Hati dan Rembulan

Baca Juga :
    Judul Cerpen Hati dan Rembulan

    Kurentangkan tangan di antara karang karang dangkal di dasar laut. Kututup mataku untuk sesaat saja. Hiruk pikuk hidup ini telah aku cicipi. Aku lelah dengan semua ini. Mengapa aku harus menggenggam cinta yang pupus.
    “Aku mencintaimu Angga. Aku ingin memelukmu. Tapi cinta dan pelukmu hanya untuk Tika, sahabatku” aku berbisik sendiri disini.
    “Dooor!!!” suara Angga yang mengagetkanku.
    “Ha? ka.. ka.. ka.. kau?” kataku gugup karena aku takut jika Angga mendengar perkataanku tadi.
    “Apa?.. Eh As.. Kamu kok sukanya ngalamuuun aja… Nggak ada kerjaan lain apa?” kata Angga yang membuatku merasa lega. Karena dia tidak mengusik perkataanku tadi. Berarti dia tidak dengar.
    “Emangnya masalah apa buat kamu?” jawabku ketus.
    “Galak amat sih.. Huuuu.. Askaa.. Aska…” pekik Angga sambil mencubit hidungku.
    “Heh.. Kau ini.. Sakit tahu!!” omelku pada Angga sambil mengusap hidung

    “Aska.. Kok aku ngerasa bahagiaaa banget pacaran sama Tika…”
    “Dia cantik, smart, dan kalem… Nggak kaya kamu yang sukanya pecicilan” perkataan Angga memang membuatku sedikit cemburu.
    Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Angga.
    “Bentar lagi malem nih… Kayanya asik nik kalau ke taman” ajak Angga kepadaku.
    “Nggak ah ngga… Aku lebih suka disini” jawabku.
    “Pokoknya kamu harus mau” kata Angga sambil menarik tanganku.

    Setelah sampai di taman, Angga mengajaku duduk di bangku putih di bawah pohon sakura. Malam yang sangat dingin
    “Ehhh As.. Kamu pakai aja nih” Kata Angga sambil menyodorkan jaketnya.
    “Nggak usah lah ngga… makasih” aku menolak.
    “Jadi cewek kok bandel banget si” celoteh Angga sambil memakaikan jaketnya padaku.
    “Angga!!! Kalau aku bilang nggak mau ya nggak mau!!! Nggak usah maksa!” aku reflek membentak Angga dan aku juga reflek melemparkan jaket itu kepada Angga.
    “Aska!!! Kok kamu gitu si?” Angga juga membentakku karena mungkin dia tak terima dengan kelakuanku tadi. Maafkan aku Angga.
    “Ma.. mmaa.. maaf ngga.. Aku.. Ak..akuu” kataku terbata bata karena bingung harus bicara apa.
    “Ya udahlah … Nggak papa kok As… mungkin kamu lagi PMS” kata Angga sambil mengambil jaket yang aku lempar.
    “Sok tahu!!!” bentaku.. Tapi Angga malah tertawa.
    “Kamu itu lucu ya As.. Aku selalu betah kalau aku deket sama kamu, aku nggak ngerasa bosen” kata Angga sambil menatap mataku.
    Angga, kenapa kau menatapku seperti itu.. Kau bisa saja membunuhku.
    Aku langsung memalingkan wajah ke arah langit.. Dan hey, ada bulan purnama disana.. Indaaaah sekali.

    “Kamu lihat bulan itu Angga?” kataku sambil menunjuk bulan itu.
    “Iyaa.. Emang kenapa?” kata Angga yang sedang sibuk mengusap jaketnya yang kotor karena aku melemparnya tadi.
    “Aku mencintai seseorang, dan dia seperti bulan itu.. Selalu bersinar dikala malam.. Selalu menerangi bintang bintang yang gemerlap.. Tapi dia hanya diam seakan tak tahu dengan apa yang kurasakan…” kataku dengan tatapan kosong.
    Angga yang sedari tadi sibuk dengan jaketnya langsung melihatku dengan tatapan iba.
    “Kehadiranya juga sesaat… Rembulan juga akan pergi ketika terusir oleh matahari. Dan malam berikutnya, tak selalu ada bulan. Begitu juga dengan dia. Dia yang aku cintai..” kataku sambil menatap Angga.
    “Bulan memang tak seterang matahari, tapi matahari juga tak seindah bulan. Mereka mempunyai kelebihan masing masing…” kataku. Dan aku masih menatap Angga.
    “Hahahahaha!!” Angga malah tertawa sekencang kencangnya mendengar perkataanku.
    “Kamu itu ternyata orangnya puitis juga.. Tapi apa kamu bisa jatuh cinta? Kamu kan masih anak anak… Hahahahah” dan Angga menertawakanku lagi.
    Aku hanya tertunduk lesu.. Apa dia tak sadar.. Apa dia tidak peka..
    “Ya udah deh.. aku mau pulang dulu… Bye” Angga langsung pergi begitu saja.
    “Kamu mau pergi kemana ngga?” teriaku kepada Angga yang sudah menjauh.
    “Mau apel sama Tika” teriak Angga dari kejauhan.
    “Hati hati ngga” teriaku lagi.. Dan tak ada balasan dari Angga.

    Apa salah jika rembulan menaruh hati pada matahari.
    Hati yang tercabik oleh kemesraan pupus.

    “aku tetap mencintaimu ngga..” kataku berbisik.

    Cerpen Karangan: Astri Kaniasari
    Facebook: Astri Kaniasari

    Artikel Terkait

    Hati dan Rembulan
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email