PHP

Baca Juga :
    Judul Cerpen PHP

    Tidak bisa dilihat, tidak bisa dipegang tapi bisa dirasakan. Dirasakan bukan berarti mengecap, bukan lidah yang merasakan. Sakitnya hati seorang cewek saat diberi harapan palsu itu sudah tidak dapat ditahan lagi. Seperti halnya Bella, berbulan-bulandia menunggu Rancho, seorang cowok yang sangat dekat dengannya sudah saat sejak awal masuk di salah satu SMA Swasta di kotanya. Hari demi hari dia jalani, duduk bersama dengan Rancho, belajar bersama bahkan kadang Rancho pernah mengajaknya makan bersama saat sedang malam Minggu. Dari cara Rancho yang seperti itu, Bella menganggap bahwa Rancho menaruh rasa padanya. Senyuman Rancho yang melengking dengan lesung di pipinya membuat Bella semakin tertarik dengan cowok berbadan tinggi itu. Mata Rancho yang terlihat coklat memikat Bella, matanya sangat indah dan membuat Bella tidak ingin melepas pandangannya dari Rancho. Bella tidak pernah merasa bosan saat di dekat Rancho. Ya jelas saja lah, Rancho kan cowok yang mulai ia taksir saat mulai duduk di bangku SMA. Entah darimana mulainya. saat mereka sudah satu kelas itu Rancho memang asik orangnya. Rancho tidak malu untuk berteman dengan cewek-cewek di kelasnya.
    Rancho memang banyak terlihat berteman dengan seorang cewek, salah satunya ya Bella. Tapi kedekatan Rancho dengan cewek lain ya hanya sekedar teman biasa.

    “Heyy”, kukagetkan Rncho saat dia duduk di depan kelas sendirian sambil menepuk pundaknya yang hanya terasa tulang saja.
    “Hoyy”, sontak Rancho terkejut dengan mata melotot dan mulut sedikit monyong seperti mulut ikan.
    “Heha, kaget ya? maaf.”
    “Iya, gak papa sih. Tapi beneran kaget nih”
    “Ya maaf deh, oya hari ini ada acara apa kamu?”
    “Gak ada sih. Eh, tapi rencana mau ajak kamu jalan-jalan ke pasar malam yang di lapangan dekat sekolah, gimana? kamu mau nggak?”
    “Hmm, kamu ngajak aku? Kenapa nggak ajak yang lain aja?”
    “Aku sih maunya sama kamu aja, lebih asik”.
    “Oyaa? Oke deh. jam berapa?”
    “Jam 7 deh ya? kamu harus udah siap”
    “Sip. Aku pasti udah siap kok”.
    “Ya udah, aku mau ke perpustakaan dulu ya, mau pinjam buku”.
    “Oke”

    Bella menerima ajakan Rancho untuk pergi ke pasar malam. ini untuk yang kesekian kalinya Rancho mengajak Bella jalan. Bella sangat bahagia. Mulutnya memancarkan senyuman yang indah, matanya terlihat bersinar-sinar. Rasanya seperti ingin melayang. Bella menggoyangkan pergelangan tangannya sambil berkata “Yess, Yess, Yess!”

    Dress hitam dengan corak garis-garis putih di bagian bawahnya membuat Bella terlihat sangat cantik malam itu. Ia duduk di teras rumahnya sambil mengotak atik handphonennya. Ia sedang menunggu kedatangan Rancho.
    Tak lama kemudian Rancho datang dengan mengendarai kuda besinya. Gagahnya Rancho dengan kaos hitam, jaket kulit coklat dan jeansnya. Rancho terlihat sangat tampan sampai-sampai Bella tidak berkedip melihatnya. Rancho sudah membunyikan klakson motornya 2 kali, namun Bella tetap tidak mendengarnya. Hingga klakson ketiga Ramnho bunyikan dengan panjang.
    “Tiiiiiiinnn!!!”
    “Eh, iya Rancho aku datang sekarang tunggu aku”, ucapnya kaget, dia mengucap dengan cepat sambil berlari ke arah Rancho.
    “Kamu kenapa diam saja disitu Bell?”
    “Ah, Eh, itu anu, nggak papa kok hehe”
    “Ya udah yuk naik, kita berangkat”
    “Ayukk”

    Bella naik ke atas motor. Saat perjalanan, ia memeluk pinggang Rancho. Romantisnya, mereka memang sudah seperti sepasang kekasih. Bella dekat sekali dengan Rancho, begitu dekat. Jantungnya berdebar sangat kencang seperti mau copot. Aroma parfum Rancho yang Bella sukai begitu melekat di hidung Bella. Wangi yang berbeda dari wangi parfum cowok-cowok yang lain.

    Sampai di pasar malam
    “Waahh, ramai sekali ya Cho?” ucapku sambil melihat sekeliling pasar malam.
    “Kamu kok aneh? Ini kan pasar malam ya pasti ramai kan seperti pasar-pasar yang lain. Setiap orang boleh berkunjung ke sini sesuka hati” jawab Rancho terheran.
    “Hehe, iya sih” Bella merasa malu, mukaya memerah sambil menggaruk-garuk kepalanya.

    Rancho mengajak Bella makan bakso di salah satu pedagang bakso yang ada di sekitar pasar malam itu. Bella merasa sangat bahagia. Perasaannya tidak menentu. Rasanya ia ingin megungkapkan sesuatu. Tidak peduli ia seorang cewek. Bella ingin mengeluarkan semua yang ada di hatinya, apa yang ia rasakan selama ini terhadap Rancho. Mungkin ceritanya bukan nembak, tapi ya begitulah.
    “Rancho?” dengan nada halus Bella memanggil Rancho yang sedang ingin melahap satu bakso.
    “Hmm, Kenapa Bell?” jawabnya sambil mengunyah bakso tadi.
    “Abisin dulu deh bakso satu itu, nanti kalau udah baru aku ngomong lagi”
    Rancho lalu mengunyah habis bakso satu yang ia sikat lahap. satu bakso habis, lalu Rancho kembali bertanya pada Bella, apa sebenarnya yang ingin dia katakan.
    “Kamu mau ngomong apa?” sambil meminum es teh,
    “Kamu tau nggak?”
    “Nggak tau, kamu belum kasih tau kok”
    “Hehe iya ya” Bella salah tingkahdan gugup.
    “Ngomong apaan sih Bell? Baksoya kurang? Kamu mau tambah lagi?”
    “Eh nggaknggak, bukan itu. Iiissh kamu ini apaan sih”
    “Haha, terus apa geh?”
    “Kamu emang nggak tahu kan. Aku itu sudah lama memendam rasa ke kamu, sudah berbulan- bulan Cho. Aku tidak bisa menahan perasaan ini, aku terus memendamnya. Mungkin emang baiknya aku ngomong ke kamu biar lega. Aku suka sama kamu Cho”
    “Maksud kamu?”
    “Aku suka sama kamu, aku jatuh cinta. Perasaanku lebih buat kamu. Kamu itu cowok yang paling istimewa buatku”
    “Aduh, gimana ya. Aku menganggap kamu nggak lebih dari sekedar teman atau sahabat. Aku nggak punya rasa apa apa sama kamu. Kalau pun aku sayang, ya sayangnya aku ke kamu sekedar sahabat saja”
    “Lalu, alasan kamu mengajak aku sering jalan saat malam minggu, duduk berdua saat di sekolah, mengajakku ke kantin berdua? itu apa? kamu tidak merasakan apa-apa sama sekali?”
    “Maaf, tidak. Ya itu seperti yang aku bilang tadi. Tidak lebih Bella. Aku hanya menganggapmu sahabat.”
    Ternyata Rancho menganggap bella tidak lebih dari sekedar sahabat. Bella sangat malu, karena perkiraan dia salah. Setelah saat Bella bebicara seperti itu dan jawaban yang diterimanya tidak sesuai dengan keinginan hatinya, Bella tidak mau lagi menganggap bahwa perhatian cowok seperti itu adalah kode yang nantinya akan jadian. Bella telah salah menilai perhatian Rancho dan sikap Rancho. Bella salah mengartikan setiap tindakan Rancho terhadapnya. Perasaan yang Bella rasakan awalnya sudah yakin. Ia yakin bahwa Rancho menyukainya, oleh sebab itu Bella berani mengatakan itu pada Rancho. Tapi apa yang diharapkannya tidak sesuai dan kenyataannya Bella jadilah korban PHP.

    Di sekolah
    “Hey Bell, makan di kantin yuk?” Kata Rancho.
    “Maaf, aku udah kenyang!” Jawab Bella sambil beranjak pergi meninggalkan Rancho.
    “Loh, Bell mau kemana? Kok aku ditinggal sih?”
    “Bukan urusan kamu!”
    Rancho heran ada apa sebenarnya dengan Bella, apa yang terjadi sampai-sampai sikap Bella berubah drastis seperti itu terhadapnya.

    Sudah berbagai tawaran, ajakan untuk belajar bersama, nonton di bioskop, dan lain-lain Rancho lakukan. Akan tetapi, tetap saja Bella menolak semua ajakan Rancho. Bella memang sudah benar-benar sakit hati. Bela malu, sakit rasanya ternyata orang yang telah lama Bella sukai ternyata hanya menganggapnya sebagai sahabat.

    Di koridor sekolah
    “Bell, Bell, tunggu!” Panggil Rancho sambil menarik tangan Bella.
    “Kenapa sih?”, Bella menepis dan melepaskan pegangan Rancho dari tangannya.
    “Ada apa Bell? Kenapa kamu berubah sama aku? Sikapmu nggak seperti dulu Bella yang aku kenal?”
    “Apa sih mau kamu? Kamu nggak perlu tahu kenapa aku! Bukan urusan kamu!”
    “Bell! Tunggu dulu, aku mau bicara sama kamu!”
    “Apa lagi sih Rancho? Aku kan sudah bilang ini semua bukan urusan kamu, ini urusanku dan nggak seharusnya kamu mencampuri urusan pribadiku! Ngerti kamu?” bentak Bella kesal.
    “Bell, aku nggak mengenal Bella yang dulu. Aku nggak mengenal Bella yang selalu menjadi teman curhatku saat aku membicarakan tentang guru yang killer. Aku nggak mengenal lagi Bella yang selalu mengingatkan aku untuk segera makan siang dan jika telat dia akan mencubitku serta menarikku untuk cepat makan. Dimana Bella yang dulu?” Ucap Rancho dengan wajah yang kecewa.
    “Bella yang dulu sudah mati! Dia sudah tidak ada disini. Bella yang kamu katakan itu telah mati bersama perasaan sakit yang ia bawa selama ia mengenal seorang cowok yang benar-benar ia cinta! Aku bukan Bellamu yang seperti kamu katakan. Jauhi aku, jangan dekati aku lagi”, jawab Bella.
    “Maksud kamu?” Rancho bingung.
    “Sudahlah, aku bukan Bellamu lagi. Lupakan aku yang pernah menjadi temanmu, yang selalu mengingatkanmu untuk makan siang. Aku nggak mau lagi berhubungan sama kamu.”
    Bella kemudian berhenti berbicara dan segera meninggalkan Rancho. Rancho bingung dan sedikit tidak mengerti apa yang dikatakan Bella.

    Semalaman Rancho memikirkan apa arti ucapan Bella di koridor tadi. Sambil memantul-mantulkan bola basket ke dinding kemudian bola itu ditangkapnya kembali, Rancho terus berpikir kenapa Bella seperti itu, apa maksudnya. Perasaan bersalah telah masuk dalam hatinya. Rasanya ada sebuah kesalahan besar yang ia perbuat sampai Bella tidak mau bicara dengannya.
    Di sisi lain Bella juga berpikir apakah tindakannya terhadap Rancho itu benar. Apakah itu baik untuknya. Dengan membuat Rancho merasa bersalah,dengan membuat Rancho terus berpikir apa sebenarnya yang terjadi sehingga dirinya seperti itu. Bella terus berpikir kritis. Apakah sebaiknya dia meminta maaf kepada Rancho karena sikapnya yang aneh dan tidak jelas.

    Keesokkan harinya di sekolah
    Suasana kelas yang masih sepi hanya ada 5 orang disitu termasuk Rancho dan Bella.
    Mata mereka berdua saling melirik. Namun saat keduanya ketahuan saling melirik, keduanya malah berpura-pura tidak melihat. Setelah semalaman mereka berpikir akhirnya ada sesuatu yang sebenarnya ingin mereka katakan. Rancho kemudian memberanikan untuk mendekati Bella.
    “Bell”, ucap Rancho.
    “Hmm, iyaa?” jawab Bella.
    “Aku minta maaf ya. Aku tahu sekarang kenapa kamu bersikap seperti itu. Aku tahu, itu semua karena saat di pasar malam waktu itu kan? Waktu aku bilang, aku hanya menganggapmu sahabat dan…”
    “Sudah, aku juga minta maaf. Nggak seharusnya aku berbuat seperti itu sama kamu. Aku terlalu berlebihan. Aku menganggap semua tingkah lakumu itu menunjukkan bahwa kamu menyukai aku, aku pikir kamu suka sama aku”, Bella memotong perkataan Rancho.
    “Iya, Bell. Tapi maaf, itu semua memang benar, aku tidak menganggapmu lebih dari sekedar sahabat. Aku melakukan itu karena aku nggak mau nyakiti kamu, Bell.”
    “Iya, aku ngerti kok. Aku ngerti kenapa kamu seperti itu. Aku berpikir, kalau kita jadi sahabat kan nggak akan pernah ada kata putus, bahkan kita bakalan bisa terus bersama-sama kan? Tidak seperti jika pacaran. Kalau sudah putus ya sudah. Jarang kan, yang sudah putus langsung menjadi teman malah lebih banyak yang menjadi musuh.”
    “Kamu benar Bell. Aku setuju sama semua ucapanmu. Aku juga lagi nggak mau pacaran. Aku mau fokus sama studyku dulu. Aku ingin menjadi lulusan terbaik nantinya.”
    “Baiklah, jadi, kita sahbatan?” Tanya Bella sambil memberikan kelingkingnya.
    “Ya dong, kita sahabat. Kita nggak akan pernah terpisahkan”.
    “Oke”

    Akhirnya, Bella dan Rancho saling bermaafan. Bella sadar bahwa pacaran itu akan lebih sulit dan nantinya akan merusak kedekatannya dengan Rancho. Namun, jika mereka bersahabat. Mereka tidak akan pernah terpisahkan. Nereka bisa terus bersama sampai kapan pun.

    Tamat

    Cerpen Karangan: Niluh Octa
    Blog: niluhoctavians22.blogspot.com

    Artikel Terkait

    PHP
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email