Judul Cerpen Budi, Siti dan Surti
“Mendadak sekali…”, Surti terkaget setelah mendengar kepergian salah satu sahabatnya, Siti.
“Ya, katanya, ibunya sakit di kampung, mendadak Dia harus pulang…”, sahut Wati.
“Secepat itu… Kok nggak ngasih tau dulu ke Aku…”
“Tau Tuh…, katanya buru-buru…”
“Perasaan, kemarin ketika telepon ibunya dia cekakak-cekikik, kayaknya ibunya baik-baik saja…”, Surti kembali menggumam, semacam tidak percaya dengan kepergian Siti.
Surti, Siti, dan Wati merupakan sahabat akrab sejak dari SMA. Mereka bekerja di tempat yang sama, sebagai Pramusaji di sebuah Restoran di Jakarta. Dari semalam memang Siti agak aneh, ditanya Dia hanya diam, kalau pun menjawab, Dia jawab dengan seperlunya saja… dia kelihatan murung, lalu berkemas dan pergi di pagi buta.
Wati, orangnya selalu cuek, menutup diri, nggak mau dicampuri urusan pribadinya, nggak tahu dan nggak mau tahu urusan orang lain, tapi dia itu baik, sering nraktir, tomboi, punya motor gede dan gaulnya sama laki-laki terus.
Sedangkan Siti, biasanya Dia selalu bercerita ke Surti tentang apapun yang dia alami. Jangankan masalah keluarga, masalah pribadinya pun Surti mengetahui segalanya. Surti ingat betul ketika ibunya Siti dianiaya Bapaknya kemudian bapaknya menceraikan ibunya, hampir setiap malam dia pergi ke rumah Surti untuk mencurhatkan perasaannya… Bahkan kedekatannya dengan Budi, laki-laki yang begitu dia cintai, meski selalu diPHP-in bahkan dicuekin, dia selalu cerita… tapi kali ini Siti begitu aneh.
Pagi yang sedikit mendung, berkabut, seakan mengamini hati Surti, yang terus bertanya-tanya tentang, apa yang sebenarnya terjadi pada shabatnya, Siti. Bunga di pot-pot depan rumah juga mulai layu, apa karena beberapa hari ini lupa kusiram? Dan juga tak disiram Siti? Atau juga karena pilu mendengar jeritan galaunya hatiku? Burung yang biasanya cerewet membangunkanku, sekarang pada kemana? Apa juga takut jika mereka melihat kekhawatiranku?. Wati pun cuek terus, malah pergi begitu acuhnya. Tinggal satu kata kunci yang terbersit di benak Surti, yaitu Budi. Ya, Budi satu-satunya orang di Jakarta yang dekat dengan Siti selain Wati dan Aku.
“Apa mungkin Budi yang membuat ini semua…”, Surti kembali bertanya-tanya dalam hatinya. Kecurigaan itu muncul manakala kemarin Siti tidak masuk kerja, secara bersamaan Budi, yang satu Siff kerja dengan kami, juga tidak masuk kerja. Kemudian terbersit ide di benak Surti bahwa pagi itu juga dia akan menemui Budi, memperjelas kecurigaannya. Bergegas dia mencari HP-nya untuk menelpon Budi sekaligus bertanya dimana keberadaannya.
Satu, dua, hingga tiga kali dia telepon Budi tapi tak kunjung diangkatnya juga. Surti hingga tak sabar dan terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri dimana keberadaan Budi. Hari minggu begini mungkin Budi belum bangun, atau dia sudah jalan, tapi kemana? Surti terus berfikir. Tak sabar lagi Surti bergegas mencari kunci motornya, mengambil helm, jaket dan tasnya, ingin mencari Budi dengan motornya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Surti baru saja sampai di depan teras kontrakannya, Budi sudah muncul dengan motornya, turun dari motor membuka pagar depan dan membuka helmnya. Surti menaruh semua yang dia bawa di teras, bergegas dia menemui Budi di dekat pagar.
“Surti… kamu tahu kalau aku mau ketemu sama kamu…?”, Budi terkaget-kaget sambil tersenyum ketika Surti menemuinya. Memang dari awal Budi ingin mengajak Surti untuk jalan. Sengaja Budi tidak memberi kabar kepada Surti, agar menjadi kejutan untuknya. Atau karena sudah sekian kali Budi ngajak jalan Surti dengan cara ditelepon dulu, Dia selalu menolaknya.
Sebaliknya, Surti diajak jalan Budi justru memerah mukanya, karena mencurigai Budi yang membuat sahabatnya Siti pergi dari rumah. Surti begitu marah, apalagi Budi senyum-senyum sendiri di dekat pagar. Surti sendiri tidak begitu memperhatikan apa yang dikatakan Budi.
“jalan yuk… makan dimana?… Ada yang mau kuomongin sama kamu Surti…”
“Kamu itu ngomong apa sih…?” Surti memotong pembicaraan Budi.
“ya… nggak usah sinis gitu lah, nanti cantiknya hilang, lho…”, Budi mencoba menggoda Surti kembali.
“Eh… sudah nggak usah banyak cincong… kamu ngobrol apa kemarin sama Siti…”
“Kenapa… memang Siti kenapa…?”
“Siti pergi dari rumah… katanya mau pulang kampung…”
“Kok bisa…”
“Ya udah nanti saja ngobrolnya… ayo cari Siti ke bandara…, aku yakin dia belum pergi dari Jakarta”.
“Jadi kita gimana… nggak jadi jalan…?”
“Aduuuuh, ayo cepat… cepat…!” Surti menarik jaket Budi untuk segera naik motornya menuju ke bandara mencari Siti.
“Sebentar dulu…”
“Sebentar gimana…? Siti keburu pulang…” Surti kembali menarik jaket Budi.
“Ke Bandara kalau naik motor dari sini malah lama…”
“Ya udah, ayo buruan cari taksi ke jalan poros…”
Mereka kemudian jalan dengan tanpa sepatah kata pun. Taksi yang mereka tunggu telah menepi setelah Surti melambaikan tangannya ke arah taksi di arah yang berlawanan.
“Ke Bandara, Pak…!” Surti menyampaikan tujuannya kepada sopir taksi.
Setelah itu di dalam taksi kembali sunyi. Surti terus melihat ke luar dari jendela taksi. Sedangkan Budi terus menatap Surti, berharap Surti membalikkan wajahnya. Namun, yang ditunggu Budi juga tak kunjung tiba.
“Sebenarnya… Ya… Memang aku kemarin ketemuan sama Siti…” Budi mencoba mengajak Surti berbicara.
“Ya, kan? Kamu biang keladinya… Kamu bilang apa sama Siti? Kamu nyakitin hatinya, kan?…” Surti terus mengulang-ulang kata-katanya sambil terus memarahi Budi.
“Sebentar dulu… beri aku kesempatan untuk ngejelasin…” Budi coba membujuk Surti.
“Terserah…” Surti kembali membuang muka.
“Begini, Surti… Kemarin aku diajak makan siang sama Siti. Sudah lama tiap kali dia ngajak makan siang selalu kutolak. Sama seperti ketika Aku ngajak Kamu makan, Surti… Kapanpun, dimanapun pasti Kamu tolak. Padahal Aku berharap bisa makan bareng sama Kamu, bisa deket sama Kamu, karena sebenarnya Aku itu… em… Aku…”
“Budi, Kamu nggak tahu, Siti itu cinta mati sama Kamu, Dia itu tiap kali curhat ke Aku, Dia itu selalu cerita tentang Kamu, memuji Kamu, semua di kamarnya itu nggak ada yang luput dari kenangan denganmu…”
“Apa…?” Budi terkaget mendengar kisah Surti.
“Apa… apanya, masa siih Kamu nggak nyadar selama ini…”
“Aku itu deket sama Siti, untuk deketin Kamu Surti, Aku itu sayang sama Kamu, dan…”
“Gila Kamu Bud…”
“Dan kamarin ketika ketemuan sama Siti, aku bilang sama dia kalau Aku itu Suka Sama kamu dan aku tanya sama dia, gimana caranya ngomong ke kamu,…”
“Bener-bener gila kamu…”
“Pantas saja…” Budi mengggumam terheran dan merasa bersalah…
Mereka kemudian kembali terdiam. Sesampainya di Bandara mereka terus mencari Siti. Bertanya ke semua Maskapai penerbangan tentang penumpang yang bernama Siti, namun, mereka tak kunjung menemukan Siti, hingga larut malam, hingga bandara sepi, sunyi, hanya tersisa Office Boy, beberapa sopir taksi, dan para petugas maskapai penerbangan yang berkemas pulang, hingga dini hari menyapa mereka…
Cerpen Karangan: Marsono Reso Diono
Facebook: Marsono Aja
“Mendadak sekali…”, Surti terkaget setelah mendengar kepergian salah satu sahabatnya, Siti.
“Ya, katanya, ibunya sakit di kampung, mendadak Dia harus pulang…”, sahut Wati.
“Secepat itu… Kok nggak ngasih tau dulu ke Aku…”
“Tau Tuh…, katanya buru-buru…”
“Perasaan, kemarin ketika telepon ibunya dia cekakak-cekikik, kayaknya ibunya baik-baik saja…”, Surti kembali menggumam, semacam tidak percaya dengan kepergian Siti.
Surti, Siti, dan Wati merupakan sahabat akrab sejak dari SMA. Mereka bekerja di tempat yang sama, sebagai Pramusaji di sebuah Restoran di Jakarta. Dari semalam memang Siti agak aneh, ditanya Dia hanya diam, kalau pun menjawab, Dia jawab dengan seperlunya saja… dia kelihatan murung, lalu berkemas dan pergi di pagi buta.
Wati, orangnya selalu cuek, menutup diri, nggak mau dicampuri urusan pribadinya, nggak tahu dan nggak mau tahu urusan orang lain, tapi dia itu baik, sering nraktir, tomboi, punya motor gede dan gaulnya sama laki-laki terus.
Sedangkan Siti, biasanya Dia selalu bercerita ke Surti tentang apapun yang dia alami. Jangankan masalah keluarga, masalah pribadinya pun Surti mengetahui segalanya. Surti ingat betul ketika ibunya Siti dianiaya Bapaknya kemudian bapaknya menceraikan ibunya, hampir setiap malam dia pergi ke rumah Surti untuk mencurhatkan perasaannya… Bahkan kedekatannya dengan Budi, laki-laki yang begitu dia cintai, meski selalu diPHP-in bahkan dicuekin, dia selalu cerita… tapi kali ini Siti begitu aneh.
Pagi yang sedikit mendung, berkabut, seakan mengamini hati Surti, yang terus bertanya-tanya tentang, apa yang sebenarnya terjadi pada shabatnya, Siti. Bunga di pot-pot depan rumah juga mulai layu, apa karena beberapa hari ini lupa kusiram? Dan juga tak disiram Siti? Atau juga karena pilu mendengar jeritan galaunya hatiku? Burung yang biasanya cerewet membangunkanku, sekarang pada kemana? Apa juga takut jika mereka melihat kekhawatiranku?. Wati pun cuek terus, malah pergi begitu acuhnya. Tinggal satu kata kunci yang terbersit di benak Surti, yaitu Budi. Ya, Budi satu-satunya orang di Jakarta yang dekat dengan Siti selain Wati dan Aku.
“Apa mungkin Budi yang membuat ini semua…”, Surti kembali bertanya-tanya dalam hatinya. Kecurigaan itu muncul manakala kemarin Siti tidak masuk kerja, secara bersamaan Budi, yang satu Siff kerja dengan kami, juga tidak masuk kerja. Kemudian terbersit ide di benak Surti bahwa pagi itu juga dia akan menemui Budi, memperjelas kecurigaannya. Bergegas dia mencari HP-nya untuk menelpon Budi sekaligus bertanya dimana keberadaannya.
Satu, dua, hingga tiga kali dia telepon Budi tapi tak kunjung diangkatnya juga. Surti hingga tak sabar dan terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri dimana keberadaan Budi. Hari minggu begini mungkin Budi belum bangun, atau dia sudah jalan, tapi kemana? Surti terus berfikir. Tak sabar lagi Surti bergegas mencari kunci motornya, mengambil helm, jaket dan tasnya, ingin mencari Budi dengan motornya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Surti baru saja sampai di depan teras kontrakannya, Budi sudah muncul dengan motornya, turun dari motor membuka pagar depan dan membuka helmnya. Surti menaruh semua yang dia bawa di teras, bergegas dia menemui Budi di dekat pagar.
“Surti… kamu tahu kalau aku mau ketemu sama kamu…?”, Budi terkaget-kaget sambil tersenyum ketika Surti menemuinya. Memang dari awal Budi ingin mengajak Surti untuk jalan. Sengaja Budi tidak memberi kabar kepada Surti, agar menjadi kejutan untuknya. Atau karena sudah sekian kali Budi ngajak jalan Surti dengan cara ditelepon dulu, Dia selalu menolaknya.
Sebaliknya, Surti diajak jalan Budi justru memerah mukanya, karena mencurigai Budi yang membuat sahabatnya Siti pergi dari rumah. Surti begitu marah, apalagi Budi senyum-senyum sendiri di dekat pagar. Surti sendiri tidak begitu memperhatikan apa yang dikatakan Budi.
“jalan yuk… makan dimana?… Ada yang mau kuomongin sama kamu Surti…”
“Kamu itu ngomong apa sih…?” Surti memotong pembicaraan Budi.
“ya… nggak usah sinis gitu lah, nanti cantiknya hilang, lho…”, Budi mencoba menggoda Surti kembali.
“Eh… sudah nggak usah banyak cincong… kamu ngobrol apa kemarin sama Siti…”
“Kenapa… memang Siti kenapa…?”
“Siti pergi dari rumah… katanya mau pulang kampung…”
“Kok bisa…”
“Ya udah nanti saja ngobrolnya… ayo cari Siti ke bandara…, aku yakin dia belum pergi dari Jakarta”.
“Jadi kita gimana… nggak jadi jalan…?”
“Aduuuuh, ayo cepat… cepat…!” Surti menarik jaket Budi untuk segera naik motornya menuju ke bandara mencari Siti.
“Sebentar dulu…”
“Sebentar gimana…? Siti keburu pulang…” Surti kembali menarik jaket Budi.
“Ke Bandara kalau naik motor dari sini malah lama…”
“Ya udah, ayo buruan cari taksi ke jalan poros…”
Mereka kemudian jalan dengan tanpa sepatah kata pun. Taksi yang mereka tunggu telah menepi setelah Surti melambaikan tangannya ke arah taksi di arah yang berlawanan.
“Ke Bandara, Pak…!” Surti menyampaikan tujuannya kepada sopir taksi.
Setelah itu di dalam taksi kembali sunyi. Surti terus melihat ke luar dari jendela taksi. Sedangkan Budi terus menatap Surti, berharap Surti membalikkan wajahnya. Namun, yang ditunggu Budi juga tak kunjung tiba.
“Sebenarnya… Ya… Memang aku kemarin ketemuan sama Siti…” Budi mencoba mengajak Surti berbicara.
“Ya, kan? Kamu biang keladinya… Kamu bilang apa sama Siti? Kamu nyakitin hatinya, kan?…” Surti terus mengulang-ulang kata-katanya sambil terus memarahi Budi.
“Sebentar dulu… beri aku kesempatan untuk ngejelasin…” Budi coba membujuk Surti.
“Terserah…” Surti kembali membuang muka.
“Begini, Surti… Kemarin aku diajak makan siang sama Siti. Sudah lama tiap kali dia ngajak makan siang selalu kutolak. Sama seperti ketika Aku ngajak Kamu makan, Surti… Kapanpun, dimanapun pasti Kamu tolak. Padahal Aku berharap bisa makan bareng sama Kamu, bisa deket sama Kamu, karena sebenarnya Aku itu… em… Aku…”
“Budi, Kamu nggak tahu, Siti itu cinta mati sama Kamu, Dia itu tiap kali curhat ke Aku, Dia itu selalu cerita tentang Kamu, memuji Kamu, semua di kamarnya itu nggak ada yang luput dari kenangan denganmu…”
“Apa…?” Budi terkaget mendengar kisah Surti.
“Apa… apanya, masa siih Kamu nggak nyadar selama ini…”
“Aku itu deket sama Siti, untuk deketin Kamu Surti, Aku itu sayang sama Kamu, dan…”
“Gila Kamu Bud…”
“Dan kamarin ketika ketemuan sama Siti, aku bilang sama dia kalau Aku itu Suka Sama kamu dan aku tanya sama dia, gimana caranya ngomong ke kamu,…”
“Bener-bener gila kamu…”
“Pantas saja…” Budi mengggumam terheran dan merasa bersalah…
Mereka kemudian kembali terdiam. Sesampainya di Bandara mereka terus mencari Siti. Bertanya ke semua Maskapai penerbangan tentang penumpang yang bernama Siti, namun, mereka tak kunjung menemukan Siti, hingga larut malam, hingga bandara sepi, sunyi, hanya tersisa Office Boy, beberapa sopir taksi, dan para petugas maskapai penerbangan yang berkemas pulang, hingga dini hari menyapa mereka…
Cerpen Karangan: Marsono Reso Diono
Facebook: Marsono Aja
Budi, Siti dan Surti
4/
5
Oleh
Unknown
