk membuka E-mail dariku? Hmmm.

Namaku Risti, hari ini hari pertama aku memulai pekerjaanku sebagai seorang perancang bangunan di sebuah perusahaan ternama. Lulus dengan fresh graduate membuatku mudah mendapatkan pekerjaan. Meskipun aku harus pindah daerah dari kota asalku itu tidak masalah, setidaknya aku bisa sedikit melegakan hati yang terus dibuat rindu akan penantian kembalinya sahabatku itu.

Di hari pertamaku, aku bertemu dengan seseorang yang tidak asing “Risti? sedang apa disini?”, “Eh Mas Rangga, Risti pegawai baru disini Mas, Mas sendiri?” ,”Wahh bagus kalau gitu selamat bergabung ya, Mas sudah bekerja lama disini dan sudah diangkat sebagai ketua tim perancangan, kamu bagian apa Ris?”, Aku tercengang mendengar jawaban Mas Rangga, dulu Mas Rangga ini seniorku di kampus dia juga pernah mengajakku berkencan tapi aku selalu menolak sekarang aku jadi awkward di hadapan Mas Rangga “Eh anu itu, Risti bagian perancangan juga Mas”. “Hahaha bagus ya Ris, ternyata bener kalau jodoh pasti ketemu”, ”Eh maksud Mas Rangga?”, “Enggak Ris, yuk kita ke ruangan”. Tiba di ruangan Mas Rangga memperkenalkan aku di depan semua anggota tim, Mas Rangga terlihat bahagia sekali, apa Mas Rangga masih mempunyai perasaan terhadapku? Oh my God, Why on me???

Jam sudah menunjukkan jam 8 malam kebetulan pekerjaan di kantor kuselesaikan dengan cepat dan aku bisa kembali ke apartmen, jam seginilah aku biasanya mengirim E-mail untuk sahabatku itu. Aku tidak peduli walaupun dia tidak membalas satupun aku tidak pernah lelah untuk terus mengirimkannya sebuah email. Paling tidak ketika dia membuka E-mail nanti dia akan tau bahwa ada seorang wanita yang selalu setia mengirim tanpa mengharapkan balasan. Yaa… sesimple itulah pemikiranku. Kring kriing kring, ohh that’s my phone ringing. “hallo? dengan siapa ini?”, “ini Mas Rangga Ris”, “Ohh Mas Rangga, ada apa?“, Mas Rangga bercerita dia membutuhkan bantuanku untuk bekerjasama menyelesaikan permintaan client yang rumit, aku pikir itu hanya modus Mas Rangga saja. Husshh kenapa jadi negative thinking gini sih, hmm.

Hari demi hari kulalui seperti biasanya mengirim E-mail untuk sahabatku,dan bekerja, tapi ada yang berbeda 12 bulan sudah aku bekerja di perusahaan itu, Mas Rangga selalu mengajakku untuk membantunya dan aku semakin dekat dengan Mas Rangga. Yang dulunya aku tidak pernah menerima ajakan makan malam sekarang hampir setiap malam aku makan bersama Mas Rangga. Mas Rangga selalu memberiku kode-kode alam tapi aku pura-pura gak peka. Gak peka bukan berarti bisa mendengar tapi lebih tepatnya tidak peduli. Mas Rangga baik, tidak ada yang salah dengan Mas Rangga hanya aku saja yang terlalu lama sendiri. Lohh kok hahahaha…

Suatu hari aku dibuat terkejut oleh Mas Rangga, dia berkata akan datang menemui orangtuaku untuk meminta izin. Meminta izin apa? aku sudah mengira dia akan datang untuk melamarku. Tapi bagaimana mungkin, aku masih menanti seseorang yang belum kembali, aku masih tertegun dalam harap akankah dia kembali atau tidak? tidak ada kabar sama sekali. Apakah aku harus menerima Mas Rangga? aku benar-benar dilema. Seperti inikah ujung dari penantianku? yang kunanti tak kembali yang tidak kunanti hadir, bagaimana mungkin aku melepaskan orang yang ingin serius denganku hanya karena seseorang yang 4 tahun kunanti tanpa kabar dan berita apapun. Tapi jujur aku masih sangat berharap untuk dapat bertemu dengannya. Aku ingin sekali mengetahui apakah perasaannya sama dengan perasaanku. Bagaimanapun ujungnya, aku tidak boleh egois aku harus menghargai perasaan Mas Rangga. Jika memang Mas Rangga yang terbaik untukku aku berharap tidak akan bertemu lagi dengan sahabatku itu.

Orangtuaku setuju, semua sudah setuju aku dan Mas Rangga bertunangan. Di hari pertunanganku dengan Mas Rangga, tak sadar aku menjatuhkan gelas dalam genggaman ketika mendengar seseorang berkata melihat Dennis membawa bunga di gerbang. Aku pun berlari tak menghiraukan apapun. Aku tak melihat ada Dennis, dimana Dennis? air mataku menetes. Seseorang yang selama ini kurindukan aku belum melihatnya tapi dia sudah pergi. Mas Rangga datang menghampiriku “saya tidak peduli seberapapun saya mencintai kamu betapa bahagia telah bertunangan denganmu hari ini, jika kamu menangis saya akan menghapus air matamu, carilah dia yang kamu nantikan. Jika kamu tidak menemukannya saya masih ada dan siap menikahi kamu. Cukup melihatmu bahagia tidak menangis itulah cinta saya yang nyata”. Hari itu aku menangis tersedu-sedu dihadapan Mas Rangga.

Keesokan harinya, aku mencari Dennis ke rumahnya tapi tak terlihat seorang pun. Aku mulai bingung harus mencari Dennis, apakah benar Dennis kembali? tapi seharusnya dia memberitahuku lebih awal. Mataku menerawang ke sekeliling rumah Dennis, aku melihat serangkaian bunga tergeletak di balik semak. Aku pun meraihnya ya ini bunga baru, ini artinya Dennis benar-benar kembali. Sejenak terlintas di fikiranku tentang sebuah kotak kecil itu. Aku bergegas menuju taman dekat sekolah. Tepat di bawah pohon yang sudah kami beri tanda aku masih sangat mengingat pohon itu walau tak diberi tanda. Aku melihat-melihat keberadaan Dennis namun tak terlihat juga. Akhirnya aku mendekati pohon itu aku menggali dan mengambil kotak itu, tapi sepertinya Dennis sudah menggali tanah ini, tunggu… Kenapa kotak ini tidak terkunci, Dennis sudah membukanya aku tau karena kunci kotak ini di tangan Dennis. Tidakk!! tidak mungkin, kenapa Dennis mengosongkan kotak ini? dia hanya meninggalkan sebuah kunci. Sia-sia sudah aku tak akan bertemu lagi dengan Dennis.

Tiba-tiba ponselku berbunyi, sebuah E-mail masuk. “Aku tau kamu akan datang mencari kotak itu, aku memang pernah janji ketika kembali akan membuka kotak itu bersamamu. Tapi malam itu aku tidak sabar ingin membaca apa yang kamu tulis, you want to be my wife? aku sudah membalasnya malam itu. Umhh sudahlah, aku tidak mau bertemu denganmu jika kamu masih ingin menjadi istriku, tapi tetaplah menjadi sahabatku selamanya. Aku akan datang di pesta pernikahanmu nanti. Umhh iya kamu tidak perlu khawatir kenapa aku tidak jadi menemuimu kemarin. Karena aku tau kamu sayang aku kan? mau jadi istriku kan? hahahahaha Risti… Risti… I love you my best friend”.

Di hari pernikahanku dengan Mas Rangga, Dennis benar-benar hadir disitulah aku kembali menatap wajahnya untuk yang pertama kali setelah sekian lama tidak bertemu. Dennis tetap menjadi sahabatku dia bersikap nyaman sekali layaknya sahabat. Setelah itu Denis pun kembali ke Berlin untuk melanjutkan studinya, bekerja dan memulai lembaran baru di Berlin. Dan aku juga membuka lembaran baru bersama Mas Rangga.

Dennis sahabatku sejak kecil, dia pangeranku tapi tidak menjadi suamiku, sampai saat ini aku tidak tau apa jawaban Dennis tentang pertanyaanku. Terkadang kita pernah mendengar “jika dia memang terlahir untukmu sejauh apapun kamu melempar dia akan tetap menjadi milikmu”.

Cerpen Karangan: Oka Nadya
Facebook: oka.nadhiiya
Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku

Judul Cerpen Cinta Pertama Dan Terakhirku

Hari ini seperti hari-hari biasa seperti yang kualami. Pergi ke sekolah untuk mencari ilmu dan bertemu dengan teman-teman yang sama. Tapi sejak 2 tahun yang lalu hidupku berubah menjadi indah, karena ada dia. Dia adalah Dewa teman sekelasku yang menjadi kekasihku. Sebenarnya aku ragu untuk menerima cintanya tapi karena ketulusannya akhirnya aku menerimanya menjadi kekasihku.

Pagi ini aku berangkat ke sekolah dengan agak murung, tetapi ketika aku mengingat bahwa hari ini adalah hari jadiku dengan Dewa yang ke 2 aku menjadi gembira dan aku tersenyum kepada diriku sendiri ketika mengingat pertama kali Dewa menyatakan cintanya kepadaku. Dulu kami masih cupu karena kami masih kelas 1 SMA sekarang kami sudah kelas 3 SMA. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kubuka laci tempat di mana aku meletakkan surat pernyataan cinta Dewa kepadaku, lalu kubaca ulang surat itu.

Untuk: Alana Febiola
Dari: Dewa Lenggana
Setahun yang lalu aku hidup dalam kedamaian dan ketenangan… Namun ketenangan itu sekarang telah berubah jadi kebisingan dan kedamaianku jadi persaingan.
Gemetar!!! Gemetar tanganku ketika mula-mula menulis surat ini. Hatiku memaksaku menulis, banyak yang terasa, tetapi setelah kutuliskan penaku ke dawat, hilang akalku tak tentu arah dari mana harus kumulai?
Saya menanggung perasaan ini seorang diri, tiada tempat mengadu. Mengapa hal ini saya adukan kepadamu Alana? Itu pun saya tidak tahu, cuma hati saya berkata, bahwa engkaualah tempat saya mengadu…
Di dalam khayalku dan dalam gelapnya malam, tersimbahlah awan, cerahlah langit dan kelihatanlah satu bintang. Bintang itu adalah kau Alana. Maukah kau menjadi kekasihku untuk menjadi semangat dalam hidupku? Agar aku semangat bersekolah? Jika kau tidak mau menjadi kekasihku jadilah teman yang selalu menemaniku.

Setelah membaca surat itu aku segera berangkat ke sekolah dan segera menemui Dewa untuk sekedar mengingatkan hari jadi kita yang ke 2. Tapi ketika aku sampai di kelas dia mengajakku utuk ke taman sekolah dan berbicara kepadaku bahwa hubungan ini tidak dapat dilanjutkan lagi karena dia akan pergi ke luar kota untuk melanjutkan kuliahnya serta ikut ayahnya karena ayahnya dipindahkan tugasnya. Aku hanya terdiam di tempatku berdiri. Aku terlanjur menyayanginya, mengapa dia harus pergi meninggalkanku? aku menangis dan berusaha menahannya tapi butir-butir air mata ini tidak dapat dibendung lagi. Dia berkata kepadaku “Na, jangan menangis akan kuusahakan aku akan kembali ke sini untukmu”. Janji itu yang kupegang sampai sekarang.

10 tahun kemudian, sekarang usiaku 28 tahun, dan aku masih mengingat janji itu. Aku memegang janji itu tapi dia tidak kunjung datang untukku. Terkadang aku bertanya kepada Tuhan apakah dia lupa denganku apakah ada suatu hal terjadi padanya? aku selalu berdo’a setiap hari agar dia datang kepadaku. Tapi sampai sekarang dia tak kunjung datang juga.

Suatu hari orangtuaku merasa kasihan kepadaku karena usia sudah semakin bertambah, dan mereka berencana menjodohkanku dengan orang pilihan mereka. Aku tidak mau dan menolak perjodohan itu. Lalu aku pergi meninggalkan rumah dan hidup sebatang kara.

Setiap hari aku menununggu di tempat yang sama ketika dia pergi. Aku tidak bosan menunggunya. Ditemani dengan matahari yang kemudian berganti dengan bintang-bintang yang seakan mengajakku untuk bersama mereka agar aku tidak sendirian lagi. Kini usiaku tidak muda lagi, penantianku yang begitu lama tidak membuahkan hasil. Kini aku sudah lelah menunggunya dan tidak ada harapan lagi untuk bersama, dan ketika tubuhku tak mampu lagi digerakkan, nafasku tak lagi berhembus, dan jantungku berhenti berdetak aku tetap sendiri menanti kehadirannya yang tak kunjung datang. Inilah akhir penantianku…

Amanat: orang yang kita sayang mungkin tidak selamanya yang terbaik untuk kita, kita harus bisa memilih mana orang yang baik untuk kita dan mana yang bukan. Mungkin pilihan orang lain adalah orang terbaik untuk kita. Jangan remehkan orang lain.

Cerpen Karangan: Nila Ni’matul Maula
Facebook: Nila Ni’matul Maula