Judul Cerpen Diuji Kesabaran
Di sore itu aku sedang duduk termenung di ujung ruang kerjaku. Tak berapa lama ada seseorang duduk di sebelahku “kamu belum pulang, hari sudah mulai gelap lho” kata seseorang tadi. Aku hanya diam sama sekali tak menatap laki-laki itu. Keadaan sunyi kami terdiam sejenak tidak ada percakapan di antara kami. “Perkenalkan namaku Fadil, aku karyawan baru di kantor ini” ucap laki-laki itu sambil menyodorkan tangannya memperkenalkan diri. Aku pun menoleh ke arahnya dan membalas sodoran tangannya, “perkenalkan juga namaku Aura” ucapku. “Kenapa kamu belum pulang, apa masih ada kerjaan yang belum selesai?” tanya laki-laki itu. “hmm tidak, aku hanya sedang ingin sendiri saja”. “lho kok bisa, memangnya kamu sedang ada masalah?” tanyanya. “aku baru saja putus dengan pasanganku, dia telah selingkuh di belakangku” jawabku yang tiba-tiba meneteskan air mata. Entah kenapa tiba-tiba aku curhat kepada orang yang baru saja kukenal. “buset dah neng cuman gara-gara cowok kaya gitu aja kamu sampe galau begini, kalo dilihat kamu ini cantik masih banyak pria di luar sana yang nunggu kamu” candanya. “daripada galau gini mendingan kita pergi ke cafe seberang kantor ya sekedar ngobrol-ngobrol aja daripada kamu galau itu juga kalau kamu mau, lagi juga mau ngapain kamu lama-lama disini, ntar ada yang nyolek lho” ucapnya iseng menakutiku. Aku hanya menganggukan kepala pertanda menerima ajakannya.
Di cafe itu kami bercerita soal kerjaan dan kehidupan kami masing-masing.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, sudah 3 jam kami di cafe ini dan memutuskan untuk pulang. Dia mengantarku pulang sampai depan gerbang rumahku.
Dan aku pun turun dari mobilnya, “thank you ya dil kamu udah ngilangin galau aku” ucapku seraya berterimakasih padanya. “yaelah gitu aja bilang terimakasih, aku gak mau aja lihat temanku galau gitu” jawab fadil. Aku pun masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarku yang sangat nyaman, kurebahkan diri di kasur spring bedku yang dibilang lumayan empuk lah.
Entah kenapa wajah Fadil dan senyumnya yang manis itu selalu terbayang bayang di setiap lamunanku. Sedikit demi sedikit sakit hati karena perselingkuhan mantan pacarku yang bernama Hendra itu hilang karena candaan Fadil saat di cafe tadi. Aku senyam senyum sendiri di kamar.
Aku berpikir sejenak. Ah masa iya aku jatuh cinta padanya, pria yang belum sehari aku kenal. Sudahlah lupakan saja.
Tak terasa sudah 3 bulan aku dekat dengan Fadil layaknya orang pacaran. “Woy kenapa kamu ra senyam senyum sendiri, lagi jatuh cinta ya” tiba-tiba Sherin rekan kerjaku mengagetkanku dan membuyarkan lamunanku. “Apa sih rin jatuh cinta, udah kapok gue sama yang namanya percintaan” ucapku dengan nada ketus “Yaelah awas lho kemakan omongan sendiri, eh kamu dicariin Fadil tuh katanya sih mau ngajakin makan siang bareng sekalian ada yang ingin diomongin katanya”, “aku lagi males makan di luar rin, mau ngomong apa sih dia bilang aja ke dia ngomongnya nanti aja pas balik kantor” jawabku.
“ya aku mana tau dia mau ngomong apa, eh jangan-jangan dia mau nembak kamu kali tuh ra” ledeknya.
“Ih apa sih, gak mungkin dia tuh sering curhat sama aku kalo dia lagi suka cewek dan yang pastinya bukan aku” kataku. Sherin tidak menjawab lagi ucapanku dia malah narik tanganku ke luar ruang kerja.
“Eh ini aku mau dibawa kemana rin, jangan begini dong sakit tau tangan aku” teriakku berusaha melepaskan genggaman tangan Sherin. Sherin membawaku ke kantin kantor dan disitu terlihat Fadil menunggu dan tersenyum ke arahku. Aku pun duduk di hadapan Fadil. Tidak merasa bersalah Sherin langsung pergi begitu saja.
“Eh rin… Sherinnn.. kok malah pergi sih” teriaku memanggil Sherin.
“Udahlah biarkan Sherin pergi, mungkin dia lagi ada urusan dengan klien” kata Fadil.
“Oh iya ada apa kamu memanggilku” tanyaku heran.
“Hah, siapa yang manggil kamu Ge eR banget sih kamu ra” kata Fadil sambil tertawa.
“Oh ya sudah aku pergi dulu aku juga sedang ada urusan” kataku sambil bangkit dari tempat duduk.
“Eitss mau kemana sini dulu aku cuma bercanda ada yang ingin aku omongin ke kamu”.
Sepenting apa sih yang ingin Fadil omongin sampe nahan aku begitu, kataku dalam hati.
“Kamu mau ngomong apa sih dil?”
“Ra sudah 3 bulan aku kenal kamu dan selama tiga bulan kita dekat aku sangat terasa nyaman saat di samping kamu” ucap Fadil dengan wajah serius.
“Lalu?”
“Jujur aku sayang dan jatuh cinta sama kamu, maukah kamu jadi pacarku dan nerima cintaku?”. WHATTTSSS Fadil nembak aku, apakah ini mimpi? Ternyata dia juga perasaan yang sama denganku.
“Aku juga nyaman sekali saat di dekat kamu dil, tapi…” aku terdiam sejenak.
“Tapi apa ra? Gak papa kalo kamu gak membalas cinta dan sayangku, ya mungkin aku yang terlalu baper” kata Fadil sambil menunduk.
“Maaf dil..”
Fadil menatap mataku, terlihat kesan tatapan kecewa di wajahnya.
“A.. Akuu”
“Maaf dil aku juga cinta dan sayang sama kamu” jawabku sambil tersenyum, iya tersenyum bahagia.
“AURA KHANZAAA… Kamu bikin aku takut tau gak sih, aku takut kamu tolak cinta aku” ucap Fadil yang hampir meneteskan airmata karena takut malu kalo cintanya aku tolak.
12 Desember, ya itu tanggal jadian kami.
Tak terasa sudah hampir dua tahun aku menjalani hubungan. Makin hari aku makin sayang padanya sehingga aku tak mau kehilangan Fadil.
Waktu itu aku sedang pergi kencan makan malam dengannya -ya siapa lagi kalo bukan pacarku FADIL WIJAYA-. Ketika kami sedang asik makan tiba-tiba ponsel Fadil berbunyi tanda ada pesan di ponselnya, ia pun langsung mengecek ponselnya. Saat itu aku biasa saja, dan ketika aku sedang cerita tentang pekerjaanku, Fadil malah asikk sendiri memainkan ponselnya sambil tersenyum senyum. karena aku kesal aku rebut ponsel yang ada di tangannya itu, karena rasa penasaran aku pun kepoin pesan yang sedari tadi berbunyi di hapenya.
Dan takku sangka, dia smsan dengan wanita lain dengan saling memanggil sayang dan berjanji untuk ketemu esok sore. Aku yang melihat pesan itu langsung menaruh ponselnya di meja tempat kami makan dan aku langsung lari ke luar restoran itu dengan perasaan sakit, iya sakit sakit sekali. Pria yang selama ini aku percaya kesetiaannya ternyata berselingkuh di belakangku. Aku pun berlari lebih jauh dari restoran itu. Terdengar teriakkan Fadil yang terus mengejar dan memanggilku.
“Raa.. Auraaa ini semua tak seperti yang kamu lihat” teriaknya. Aku yang terus berlari tiba-tiba “BBRRRUUKK!!!” aku terjatuh di aspal. Fadil mencoba membantuku untuk bangun aku pun mengelak.
“Mau apalagi sih kamu dil, gak ada yang perlu kamu jelasin aku udah liat semuanya” kataku sambil tak kuasa menahan tangis.
“Ya ampun ra, dia itu cuman mantan aku. Dab besok aku akan bertemu dengannya hanya untuk sillaturahmi saja, aku cinta ra sama kamu jadi kamu gak usah berpikir kalo aku selingkuh sama kamu dan kalo aku ingin selingkuh dari awal aja aku udah permainkan cinta kamu” ucapnya.
“tapi aku gak suka dil kamu smsan sama mantan kamu segala pake panggil sayang-sayangan lah, aku cemburu dil kamu sama sekali kaga ngeharagain perasaan aku sebagai pacar kamu” kataku sambil terus menangis.
“kamu boleh ra cemburu tapi jangan terlalu berlebihan seperti ini, dan maaf aku udah bikin kamu cemburu” katanya sambil menggenggam kedua tanganku dan memelukku.
Entah kenapa tiba-tiba aku luluh mendengar ucapanya dan mempercayai bahwa dia dan mantan pacarnya hanya sekedar sillaturahmi saja.
Hari terus berlalu, aku sudah melupakan kejadian itu. Setelah aku lupa, terus menerus Fadil membuatku kecewa lagi karena dia berkenalan dengan seorang wanita di depan kantor lah, kencan dengan wanita lain lah. Saat itu aku hanya bisa bersabar.
FADIL WIJAYA, ya itu pacarku. Dia yang membuat aku bersabar sabar dan sabar oleh kelakuannya yang seringkali bikin aku kecewa. Tapi aku tetap selalu cinta dan sayang dengan kamu dil. Mungkin saar ini kesabaranku sedang diuji.
Dan
Terimakasih telah membuatku menjadi wanita yang SABAR
Cerpen Karangan: Thia Ribya
Facebook: Thia Ribya
Di sore itu aku sedang duduk termenung di ujung ruang kerjaku. Tak berapa lama ada seseorang duduk di sebelahku “kamu belum pulang, hari sudah mulai gelap lho” kata seseorang tadi. Aku hanya diam sama sekali tak menatap laki-laki itu. Keadaan sunyi kami terdiam sejenak tidak ada percakapan di antara kami. “Perkenalkan namaku Fadil, aku karyawan baru di kantor ini” ucap laki-laki itu sambil menyodorkan tangannya memperkenalkan diri. Aku pun menoleh ke arahnya dan membalas sodoran tangannya, “perkenalkan juga namaku Aura” ucapku. “Kenapa kamu belum pulang, apa masih ada kerjaan yang belum selesai?” tanya laki-laki itu. “hmm tidak, aku hanya sedang ingin sendiri saja”. “lho kok bisa, memangnya kamu sedang ada masalah?” tanyanya. “aku baru saja putus dengan pasanganku, dia telah selingkuh di belakangku” jawabku yang tiba-tiba meneteskan air mata. Entah kenapa tiba-tiba aku curhat kepada orang yang baru saja kukenal. “buset dah neng cuman gara-gara cowok kaya gitu aja kamu sampe galau begini, kalo dilihat kamu ini cantik masih banyak pria di luar sana yang nunggu kamu” candanya. “daripada galau gini mendingan kita pergi ke cafe seberang kantor ya sekedar ngobrol-ngobrol aja daripada kamu galau itu juga kalau kamu mau, lagi juga mau ngapain kamu lama-lama disini, ntar ada yang nyolek lho” ucapnya iseng menakutiku. Aku hanya menganggukan kepala pertanda menerima ajakannya.
Di cafe itu kami bercerita soal kerjaan dan kehidupan kami masing-masing.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, sudah 3 jam kami di cafe ini dan memutuskan untuk pulang. Dia mengantarku pulang sampai depan gerbang rumahku.
Dan aku pun turun dari mobilnya, “thank you ya dil kamu udah ngilangin galau aku” ucapku seraya berterimakasih padanya. “yaelah gitu aja bilang terimakasih, aku gak mau aja lihat temanku galau gitu” jawab fadil. Aku pun masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarku yang sangat nyaman, kurebahkan diri di kasur spring bedku yang dibilang lumayan empuk lah.
Entah kenapa wajah Fadil dan senyumnya yang manis itu selalu terbayang bayang di setiap lamunanku. Sedikit demi sedikit sakit hati karena perselingkuhan mantan pacarku yang bernama Hendra itu hilang karena candaan Fadil saat di cafe tadi. Aku senyam senyum sendiri di kamar.
Aku berpikir sejenak. Ah masa iya aku jatuh cinta padanya, pria yang belum sehari aku kenal. Sudahlah lupakan saja.
Tak terasa sudah 3 bulan aku dekat dengan Fadil layaknya orang pacaran. “Woy kenapa kamu ra senyam senyum sendiri, lagi jatuh cinta ya” tiba-tiba Sherin rekan kerjaku mengagetkanku dan membuyarkan lamunanku. “Apa sih rin jatuh cinta, udah kapok gue sama yang namanya percintaan” ucapku dengan nada ketus “Yaelah awas lho kemakan omongan sendiri, eh kamu dicariin Fadil tuh katanya sih mau ngajakin makan siang bareng sekalian ada yang ingin diomongin katanya”, “aku lagi males makan di luar rin, mau ngomong apa sih dia bilang aja ke dia ngomongnya nanti aja pas balik kantor” jawabku.
“ya aku mana tau dia mau ngomong apa, eh jangan-jangan dia mau nembak kamu kali tuh ra” ledeknya.
“Ih apa sih, gak mungkin dia tuh sering curhat sama aku kalo dia lagi suka cewek dan yang pastinya bukan aku” kataku. Sherin tidak menjawab lagi ucapanku dia malah narik tanganku ke luar ruang kerja.
“Eh ini aku mau dibawa kemana rin, jangan begini dong sakit tau tangan aku” teriakku berusaha melepaskan genggaman tangan Sherin. Sherin membawaku ke kantin kantor dan disitu terlihat Fadil menunggu dan tersenyum ke arahku. Aku pun duduk di hadapan Fadil. Tidak merasa bersalah Sherin langsung pergi begitu saja.
“Eh rin… Sherinnn.. kok malah pergi sih” teriaku memanggil Sherin.
“Udahlah biarkan Sherin pergi, mungkin dia lagi ada urusan dengan klien” kata Fadil.
“Oh iya ada apa kamu memanggilku” tanyaku heran.
“Hah, siapa yang manggil kamu Ge eR banget sih kamu ra” kata Fadil sambil tertawa.
“Oh ya sudah aku pergi dulu aku juga sedang ada urusan” kataku sambil bangkit dari tempat duduk.
“Eitss mau kemana sini dulu aku cuma bercanda ada yang ingin aku omongin ke kamu”.
Sepenting apa sih yang ingin Fadil omongin sampe nahan aku begitu, kataku dalam hati.
“Kamu mau ngomong apa sih dil?”
“Ra sudah 3 bulan aku kenal kamu dan selama tiga bulan kita dekat aku sangat terasa nyaman saat di samping kamu” ucap Fadil dengan wajah serius.
“Lalu?”
“Jujur aku sayang dan jatuh cinta sama kamu, maukah kamu jadi pacarku dan nerima cintaku?”. WHATTTSSS Fadil nembak aku, apakah ini mimpi? Ternyata dia juga perasaan yang sama denganku.
“Aku juga nyaman sekali saat di dekat kamu dil, tapi…” aku terdiam sejenak.
“Tapi apa ra? Gak papa kalo kamu gak membalas cinta dan sayangku, ya mungkin aku yang terlalu baper” kata Fadil sambil menunduk.
“Maaf dil..”
Fadil menatap mataku, terlihat kesan tatapan kecewa di wajahnya.
“A.. Akuu”
“Maaf dil aku juga cinta dan sayang sama kamu” jawabku sambil tersenyum, iya tersenyum bahagia.
“AURA KHANZAAA… Kamu bikin aku takut tau gak sih, aku takut kamu tolak cinta aku” ucap Fadil yang hampir meneteskan airmata karena takut malu kalo cintanya aku tolak.
12 Desember, ya itu tanggal jadian kami.
Tak terasa sudah hampir dua tahun aku menjalani hubungan. Makin hari aku makin sayang padanya sehingga aku tak mau kehilangan Fadil.
Waktu itu aku sedang pergi kencan makan malam dengannya -ya siapa lagi kalo bukan pacarku FADIL WIJAYA-. Ketika kami sedang asik makan tiba-tiba ponsel Fadil berbunyi tanda ada pesan di ponselnya, ia pun langsung mengecek ponselnya. Saat itu aku biasa saja, dan ketika aku sedang cerita tentang pekerjaanku, Fadil malah asikk sendiri memainkan ponselnya sambil tersenyum senyum. karena aku kesal aku rebut ponsel yang ada di tangannya itu, karena rasa penasaran aku pun kepoin pesan yang sedari tadi berbunyi di hapenya.
Dan takku sangka, dia smsan dengan wanita lain dengan saling memanggil sayang dan berjanji untuk ketemu esok sore. Aku yang melihat pesan itu langsung menaruh ponselnya di meja tempat kami makan dan aku langsung lari ke luar restoran itu dengan perasaan sakit, iya sakit sakit sekali. Pria yang selama ini aku percaya kesetiaannya ternyata berselingkuh di belakangku. Aku pun berlari lebih jauh dari restoran itu. Terdengar teriakkan Fadil yang terus mengejar dan memanggilku.
“Raa.. Auraaa ini semua tak seperti yang kamu lihat” teriaknya. Aku yang terus berlari tiba-tiba “BBRRRUUKK!!!” aku terjatuh di aspal. Fadil mencoba membantuku untuk bangun aku pun mengelak.
“Mau apalagi sih kamu dil, gak ada yang perlu kamu jelasin aku udah liat semuanya” kataku sambil tak kuasa menahan tangis.
“Ya ampun ra, dia itu cuman mantan aku. Dab besok aku akan bertemu dengannya hanya untuk sillaturahmi saja, aku cinta ra sama kamu jadi kamu gak usah berpikir kalo aku selingkuh sama kamu dan kalo aku ingin selingkuh dari awal aja aku udah permainkan cinta kamu” ucapnya.
“tapi aku gak suka dil kamu smsan sama mantan kamu segala pake panggil sayang-sayangan lah, aku cemburu dil kamu sama sekali kaga ngeharagain perasaan aku sebagai pacar kamu” kataku sambil terus menangis.
“kamu boleh ra cemburu tapi jangan terlalu berlebihan seperti ini, dan maaf aku udah bikin kamu cemburu” katanya sambil menggenggam kedua tanganku dan memelukku.
Entah kenapa tiba-tiba aku luluh mendengar ucapanya dan mempercayai bahwa dia dan mantan pacarnya hanya sekedar sillaturahmi saja.
Hari terus berlalu, aku sudah melupakan kejadian itu. Setelah aku lupa, terus menerus Fadil membuatku kecewa lagi karena dia berkenalan dengan seorang wanita di depan kantor lah, kencan dengan wanita lain lah. Saat itu aku hanya bisa bersabar.
FADIL WIJAYA, ya itu pacarku. Dia yang membuat aku bersabar sabar dan sabar oleh kelakuannya yang seringkali bikin aku kecewa. Tapi aku tetap selalu cinta dan sayang dengan kamu dil. Mungkin saar ini kesabaranku sedang diuji.
Dan
Terimakasih telah membuatku menjadi wanita yang SABAR
Cerpen Karangan: Thia Ribya
Facebook: Thia Ribya
Diuji Kesabaran
4/
5
Oleh
Unknown
