Judul Cerpen Dua Insan Saling Merindu
“Terdiam dalam sepi mencoba tuk lupakan sesuatu yang pernah hadir di hidupku. Itu kamu, Din. Banyak kenangan yang telah kita lalui bersama dan setelah 4 tahun lamanya betapa aku masih mengingatmu, merindukanmu bahkan masih kucintai semua tentang kamu. Memang kita hanya sebatas sahabat, tapi bukankah kau sudah mengetahui isi hatiku? Entah kapan kau akan menjawab semua pertanyaanku tentang kisah kita. Masihkah bisa seperti dulu menjalin persahabatan yang amat begitu membuatku terlena di alam dongeng tersebut, atau kau akan menjawab pertanyaan itu? Bila masih mungkin, semoga kita tak berpisah lagi meskipun aku harus merelakanmu dengan yang lain. Tapi… sudahlah, kudoakan saja kau bahagia di sana.” Berlinang air mata Dinda membaca sms dari sahabatnya yang juga sangat ia cintai itu. Sudah lama memang Wahyu dan Dinda tak berjumpa sejak Dinda memutuskan untuk pergi menjauh dari Wahyu. Bahkan mereka sekali pun tidak pernah bersua walau pun rumah mereka hanya berjarak 3 km. Dinda hanya bisa merindukannya dari kamarnya, bahkan di sekolahnya pun ia sering kurang fokus saat gurunya menerangkan.
“Kriiing kriiing kriiing.” Alarm di hp wahyu berdering mengingatkannya bahwa saat itu ulang tahun sahabatnya. Dinda. “Happy birthday, Din! Semoga sukses meraih cita-citamu dan semoga kau selalu sehat dilindungan Allah! Amiin.” tulis wahyu di hpnya untuk mengirimkannya kepada dinda. Kenapa tidak telepon saja sih? Yaahhh, Wahyu memang tidak pernah ingin mendengar suara Dinda karena ia tidak ingin Rindunya mengganggu fokusnya saat ia berada di panggung ketika ia perform di sebuah kafe kecil milik Pak Rahman. Ia sebenarnya ingin melupakan Dinda tapi Wahyu tidak bisa melupakannya sedikit pun bahkan ia selalu mengucapkan selamat ulang tahun saat Dinda berulang tahun juga selalu tidak lupa meminta maaf ketika hari raya tiba. Namun tak satupun pesannya dibalas.
“Ya Allah ya Rabb, sehatkanlah keluarga hamba, berikanlah mereka rizki yang kau ridhoi, juga tidak lupa Dinda orang yang hamba cinta, berikanlah dia kekuatan untuk selalu bahagia menjalani hari-harinya, tabahkan dia saat ujianmu tertuju padanya juga sehatkanlah dirinya ya Allah.” doa Wahyu selesai shalat. Ya, dia memang selalu tidak lupa mencantumkan nama Dinda dalam setiap doanya. Betapa cintanya dia kepada Dinda yang sebenarnya juga mencintainya, hanya saja ada seseorang yang juga suka pada Wahyu. Rena teman sekelas Dinda yang juga sangat dekat dengannya. Ia selalu bercerita tentang Wahyu kepada Dinda, namun tanpa ia ketahui Wahyu adalah sahabat Dinda sejak SD sampai ia kelas 2 SMA sebelum Wahyu mengungkapkan perasaannya.
“Kling…” hp Dinda bunyi.
“Din, itu sms dari siapa? Kok ada nama wahyu? Itu wahyu yang sering aku ceritain sama kamu bukan?” tanya Rena penasaran.
“Nggak, bukan kok. Kenal aja nggak. Aku cuma tau fotonya doang di hp kmu. Ini Wahyu temen SDku.” Elak Dinda.
“Oh.. kayaknya dia sedih gitu, Din. Dia mantanmu ya kok dia bilang balik-balik gitu?”
“Bukan siapa-siapa kok. Udah ahh, sini hpku. Dikepoin terus malu tau!” Candanya sambil mencubit lengan Rena dan merampas hpnya dari tangan temannya itu. Waktu udah hampir gelap, Dinda pamit pulang. Pulang? Hal yang paling ia benci ketika harus menangisi Wahyu yang sebenarnya ia Rindukan.
Waktu sudah jam 3 sore. “Tok.. tok.. tok..” bunyi ketukan pintu kamar Wahyu.
“Buka aja, gak dikunci!” teriaknya yang saat itu sedang memetik gitarnya di atas gumpalan kasur.
“Rena? Ada apa kesini?” tanyanya penasaran dengan nada terkejut.
“Aku cuma pengen belajar main gitar aja. Boleh gak?” senyam-senyum ia berbicara.
“Boleh aja sih, kamu sama siapa?” Tanya Wahyu yang tidak tahu kalau Rena adalah teman Dinda sahabatnya yang tidak ada kabar itu.
“Sama temen, tuh dia ada di teras.” Tunjuk Rena kepada wanita yang sedang duduk membelakangi mereka berdua. Dinda orangnya. Dinda tidak tahu kalau Wahyu tinggal di rumah pamannya bersama sepupunya yang ditinggal pergi ke Malaysia untuk jadi TKI bersama istrinya.
“Emm, ya udah kamu tunggu di luar aja dulu. Kasian tuh tmnmu.” perntahnya kepada Rena yang langsung ke luar untuk menemui Dinda.
“Ini rumah siapa, Ren?” tanya Dinda.
“Rumah guru gitarku. Hehehe.. Pengen belajar main gitar aku, Din.” jawab Rena sambil cengar-cengir ke arah Dinda.
“Udah mau mulai sekarang?” tanya Wahyu sambil berjalan dan memegang 2 gitar hasil keringatnya sendiri. Dan saat Wahyu melihat ke arah mereka berdua, betapa terkejutnya dia saat melihat Dinda duduk di samping Rena.
“Dinda?” Wahyu memanggilnya dengan perasaan bercampur aduk antara terharu, senang juga sedih.
“Wahyu?” Dinda tidak kalah terkejut.
“Jadi kalian udah saling kenal?” senyu Rena yang tidak tau apapun. Wahyu langsung menghampiri Dinda dan memeluknya erat. Dinda hanya pasrah sambil mencoba menahan air matanya.
“Kamu kemana aja, Din? Apa kamu tidak membaca pesan-pesan yang aku dari dulu?” tanya Wahyu dengan nada seperti ingin menangis. Dinda hanya diam tanpa kata menahan air matanya.
“Dinda jawab dong!” paksa Wahyu sembari melepaskan pelukannya.
“Maafin aku, Yu! Aku gak bisa. Aku benci kamu.” akhirnya Dinda berkata namun air mata yang tadi sudah mengkubangi kantung matanya kini tumpah saat ia mulai bersuara.
“Kenapa? Apa salah aku cinta sama kamu?” tanya Wahyu memojokkan Dinda.
“Dinda, apa yang sebenarnya terjadi sama kalian dulu? Kenapa kamu gak pernah cerita sama aku? Apa kamu gak percaya sama aku?” sambung Rena di tengah pembicaraan Wahyu dan Dinda.
“Aku cuma gak mau nyakitin kamu, Ren. Karena aku tau kamu suka sama dia. Maafin aku, Rena!” paling Dinda kepada Rena yang sangat terkejut melihat kedekatan Wahyu dan Dinda.
“Tapi aku bisa mengalah kok, Din. Lagian aku hanya kagum sama Wahyu sejak 4 tahun lalu melihatnya tampil di Kafe Rahman. Aku tidak memiliki perasaan lebih dari sebatas kagum, Din!” jawab Rena memperjelas. Dinda hanya terdiam sama dengan Wahyu yang tidak mau mengangkat wajahnya lantaran air matanya juga telah menetes.
“Yu, sekarang aku tau kenapa kamu sangat menjiwai ketika kamu tampil.” ucap Rena cengengesan tanpa tau apa yang kedua tmnnya rasakan.
“Dinda?” panggil Wahyu yang hanya dijawab dengan tatapan tajam Dinda.
“Aku melihatnya, Dinda. Aku melihat cintamu sama aku di matamu. Kenapa kamu gak bisa jujur sama diri kamu sendiri juga sama aku, Din?” tanya Wahyu. Dinda langsung mengalihkan pandangannya ke bawah tanpa menjawab pertanyaan Wahyu.
“Ya udah kalo kamu masih gak mau jawab. Aku masuk dulu. Oh iya, Rena nanti aja ya bljar gitarnya!” Ucap Wahyu sambil berjalan ke dalam.
“Wahyu!” Dinda menghentikan Langkah Wahyu yang tanpa menoleh seakan ia memang berniat melupakan Dinda.
“Aku juga cinta sama kamu, Yu. Tiap malem aku terus menangis merindukanmu. Maafin aku, Wahyu. Jangan jauhi aku lagi.” Dinda meluapkan emosinya selama 4 tahun terpendam. Wahyu berbalik dan seketika Dinda telah memeluknya lagi.
“Maafin aku, Din. Aku udah bikin kamu nangis. Aku akan menebus semuanya dengan membahagiakanmu. Aku janji.” Ucap Wahyu dengan senyum yang sangat manis sambil menatap langit-langit rumahnya.
“Maafin aku juga, Yu. Aku udah menyiksa kamu dengan menyembunyikan perasaanku yang sesungguhnya.” Balas Dinda dengan tangis haru mewarnai kalimatnya. Rena hanya tersenyum bahagia melihat Wahyu dan Dinda kembali bahagia dengan ikatan yang memang sepantasnya mereka dapatkan.
The End.
Sekian Terima Kasih.
Mohon maaf jika ada kesamaan toko/alur cerita. Ini hanya fiktif.
Cerpen Karangan: Dimas Wahyu Abdillah
Facebook: Dimas Wahyu Abdillah
“Terdiam dalam sepi mencoba tuk lupakan sesuatu yang pernah hadir di hidupku. Itu kamu, Din. Banyak kenangan yang telah kita lalui bersama dan setelah 4 tahun lamanya betapa aku masih mengingatmu, merindukanmu bahkan masih kucintai semua tentang kamu. Memang kita hanya sebatas sahabat, tapi bukankah kau sudah mengetahui isi hatiku? Entah kapan kau akan menjawab semua pertanyaanku tentang kisah kita. Masihkah bisa seperti dulu menjalin persahabatan yang amat begitu membuatku terlena di alam dongeng tersebut, atau kau akan menjawab pertanyaan itu? Bila masih mungkin, semoga kita tak berpisah lagi meskipun aku harus merelakanmu dengan yang lain. Tapi… sudahlah, kudoakan saja kau bahagia di sana.” Berlinang air mata Dinda membaca sms dari sahabatnya yang juga sangat ia cintai itu. Sudah lama memang Wahyu dan Dinda tak berjumpa sejak Dinda memutuskan untuk pergi menjauh dari Wahyu. Bahkan mereka sekali pun tidak pernah bersua walau pun rumah mereka hanya berjarak 3 km. Dinda hanya bisa merindukannya dari kamarnya, bahkan di sekolahnya pun ia sering kurang fokus saat gurunya menerangkan.
“Kriiing kriiing kriiing.” Alarm di hp wahyu berdering mengingatkannya bahwa saat itu ulang tahun sahabatnya. Dinda. “Happy birthday, Din! Semoga sukses meraih cita-citamu dan semoga kau selalu sehat dilindungan Allah! Amiin.” tulis wahyu di hpnya untuk mengirimkannya kepada dinda. Kenapa tidak telepon saja sih? Yaahhh, Wahyu memang tidak pernah ingin mendengar suara Dinda karena ia tidak ingin Rindunya mengganggu fokusnya saat ia berada di panggung ketika ia perform di sebuah kafe kecil milik Pak Rahman. Ia sebenarnya ingin melupakan Dinda tapi Wahyu tidak bisa melupakannya sedikit pun bahkan ia selalu mengucapkan selamat ulang tahun saat Dinda berulang tahun juga selalu tidak lupa meminta maaf ketika hari raya tiba. Namun tak satupun pesannya dibalas.
“Ya Allah ya Rabb, sehatkanlah keluarga hamba, berikanlah mereka rizki yang kau ridhoi, juga tidak lupa Dinda orang yang hamba cinta, berikanlah dia kekuatan untuk selalu bahagia menjalani hari-harinya, tabahkan dia saat ujianmu tertuju padanya juga sehatkanlah dirinya ya Allah.” doa Wahyu selesai shalat. Ya, dia memang selalu tidak lupa mencantumkan nama Dinda dalam setiap doanya. Betapa cintanya dia kepada Dinda yang sebenarnya juga mencintainya, hanya saja ada seseorang yang juga suka pada Wahyu. Rena teman sekelas Dinda yang juga sangat dekat dengannya. Ia selalu bercerita tentang Wahyu kepada Dinda, namun tanpa ia ketahui Wahyu adalah sahabat Dinda sejak SD sampai ia kelas 2 SMA sebelum Wahyu mengungkapkan perasaannya.
“Kling…” hp Dinda bunyi.
“Din, itu sms dari siapa? Kok ada nama wahyu? Itu wahyu yang sering aku ceritain sama kamu bukan?” tanya Rena penasaran.
“Nggak, bukan kok. Kenal aja nggak. Aku cuma tau fotonya doang di hp kmu. Ini Wahyu temen SDku.” Elak Dinda.
“Oh.. kayaknya dia sedih gitu, Din. Dia mantanmu ya kok dia bilang balik-balik gitu?”
“Bukan siapa-siapa kok. Udah ahh, sini hpku. Dikepoin terus malu tau!” Candanya sambil mencubit lengan Rena dan merampas hpnya dari tangan temannya itu. Waktu udah hampir gelap, Dinda pamit pulang. Pulang? Hal yang paling ia benci ketika harus menangisi Wahyu yang sebenarnya ia Rindukan.
Waktu sudah jam 3 sore. “Tok.. tok.. tok..” bunyi ketukan pintu kamar Wahyu.
“Buka aja, gak dikunci!” teriaknya yang saat itu sedang memetik gitarnya di atas gumpalan kasur.
“Rena? Ada apa kesini?” tanyanya penasaran dengan nada terkejut.
“Aku cuma pengen belajar main gitar aja. Boleh gak?” senyam-senyum ia berbicara.
“Boleh aja sih, kamu sama siapa?” Tanya Wahyu yang tidak tahu kalau Rena adalah teman Dinda sahabatnya yang tidak ada kabar itu.
“Sama temen, tuh dia ada di teras.” Tunjuk Rena kepada wanita yang sedang duduk membelakangi mereka berdua. Dinda orangnya. Dinda tidak tahu kalau Wahyu tinggal di rumah pamannya bersama sepupunya yang ditinggal pergi ke Malaysia untuk jadi TKI bersama istrinya.
“Emm, ya udah kamu tunggu di luar aja dulu. Kasian tuh tmnmu.” perntahnya kepada Rena yang langsung ke luar untuk menemui Dinda.
“Ini rumah siapa, Ren?” tanya Dinda.
“Rumah guru gitarku. Hehehe.. Pengen belajar main gitar aku, Din.” jawab Rena sambil cengar-cengir ke arah Dinda.
“Udah mau mulai sekarang?” tanya Wahyu sambil berjalan dan memegang 2 gitar hasil keringatnya sendiri. Dan saat Wahyu melihat ke arah mereka berdua, betapa terkejutnya dia saat melihat Dinda duduk di samping Rena.
“Dinda?” Wahyu memanggilnya dengan perasaan bercampur aduk antara terharu, senang juga sedih.
“Wahyu?” Dinda tidak kalah terkejut.
“Jadi kalian udah saling kenal?” senyu Rena yang tidak tau apapun. Wahyu langsung menghampiri Dinda dan memeluknya erat. Dinda hanya pasrah sambil mencoba menahan air matanya.
“Kamu kemana aja, Din? Apa kamu tidak membaca pesan-pesan yang aku dari dulu?” tanya Wahyu dengan nada seperti ingin menangis. Dinda hanya diam tanpa kata menahan air matanya.
“Dinda jawab dong!” paksa Wahyu sembari melepaskan pelukannya.
“Maafin aku, Yu! Aku gak bisa. Aku benci kamu.” akhirnya Dinda berkata namun air mata yang tadi sudah mengkubangi kantung matanya kini tumpah saat ia mulai bersuara.
“Kenapa? Apa salah aku cinta sama kamu?” tanya Wahyu memojokkan Dinda.
“Dinda, apa yang sebenarnya terjadi sama kalian dulu? Kenapa kamu gak pernah cerita sama aku? Apa kamu gak percaya sama aku?” sambung Rena di tengah pembicaraan Wahyu dan Dinda.
“Aku cuma gak mau nyakitin kamu, Ren. Karena aku tau kamu suka sama dia. Maafin aku, Rena!” paling Dinda kepada Rena yang sangat terkejut melihat kedekatan Wahyu dan Dinda.
“Tapi aku bisa mengalah kok, Din. Lagian aku hanya kagum sama Wahyu sejak 4 tahun lalu melihatnya tampil di Kafe Rahman. Aku tidak memiliki perasaan lebih dari sebatas kagum, Din!” jawab Rena memperjelas. Dinda hanya terdiam sama dengan Wahyu yang tidak mau mengangkat wajahnya lantaran air matanya juga telah menetes.
“Yu, sekarang aku tau kenapa kamu sangat menjiwai ketika kamu tampil.” ucap Rena cengengesan tanpa tau apa yang kedua tmnnya rasakan.
“Dinda?” panggil Wahyu yang hanya dijawab dengan tatapan tajam Dinda.
“Aku melihatnya, Dinda. Aku melihat cintamu sama aku di matamu. Kenapa kamu gak bisa jujur sama diri kamu sendiri juga sama aku, Din?” tanya Wahyu. Dinda langsung mengalihkan pandangannya ke bawah tanpa menjawab pertanyaan Wahyu.
“Ya udah kalo kamu masih gak mau jawab. Aku masuk dulu. Oh iya, Rena nanti aja ya bljar gitarnya!” Ucap Wahyu sambil berjalan ke dalam.
“Wahyu!” Dinda menghentikan Langkah Wahyu yang tanpa menoleh seakan ia memang berniat melupakan Dinda.
“Aku juga cinta sama kamu, Yu. Tiap malem aku terus menangis merindukanmu. Maafin aku, Wahyu. Jangan jauhi aku lagi.” Dinda meluapkan emosinya selama 4 tahun terpendam. Wahyu berbalik dan seketika Dinda telah memeluknya lagi.
“Maafin aku, Din. Aku udah bikin kamu nangis. Aku akan menebus semuanya dengan membahagiakanmu. Aku janji.” Ucap Wahyu dengan senyum yang sangat manis sambil menatap langit-langit rumahnya.
“Maafin aku juga, Yu. Aku udah menyiksa kamu dengan menyembunyikan perasaanku yang sesungguhnya.” Balas Dinda dengan tangis haru mewarnai kalimatnya. Rena hanya tersenyum bahagia melihat Wahyu dan Dinda kembali bahagia dengan ikatan yang memang sepantasnya mereka dapatkan.
The End.
Sekian Terima Kasih.
Mohon maaf jika ada kesamaan toko/alur cerita. Ini hanya fiktif.
Cerpen Karangan: Dimas Wahyu Abdillah
Facebook: Dimas Wahyu Abdillah
Dua Insan Saling Merindu
4/
5
Oleh
Unknown
