And I Hope

Baca Juga :
    Judul Cerpen And I Hope

    Hai nama saya Ilona, aku berasal dari keluarga yang menjunjung tinggi agama islam. Ya beginilah aku, seorang muslimah cantik yang tinggal di dusun kecil
    Aku memang terkenal dengan keramahanku, hingga pada suatu hari ada seorang laki laki yang diam diam menyukaiku. Dia -laki laki itu- memang tampan tapi sayangnya akhlaknya buruk, suka mabuk mabukan, berpesta, bahkan pernah terjangkit kasus nark*ba

    Astaga, dia cantik sekali, wajahnya bersinar, ya ampun…
    “Hei!!!”
    “Astaghfirullah, maaf mas kita bukan muhrim, jangan pegang pegang”
    “Oh iya sorry, gua gak sengaja, kenalin gua Bayu, lo siapa?”
    “Saya Ilona”
    “Namanya cantik kaya orangnya”
    “Terimakasih, ya sudah saya duluan, wasalamualaikum”
    “Walikumsalam, ya Tuhan mimpi apa gua semalem, ketemu wanita cantik, ramah udah gitu sholeha lagi”

    Saat aku hendak pulang, diam diam dia mengikutiku sampai di Pesantren. Iya, aku memang seorang santri yang sudah lama mengabdi di pesantren. Keluargaku memasukkan aku ke pesantren dari aku kecil.

    Waktu yang aku tunggu tunggu kini tiba, aku dikirim ke Paris, karena mendapatkan beasiswa studi di Universitas terkenal di Paris. yaah.. Paris, kota yang selama ini aku idam idamkan, akhirnya tercapai juga impianku.

    Tepat di taman aku duduk, sambil memotret pemandangan di sekitar taman, terdengar suara salam yang merdu di belakangku

    “Assalamualaikum”
    “Waalaikumu.. ssalam, kamu…
    “Iya.. aku Bayu, kamu masih ingat aku kan?”
    “Masih.. kenapa kamu ada disini?”
    “Aku nyusulin kamu kesini”
    “Kenapa?”
    “Aku ingin mengejar cintaku, aku ingin meminangmu sebagai istriku, sejak pertama kali aku bertemu kamu, aku jatuh cinta Ilona”
    Tetesan air mata membasahi pipiku, tanpa kusadari, sungguh aku terkejut

    “Ilona”
    “Bayu.. ini yang selama ini aku tunggu tunggu, suda lama aku menyimpan rasa ini, hingga ternyata Allah mengirimu sebagai jodohku”
    “Sungguh?”
    “Iya bay.. lalu kenapa kamu merubah penampilanmu, kamu terlihat lebih sholeh”
    “Ilona, aku bertaubat, aku sungguh sungguh bertaubat karena aku sadar, aku berada di jalan yang salah, dan aku memutuskan untuk bertaubat nasuha karena Allah”
    “Syukurlah Allah memberimu hidayah, lalu kenapa kamu tau aku ada disini?”
    “Maaf Ilona, aku diam diam belajar di pesantren tempat kamu, dan aku mendengar kamu akan pergi ke Paris, akhirnya aku memutuska untuk ke Paris juga”
    “tidak apa apa”
    “Kamu benar menyukaiku?”
    “Memang, pertama kali aku bertemu denganmu, aku menyukaimu diam diam, aku menyimpan rasa ini, aku pasrahkan semua kepada Allah, tiap malam aku menangis menahan rasa ini, tapi ternyata di balik itu semua Allah menjodohkanku denganmu. Orang yang selama ini aku ucap di sholat tengah malamku, dan pada akhirnya engkau meminangku”

    Semenjak dipinang oleh dia aku berhenti studi dan hidupku menjadi sempurna karena dia. Hari hariku penuh warna hingga akhirnya Allah memberi anak yang lucu kepada keluarga kami.
    Kunamakan Aisyah, dia tumbuh dengan parasnya yang cantik dan akhlaknya yang sholeha. Kehidupan kami menjadi lebih sempurna semenjak ada Aisyah di tengah keluarga kami.
    Saat itu…

    “Kamu kenapa de?”
    “Aku pusing mas”
    “Ya udah mending kamu istirahat dulu, mungkin kamu kelelahan, akhir akhir ini kayaknya kamu sering pusing”
    “Iya mas, aku juga gak tau”
    “Ya udah besok kita periksa aja yah”
    “Iya mas”

    “Bunda kenapa yah?”
    “Bunda mungkin kecapean jadi bunda mau istirahat dulu”
    “Ohh.. ”

    Entah kenapa akhir akhir ini aku sering pusing, malah waktu itu pernah sampai pingsan, tapi untung ada yang nolongin. seorang ibu ibu yang aku panggil oma, dia sangat baik, dia tetanggaku di Paris dan sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri.

    “What doc?, Ilona have a brain cancer?”
    (Apa dok, Ilona mempunyai kanker otak?)

    “Yaah.. and now had stage 4, her stay counting time, only miracle from God that helps”
    (Yaah.. dan sekarang sudah stadium 4, hidupnya tinggal menghitung waktu, hanya keajaiban dari Tuhanlah yang membantu)

    Seketika itu air mata menetesi pipiku, sudah tidak ada harapan lagi untukku, tubuhku mulai lunglai tak berdaya, kenyataan yang sungguh menyakitkan di hidupku ini
    Tuhan… cobaan apa ini?

    “De Ilona harus ikhlas, masih ada mas disini, mas akan selalu ada buat ade, mas akan selalu menjaga ade, mas sayang ade…”
    “Tapi mas, umurku tinggal menghitung waktu, keselamatan aku untuk bertahan hidup sangat kecil, bagaimana dengan aisyah mas?, dia masih butuh kasih sayang aku”
    “Udah de.. jangan mikirin itu, yang harus kamu lakukan.. berdoa sama Allah, minta pertolongan-Nya. ”

    Aku terus saja menangis, kenyataan ini sungguh tidak terduga, tiap malam aku berdoa meminta pertolongan Allah…
    Rontokan rambut mulai menghiasi hidupku, sehelai demi sehelai berjatuhan, aku hanya bisa menangis melihat perubahanku ini, tetapi suamiku dia malaikat tanpa sayap yang selalu menyemangatiku, selalu tersenyum di depanku, meskipun aku tau, di belakangku ia menangis

    Operasi pengangkatan kanker akan segera dimulai, hal yang sangat aku takuti akhirnya tiba.

    “De.. kamu harus kuat, kamu harus bisa ngelawan kanker jahat itu, kamu harus bisa melewati operasi ini, kamu kuat kamu kuat Ilona”

    Hanya senyum tipis yang bisa aku berikan. Aku memasuki ruang operasi, di dalam sudah ada dokter yang siap dengan peralatan peralatannya, dan lampu yang sudah siap menyorotiku. Mataku terpejam karena cairan bius di tubuhku. di luar kamar operasi suamiku selalu berdoa dan tidak henti hentinya berdzikir berharap ada keajaiban.

    Dokter yang menanganiku akhirnya ke luar

    “Doc, how my wife doc?”
    “Sorry sir, I can only try up here, your wife is not saved”
    Bayu mulai lemas, air mata tak henti hentinya berjatuhan, kenyataan pahit apa ini ya Allah…

    “Ayah.. Bunda mana?”
    “Bunda sudah tenang di surga nak”
    “Bunda pasti bahagia di surga, aisyah pengin nyusul bunda kesana.. Oh ya Ayah, bunda nitipin surat ini ke aisyah, katanya suruh dikasih ke ayah, ayah baca yah..”

    Untukmu suamiku…
    Malaikat tanpa sayap
    Yang selama ini menjagaku dan merawatku

    Mungkin disaat kau membaca surat ini, aku sudah tenang di sisi Nya
    Aku hanya ingin menyampaikan beribu ribu terimakasih
    Selama aku sakit, kau yang merawat, yang menghiburku, yang menjagaku dengan kasih sayangmu

    Entah berapa ribu tetesan keringat dan air mata yang engkau jatuhkan
    Meskipun kau selalu bilang “aku gak cape”
    “Lihat tidak ada kesedihan di wajahku de.., aku aja gak sedih, masih terus semangat, masa kamu kalah sama aku mas?”

    Tapi aku sadar penyakit itu terlalu kuat, sedangkan tubuhku tidak kuat lagi, aku kalah dari kanker.
    Maaf beribu ribu maaf..
    Aku belum bisa menjadi istri yang sholeha
    Aku belum bisa mengabdi sepenuhnya
    Aku belum bisa menjadi ibu yang baik untuk aisyah
    Aku belum bisa bahagiain kalian
    Sekali lagi aku minta maaf

    Salam hangat

    Ilona

    “Ayah kenapa? kok nangis?”
    “Ayah gak papa kok”
    “Ayah pasti sedih yah ditinggal bunda, ayah jangan sedih.. bunda udah sama Allah kok, bunda udah bahagia sama Allah
    Ayah tenang aja, masih ada aisyah kok”
    “Iya aisyah..”
    “Ya Allah, jagalah bunda, jangan buat bunda sedih.. aisyah sayang bunda”

    Cerpen Karangan: Reza Intan Rahmawati
    Facebook: Intan

    Artikel Terkait

    And I Hope
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email