Showing posts with label Cerpen Persahabatan. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Persahabatan. Show all posts
Cintamu Bukan Untukmu

Cintamu Bukan Untukmu

Judul Cerpen Cintamu Bukan Untukmu

Sudah sangat lama sekali aku mengenal hamid. Dia adalah temanku sejak smp, dari dulu kami berdua memang sudah sangat dekat bahkan dia sudah sepetri saudaraku sendiri dan semanjak acara kelulusan sekolah aku dengan hamid tidak lagi bersama.

Kami meneruskan jalannya masing-masing akan tetapi komunikasi kami tidak pernah terputus, perhatian hamid yang selalu dia berikan ke aku pun tidak pernah putus, dia selalu mengingatkanku tentang hal apa saja setiap saat, dia selalu mensuportku tentang segala hal yang ingin aku capai, tapi sayangnya 1 hal yang dia tidak pernah setuju denganku kalau aku memiliki kekasih “kamu tuh harusnya inget sayang apa yang kamu impikan, apa yang kamu cita-citakan buatlah orangtuamu bangga dengan prestasi-prestasimu” itu yang selalu dia katakan

Hari berlalu begitu cepat, minggu pun telah berganti bulan, bulan telah berganti tahun perasaanku kepada hamid semakin kuat tanpa ku sadari bahwa aku telah mencintainya sejak aku smp, entah apa yang membuatku jatuh cinta pada hamid apa karena perhatian yang selalu ia berikan tapi entah aku pun tak tau banyak tentang cinta.

Di salah satu caffe yang bisa aku dan hamid makan tak sengaja aku ketemu dengan hamdi. Betapa habagianya aku bisa bertemu dengannya “aa” sapaku pada hamid “dede caktik, aa kangen banget sama kamu sayang” ucapnya memeluk tubuhku “aku juga a, kangen banget” aku membalas pelukannya dengan erat dan tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiri kami “yank” panggil wanita itu kepada hamid, aku bingung kenapa wanita itu memanggil hamid ‘yank’ “ini siapa a?” tanya ku “ini pacar aa de, dia calon kakak ipar kamu, cantik kan? namanya devi” ucap hamid membuatku terkejut “devi” ucap devi mengulurkan tangannya. “pacar???” ucapku bingung “iya ini pacar aa sayang” jawab hamid “maaf aku harus pergi” ucapku, hatiku hancur seketika mendengar devi adalah pacarnya hamid, orang yang selama ini aku pikir memiliki perasaan yang sama ternyata dia diam-diam meiliki seorang kekasih.

“ade kamu kenapa yank?” tanya devi “aku juga gak tau, emm aku susul dia, kamu pulang sendiri nggak apa-apa kan?” ucap hamdi “iya udah nggak apa-apa” ucap devi. hamid pun mengejarku dengan sepeda motornya.

Tak ada pilihan lain bagiku salain ke danau dimana aku selalu meluapkan segala isi hatiku di danau itu “TUHANNN kau tak adil padaku hiks hiks hiks aku yang pertama kali bertemu dengannya, aku yang mengenalnya begitu dekat harus patah hati karenanya hiks hiks sedangkan dia, yang baru mengenalnya bisa memilikin dia hiks hiks ini nggak adil tuhan nggak adil” teriakku dan menangis sejadi-jadinya perasaanku hancur rasanya sudah tak ada lagi kehidupan di hidupku.

Tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang memelukku dari belakag dan ikut menangis “maafin aa udah buat kamu nangis, kanapa nggak pernah bilang ke aa sayang” ucap hamid membalikan tubuhku sehingga aku dangannya berhadapan, aku pun hanya menundukan kepalaku “liat aa sayang, aa memang cinta sama kamu, aa sayang, aa perhatian sama kamu, tapi sebangai seorang kakak kepada adiknya” jelasnya “tapi aku cinta sama aa, aku nggak mau kehilanggan aa” ucapku “karena aa nggak mau kehilangan kamu, kalau aa jadiin kamu pacar kita nggak akan pernah tau sampai di mana hubungan itu, kita putus terus saling menjauh aa gak mau seperti itu. pacar itu pasti ada yang namanya mantan sedangkan adik, nggak ada yang namanya mantan adik” jelas hamid mencoba menjelaskan alasanya, aku pun memeluk tubuhnya dengan erat dan dia membalas pelukanku.

Di situlah aku sadar bahwa memang hubungan seperti inilah yang terbaik untukku dan hamid. Jika pacar ada mantan tapi tidak untuk adik.

Cerpen Karangan: Juniar Amalia
Blog / Facebook: Juniar Amalia putri karisma
Smarthree

Smarthree

Judul Cerpen Smarthree

Assa dan Putri sudah dari kelas tiga akrab, bersahabat. Mereka cerdas, selalu disayangi guru dan teman-teman lainnya. Mereka selalu mengajari satu sama lain. Saat kelas lima, Assa bertemu degan teman yang baru sekelas dengannya, Echa. Mereka kenal satu sama lain, tapi hanya saling menyapa dan tidak terlalu akrab.

Di kelas lima semester dua, Putri dapat peringkat satu (langganan peringkat satu), Assa peringkat dua, dan Echa peringkat tiga. Mereka saling berbagi ilmu. Mereka hampir selalu berkelompok dalam tugas kelas. Mereka sangat kompak.
Ketika mereka butuh bantuan selalu ada yang membantu dengan ikhlas. Mereka disukai semua teman-teman.

Kepribadian mereka berbeda. Mereka bertiga berhijab. Assa sering dipanggil Iblis Bagasura oleh murid lelaki karena galak, tegas, dan selalu bertatapan tajam kepada mereka. Assa juga jago silat, tapi dia hanya mengancam saja serta tidak memukul beneran. Perempuan menyebutnya Si Tomboi. Assa hobi membaca novel tebal, bermain tenis, bulu tangkis, sepak bola, takrau, internetan, membuat novel, merajut, menganyam, dan membuat kerajinan lainnya, memanjat pohon, dan bermain panahan dan skateboard. Assa menjabat sebagai wakil ketua kelas. Dia berpostur jangkung, tapi tingginya sekening Echa, rambutnya mirip lelaki berambut agak gondrong.

Echa yang kerap dijuluki Si Alim adalah orang yang paling gaul dan ceria di persahabatan mereka. Postur tubuhnya jangkung. Dia suka bercanda dan terseyum. Rumahnya cukup jauh dari sekolah. Hobinya internetan dan membuat cerita, serta chattingan.

Putri adalah orang yang kerap dijuluki Si Jenius. Dia paling pendek, tapi hanya sedikit pendek dari Assa. Orangnya lembut jika di luar jam kelas. Jika di dalam jam kelas disiplin, tegas, sering menggebrak meja, dan membuat kelas diam. Ya, Putri adalah ketua kelas.

Sekarang Assa dan Echa menjadi petugas upacara kelompok dua kelas 5A. Putri ada di kelompok satu. Amanat Pak Kepsek lama. Tapi pasti ada pengumuman. Biasanya begitu. Assa untung menjadi pembawa acara tertutupi atap. Echa ada di lapangan, dia pemimpin upacara.

“… Dan pengumuman lomba tingkat kota kemarin alhamdulillah banyak yang mendapat juara. Yang disebut silahkan maju. Dari atletik adalah Zollam dan Nia. Dari Agama Islam Nadica dan Taya. Dari aksara Sunda Kezya dan Ramadhan. Dari olimpiade Matematikan Echa dan Putri. Dan olimpiade Sains Assa.”

Semua yang disebutkan maju dan difoto bersama Pak Kepsek dan piala hasil usaha mereka. Mereka memberikan piala pada sekolah. Kezya maju ke tingkat provinsi karena dia mendapat juara satu. Juara satu maju ke provinsi, dua dan tiga tidak. Seusai upacara, mereka izin meminjam piala dan foto bertiga serta Pak Kepsek dan wali kelas mereka. Sungguh mereka senang sekali dan akan membanggakan orangtua.

“Alhamdulillah dapat jalur prestasi,” gumam mereka. Mereka diucapkan selamat dengan meriah. Khusus kelas lima seraya merayakan acara ulang tahun sekolah. Mereka mengganti seragam putih merah/petugas upacara menjadi seragam Pramuka. Mereka meletuskan petasan kertas dan menari dengan lucu dengan lagu lucu (nada saja tanpa suara). Ada flyng fox yang dipasang di gedung tiga hingga gedung satu jaraknya. Ada mainan bola pingpong yang harus keluar dengan cara menutup pipa bolong dan memasukkan air hingga bola keluar. Lalu, panjat pinang yang ahlinya Assa. Mereka tentu juara. Regu Melati ditambah Gita dan Nia (satu regu lima-enam orang).

Saat pengumuman hasil skor. Semua murid mungkin deg-degan dan berharap menang. Juara satu diraih oleh regu Melati. Mereka senang sekali. Apalagi Assa, Echa, Putri, dan Nia yang menerima dua penghargaan dan hadiah. Persahabatan mereka memang sangat setia dan dipertahankan.

Cerpen Karangan: Axscores Devness Compny
Hurt

Hurt

Judul Cerpen Hurt

Hari itu, hari yang kutunggu-tunggu. Hari yang selalu kuharapkan. Hari yang kupikir akan menjadi kenangan yang indah. Adalah awal kehancuranku.

Hari itu, semua musnah. meninggalkan rasa sakit dan kehampaan. Hari dimana peristiwa itu terjadi. Peristiwa yang merenggut kebahagianku. Peristiwa yang mengambil mereka, orangtuaku untuk selamanya.

Di bawah guyuran hujan aku menyaksikan sendiri. Betapa tak berdayanya mereka, orangtuaku.

Sejak hari itu semua menjadi berbeda. Hanya ada tatapan iba dan rasa kasihan mereka untukku. Membuatku muak. Membuatku terjerat dalam sepi dan tak ingin beranjak darinya.

Sampai dia hadir menghancurkan pertahananku. Ashad, begitulah mereka memanggilnya. Murid pindahan dengan wajah tampan dan tingkah konyolnya. Mengulurkan tangannya kepadaku dan menawarkan sebuah pertemanan.



Kring kring kring
Bel masuk pun berbunyi. Siswa-siswi menempati kursinya masing-masing. Sunyi. Sampai akhirnya bu Rika, guru matematika kami pun masuk.

“Selamat pagi anak-anak” sapanya dengan ramah.
“Selamat pagi bu” sapa kami serempak.
“Oh ya hari ini kita kedatangan murid baru. Silahkan masuk nak Ashad” kata bu Rika memanggil Ashad.
“Silahkan perkenalkan dirimu terlebih dahulu” lanjut bu Rika.

“Perkenalkan nama saya Ashad, Ashad Firaz Dhyiaulhaq. Pindahan dari SMAN 3 Bandung. Sekian”
“Silahkan duduk di samping Adna. Adna angkat tanganmu” perintah bu Rika.
Aku mengangkat tanganku. Memasang wajah dingin yang menjadi perisai tiga bulan terakhir ini. Aku hanya tak ingin dia mengganggu ketenanganku. Tapi..

“Hai, gue Ashad. Salam kenal” Ashad mengulurkan tangannya dihadapanku.
“Adna Abira Ganiyah” ucapku dingin tanpa membalas uluran tangannya.
“Ohh oke” dia menarik uluran tangannya kembali.
Perkenalan ini menjadi awal kedekatan kami. Bukan, bukan kami tapi dia yang selalu menempel padaku. Risih? Pasti, aku sudah terbiasa sendiri.

“Na.. Na.. Pelan dikit kek jalannya” protesnya.
“Gue gak minta lo buat ikut sama gue” ucapku dingin.
“Iya iya tapi bisa kan pelan dikit jalannya” ucapnya memelas.
Membuatku tak bisa menahan senyum. Tanpa tersadar aku memendekan langkahku.
“Nah gitu kek dari tadi” ucapnya dengan senyuman khasnya.
Awalnya aku merasa risih karena dia terus mengikutiku. Tapi akhirnya aku terbiasa dengannya. Tanpanya aku merasa sepi.

Rintik hujan mulai turun membasahi jalan. Hari ini kami akan menghabiskan waktu bersama. Senang rasanya bisa berkumpul dengan mereka karena jarang sekali orangtuaku memiliki waktu luang seperti ini.

Suasana di mobil saat itu sangat menyenangkan. Kami bernyanyi dan bersenda gurau bersama. Sampai..
Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku melihat wajah papa yang memucat. Mama yang berteriak, meminta papa untuk berhati-hati. Seketika suasana menjadi tegang. Sampai di detik berikutnya mobil yang dikendarai papa sudah menabrak pohon di depan kami.

Aku merasakan sakit yang luar biasa. Tak tertahankan. Sayup-sayup aku mendengar seseorang berteriak, meminta bantuan karena ada sebuah kecelakaan.

“Kecelakan? Benarkah?” tanyaku dalam hati. Aku membuka mataku, untuk pertama kali nafasku tersedat. Tak percaya dengan apa yang aku lihat. Mereka, orangtuaku, ada darah menyelimuti tubuh mereka. Tak bergerak.

Keringat dingin membasahi dahiku. Mimpi buruk itu lagi. Sampai kapan aku harus terperangkap seperti ini. Menyakitkan.

Hari ini aku memilih untuk beristirahat di rumah. Menenangkan diri.
Aku memilih pergi ke taman dekat rumah. Di siang hari yang terik ini banyak sekali anak-anak yang sedang bermain. Melihat senyum mereka membuatku ikut tersenyum.

Entah karena apa airmataku menetes. Disaat itu juga aku melihat sebuah saputangan di hadapanku.

“Hapus airmata lo. Gue gak suka liat lo nangis” ucapnya tanpa menatapku. Aku mengambil saputangan pemberiannya.
“Kenapa lo ada di sini?” tanyaku heran.
“karena lo ada di sini” jawabnya.
Hening, tak ada satu pun dari kami yang berbicara setelahnya.

“Kalo lo ada masalah cerita sama gue. Gue di sini ada buat lo” ucapnya meyakinkanku.

Aku ingin mempercayainya. Membuka diri dan menceritakan masalahku padanya. Tapi mampukah aku melawan rasa takutku? Mampukah aku untuk berdiri tegak bila merasakannya kembali? Mampukah?

Dua Tahun Kemudian
Aku memutuskan untuk berhenti, berhenti merasakan sakit. Mencoba membuka diriku dan berdamai dengan masa lalu.
Aku ingin menceritakan segalanya pada Ashad hari ini. Seseorang yang tetap berada di sisiku meski aku memintanya pergi. Seseorang yang tak pernah menyerah.

“Woy..” teriaknya ditelingaku.
“Apaan sih lo?” tanyaku ketus.
“Salah lo sendiri ngelamun. Ngelamunin jorok ya lo?” tanyanya menggodaku.
“Ish itu mah lo bukan gue” ucapku ketus.
“Jadi apa yang mau lo omongin ke gue?” tanyanya.

“Emm.. Dulu lo pernah bilang gue bisa cerita apapun masalah gue ke lo. Itu masih berlaku?”
“Emm..”
“Nyokap, bokap gue udah gak ada” ucapku.
“Gak ada? Maksud lo?” tanyanya meminta penjelasan.
“Kecelakaan mobil” aku tidak menjawab pertanyaannya tapi melanjutkan ucapan ku.
“Maksud lo? Gue gak ngerti” tanyanya lagi.
“Nyokap bokap gue udah gak ada. kurang lebih 2 tahun yang lalu. Kecelakaan mobil. Kita bertiga. Cuma gue yang selamat. Sampe sekarang rasa sakitnya masih kerasa. karena itu..” Aku tak sanggup melanjutkannya. Terlalu menyakitkan.
“Karena itu lo nutup diri? Takut kehilangan? Lagi?” tanyanya memastikan. Melihat airmataku menetes dia merengkuhku dalam peluknya. Membisikan kata-kata penenang.
“Gak perlu ngomong apapun lagi. Gue ngerti” ucapnya.
“Gue gak bisa janjiin apapun sama lo tapi gue pastiin selama lo butuhin gue, selama itu juga gue bakal ada di samping lo” lanjutnya.

Sangat melegakan. Seharusnya aku melakukan ini dari dulu. Bukannya menutup diri dan terbelenggu dalam rasa sakit. Penyesalan memang selalu ada di akhir bukan?

End

Cerpen Karangan: Mipta Hulzanah
Facebook: nur.hulzanah[-at-]facebook.com
Goodbye My Friend

Goodbye My Friend

Judul Cerpen Goodbye My Friend

“Duh besok adalah ulang tahunnya Reina lagi aku sampe lupa, hem.. mau ngado apa yah?, aha ngado buku diary aja dia kan suka nulis” ucapku panjang lebar, oh iya aku belum perkenalkan diri namaku shelly salsabella putri biasa dipanggil Bella dan aku punya sahabat yang namanya Reina isabella putri biasa dipanggil Reina. Besok adalah ulang tahunnya Reina aku lupa untuk beli kado lagipula ini udah jam 9 malam pastinya sudah tutup lah tokonya besok aja deh kan besok hari minggu terus ulang tahunnya sore, kan masih sempet beli kado.

“Bella kamu belum tidur?” teriak mamaku.
“Iya mah aku mau tidur” sahutku.

Keesokan harinya aku berangkat ke toko untuk beli kado, sesudah beli kado aku pulang untuk taruh kadonya di rumah dan berangkat lagi ke rumahnya Reina untuk bantu dekorasi’in ruangan rumah Reina, lagipula komplek rumahku sama komplek rumahnya Reina gak jauh jadi aku naik sepeda aja.

Sesampainya di rumah Reina aku langsung aja bantuin Reina untuk dekorasi’in dan akhirnya selesai.
“Loh udah jam segini lagi aku belum mandi” kataku dalam hati.
“Eh Reina aku pulang dulu ya soalnya aku belum mandi” kataku ke Reina.
“Oh ya udah kalau gitu” kata Reina.
Aku pun pamit pulang sama Reina dan mama papanya.

Setelah sampai di rumah aku langsung mandi dan ganti baju lalu berangkat ke ulang tahunnya Reina, setelah sampai di ulang tahunnya Reina aku langsung ngasih kadonya ke Reina dan ucapin selamat ulang tahun Reina. Ulang tahunnya pun selesai aku bantuin Reina beres beres rumahnya.

“Loh Bella kamu belum pulang?” tanya Reina.
“Belum Rei” jawabku.
“Nanti dicariin mamamu gimana?” tanya Reina lagi.
“Udah tenang aja aku udah bilang kok ke mamaku aku bakalan pulang terlambat” jawabku panjang lebar.
Setelah bantuin Reina beres beres aku langsung pulang.

Keesokan harinya aku berangkat sekolah dengan semangat, ketika aku markir sepeda di tempat parkir sekolah aku lihat ada Reina, aku lihat mukanya pucat, lalu aku samperin dia dan mulai nanya. “Hai Reina kamu sakit ya?” tanyaku.
“Ah enggak kok cuman kecapekan aja mungkin kurang istirahat” jawab Reina yang lesu.
“Sudahlah Reina kamu jujur aja aku kan sahabatmu” paksaku ke Reina.
“Enggak kok, ya udah ayo masuk ke kelas nanti telat lagi” ajak Reina.
Aku dan Reina pun masuk ke kelas.

Bel istirahat berbunyi. Lalu aku ngajak Reina ke kantin.
“Reina ke kantin yuk” ajakku.
“Kamu duluan aja Bella, nanti aku nyusul” jawab Reina lemas.
“Yakin nih aku duluan nanti nyesel loh” candaku ke Reina.
“Hahaha iya udah sana duluan aja” balas Reina.
“Ya udah aku duluan ya, dah…” ucapku.

Setelah itu aku langsung ke kantin dan ninggalin Reina sendirian di kelas. Setelah ke kantin aku langsung ke kelas untuk ngecek Reina, tiba tiba ada keramaian di tangga, perasaanku langsung gak enak dan aku langsung nyamperin keramaian itu dan ternyata yang aku lihat adalah Reina!!!. Aku langsung teriak histeris dan langsung bawa Reina ke rumah sakit.

Setelah Reina koma Reina pun terbangun dari komanya. Reina langsung memanggilku.
“Bella sini, aku mau bilang sesuatu ke kamu” kata Reina.
“Bilang apa Rei? bilang aja” balasku.
“Bella terimakasih karena kamu udah nemenin aku selama ini, kamu pasti bertanya tanya kan kenapa aku bisa kayak gini, aku kayak gini karna aku punya penyakit tumor otak” kata Reina panjang lebar sambil menangis.
“Apa!!!, kamu punya penyakit tumor otak, tapi kenapa kamu rahasiain ini dari aku?” jawabku sambil mengisak tangis.
“Aku takut kamu bakal jauhin aku” jawab Reina.
“Gak Rei aku gak akan jauhin kamu untuk selamanya” kataku sambil menangis.
“Tapi Bella umurku udah gak lama lagi” kata Reina.
“Enggak Rei kamu gak boleh bilang gitu” kataku sambil menangis.
Reina pun perlahan menutup matanya, dan dia pun pergi untuk selamanya.

Setelah pemakaman Reina aku langsung bilang.
“GOODBYE MY FRIEND”

Cerpen Karangan: Nasywah Azzuhrah Islamiyah
Karena Sahabat Akan Selalu Ada

Karena Sahabat Akan Selalu Ada

Judul Cerpen Karena Sahabat Akan Selalu Ada

Sore itu kulihat seorang perempuan duduk di bangku taman sekolah, Namanya Rina dia adalah salah satu sahabatku yang bisa dibilang paling cantik dan banyak laki-laki yang suka padanya. Aku dan rina bersahabat sejak kami masuk sekolah menengah kejuruan, di sekolah, kami mempunyai geng yang kami beri nama D’Jonga (Jomblo Ngaga) nama itu kami pilih karena terinspirasi dari film putih abu-abu dimana salah satu pemerannya bernama Feby (Blink) Cuman bedannya dia mempunyai Geng yang di beri nama D’Joba (Jomblo bahagia).

Nama Geng kami bisa di bilang lucu dan unik tapi Geng kami juga termasuk Geng yang terkenal di sekolah bukan karena penampilannya yang cantik, atau apalah itu namanya. Kalau di bilang gaya, kami gak ada apa-apanya dari teman-teman yang lain tapi kalau dilihat dari bidang akademik bisa dibilang lumayan.

Geng kami terdiri dari empat orang yang pertama bernama Samsi, samsi itu orangnya pintar dan bisa dibilang dia menguasai banyak mata pelajaran karena rata-rata nilai yang dia dapatkan lebih tinggi dari yang lainnya.

Yang kedua Sariati, dia biasa di panggil tati orangnya cantik, baik, dan yang paling lucu di antara kami berempat, dia juga yang paling banyak makan, tapi yang saya heran sebanyak apapun dia makan berat badannya gak pernah naik, itulah hebatnya dia.

Nah yang ketiga ini, bernama rina yang saya ceritakan diawal cerita ini, Rina ini dia orangnya baik juga sih, cantik ya pasti, cuman sekian lama saya bersahabat sama dia sampai sekarang masih banyak sisi lain dari dirinya yang saya tidak ketahui, bisa dibilang dia misterius dan susah ditebak, mungkin kalau membahasa tentang sahabatku yang satu ini gak ada habisnya karena, aku paling banyak menghabiskan waktu bersamanya, bahkan kami juga pernah menyukai laki-laki yang sama, laki-laki itu bernama “Arif” dia salah satu senior kami di sekolah, orangnya baik, ganteng, pokoknya hari rina menghampiriku yang sedang duduk di teras depan ruang guru dan duduk di sebalahku lalu dia memulai pembicaraan yang membahas tentang “Arif” .

“Jul tadi malam arif sms aku loh”. Dengan heran aku hanya bisa menjawab “terus”, “iya dia sms aku sebenarnya sih sudah beberapa hari ini kami sering kontek-kontekan, dan yang gak nyangkanya lagi dia nembak aku”. “Lalu kamu terima dia?” jawabku lagi. “Iya lah aku terima coba deh bayangkan cewek mana sih yang gak suka dan kagum sama dia”.

Perasaan yang kurasakan saat itu sedih, nyesek, pengen mewek (nangis). Gak nyangka aja, sahabat sendiri tega nusuk dari belakang ee ralat deh bukan nusuk aku kan belum jadi pacarnya dia, tapi tega rebut gebetan sahabatnya sendiri. Namun aku selalu berpikir dewasa dalam menghadapi suatu masalah, selalu sabar menerima jika sesuatu yang kuinginkan tak ditakdirkan untuk kumiliki, dan jangan karena hanya seorang laki-laki yang baru kita kenal bisa ngerusak/ngehancurin hubungan persahabat yang jauh lebih lama kita bangun. aku sendiri berpendapat bahwa persahabat jauh lebih penting ketimbang hubungan pacaran, karena pacar bisa saja pergi dan memberikan suatu luka yang mendalam di hati namun seorang sahabat akan selalu mendampingi dikala susah maupun senang dan gak akan pernah ninggalin kita.

“Hari hari yang kujalani terasa berat semenjak mendengar pengakuan rina saat itu, namun aku tidak mau terlalu larut dalam kegalauan yang berkepanjangan, mencoba bangkit dan mencari kesibukan lain agar tak lagi mengingat hal yang menyakitkan itu. Dan benar saja tak butuh waktu lama untuk bisa bangkit dan melupakan hal yang memilukan dalam kisah percintaanku.

Cerpen Karangan: Reski Julianti
Blog / Facebook: Reski Julianti
Salah Faham

Salah Faham

Judul Cerpen Salah Faham

Apa yang harus Aku lakukan ketika Sahabatku membenciku hanya karena hal sepele? Haruskah penjelasan itu Ia abaikan? Setidak pentingkah suatu penjelasan itu? Hingga akhirnya suatu kesalah pahaman pun muncul di antara kami.

“Main yuk?”
Satu pesan masuk melalui ponselku. Aku terkejut. Sangat terkejut. Dia Nita. Sahabbatku. Aku benar benar tak percaya. Pasalnya setelah kita pisah sekolah, karena kita hendak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, Ia jarang mengabariku. Atau mungkin kita bisa sebut lost kontak. Akhirnya aku menjawab dengan ekspresi yang sangat bahagia. “Yukk”. Sehrian itu kuhabis kan sisa pulsaku hanya untuk membalas pesan darinya sampai kita menyepakati waktu dan tempat yang telah kita setujui untuk pergi main.

Singkat cerita. Akhirnya sampai hari dimana kita bertemu untuk yang pertama kalinya kembali. Aku segera menunjukan senyum bahagia. Begitupun dengannya. Ia langsung menghampiriku, memeluku yang masih berada di motor. “gimana, sehat?” tanyaku padanya. Ia tersenyum seolah masih tak menyangka kita bertemu. Ia tak menjawab pertanyaanku, hanya menganggukan kepalanya sebagai simbol bahwa ia menjawab Ya.

Di perjalanan kita saling bertukar cerita. Tertawa kembali. Aku pun masih tak percaya bahwa kita sekarang sedang bersama. Sampai titik pembicaraan kita
“Amel?” tanyanya padaku.
Aku yang sedang berkonsentrasi membawa motor terpaksa harus mengalihkan wajahku ke spion motor agar dapat melihat wajahnya.
“Ya, ada apa?”
“Atikah sekarang lagi deket sama Adnan, emang bener?” tanyanya serius mengenai Atikah, temen sekelas kita sewaktu SMP, dan Adnan, mantan pacarnya.
“kurang tau Nit. Emang kamu tau dari siapa?” aku balik bertanya.
“Aku lihat sendiri di pesan Adnan” jawabnya

Atikah. Dia walaupun bukan sahabatku, tapi dia sangat baik. Ketika Aku dan Nita sedang ada masalah, Aku mencurahkan sedikit keluhku padanya. Dan Ia sangat menyambutku kapan pun. Bagaimana pun Atikah, dia tetap temanku. Teman yang selalu menolongku. Aku dilema sekarang. Bagaimana ini? Tanyaku dalam hati. Aku akan beritahu Atikah agar tidak dekat dengan Adnan. Tapi sama saja aku melarangnya untuk dekat dengan siapapun. Begitu juga dengan Nita. Jika aku tak memberitahu Atikah, pasti dia akan sakit hati. Tapi Nita dan Adnan sudah tak ada hubungan lagi.

Setelah sampai di rumah, aku segera memberitahu Atikah. Bukan karena Adnan, tapi memberitahukannya agar tidak dekat dengan Fino. Karena jujur Aku menyukai Fino. Akhirnya Atikah menyurah kan semuanya lewat facebook dan Nita membacanya. Satu kata yang di postingnya ‘Maaf’. Lalu Aku mengomentarinya “Iya Atikah tak apa, semua bukan salahmu”. Tak kusangka, postingan Atikah dan komentarku membuat Nita marah. Lalu Nita juga memposting kata kata untuk menyindirku selama menjadi sahabatnya.

Tak selamanya sahabat yang dibangga banggakan menjadi yang terbaik. Selamat telah berhasih membuatku terluka dan telah berhasih membuat retakan di antara kita.

Aku yang membaca postingan tersebut langsung menangis sejadi jadinya. Ia salah paham. Apa yang harus kulakukan? Menyerah? Membiarkan persabatan ini rusak? Ini semua salahku. Seharusnya Aku tak memberitahu Atikah secepat itu. Nita mengira Aku memberitahu Atikah mengenai Adnan. Tapi itu salah.

Segera Aku menghubungi Atikah. Betapa baiknya dia. Dia mau menjelaskan semuanya pada Nita. Langsung Aku berterimakasih padanya. Aku yang melarangnya agar tidak dekat dengan Fin, sekarang mau membantuku untuk merapikan masalah Aku dan sahabatku.

Waktu berlalu begitu cepat. Selama 2 bulan ini, Aku dan Nita kembali hilang komunikasi. “kringgg”. Tiba tiba suara teleponku terdengar nyaring di kamar. Aku segera mengangkatnya.
“Hallo?” Aku berusaha mengetahui siapa yang menelponku. Karena di sana tak ada nama yang tercantum.
“Mel?” dia mulai berbicara. Aku kenal suara ini. Seperti suara… Nita.
“Nita?”
“Mel, maafkan Aku. Aku salah faham. Aku menjauhimu, Aku menyindirmu lewat medsos, Aku mengganti nomor teleponku. Aku mainta maaf Mel..”
“Nit, selama ini Aku merasa tak ada yang salah darimu”
“Tidak mel. Kau tak paham. Aku mengira kau memberitahu Atikah tentang Adnan, tapi aku salah..”
“dan mulai sekarang coba untuk saling megerti”

Akhirnya, kami tak hilang komunikasi lagi. Hubungan Nita dan Atikah pun sekarang sudah seperti teman. Sama halnya seperti Aku dan Atikah. Namun Aku dan Nita, kami masih bersahabat.

Cerpen Karangan: Amelia
Blog / Facebook: Amel Lia
Maafkan Aku (Part 3)

Maafkan Aku (Part 3)

Judul Cerpen Maafkan Aku (Part 3)

Terbangun entah setelah sekian lama, lalu kemudian tersadar dan ku melihat samar di hadapanku seseorang seperti berbicara dengan seseorang lainnya dengan jarak yang berjauhan, dengan sakit yang terasa di kepala aku pun mencoba untuk bergerak mencoba memahami apa yang telah terjadi kemudian dengan perlahan pandangan menjadi semakin jelas seseorang di hadapanku adalah sahabatku sekaligus pujaan hatiku, melihat diriku sadar kemudian dia berlari meninggalkan diriku, entah apa yang terjadi lalu tidak lama kemudian dia bersama sahabatku yang lain datang dengan wajah yang terlihat senang dan sedikit bahagia selebihnya raut wajah tak percaya. Mereka tersenyum sungguh seyuman yang berasal dari hati. “aku di mana” kuungkapkan pertanyaan standar seperti kata-kata di sinetron sekali tayang selesai. “Ranu di Rumah Sakit, Ibu mu dalam perjalanan ke sini” penjelasan Mirza yang disambut senyum oleh yang lain, lalu kupegang kepalaku terdapat balutan perban melingkar rapi, kemudian aku bertanya.
“Rumah sakit”
“Rumah sakit apa, kenapa”
“Kalian siapa”

Hening terasa, sontak mereka kaget bukan kepalang, hilang senyum mereka berganti dengan sedih, rasa tidak percaya telah menyelimuti sanubari sahabat-sahabatku, melihat itu semua giliranku yang tersenyum.
“hehehe… mana mungkin aku lupa dengan kalian, bahkan jika Yang Kuasa berkehendak lain maka aku akan mengingat kalian dari surga”.

Terlihat Indah dan Ira terduduk lemas sedangkan Mirza terdiam tak percaya dengan kelakuanku disaat-saat yang mungkin menurutnya tidak tepat. Sahabatku mengatakan jika aku mengalami kecelakaan di dekat sekolah kemudian dirawat di rumah sakit sampai akhirnya sadar. Mirza berkata “Ran, menurut dokter kemungkinan Ranu ndak sadar itu seminggu tapi alhamdulilah dihari ketiga sudah bangun”, dia juga menjelaskan jika aku harus istirahat untuk penyembuhan retak tulang dikaki, memar-memar dalam dan juga sedikit gumpalan darah didalam kepala. Ibuku datang dengan tangis menghiasi, suasana menjadi haru tetapi bahagia terasa tanpa kepalsuan. “tadi ibu dikasih tau sama Ana kalo Ranu sudah sadar, jadi Ibu langsung ke sini”. Kata-kata ibu membuat diriku bingung, siapa itu Ana lalu kulihat Indah tapi yang ada Indah malah menundukan kepalanya, kualihkan pandanganku ke Ira tapi yang kudapat hanya seyumannya, terakhir aku menatap Mirza berharap ada jawaban tapi Mirza hanya berkata “nanti kujelaskan”.

Hari ujian. Semilir angin pagi berhembus disela-sela kain pembatas warna biru, hari-hari telah berlalu dan akhirnya aku diizikan pulang. Ibuku yang selalu mendampingi diriku menjelaskan selama aku ndak sadar banyak teman-teman yang datang tidak terkecuali Ibu Elisabet, ibu juga becerita jika aku beruntung memiliki teman, sahabat yang sangat peduli dan perhatian. Surya tenggelam terasa berbeda, seakan Yang Kuasa memberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki semua gurauan hidup yang telah kuciptakan sendiri. Dimalam yang sunyi membuat heningnya malam merasuk dalam khayalku, berpikir jauh bahwa hari-hari yang hilang kerana kecelakaan mengingatkan diriku jika kebersamaan dengan sahabatku sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu, haruskah kuungkapkan semua persaanku tanpa merusak persahabatan, merusak semua kenangan yang telah terjalin atau aku harus tetap mengambil resiko tersebut untuk sebuah kepastian. Embun pagi menyapa lembut hingga terasa di ruang kecil yang kutempati, setelah mengadu Yang kuasa kupersiapkan semua perlengkapan sekolah, hari ini adalah hari pertama aku masuk setelah lama tak berdaya. Pamit dengan ibu lalu berjalan santai dengan tongkat penyangga di kaki kiri menuju ke luar gang, tak kusangka sebuah mobil menungguku, mobil yang pasti kuingat, itu mobil sahabatku bukan mobil yang menghajarku kemarin.

“Hai Ran” lambaian tangan Indah terasa seperti namanya.. “Hai Ndah, jemput aku ya” Indah pun membukakan pintu mobil, ku lihat Ira duduk manis di kursi depan. Debaran hati ini seperti pertama kali bertemu. Dalam perjalanan kami pun berbincang-bincang ditemani alunan lagu Chrisye pada album Best Cinta, “Ra, Ndah mudahan kalian tetap seperti dulu walau aku sempat membuat kalian risau” perkataanku disimak serius oleh kedua sahabatku, kalau pak Rus sih ndak, bapak paruh baya tersebut tetap fokus melihat ke depan. “Sudah Ran, Ndak usah dibahas yang lalu biarlah berlalu” “Waktu Ranu masih di rumah sakit, waktu Ranu belum sadar kami sedih, Mirza menceritakan semua hal yang kalian bicarakan, semua hal yang membuat Ranu berubah, Mirza meminta kami untuk memaafkan Ranu”. Hatiku tersenyum mendengar perkataan Indah, katanya yang lalu biarlah berlalu tapi dia sendiri yang bahas, tetapi sykurlah semua baik-baik saja.

Sambil melihat ke arahku Ira berkata “Iya Ran, aku dan Indah tahu kalau Ranu baik, tidak mungkin Ranu berubah tanpa alasan yang jelas, yang penting apa yang Mirza katakan ke Ranu juga kata-kata yang akan kami katakan jika kami ikut mancing kemarin”, tak terasa sudah sampai di sekolah.

Suasana sekolah terasa indah seperti lama sudah tak kurasa, di kelas teman-teman menghampiriku dan menanyakan segala hal yang menyakut kejadian yang telah kulalui, terasa hangat semua sambutan yang mereka sajikan, aku tersenyum dan tersirat rasa senang di wajah ini. Kemudian Dini dengan senyumnya, untung tidak memukulku seperti biasanya. ”Ranu sudah baikan, bagimana masih sering pusing ya” “Masih Din, kadang-kadang muncul jika sudah kambuh pusing sekali” sahut ku “Banyak istirahat ya, kalau ndak awas” dengan kepalan tangan di wajah. Hatiku berkata apakah dia yang dipangil Ibu ku sebagai Ana, tidak mungkin cewek galak seperti dia bisa menaruh perhatian kepadaku, aku pun langsung mengelengkan kepala.

Hari-hari kami lewati dengan belajar, jalan-jalan, mengerjakan tugas kelompok, ikut try out ujian nasional dan selama itu juga diriku memendam rasa yang tidak sempat kuungkapkan atau sebenarnya tidak berani adalah kata yang paling tepat. Akhirnya.. Ujian nasional menghampiri kami, kami berjuang, kami bekerja keras berusaha melakukan yang terbaik, doa dan usaha selalu kami sematkan, tiada arti tanpa Yang Kuasa berkehendak, doa orangtua menyertai kami, bersama sahabat ku lewati ujian nasional dengan harapan tinggi menjadi kebanggaan Ibu, kebanggaan orangtua walau terasa tidak adil semua usaha, semua biaya, semua jerih payah selama tiga tahun harus ditentukan dalam tiga hari ujian. Apalah daya kembali usaha dan doa adalah jalan terbaik. Hari terakhir ujian nasional terlewati, ku melihat Mirza dan Ira sudah menunggu di depan kelas lalu ku hampiri mereka kemudian berkata “tinggal Indah yang belum ya” tidak lama kemudian Indah datang dengan senyum diwajah, lepas semua beban dipundak ini tinggal menunggu hasil pengumuman.

Hari pengakuan
Bahagia dan gelisah menjadi satu ketika kami memasuki zona menunggu, iya menunggu kepastian dengan selembar kertas yang bertuliskan kata-kata ajaib. Berkumpul di rumah Ira dan Indah, bercanda melepas kegelisahan yang melanda aku pun mengatakan, “ada lima hal yang bisa kita lakukan, pertama bersantai kedua ikut bimbingan belajar ketiga belajar sendiri keempat mencari kesibukan dan yang terakhir liburan”,
“liburan ke pantai Manggar aja di Balikpapan” Mirza memberi saran. Aku pun tersenyum ternyata modus ku berhasil, alhamdulilah. Setelah meminta izin orangtua kami pun berangkat dengan pak Rus mengentar kami, kami berangkat pagi sekali agar bisa kembali ke Samarindanya tidak kemalaman. Sepanjang jalan kami senda gurau, bercanda dan bercerita tentang semua hal yang telah kami lalui sampai akhirnya kami di tujuan.

Berjalan di pinggir pantai dengan air yang membasuh kaki, ku ercepat langkahku untuk mendekati Mirza lalu berkata “Za, ini saatnya aku ungkapkan persaanku kepada Ira”. Mirza terlihat terdiam melihatku, “hahaha, ndak usah kaget gitu Za” sahutku tanpa memberikan kesempatan padanya untuk mengungkapkan kata-kata. Melihatku semangat Mirza tersenyum kecil penuh arti. Menghabiskan waktu melihat keindahan ciptaan Yang Kuasa dengan bermain air laut bersama, kembali senda gurau dan canda tawa menandakan kegembiraan di wajah kami.

Sore menjelang semilir angin laut memberi semangat pada ku seperti membisikan kata untuk mengukapkan semua isi hati untuk mendapatkan kejeselasan hidup agar diri ini tidak menyesal tanpa arti dikemudiah hari. Kesempatan itu muncul ketika ku terlihat Ira duduk sendiri di sebuah bangsal, dengan langkah pasti aku pun menghampirinya dengan debaran jantung tak menentu semakin mendekat semakin tak karuan hati ini, teringat ketika pertama dulu mengenalnya.

“Hai Ra”
“Oh Ranu, Indah mana” memandangku dengan terseyum.
“Ra, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu” seyumannya terhenti diganti dengan keseriusan untuk mengetahui apa yang akan kubicarakan kepadanya.
Menarik napas.. kali ini dia tidak tersenyum..

“Ra, sejak jumpa kita pertama ku langsung jatuh hati walau ku tak tau siapa dirimu sebelumnya”
“Tapi ku tak dapat membohongi dan menghindari kegolak cinta ini”
“Maka izinkanlah aku mencintaimu” “atau bolehkan aku untuk sayang padamu”
“Memang serba salah rasanya ketusuk panah cinta”
“Apalagi kita telah lama menjadi sahabat tetapi ku harus ungkapan karena aku tak sanggub membohongi diri ini jika aku mencintaimu”
“aku sayang Ira”
Menatap matanya “Ra, Maukah dirimu menjadi kekasihku”

Mendengar semua ungkapan hatiku, kemudia Ira.. terdiam dirinya seakan berat beban yang terasa.. Memandangku penuh makna akhirnya Ira berkata, “Ran, kuingin kau tahu dirimu adalah sesorang yang penting bagi orang lain dan aku mengenal sesorang itu, janji sudah terucap walau dia juga tidak mengaharuskan diriku membuat janji itu tapi aku tahu kalau Ranu hal yang tak terganti bagi dirinya” “maksud Ira apa” sahutku karena perkataan Ira membingunkanku, “Ran, seseorang juga sudah menjagaku, seseorang itu telah mendatangkan kebahagiaan, kegembiraan, suka duka dan seseorang tersebut bukanlah dirimu” Ibarat resah titik hujan yang tak henti sungguh tak pernah kusangka kisah kasihku jadi sepeti ini. “Ra, aku mengerti sungguh aku akan mencoba untuk mengerti” “Ra, siapa seseorang berbahagia itu” jawabku dengan hati yang terluka. Suasana hening terasa sampai sesorang datang mendekati kami.
“Aku Ran, Akulah seseorang itu” “Iya, ini aku sahabatmu”
“Aku Mirza sahabatmu, akulah orang yang kau pertanyakan itu” Sungguh aku tak menduga sahabatku sendiri tega melakukan semua ini.
“Za, kamu, sejak kapan”
“Kenapa Za, bukankah kamu tahu bagaimana perasaanku terhadap dia, dari pertama kali ketemu Za” sambil menujuk ke arah Ira.
Mirza berusaha menjelaskan, tapi kutepis rangkulannya.
“Sudahlah Za” perkataanku mewakili kekecewaanku.
“Ran, jangan seperti anak kecil” hardik Mirza.
“Ran maafkan aku jika ini semua melukaimu, seharusnya kami memberitahukan ini semua dari awal”
“Aku sendiri tidak tahu kapan mulai rasa ini muncul, jangan pernah kau berpikir kami dengan mudah menyatakan saling memiliki rasa, dirimulah yang menyatukan kami, kami sama-sama peduli dengan dirimu”
“Ran bukan hanya aku yang tahu perasaan dirimu, tapi Ira juga sudah dapat merasakan itu kerena Ranu bukan type orang yang dapat berbohong dan menyembunyikan perasaan hati, tapi Ran kasih sayang itu Yang Kuasa yang menentukan”, Mirza berbicara dengan Ira tidak lama kemudian Ira meninggalkan kami. “Ran, aku minta Ira untuk menunggu kita di mobil, berbicaralah aku akan mendengarkan dan menjawab semua pertanyaanmu” Aku terdiam entah untuk berapa lama. Kemudian..
Kami berbicara panjang kali lebar kali tinggi, Mirza menjelaskan semua hal yang menjadi pertanyaanku, mungkin kedewasaan itulah yang membuat Ira menuruh rasa kepada Mirza, kusadari Yang Kuasa menentukan kehendaknya.

Mirza menjelaskan dengan mata yang berkaca-kaca lalu aku mendekatinya, “Za itu kaca mata yang kita beli di night market ya” sambil aku menunjuk ke arah mata Mirza.
Kaget Mirza lalu berkata “night market, maksudmu pasar malam”. melihatku dapat menerima kenyataan kemudian Mirza berkata, “Ran masih ada yang ingin kukatakan” “Ran, ada seseorang yang sangat peduli denganmu, rasa kagummu dengan Ira telah membutakan dirimu hingga membuatmu kehilangan kebahagian sejati yang seharusnya kau dapatkan, bahkan Ibumu tahu siapa seseorang itu”
“Dia peduli denganmu, dia yang dulu bertanya kepadaku apakah Ranu suka baca novel, dia yang paling panik ketika mendengar Ranu mengalami kecelakaan, dia yang selalu menemani Ibu merawat dirimu dan waktu Ranu mulai sadar di rumah sakit dia lah yang bersama Ira”
“Sebetulnya yang jahat bukan aku, bukan Ira dan bukan juga Indah tapi Ranu” “Dia yang Ranu panggil sebagai Ana” Aku terdiam, berusaha mengingat semua lalu berkata, “Za, jangan kau jelaskan siapa Ana itu biarlah itu menjadi rahasia hidupku”
“Walau aku harus terus mencari bayanganya..”
“Walau keujung dunia pasti akan kunanti, mesti ke tujuh samudra pasti kucari karena ku nyakin jika Yang Kuasa menginjinkan maka aku akan menemukannya dan menebus semua kesalahanku, semoga kisah cintaku selajutnya tidak berakhir tragis seperti ini” Mendengar perkataanku Mirza hanya tersenyum.

Akhirnya aku dan Mirza balik menuju mobil dimana Ira dan Indah telah menunggu, Dengan persaan yang setulus-tulusnya aku berkata, “Ira, Mirza dan Indah” “Maafkan Aku”
“Maafkan Aku untuk semua yang telah kulakukan” Ira tersenyum, Mirza tersenyum dan Indah pun tersenyum. Kemudian Mirza berkata, “Kalau nembak cewek jangan pakai lagu yang terkenal mudah ketebak keles”
“Ranu pakai lagu Chrisye – Kala cinta menggoda kan” Aku pun tersenyum.

Created By RMW

Cerpen Karangan: Ranu