Hello Mellow

Baca Juga :
    Judul Cerpen Hello Mellow

    Hujan rintik-rintik membasahi seluruh rumput di halaman rumahku, baunya yang khas pun semerbak di hidung sambil menyeruput soft drinkku yang baru saja keluar dari kulkas menambah dinginnya suhu badanku ini. Tanpa kusadari waktu telah berlalu dan aku harus bergegas menjemput kekasihku yang baru pulang dari Jakarta di bandara. Ponselku pun berdering “Yura kamu dimana sih aku itu udah di bandara. Nungguin kamu aja ini, kamu jadi jemput atau nggak sih?!” Kata laki-laki dibalik ponselku, iya dia adalah kekasihku. “Ini kan hujan, mobilnya papa kan lagi dipake, masa iya aku hujan-hujan naik motor?” Kataku dengan nada sangat halus karena aku memang sangat takut dia marah. “Inisiatif dong kan bisa pake jas ujan! Cepat kutunggu sekarang” kata kekasihku, Galih. Sambil mematikan panggilan. Aku pun bergegas langsung mencari jas hujan dan langsung pergi menjemput Galih.

    Hujannya sangat deras, helmku tidak ada kacanya dan wajahku dipenuhi dengan air hujan, softlensku pun jadi tidak bisa dikendalikan. Mataku tidak bisa terbuka karena air hujan membasahi softlensku alhasil softlensku jadi kering di mataku dan saat aku menutup mata, mata susah terbuka dan saat mataku terbuka di depanku sudah ada truck besar “aaaaarghh” teriakku. Aku tidak bisa mengingat apapun yang kuingat banyak suara teriakan dan banyak orang yang sempat menghampiriku.

    Aku terbangun, aku melihat sekelilingku, aku berada di kamar yang penuh orang-orang terbaring tak berdaya dan banyak alat-alat yang sangat menyeramkan saat aku melihat ke arah badanku banyak selang dan kabel-kabel menempel di tubuhku. Tak lama dokter dan perawat pun datang, dan langsung mengecek kondisiku. “Aku tau kamu bisa Yura, untuk sementara ini kamu dirawat di ruangan icu ini dulu ya sampai kondisimu benar-benar normal baru pindah ke rawat inap” kata dokter sambil membaca berkas

    Aku pun sudah dipindah ke ruangan rawat inap, disana sudah ada keluargaku yang menungguku, mama dan papaku langsung memelukku “jangan pergi lagi ya sayang” kata papaku “maksudnya pa?” tanyaku bingung, pergi aku hanya pingsan sebentar sekitar sejam aja kenapa harus bilang pergi? “Iya kamu sudah seminggu gak bangun, kata dokter denyut nadimu lemah itu pun ada denyutmu karena dibantu alat, semua suplemen makanan yang sudah dimasukan ke kamu itu balik keluar karena sudah tidak bisa nerima makanan lagi, kamu benar-benar seperti mayat hidup yang hidup hanya otakmu saja” kata papaku sambil menangis dan langsung memelukku. Aku tidak tahu apa seseram itu kah? Aku hampir meninggal. Saat aku ingin menggerakan kaki tapi tidak bisa, kakiku tidak dapat digerakan. Aku pun spontan langsung mencubit pahaku sendiri dan tidak ada rasa apa-apa, kakiku mati rasa. Apa aku? “Gimana kondisinya Yura?” kata Dokter yang tadi memeriksaku di ruang icu “dok, apa aku lumpuh?” Kataku dan sambil meneteskan air mata. Dokter hanya diam terpaku dan mendekatiku “dok! Aku gak mungkin lumpuh dok!” teriakku seperti tidak bisa menerima kenyataan. Dokter hanya membelai rambutku dengan lembut.

    3 hari aku sudah menginap di ruangan rawat inap ini, 3 hari juga aku tidak ingin berbicara dengan siapapun. Aku marah dengan kondisiku yang sekarang aku benci kondisiku yang sekarang “sayang, maafin aku baru bisa jenguk kamu sekarang” kata Galih sambil membawa bunga. Aku tidak mempedulikan dia membalikan badan dan berpura-pura tidur. Aku mendengar papaku bercerita semuanya kepada Galih. Tidak lama kemudian papa ku ke luar dari ruangan dan tinggal kami berdua di ruangan “Lumpuh? Astaga apa kata teman-temanku aku punya pacar cacat? Astaga harus putusin dia pas dia udah ke luar dari rumah sakit” kata Galih seperti mengoceh sendiri, “ngapain nunggu nanti? Sekarang pun tidak ada yang larang. Kamu tau aku bersyukur sekali aku di beri musibah seberat ini dari Allah, berkat musibah ini aku jadi tau siapa kamu sebenarnya. Aku memang cacat fisik setidaknya aku tidak cacat hati sepertimu” kataku berbalik badan kearahnya “siapa juga yang mau sama cewek cacat kayak kamu. Yang ada nyusahin” kata Galih sambil pergi meninggalkanku. Tidak kusangka selama 3 tahun aku berpacaran dengannya ternyata cintanya tidak tulus. Aku menangis pilu “nggak usah ditangisin Yur, air matamu terlalu berharga untuk laki-laki seperti dia” kata dokter sambil memberikan aku tisu, namun ada yang beda dari dokter, dokter tidak menggunakan baju kerjanya “dokter kok nggak pake baju kerja?” kataku bingung sambil menghapus air mataku pelan-pelan “iya kan lagi off, aku kesini mau jenguk kamu aja kok, oh iya kalo lagi off gini manggilnya jangan dokter. Panggil aja Rizky. Kita seumuran kok cuma paling beda 2 tahun aja” jelas dokter Rizky aku pun hanya bisa mengangguk-angguk saja.

    Berminggu-minggu sudah aku diterapi dan dirawat inap di ruangan ini ditambahnya lagi dokter Rizky tidak pernah absen menjengukku setiap hari offnya. Alhasil kami menjadi semakin dekat. “Ky, aku pernah baca tuh di internet ini kan aku lumpuh karena ada saraf yang putus di otakku karena benturan waktu kecelakaan itu, jalan satu-satunya selain terapi ya dioperasi kan, kenapa kamu gak mau ngelakuin itu aja ke aku? Operasi aku? Biar aku bisa jalan lagi” kataku dengan semangat “iya tapi setiap pilihan itu selalu ada resiko, kamu bakal lumpuh seluruh badan atau berujung kematian dan kemungkinan kecil itu berhasil” kata dokter Rizky “aku lelah seperti ini terus, kalo kamu gak mau operasi aku. Aku bakal cari dokter lain aja” kataku dengan nada emosi. Dokter Rizky hanya terdiam terpaku tanpa mengucapkan apa-apa.

    Pagi itu masih di ruang rawat inap, aku harus menentukan masa depanku. Di depanku adalah berkas dimana itu adalah perjanjian sebelum melakukan operasi, yap aku mencari dokter lain untuk mengoperasiku. Selama ini aku berada di zona amanku tapi aku tidak berkembang, mau sampai kapan aku seperti ini terus? Orangtua pun menyetujuinya dan aku harus menanda tangani surat perjanjian ini, aku mengambil pulpen di meja sampingku dan melepaskan dari tutupnya aku mendekatkan ujung pena di atas kertas “tunggu! Yur, itu bahaya. Kamu bisa gak tertolong. Kamu tau aku sayang sama kamu. Aku jatuh cinta pada pandangan yang pertama saat aku merawatmu pada saat kamu sedang koma. Aku gak mau kehilangan kamu” kata dokter Rizky sambil menggenggam tanganku. “Kamu egois, kalo aku harus menemanimu terus dan keadaanku terus seperti ini? Aku harus ke luar dari zona amanku Ky, aku ingin seperti teman-temanku yang lain” kataku sambil meneteskan air mata. Lama sekali kami berunding dengan operasi ini, aku tidak tahu aku memang menyimpan rasa dengan dokter Rizky. Tapi aku masih trauma dengan hubunganku sebelumnya dengan Galih. “Baiklah. Kamu boleh tanda tangan di perjanjian itu kamu boleh melakukan operasi itu tapi sebelum operasi itu dijalankan. Yura, aku sangat mencintaimu aku tidak peduli jika nanti operasi gagal atau pun berhasil aku tetap akan mencintaimu. Yura, menikahlah denganku!” kata Dokter Rizky sambil mengeluarkan cincin dari sakunya. Aku pun menangis bahagia aku pun menerima lamarannya. Aku tidak menyangka dokter Rizky setulus ini denganku.

    Hari-H sebelum 3 jam menuju ruang operasi ruang rawat inapku disulap menjadi tempat yang indah dimana dokter Rizky akan mengucapkan janji sucinya di hadapan waliku dan penghulu. “Saya terima nikahnya Azura Yurasi dengan seperangkat alat solat dibayar tunai” ucap dokter Rizky di hadapan papa, mama, keluarga dokter Rizky dan penghulu secara lantang. Setelah terdengar kata sah dokter Rizky langsung mencium bibirku dengan lembut dan mencium keningku dan berkata tidak peduli apa kamu akan tetap menjadi istri sah ku.

    Di ruang operasi aku sangat gugup melihat lampu yang sangat terang menyorot wajahku, sampai saatnya aku disuntikan bius total yang membuatku seperti pingsan. Aku terbangun dan saat aku membuka mata di depanku ada suamiku dan semua keluarga dekat. Suamiku tercinta langsung memelukku aku masih belum tau apa kah operasinya berhasil atau tidak. “Operasinya berhasil kah Ky?” tanyaku penasaran. “Menurutmu?” kata Dokter Rizky sambil mencubit pahaku. “Aah sakit tau apaan sih cubit-cubit pahaku gajel… Astaga aku sudah tidak mati rasa lagi alhamdulillah ya Allah” kataku sambil tertawa lega dan memeluk suamiku.

    Cerpen Karangan: Keke PS Adinda Putri
    Facebook: Keke Puspitasari Adinda Puthri
    Snapchat/instagram: kekepuspitasr
    Line: kekeeku

    Artikel Terkait

    Hello Mellow
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email